
"Mau mampir gak?" tanya Anika setelah mereka sudah sampai dipekarangan rumahnya.
"Gak, tiket undangannya langsung bawa kesini." jawab Adelard, matanya masih lurus kedepan tak ada niatan menatap gadis disampingnya, bahkan melirik saja ia enggan.
"Tapi gue maksa." celetuk Anika santai.
"Kau---"
"Setuju atau tidak sama sekali." timpalnya.
"Ngapain tanya-tanya kalau gitu." geram Adelard, giginya bergelatuk menahan kesal yang tiba-tiba keluar.
"Gini ya kakak tampan, hidup itu pilihan makanya gue tanya, tapi tiba-tiba gue sadar kalau gue gak suka milih." jelas Anika bijak.
"Terserah."
"Dalam kamus besar bahasa perempuan 'terserah' artinya 'iya' jadi let's go." Anika dengan semangat keluar dari mobil itu, kepalanya menoleh kebelakang memastikan gebetannya mengikuti dirinya, bibirnya tersenyum lebar melihat Adelard benar-benar mengikuti pergerakannya masuk kedalam rumah.
"Silahkan duduk." ucap Anika dengan senyuman manisnya, tangannya terulur memberi isyarat kearah Adelard untuk duduk diatas sofa yang ada diruang tamu.
"Mana?" tanya Adelard tanpa basa basi.
"Apa?"
"Ck...gak usah pura-pura lupa." sinisnya.
Anika terkekeh pelan, bukannya mengambil tiket undangan ia malah mendudukkan tubuhnya pada sofa yang lain "gue sebenarnya penasaran, ngapain orang kayak kak Adelard mau ke acara pentas sekolah gue?"
"Tiket undangannya berikan padaku." titah Adelard, ia tak peduli dengan pertanyaan yang baru saja ditujukan padanya, bahkan gadis SMA itu tak ada hak mengetahui tujuannya.
"Oke-oke, tunggu disini." Anika bangkit dari duduknya, tungkainya melangkah menuju kamar pribadinya, 2 tiket undangan yang ada didalam tasnya ia keluarkan, tiket yang harusnya diberikan pada seseorang yang disebut orang tua.
Tapi baginya itu sama sekali tak penting, sosok yang disebut ibu hanya bertugas melahirkannya bukan merawat dan membimbingnya, bahkan ia sama sekali tak pernah mengetahui asal usul dirinya.
Ia menuju ruang tamu setelah tiket undangan itu sudah berada ditangannya, tubuhnya kembali ia dudukkan dengan pandangan menatap lamat pria tampan didepannya "gue mau keuntungan."
Adelard mengangkat sebelah alisnya, raut bingung tampak jelas pada wajah tegasnya "apa?"
Bibirnya Anika menyunggingkan senyum lebar "gue mau besok kak Adelard bareng gue kesekolah..."
__ADS_1
"Oke." menurutnya itu bukanlah hal yang merugikan, jadi tak ada alasan ia berdebat hanya karena ingin menolak permintaan gadis itu.
"Dan...kak Adelard bantu gue buat puisi." sambung Anika santai.
"Kau fikir aku roman picisan." celetuk Adelard kesal, sepertinya ia memang tak boleh berbaik hati walau hanya sedikit pada gadis itu.
Anika menghela nafas pelan "gue gak bilang buat bikin puisi cinta, gue cuma mau kak Adelard bantu gue supaya bisa dapat inpirasi."
Sang empu tampak menimang, wajah seriusnya menambah kadar ketampan pada pahatan sempurna wajahnya "oke, sekarang apa?"
"YESSS." sorak Anika senang, dengan begini ia bisa berlama-lama berdekatan dengan pujaan hatinya, ia juga bisa menjalankan aksi PDKT-nya pada pria itu.
"Kak Adelard mau minum apa? Teh, susu, kopi, jus---"
"Air putih." potong Adelard.
"Yaampun, udah kayak tampan, menawan, cool, kaya, gak ngerepotin lagi. Benar-benar hot brother." monolognya pelan, dengan semangat 45 ia berjalan cepat menuju dapurnya, setelah air minum pesanan sang tamu sudah ia berikan buru-buru ia juga berjalan kekamar mengambil buku dan juga pulpen.
