Antagonis

Antagonis
Chapter 22


__ADS_3

"Lo dari mana?"


Anika membalikkan badannya, terlihat Rey dan Emma berjalan mendekat kearahnya, bibirnya mendengus melihat Rey dengan senyum tengil menyapa indra penglihatannya.


"Rooftop."


"Ngapain lo disana? Mau bundir?" Tanya Rey seenaknya.


"Tunggu gue bosen hidup dulu, baru gue bundir." jawab Anika santai.


"Gak baik ngomong kayak gitu." celetuk Emma, ia berjalan kesamping Anika, menyamakan langkahnya dengan gadis itu. Rey melakukan hal yang sama, ia ikut mendekat matanya tiba-tiba melirik tangan Anika yang masih tertutup hoddie


"Tangan lo udah gak apa-apa kan?"


"Hmm."


"Baguslah."


"Emang tangan kamu kenapa?" Tanya Emma, kepalanya menoleh menatap Anika dengan raut tanya.


"Gak apa-apa."


Walaupun masih penasaran Emma tetap mengurungkan niatnya untuk bertanya lebih lanjut, matanya kembali menatap koridor hingga mereka tiba dikelas 2 IPA 1, kelas yang memiliki murid dengan kepintaran diatas rata-rata walaupun sebenarnya itu hanya beberapa dari mereka.


"Bu Lidya akan adain kuis." celetukan dari ketua kelas sontak membuat mereka kalang kabut, kuis dalam pelajaran sejarah memang tak main-main, mereka harus menjelaskan sampai yang terinci pertanyaan dari beliau, dan itu sungguh menyebalkan bagi mereka yang malas membahas pelajaran sejarah.


"Kok tiba-tiba sih?" tanya Sri angkat suara, kacamatanya ia betulkan dengan raut kesal menghunus pada sang ketua kelas.


Drian mengangguk bahunya "gak tau, gue aja baru dikasih tau Bu Lidya pas papasan tadi dikantin."


"Ngapain coba lo papasan sama Bu Lidya? Nyari penyakit aja." sewot siswi yang satunya.


"Kalau lo gak papasan kita semua gak bakal dikasih kuis." timpal siswa dengan ponsel ditangannya.


Drian mendengus kesal "daripada kalian nyalahin gue mending kalian belajar deh, heran! Yang ngasih kuis siapa yang disalahin siapa, situ waras?" jawabnya ngegas, ini yang ia paling benci menjadi ketua kelas, padahal dari awal ia juga tak berminat mengambil jabatan sebagai ketua kelas tapi entah mengapa wali kelas mereka sendiri yang menunjuk dirinya tentu itu juga disetujui oleh semua teman kelasnya.


"Materi yang minggu lalu kan?" tanya Emma angkat suara.


"Yoi."


"Untung Bu Lidya masih waras, biasa juga gak nanggung-nanggung ngasih kuis tentang pembelajaran semester ini." celetuk Rey santai.


"BU LIDYA DATANG BU LIDYA DATANG." heboh salah satu siswi 2 IPA 1 yang baru saja masuk, selang beberapa menit guru yang menjadi perbincangan mereka memasuki kelas dengan senyum lembutnya.

__ADS_1


Percuma, untuk kali ini mereka tak akan terkena tipu daya pada senyum dari guru kalem itu, bagaimanapun mereka sudah tau tipu muslihat yang akan dilakukan dari guru diatas.


"Gimana kabarnya anak-anak, baik?" tanya Bu Lidya lembut, definisi guru idaman, tapi untuk kali ini mereka tetap kesal dengan keberadaan beliau.


"Baik Bu." Jawab Anika santai, sekaligus mewakili teman kelasnya yang masih dirundung kegalauan.


"Bagus-bagus."


"Tadinya." tambah Anika cepat.


Kening dari guru berumur 40 tahunan itu mengernyit, netranya menatap bingung anak didik satunya ini, memang diantara semua murid dikelas ini yang biasa menyerukan isi hatinya tanpa neko-neko selalu gadis itu.


"Tadinya kabar kami bagus, tapi sekarang kayaknya enggak lagi Bu." sahut Anika santai.


Sebagian murid yang ada dikelas itu membenarkan, maksud ucapan Anika tentu ditangkap baik oleh insting mereka.


"Loh kenapa?" tanya Bu Lidya bingung.


"Ibu melanggar hak asasi manusia, keluar dari norma-norma, mengambil keputusan sepihak tanpa adanya persetujuan kami." jelas Anika.


"Gue tau Anika agak sedeng suka ceplas-ceplos, tapi gue baru sadar ternyata dia juga gila." celetuk Rey pelan, kepalanya menggeleng mendengar keberanian sahabatnya itu.


