Antagonis

Antagonis
Chapter 13


__ADS_3

Setelah berkutat dengan laptop sepanjang waktu hanya untuk menyelediki keberadaan sosok yang selama ini dicarinya akhirnya penantiannya membuahkan hasil.


Daren menatap foto beserta identitas seseorang pada layar laptopnya, buru-buru ia keluar dari ruangannya kemudian memberitahukan informasi mengenai adik dari atasannya itu.


Tangannya terangkat mengetuk pintu bercat coklat dengan tulisan ruang direktur yang ada didepannya, setelah mendapat sahutan 'masuk' dari seseorang didalam ia dengan cepat melangkah kedalam ruangan itu.


"Ada apa?"


"Saya sudah menemukan keberadaan adik anda, saat ini adik anda memalsukan identitasnya dan bersekolah di SMA Arwana, sekolah unggulan yang ada di kota ini." jelas Daren, laptop yang ia pegang diletakkan pada meja sambil mengarahkan gambar seseorang dan juga identitas lengkapnya kearah Adelard.


"Kalau begitu seret dia kemari."


"Maaf tuan, tapi sepertinya alamat rumah yang tercantum pada biodata adik anda juga dipalsukan, dia terlalu cerdik, bahkan saya yakin pihak sekolah juga tidak tau adik anda tinggal dimana yang mereka tau adik anda adalah anak dari orang yang cukup berpengaruh dikota ini." Tambah Daren.


Adelard menghela nafas pelan, berarti hanya ada satu cara bertemu dengan adiknya "secepatnya buat jadwalku kosong, aku sendiri yang akan ke sekolah Arwana menyeret bocah nakal itu pulang."


"Untuk saat ini cuma masalah pajak dari Prancis yang harus diselesaikan, selebihnya anda bisa mengambil waktu free." jelas Daren.


Adelard tersenyum miring "satu-satunya pihak berwenang memungut pajak adalah negara, tapi Lard corp tidak akan pernah tunduk dengan hal itu, Lard corp akan merebut kedaulatan negara kebangsaan dimanapun itu, untuk masalah pajak semuanya sudah terkendali."


Mata Daren membola, bahkan ia belum melakukan apapun, tapi masalah seserius ini sudah terselesaikan, ia semakin yakin apapun itu jika orang didepannya yang langsung turun tangan semuanya bisa teratasi. Ia semakin kagum akan isi otak atasannya yang tidak main-main.


"Beberapa hari lagi SMA Arwana akan mengadakan pentas tahunan, semua orang tua murid diundang dalam acara itu, saya rasa itu adalah waktu yang pas anda menyeret adik anda yang nakal." jelas Daren, mau bagaimanapun ia sedikit kesal karena kecerdikan adik atasannya membuat tidurnya akhir-akhir ini tak pernah teratur.


"Kau bisa keluar." usir Adelard.


"Baik tuan." sahutnya berusaha sabar.


...***...


"Gue kan udah bilang, pasti ada yang gak beres sama Emma, buktinya udah mau bel masuk tapi dia belum datang." cerocos Anika dengan wajah khawatir.


Rey memutar bola matanya malas "lo liat tasnya ada kan? berarti dia datang kesekolah, bisa aja dia ke WC atau ke perpus."

__ADS_1


"Tapi ini udah hampir masuk loh, bahkan batang hidungnya gak ada sama sekali." sahut Anika menjadi-jadi.


Rey yang sejak tadi mendengar omelan gadis yang duduk didepannya akhirnya jengah sendiri, tangannya menarik lengan Anika keluar dari kelas itu "yaudah gue dan lo cari Emma aja, dari pada lo mikirin hal yang gak perlu, lo yang stres tetap aja gue ikut-ikutan karena ulah lo yang gak bisa diam."


"Yaudah." semangat Anika menggebu-gebu.


Mata mereka tampak fokus mencari keberadaan Emma, bahkan mereka sudah mencari ke WC dan perpus tapi tetap saja gadis itu belum ditemukan.


"Ke kelas aja yuk, siapa tau Emma udah ada disana." sahut Rey tiba-tiba, ia capek sendiri mengelilingi gedung sekolah yang luasnya nauzubillah.


