
^^^Sabtu, 13 November.^^^
Hari Sabtu seharusnya menjadi hari libur bagi semua mahasiswa Universitas Nusa Cendana. Namun itu tidak berlaku bagi mahasiswa baru dari Ilmu politik yang terpaksa harus datang ke kampus guna menuntaskan masa orientasi.
Pukul 6 pagi semua Maba Ilmu politik sudah berada di halaman FISIP, mereka sedang bersiap untuk melakukan kegiatan jalan pagi yang memang telah direncanakan sebelumnya. Mereka akan berjalan sejauh 800 meter ke gerbang kampus lalu melakukan pembersihan di sana.
Jika di total-total ada sekitar seratus tiga puluhan orang yang ikut jalan pagi itu. Selain Maba, para senior semester lima. Ada juga beberapa dosen yang ikut.
Kegiatan pun di mulai, pagi itu kondisi jalanan kampus sangat sepi. Tidak ada hiruk-pikuk kendaraan bermesin seperti biasanya.
Sambil menyanyikan lagu kebangsaan dan juga lagu daerah para Maba tampak bersemangat.
Namun di barisan paling belakang ada Seorang Maba yang berhenti, dia teralihkan dengan keberadaan sebuah tas yang berada di semak belukar yang ada di sepanjang jalan.
Penasaran, dia pun mendekati tas itu. Tentunya tanpa sepengetahuan para senior. Dia mengambil tas itu, namun belum juga memeriksa isi tasnya dia di kejutkan dengan keberadaan seonggok mayat yang tergeletak begitu saja di antara semak-semak.
"Aaaaaa..." Maba itu hanya bisa berteriak lalu diikuti oleh tubuhnya yang ambruk ke tanah.
...----------------...
Gilbran tampak sedang membagikan beberapa selebaran Poster orang hilang. Sedari subuh Gilbran sudah mendatangi beberapa tempat untuk membagikan selebaran dan juga menanyai orang-orang tentang keberadaan Gilda.
Tidak hanya Gilbran saja yang bergerak tapi juga beberapa kenalan dan sahabat Gilda juga turut serta melakukan pencarian.
Gilda telah di nyatakan menghilang sejak pukul tujuh malam karena keberadaanya tidak bisa di jangkau oleh keluarga dan juga ada kemungkinan bahwa Gilda di culik.
Tidak hanya di lakukan oleh para kerabat tapi juga pihak kepolisian yang dengan segera melakukan pencarian karena adanya dugaan penculikan terhadap Gilda.
Mencari dan mencari.
Gilbran terus mencari bahkan hingga ke tempat-tempat yang tidak biasa di datangi oleh sang adik. Gilbran tampak putus asa kehilangan adiknya membuat dirinya tidak bisa berpikir jernih.
Pencarian Gilbran terhenti di sekitaran wilayah Terminal Kota Lama saat Tommy tiba-tiba menelponnya.
"Halo kak Gibran" suara Tommy terdengar lirih di seberang sana. Seperti menahan tangisnya.
"Ada apa?!" Tanya Gilbran dengan sedikit membentak.
__ADS_1
Masih mencoba menahan tangis Tommy berusaha berbicara "ada penemuan mayat di wilayah kampus aku pikir itu ___"
Tut-tut-tut...
Gilbran memutuskan sambungan telepon sebelum Tommy selesai menjelaskan. Perasaannya kini bercampur aduk, namun di dominasi oleh rasa khawatir. Dia mendekati motornya lalu dengan kecepatan tinggi dia menuju Universitas Nusa Cendana.
Sampai di gerbang masuk kampus terlihat begitu banyak kendaraan dan lautan manusia yang berada di gerbang hingga TKP. Rupanya berita tentang penemuan mayat telah tersebar begitu cepat, bahkan polisi sudah berada di TKP.
Kondisi di siang hari itu begitu padat, walau akhir pekan wilayah kampus yang semestinya sepi kini di padati banyak kendaraan maupun manusia.
Gilbran yang telah sampai memutuskan untuk memarkirkan motornya dan berlari ke TKP.
Di sana terparkir mobil polisi dan ambulance, Gilbran menembus lautan manusia itu dan masuk ke area yang di pasangi garis polisi.
"Hei sedang apa kau!" seorang polisi menahan pergerakan Gilbran.
