Antagonis

Antagonis
Chapter 54


__ADS_3

Harusnya pemandangan didepannya tak membuat ia terkejut lagi, tempat tinggal yang luasnya cukup fantastis dengan taman yang terlihat sangat terawat, kabar burung tentang kekayaan keluarga Axelion ternyata bukan hanya asumsi belakang, sekarang ia semakin yakin pria tua itu benar-benar tak tau caranya menghabiskan uang.


Kakinya kembali melangkah, kekaguman yang awalnya singgah pada bola mata ambernya bisa ia kendalikan, lagipula tak ada gunanya berandai-andai dengan kekayaan seseorang, itu semakin membuat ia sadar diri betapa hidupnya tak menarik sama sekali.


"Maaf, nona siapa ya?"


Anika menoleh, kepalanya mendongak menatap seorang pria dengan tubuh tegap yang kini juga menatapnya, kepalanya menggeleng kagum melihat tubuh kekar pria disampingnya.


Keningnya mengernyit, detik berikutnya kepalanya mengangguk-angguk membenarkan asumsi tentang profesi orang disampingnya, melihat tubuh kekar pria itu berarti dia salah satu penjaga bangunan mewah ini.


"Nona ada keperluan apa kesini?" tanyanya lagi.


Gadis cantik itu cukup tersanjung, ia fikir penjaga pada rumah mewah seperti bangunan didepannya mempunyai penjaga kasar seperti dinovel-novel, ternyata cerita tetaplah cerita, atau mungkin hanya rumah mewah ini yang bahkan penjaganya cukup sopan, berbanding terbalik dengan wajah dan tubuh bak premannya.


"Nona?"


"Eh...iya?" tanyanya polos.


"Nona ada keperluan apa kesini?" tanyanya sabar, ia tak mungkin membentak gadis kecil didepannya.


"Tuan Renandra ada?"


Kening pria itu mengenyit, cukup bingung tentang apa tujuan gadis kecil didepannya mencari keberadaan Renandra Axelion sang atasan.


"Tuan tidak ad---"


"Kamu siapa?" tanya seseorang tiba-tiba.


Mau tak mau Anika akhirnya menoleh, matanya menangkap sosok wanita cantik yang berjalan anggun keluar dari pintu utama yang terbuka lebar, dapat ia lihat jelas pandangan tajam serta menelisik terarah padanya.


"Nyonya." celetuk pria itu seraya membungkuk.


"Siapa gadis kampung itu?" tanyanya sinis, pandangan tak suka jelas terlihat pada mimik wajahnya saat ini.


Anika mendelik, sedikit tak suka dengan sikap sombong dan arogan wanita didepannya "bukan siapa-siapa." jawabnya seadanya.


"Mau apa kamu kemari? Mengemis uang atau meminta belas kasihan? Hanya karena kami orang kaya bukan berarti orang miskin sepertimu bisa meminta sumbangan seenaknya." sarkasnya.

__ADS_1


Lagi-lagi ucapan dari wanita yang entah siapa namanya membuat Anika mencebik kesal, walau sebenarnya apa yang dikatakan orang itu tak sepenuhnya salah, tapi ia enggan menyebutnya sebagai mengemis uang atau meminta belas kasihan, lebih tepatnya berbisnis dan saling menguntungkan, tentu menguntungkan untuk dirinya sendiri pastinya.


"Maaf ya tante."


"Aku bukan tantemu." timpalnya sengit.


"Dia Nyonya Hariana istri dari tuan Renandra." bisik pria bertubuh kekar itu.


Anika mengangguk paham, ia sebenarnya malas mencari tau siapa nama wanita angkuh itu, tapi mendengar ucapan dari pria baik disampingnya mau tak mau ia mengangguk seadanya.


"Aku kesini bukan untuk menemui anda nyonya Hariana, tapi aku kesini ingin bertemu tuan Renandra." jelasnya.


"Untuk apa gadis miskin sepertimu menemui suamiku?"


Sepertinya mencakar wanita angkuh didepannya masih dibatas normal, bahkan terbilang wajar, tak ada salahnya ia membungkam mulut tajam milik wanita itu, statusnya yang dari kalangan atas tak mencerminkan bahwa dia berpendidikan, bahkan pria disampingnya yang hanya sebatas penjaga dari rumah mewah ini jauh memiliki tutur santun yang bersahaja.


"Apa harta bisa menghilangkan status anda sebagai wanita berpendidikan, atau memang anda sama sekali tak disekolahkan hingga tak ada tanda-tanda kalau anda adalah wanita berpendidikan?"