Anika masih tak bergeming, ia tetap mencari Emma sampai ke pelosok dinding, langkahnya ia cepatkan saat netranya menangkap punggung seseorang dari bawah pohon besar yang ada dibelakang sekolah.


"Lah...lah lo narik gue kemana sih? ngapain lo narik gue kebelakang sekolah, mau macam-macam lo ya?" tuding Rey dengan wajah sedikit panik.


"Lo gak bakal hamil kalau gue apa-apain." sembur Anika, ia tak habis fikir dengan isi otak pemuda dibelakangnya.


Otak Rey semakin liar, wajahnya pucat pasi mendengar ucapan tak difilter sahabatnya itu "gak usah bercanda deh, gue masih suci masih berlabel." jawabnya takut-takut.


"Mending lo keluar dari imajinasi lo itu deh, lo gak liat gue mau ke Emma yang ada didekat pohon itu? lo gak liat dia kayak orang kehilangan semangat hidup?" Ngegas Anika.


Gadis itu memutar bola matanya malas, tak ingin lagi menyahuti ucapan dari mulut Rey, langkahnya semakin ia cepatkan menuju Emma yang sejak tadi tampak merenung.


Mereka dibuat tercengang melihat kondisi gadis itu, matanya yang sembab dengan tampilan lusuh menyambut indra penglihatan mereka berdua.


"Lo kenapa?" tanya Rey khawatir, ia berjongkok tepat didepan sahabatnya yang saat ini tampak menunduk.


"Ak--aku gak apa-apa." lirih Emma dengan senyum yang tampak dipaksakan.


"Gak usah bohong deh, cerita sama kita, siapa yang udah buat lo kayak gini?" tanya Anika cepat, tubuhnya ikut berjongkok seperti apa yang dilakukan pemuda disampingnya.


Emma menggeleng pelan "aku gak apa-apa." jawabnya dengan suara serak.


Rey menghela nafas pelan, tangannya terulur mengusap air mata yang masih tertinggal pada pipi Emma "gak usah bilang gak apa-apa kalau sebenarnya kenapa-napa." ucapnya lembut.

__ADS_1


Cairan bening yang tadinya sudah berhenti kini tampak jelas mengalir, Emma menubrukkan tubuhnya pada pemuda didepannya, tangisanya tak bisa lagi ditahan, rasa sesak pada dadanya tak bisa dikendalikan karena musibah mengerikan yang ia alami.


"Cerita sama gue lo kenapa?" tanya Rey lembut, tangannya mengelus punggung sahabatnya yang kini tampak bergetar.


"Jangan simpan semuanya sendiri yang ada lo makin sesak." tambah Anika, matanya ikut memanas mendengar tangisan lirih dari gadis itu.


"Ak--aku hikss, aku gak punya siapa-siapa lagi hikss." walaupun sulit akhirnya ia mengeluarkan beban yang menghambat tenggorokannya.


Rey dan Anika masih terdiam, mereka memberikan Emma waktu untuk menjelaskan semuanya sebelum mereka memberi komentar.


"Pa--panti tempat aku hikss tinggal kebakaran hikss....MEREKA MATI REY HIKSS MEREKA SEMUA MATI." Jelas Emma makin tak terkendali.


Rey membulatkan matanya, bibirnya tampak keluh mendengar ucapan gadis didekapannya, tangannya ia eratkan memeluk tubuh sahabatnya, tak ada yang bisa ia lakukan selain memberi kekuatan pada Emma melalui pelukannya, jujur! pernyataan yang baru didengarnya cukup membuatnya terkejut.


Kesedihan yang dialami Emma tidak main-main, dan ia cukup menyesal tak bisa mengurangi penderitaan sahabatnya.


Air mata Anika luruh, tangannya mengelus punggung Emma prihatin, walaupun mereka sama-sama anak panti, setidaknya ia belum pernah mengalami kehilangan yang beruntun seperti ini.


Gadis didepannya benar-benar terpukul, dan ia.....cukup puas melihat penderitaan sahabatnya itu.


.


.


.


.


Bersambung


Hallo guys~jangan lupa vote, like dan komen banyak-banyak ya, supaya makin semangat lanjutinnya.


Ig: siswantiputri3

__ADS_1


^^^27-NOVEMBER-2021^^^


__ADS_2