Bu Lidya memang guru yang sabar, tapi sudah banyak dari manusia yang membuktikan kemarahan orang sabar lebih brutal daripada mengamuknya orang tempramental.


"Ibu seenaknya mengadakan kuis tanpa adanya pemberitahuan pada kami sebelumnya." ucap Anika santai, bahkan gadis itu tengah memutar pulpennya dengan tangan lentiknya.


"Loh, saya sudah menyampaikan pada ketua kelas kalian, apa Drian tidak memberitahu informasi dari ibu?" Tanya Bu Lidya, matanya menatap semua murid yang ada diruangan itu.


"Sudah Bu." sahut salah satu diantara mereka.


"Terus, apa masalahmu Anika."


"Gini ya bu! sadar atau enggak materi yang ibu kasih minggu lalu hampir seperdua isi dari buku catatan kami, bisa bayangin banyaknya kan? Trus sekarang kami mau dikasih kuis dengan waktu belajar kurang dari 10 menit, mungkin sebagian memang gak akan protes karena kadar penyimpanan otak kami beda-beda, bahkan ada dari kami yang cepat tanggap dan tentu juga sebaliknya."


"Ini cuma kuis, yang bisa jawab dapat tambahan nilai dan tentu yang gak bisa nilainya kosong." jelas Bu Lidya.


"Nah ini nih, yang kayak gini yang buat murid dengan otak lemot makin tersingkirkan, ibu bilang cuma masalah nilai, nilai yang ibu maksud dengan kata cuma bukan hanya sekedar cuma bagi kami tapi sangat penting."


"Udah Anika." bisik Emma.


Rasanya Rey bangga pada sahabatya itu, tapi tetap saja keberanian gadis itu bisa menjurus kehukuman jika terus berlanjut.


"Penjelasan kamu barusan membuktikan kalau kamu tidak pernah belajar sepulang sekolah, jangankan belajar ibu juga ragu kalau kamu bahkan membuka buku pelajaran setelah pulang sekolah."

__ADS_1


Ucapan yang kelewat santai dari guru sejarah diatas tampaknya cukup membuat murid kelas 2 IPA 1 bungkam, tak ada yang berani membantah ataupun menyela, bahkan Rey yang biasanya sependapat dengan Anika kali ini terdiam, lebih baik ia berkhianat dari pada mendapat kemurkahan dari guru yang biasanya bermurah hati.


"Kalau kamu merasa kalau nilai memang sangat penting! Harusnya kamu belajar dirumah, bukan membuat alibi tidak jelas seperti tadi, kalau kamu juga sadar tentang kadar memori otak kamu harusnya kamu belajar lebih awal, ingin pintar ya belajar, bukankah aturannya begitu?" Jelas Bu Lidya panjang lebar.


"Aturan ada untuk dilanggar." celetuk Anika polos.


"ANIKA AYUDISHA." murka Bu Lidya, ia sudah tak habis fikir dengan anak didiknya satu ini.


"HADIR BU." jawab gadis itu dengan tangan terangkat, matanya berkedip dengan wajah tak berdosa, seolah ia memang tak melakukan kesalahan dari awal.


"KELUAR DARI KELAS SAYA." perintah Bu Lidya.


"Okey." Anika dengan polos bangkit dari duduknya, bukunya ia kemas dimasukkan kedalam tas sebelum ia melangkah keluar, senyum manisnya tiba-tiba terpatri dengan pandangan menatap semua teman kelasnya "bay-bay friends." ucapnya dengan tangan melambai.


"Oh yaampun." Bu Lidya memijit kepalanya yang tiba-tiba pusing, murid satunya ini benar-benar berhasil membuatnya darah tinggi.


"Gue bangga sama lo." ucap Rey dengan nada isyarat, tangannya mengacung pada Anika yang masih berjalan mundur meninggalkan ruangan itu.


"Rey." Emma menurunkan tangan pemuda itu, ia tak mau Rey ikut dihukum karena kepergok membela Anika.


"Baik, sekarang pelajaran akan ibu lanjut---"


"Adegan barusan bukan untuk ditiru, adegan itu hanya berlaku untuk orang yang profesional." celetuk Anika, kepalanya menyembul dari balik pintu kelas, bibirnya menampilkan cengiran polos dengan gigi gingsul terlihat sempurna.


"BERSIHKAN TOILET DILANTAI 3 ANIKA AYUDISHA." murka Bu Lidya.


"Benar-benar bukan untuk ditiru." batin semua murid kelas 2 IPA 1 secara bersamaan, kepala mereka menggeleng tak habis fikir dengan tingkah teman kelas mereka.


.


.


.


.


Bersambung


Bantu like, vote dan komen ya~


Ig: siswantiputri3


^^^06-DESEMBER-2021^^^

__ADS_1


__ADS_2