
Anika berjalan memasuki gerbang sekolah setelah turun dari mobil Rey, bibirnya tersenyum tipis melihat punggung seseorang yang berjalan melewati koridor, ia sampai tak sabar ingin menyapa sahabat karibnya itu.
Tak ingin membuang-buang waktu akhirnya ia melangkah ke sana, menepuk punggung orang itu kemudian menampilkan senyum semanis mungkin.
"Hai Emma." sapanya ramah.
"Eh..oh--hai juga."
"Lo kenapa? Ada masalah! muka lo kelihatan kayak orang yang punya banyak beban hidup." timpal Anika santai.
Emma tersenyum lembut "mungkin perasaan kamu aja."
Anika tersenyum miring kemudian mengedikkan bahu acuh seolah percaya mendengar jawaban gadis didepannya, biarkan saja semuanya berjalan seadanya dan berakhir dengan seharusnya ia hanya perlu menonton semuanya, setidaknya ia akan diam kalau masalah ini belum menyeret dirinya.
"Hallo kedua sahabat tersayang gue." sapa Rey yang entah sejak kapan muncul, bahkan lengannya sudah bertengger pada bahu Anika dan Emma.
"Hallo juga Rey." jawab Emma ramah sedangkan Anika hanya memutar bola mata malas, lagipula ia dan pemuda itu berangkat bersama jadi tak ada gunanya membalas cipika-cipiki dari mulut Rey.
"Oh iya, hari ini pembagian nilai harian pelajaran IPA kan?" tanya Rey memastikan dengan pandangan menatap Anika dan Emma bergantian.
"Iya."
"Gue kok deg-deg ser yaa! Apa ini yang dinamakan cinta?" tanya Rey dengan tampang watadosnya.
Anika memetik bunga disampingnya, dengan kecepatan kilat bunga itu sudah bertengger manis ke dalam mulut Rey, tentu Emma yang melihat terkikik geli dengan wajah ternistakan pemuda itu.
"Makan tuh cinta." sarkas Anika sambil melangkahkan kakinya menuju kelas, kali ini ia tak ingin menjadi siswi nakal! Jadi tentu ia tak mau datang terlambat pada jam pertama pada mata pelajaran IPA.
...***...
Sebuah kertas terlempar tepat diwajah seorang gadis dengan wajah sedikit pucat, kepalanya menunduk mendapat raut marah dari paruh baya didepannya, padahal ia absen sekolah hari ini karena ingin menenangkan kepalanya yang pusing, bukannya lebih baik ia malah mendapat masalah baru dirumah.
"Tidak berguna." sarkas Ranendra.
Ratu semakin menundukkan kepalanya, tangannya saling diremas saat mengetahui maksud ke marahan papanya, matanya terpejam erat harusnya ia menyembunyikan kertas ulangan itu bukannya menaruh diatas meja yang mudah ditemukan.
Ia lupa! Bahwa Medusa julukan untuk mama tirinya selalu mengadu pada papanya tentang kesalahan apapun, apalagi untuk nilai yang sangat sensitif bagi pria paruh baya itu.
"Matematika 98? Apa saja yang kamu lakukan Ratu hah! Nilai memalukan seperti itu apa gunanyaaa!" bentak Ranendra sontak membuat tubuh gadis itu terlonjak karena terlampau kaget.
"Ma--maaf pa." cicit Ratu.
"Kamu pikir maaf bisa merubah kertas itu hah! Bisa tidak kamu lebih berguna jadi anak saya?" bentak Ranendra
__ADS_1
Ratu menggigit bibirnya, matanya terpejam dengan tubuh dibanjiri keringat dingin, karena seringnya mendapat amukan dari sang papa membuat kinerja jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dari seharusnya.
"KELUAR DARI RUANGAN SAYA."
"I--i---iya pa."
...***...
Kertas hasil ulangan yang membuat semua penghuni kelas kelimpungan karena soal mendadak Minggu lalu akhirnya dibagikan, Drian bahkan sesekali mengintip kertas milik teman kelasnya karena penasaran.
"Nilai gue gimana?" tanya Rey kelewat kepo, yang hanya dibalas gelengan prihatin oleh sang ketua kelas.
"Maaf ya kawan, ini maksud gelengan lo apa ya? Jangan bikin gue deg-deg serr dong." timpal Rey was-was.
"Oh, mungkin itu yang dinamakan cinta." tambah Roy asal sontak membuat Rey mendelik kemudian menjitak kepala teman sebangkunya.