Dia adalah Kasat Reskrim Polres Kupang Kota, Rizaldi Setiyawan atau akrabnya di panggil pak Rizal.
"Aku ingin melihat mayatnya, dia mungkin saja adalah adikku!" Gilbran memberontak.
Rizal membuka tutup dari kantung mayat agar Gilbran bisa melihat dan memastikan pemilik mayat.
Terlihat wajah pucat seorang gadis dengan sebuah tahi lalat kecil di bawah bibir. Dengan melihat nya saja Gilbran yakin itu adalah adiknya tersayangnya. Gilda.
Gilbran ingin melihat keseluruhan tubuh Gilda, namun di tahan oleh Rizal "sebaiknya kau tidak melihatnya!" Ujar Rizal melarang.
Gilbran menggeleng dan tetap melanjutkan aksinya.
"Aku sudah memperingati mu" ujar Rizal dan membiarkan Gilbran melihat keseluruhan jasad Gilda.
Betapa terkejutnya dengan apa yang di lihat pria dua puluh tiga tahun itu, keseluruhan tubuh adiknya mulai dari leher sampai ke ujung kaki melepuh yang sangat parah hingga semua kulitnya mengelupas dan mengeluarkan cairan. Satu-satunya bagian yang tampak baik -baik saja adalah bagian kepala dan sekitar wajah.
Gilbran mematung sambil memeluk jasad adiknya itu, dunianya saat itu seolah berhenti, hatinya tercabik-cabik oleh kenyataan yang pahit ini.
Gilbran meneteskan air mata "Gildaaaaa!" Teriaknya seketika, dia menangis sejadi-jadinya sambil memeluk jasad adiknya itu.
Dia tidak menyangka kalau adik yang dia jaga selama ini harus pergi meninggalkannya dengan cara seperti ini.
__ADS_1
"Aaaaaa adikku, kenapa kau meninggalkan kakak" lagi-lagi Gilbran menumpahkan kesedihan dan kegundahan nya selama ini.
"Gildaaaa!"
"Sudah cukup! kami harus membawanya ke rumah sakit untuk di otopsi" Ujar Rizal dan kembali menutup kantung mayat dan membawanya pergi.
Kini Gilbran terduduk lemas di aspal sambil bersandar pada mobil polisi. Dia tampak begitu kacau setelah mengetahui kalau Gilda adiknya sudah meninggal.
Dia tidak menyangka bahwa adiknya yang sangat dia sayangi itu berakhir dengan cara yang mengenaskan. Dengan cara yang tidak terbayangkan. Dengan cara yang menyakitkan.
"Gilda"
"Gilda"
"Gilda" Nama itu terus di gumamkan Gilbran.
"Kenapa kau meninggalkan kakak mu seperti ini!"
"Siapa yang tega melakukan ini padamu" Gilbran meracau tidak jelas.
"Siapa pelakunya?"
"Aku yang membunuhnya" sebuah bisikan terdengar, Gilbran terkejut dan melihat seseorang yang kini sedang berada tepat di belakangnya.
Gilbran seketika menoleh namun orang itu sudah berlari dan berbaur di kerumunan. Dia mencoba mengejar orang itu yang masuk ke dalam kerumunan.
"Woi!"
Saat Gilbran ingin mengejar orang itu, tiba-tiba hujan turun membuat orang-orang yang tadinya menonton evakuasi jasad kini berlari berhamburan. Alhasil orang yang di kejar oleh Gilbran pun sudah membaur dan menghilang dari pandangan.
Tapi Gilbran tidak putus asa, dia terus mencari hingga ke luar wilayah kampus. Akhirnya dia pun menemukan orang misterius itu yang kini sedang berada di seberang jalan sambil melambaikan tangan ke arah Gilbran. Orang itu memakai Hoodie dan masker jadi Gilbran tidak bisa melihat wajahnya.
"Kau!" hanya dengan Amarah Gilbran mencoba untuk mengejar orang itu hingga ke tengah jalan namun karena tidak melihat sekeliling dan juga terburu-buru, Gilbran berakhir dengan di serempet motor.
Sebelum benar-benar kehilangan kesadarannya, Gilbran melihat orang-orang mulai mendekatnya termasuk orang itu.
Bersambung....
__ADS_1