Anika duduk lesehan diatas lantai, tangannya sudah siap menyoret sesuatu pada buku kosong yang baru saja dibawanya "terus, gue harus nulis apa? Gue gak tau buat puisi."
Adelard menghela nafas pelan, ia bangkit dari sofa, tubuhnya ikut duduk diatas lantai tepat disamping gadis yang akhir-akhir merecoki hidupnya, andai ini bukan karena tiket undangan! Ia tak mungkin mau berdekatan dengan remaja SMA disampingnya.
"Jujur aku juga gak tau buat puisi." sahut Adelard.
Wajah Anika ditekuk "jadi gimana dong? Harusnya kak Adelard tau, kakak kan CEO terkenal."
Lagi-lagi pernyataan Anika mampu membuat Adelard geleng-geleng tak habis fikir "otak ini gunanya untuk bersaing didunia bisnis, bukan digunain untuk nulis puisi picisan."
Gadis cantik itu mengerutkan bibirnya, kepalanya ditenggelamkan pada lipatan tangannya dengan kepala menghadap kekanan, tepat dimana Adelard duduk.
"Terus ini gimana?" tanyanya dengan semangat hidup yang kian menipis, sekarang ia bisa membayangkan dirinya dipermalukan diatas panggung.
Anika mengumpat pelan, teman kelasnya benar-benar berniat mengerjainya, ia akan membalas mereka semua besok.
"Puisi ini buat apa?" tanya Adelard.
"Buat acara pentas, gue jadi perwakilan kelas nampilin puisi diatas panggung, padahal presentasi dikelas aja gue bacanya panjang gak pake tanjakan atau tikungan, sekarang gue malah disuruh baca puisi." curhatnya frustasi.
Adelard tersenyum tipis, gadis itu berbicara seperti anak yang mengadu pada orang tuanya, ia sedikit gemas pada gadis cerewet disampingnya, iya hanya sedikit.
__ADS_1
"Kalau gitu buat puisi tentang keseharian hidup kamu aja." sarannya.
Anika mengangkat kepalanya, lagi-lagi wajahnya ditekuk mendengat saran dari gebetannya ini "gak menantang dan biasa aja."
"Emang hidup kamu biasa aja?" celetuk Adelard, matanya tepat terarah pada kedua bola mata amber yang kini berkedip lucu.
Seakan mendapat siraman rohani akhirnya otak Anika kini mendapatkan pencerahan, bibirnya mengulum senyum tipis, benar! Hidupnya bahkan sangat menantang, kenapa ia bisa lupa.
Tangannya dengan cekatan menuliskan kata demi kata pada kertas kosong yang ada didepannya, tapi tiba-tiba tangannya terhenti kepalanya menoleh dengan bibir mengucap permintaan pada pria disampingnya.
Kening Adelard mengernyit, walaupun sedikit bingung tapi ia tetap menuruti permintaan gadis itu tanpa protes, matanya kini menatap jari lentik Anika yang kembali menulis coretan pada kertas yang awalnya kosong kini terisi tinta hitam.
Netranya menatap kosong tulisan yang benar-benar menyentil hatinya, mata elangnya sedikit melirik Anika yang tampak menulis dengan raut datar, beberapa baris kalimat membuat ia tau kehidupan apa yang dijalani gadis dengan wajah ceria itu.
Takdir benar-benar memuakkan, ternyata bukan hanya dirinya yang jadi korban kekejaman takdir, setidaknya ia harus bersyukur sekarang hidupnya sudah lebih dari cukup, semua yang ia susun sudah terwujud berbeda dengan remaja disampingnya, kehidupannya masih dalam tahap proses.
Bertahan untuk masa depan atau menyerah karena keadaan, sekarang ia mulai penasaran dengan kehidupan gadis cantik itu.
"Dunia ternyata memang panggung drama." ucap Adelard datar.
Anika menoleh, bibirnya tersenyum tipis mendengar ucapan Adelard "ya, dan kita sendiri yang harus menentukan peran yang bakal kita ambil, bahkan drama ini disutradarai oleh diri kita sendiri."
.
.
.
.
Bersambung
Hallo guys~jangan lupa tinggalkan jejak ya! jangan lupa komen, vote dan like. Jangan jadi pembaca gelap, luangkan beberapa detik buat klik tombol like.
Ig: siswantiputri3
See you
^^^16-DESEMBER-2021^^^
__ADS_1