Ucapan yang terbilang santai dari mulut Anika membuat tangan Hariana terkepal kesal, emosinya membuncak mendengar ucapan tak tau diri dari gadis miskin didepannya.


"Oh, anda memang kaya tapi mulut anda tak mencerminkan sosok wanita berkelas." timpal Anika prihatin.


"DASAR GADIS SIALAN, SERET DIA PERGI JANGAN SAMPAI DIA MENGINJAKKAN KAKI DISINI LAGI." murkanya.


Walaupun sedikit ragu tapi pria bertubuh kekar itu tak bisa membantah perintah dari majikannya, ia sedikit kasihan pada gadis kecil didepannya ini.


"Tidak perlu, aku punya mulut dan kaki, mulut untuk mencibir wanita angkuh seperti anda dan kaki untuk berjalan pergi, oh ya...wajah anda tak begitu cantik untuk menghalau pelakor yang akan menggoda suami anda, mengingat tuan Renandra sangat tampan untuk usianya yang sekarang, diusia yang sekarang tak ada gunanya merawat diri lebih baik anda merawat akhlak, bisa saja tuan Renandra sadar selain wajah anda yang mulai keriput akhlak anda juga dipertanyakan." ejeknya dengan tawa puas.


Kakinya berlari cepat meninggalkan kediaman Axelion sebelum wanita itu benar-benar menggores kulitnya dengan kuku panjangnya. Ia cukup bergidik melihat kuku wanita itu yang tak dipotong.


"GADIS SIALANNNNN." teriak Hariana semakin murka.


Pria bertubuh kekar itu memilih kembali pada gerbang yang menjulang tinggi, jangan sampai keteledorannya membuat gadis asing lainnya berhasil masuk, tapi ini bukan sepenuhnya salahnya, salahkan saja perutnya yang tiba-tiba sakit tak tepat waktu, tapi tak apa setidaknya ada tontonan gratis pagi ini, bahkan ia cukup puas melihat nyonyanya murka, bagaimanapun ia juga tak suka dengan sikap angkuh majikannya.


Bahkan tak jarang wanita itu bersikap semena-mena pada bawahan sepertinya, padahal yang membayar gaji setiap bawahan yang ada dirumah mewah ini bukan dia, tapi tingkahnya seolah ia mengeluarkan uang banyak untuk mereka semua.


Anika menendang kerikil yang ada dipinggir jalan, terhitung sudah 10 menit ia berjalan meninggalkan kediaman Axelion, perasaan kesal tentunya muncul pada dirinya, padahal niatnya ingin memegang sertifikat apartemen dari Renandra! Tapi yang menemuinya malah wanita jelamaan iblis.

__ADS_1


"Harusnya gue baca bismillah sebelum pergi, trus kaki yang gue pakai pertama kali keluar rumah juga kaki kanan supaya keinginan gue mulus tanpa hambatan, belokan maupun tanjakan." gerutunya.


"Kasian juga Renandra, tua-tua tampan malah dapat istri kayak gitu lagi, bukannya ngurangin beban hidup itu sih nambah beban hidup." kepalanya menggeleng pelan, cukup prihatin dengan kehidupan romansa pria paruh baya itu.


"Aku pilih yang mana Renandra atau Adelard, Renandra memang oke Adelard lebih aduhay..." nyanyinya dengan nada syahdu.


"Kalau gue belum nemu hot brother pasti udah gue Pepet tuh bapak-bapak, lumayan jadi hot Daddy, udah mapan, tampan menawan lagi...tapi tenang aja kak Adelard, walaupun sekarang otak gue ke Renandra tapi dihati dan dinadi gue tetap kak Adelard seorang." monolognya mantap.


TING...TING...


Klakson dari mobil disampingnya membuat tubuhnya sedikit tersentak, matanya memicing menatap tajam pemilik mobil yang kini menampakkan senyum lebarnya.


"Ngapain lo disini?" tanya Rey tiba-tiba.


Anika mencebik, bibirnya mengumpat kecil karena waktu galaunya diganggu sang pembuat ulah "nyari jodoh."


"Gak usah nyari jodoh, jodoh ganteng lo udah datang jemput, masuk sana." titahnya.


Anika berfikir sejenak, ia tampak menimang-nimang ajakan Rey, saat ini ia memang tak memiliki tujuan lagi daripada menyewa taksi atau ojek! Lebih baik ia ikut dengan pemuda itu.


"Kamu ikut kami aja, kami juga mau ke tempat makan." celetuk Emma lembut.


"Oke."


.


.


.


.


Bersambung


Ig: siswantiputri3


^^^04-JANUARI-2022^^^

__ADS_1


__ADS_2