"Ngaco lo, asal jemplak aja tuh mulut. Gue masih sangat menawan buat cari pacar manusia, bukannya malah kertas yang penuh coretan." jawab Rey bijak.
Karena tak ingin mendapat teguran dari sang guru akhirnya Drian menyodorkan kertas ulangan pada kedua pemuda didepannya. Tentu dengan semangat menggebu-gebu Rey dan Roy menyambar kertas itu secepat kilat.
"Wih mantap 93." ucap Roy.
"Gue juga lumayanlah 96." timpal Rey.
"Nilai yang paling tinggi siapa Bu?" tanya Sri penasaran.
Sang guru didepan tampak terdiam, kerongkongannya seakan kering mendengar pertanyaan dari anak didiknya, padahal biasanya ia dengan semangat menjawab pertanyaan seperti itu tapi kali ini berbeda.
"Masi nanya lo, udah jelas Emma lah itu aja gak tau." jawab salah satu siswa sekaligus mewakili sang guru.
"Oh iya, lupa gue selamat ya Emma."
"Lo emang pintar."
"Encer banget otak lo."
"Maka---"
"Bukan, kalian salah! Nilai yang paling tinggi dan sempurna gak ada cacat adalah nilai Anika bukan Emma." sela sang guru dengan suara keras sangat kentara.
"Yang bener Bu?" tanya Rey memastikan.
Sang guru mengangguk pasti sebagai jawaban, tentu membuat seisi kelas membola saat mengetahui Emma siswi paling pintar dengan nilai hampir sempurna bisa dikalahkan oleh Anika, sang biang kerok dengan segala tingkah tak pernah terendus oleh BK selain mereka semua tentunya.
__ADS_1
"Emang nilai Emma berapa Bu? Anika juga berapa?" tanya salah satu siswi.
"Emma 98 dan Anika 100."
"Wow 100? Untuk ulangan dadakan tanpa belajar! Apalagi ini pelajaran IPA? Gue sebagai sahabat tampan Anika bangga dengan ini." ucapan Rey dramatis.
"Wah pilih kasih, Emma juga sahabat Lo tuh. Masa lo bahagia diatas penderitaan dia." timpal Roy dengan kepala menggeleng.
"Lo jangan manas-manasin ya, gak gitu maksud gue tapi kan ini sebagai apreasiasi buat kejayaan bebeb gue." celetuk Rey sambil memandang punggung Anika karena gadis itu saat ini memunggunginya.
"Iya kan honey." godanya.
Anika membalikkan tubuhnya, bahkan sekarang wajahnya menunjukkan seolah ingin muntah "jijay tau gak."
"Teganya dirimu." jawab Rey dengan ekspresi terluka yang dibuat-buat.
Emma memejamkan matanya karena terlampau kesal, tapi mau bagaimapun ia tetap harus terlihat baik-baik saja apalagi ini didalam kelas. Masih banyak murid diruangan ini.
"Bu, kami dengar sekolah kita beberapa hari lalu dirampok kan? Terus pelakunya sudah ketemu belum?"
Sang guru menghela nafas pelan, bahkan disekolah elit seperti ini bisa terjadi permampokan berulang-ulang, ia sampai tak habis pikir "belum nak, sampai sekarang polisi masih menyelidiki kasus ini, jadi ibu harap kalian jangan membawa barang dengan harga mahal, ibu takut pelakunya bahkan murid sekolah ini sendiri."
"Wah parah sih ini Bu, kalau beneran murid disini harus segera dibasmi tuh. Bisa bahaya kalau didiamin."
"Bukannya CCTV ada ya? Kok gak liat disitu aja." timpal salah satu siswa paling pojok membuat semuanya mengangguk serentak tapi tidak dengan sang guru.
"CCTV mati, seolah semuanya sudah direncanakan. Bahkan polisi sampai sekarang belum menemukan titik terang mengenai kasus ini."
"Tenang aja, gak ada rencana tanpa cacat. Tinggal tunggu aja kapan pelakunya keciduk, tapi kayaknya ibu memang benar orangnya sekolah disini dan dia berada disekitar kita." celetuk Anika santai.
.
.
.
.
Bersambung.
Instagram: siswantiputri3.
Jangan lupa tinggalkan jejak ya, jika berkenan mampir ke cerita aku judulnya 'suami cadangan' makasih guys~
__ADS_1