
"Gue pulang dulu."
Anika mengangguk pelan, bibirnya tersenyum tipis menatap kepergian Rey yang kian menjauh, matanya benar-benar mengamati mobil itu hingga menghilang dari balik tikungan.
Bahkan setelah kepergian pemuda itu ia masih enggan beranjak dari tempatnya, kepalanya menengadah menatap angkasa yang kini mulai menggelap, entah karena akan terjadi hujan atau sang mentari sudah siap digantikan rembulan?
Ia tak perduli, menurutnya! langit pekat itu pertanda dari hati seseorang yang kini dirundung kesedihan, dan itu benar-benar membuatnya puas.
"Selamat bersedih sahabat tersayang." monolognya dengan seringai tipis.
Anika membalikkan badannya, langkah kakinya berjalan memasuki rumah yang terlihat minimalis, matanya menatap nanar kegelapan yang menyambut dirinya, selalu seperti ini, hidupnya benar-benar memuakkan dan ia baru sadar sekarang.
tangan lentiknya menekan saklar lampu pada dinding disampingnya, bilah bibirnya mengeluarkan nafas pelan, bahkan sekarang ia bingung dengan hidupnya, siapa sebenarnya dia? apa benar namanya Anika? dan siapa orang tuanya? bahkan ia ragu dengan tanggal lahirnya, yang ia tau hidupnya dari awal bersumber dari panti asuhan.
Bahkan setelah keluar dari tempat itu tetap saja namanya bergelar anak panti, tidak seperti orang-orang yang memiliki penyokong hidup dari kedua orangtuanya.
"Hidup gue benar-benar penuh drama, bahkan dari semua latar belakang gue yang gak jelas kenapa lo masih iri sama gue....Emma."
...***...
Adelard yang saat ini sedang menatap pemandangan dari kaca ruangannya harus terganggu karena kehadiran Daren, sekretaris sekaligus orang kepercayaannya tampak tergesa-gesa berjalan kearahnya.
Pria itu terlihat menetralkan nafasnya, perusahaan Lard corp yang didirikan tuannya saat ini benar-benar diambang masalah.
"Ada apa?" tanya Adelard dingin.
"Perusahaan Lard corp saat ini masuk dalam target skema pajak yang sudah dilakukan prancis, mereka mengenakan pajak sebesar 3 persen bernilai 5 triliun pada perusahaan teknologi global dan juga perusahaan yang bergerak dalam bidang perdagangan berbasis online. Karena perusahan Lard corp adalah perusahaan terbesar yang bergerak di bidang perdagangan berbasis online jelas kita masuk dalam permainan politikus itu."
Adelard berjalan pada kursi kebesarannya, umur yang masih sangat mudah, 20 tahun kini sudah harus berkecimpungan dalam dunia bisnis, setelah kematian kedua orangtuanya ia benar-benar harus memaksa otaknya bekerja keras untuk tetap bertahan hidup.
Tak ada yang namanya kerabat, ia dan adiknya benar-benar terasingkan setelah kematian kedua orangtuanya, seseorang yang namanya keluarga hanyalah seorang penjilat, mereka sempat diagungkan karena harta tapi setelah kedua orangtuanya meninggal dan perusahaan yang dikelola ayahnya bangkrut ia dan adiknya malah dibuang.
Tapi tak apa, sekarang otaknya bisa diandalkan didunia bisnis dan berkat kerja kerasnya perusahaan Lard corp yang sudah ia dirikan berkembang pesat sampai sejauh ini, tentu ia tak mungkin membuat kerja kerasnya runtuh seketika hanya karena masalah ini.
"Negara-negara uni Eropa sepertinya tengah mengadakan pajak sepihak atas monopoli raksasa teknologi." Adelard mengetuk-ngetuk jarinya, otaknya berfikir keras memecahkan masalah ini, ia harus bertindak tanpa adanya kesalahan.
__ADS_1
"Balas dengan memperlakukan pajak pada produk ataupun intetitas bisnis asal Prancis yang titip jual dilapak mereka sebesar 3 persen." perintahnya.
Daren mengangguk pelan, tak ingin membantah karena otaknya memang buntu kali ini, apapun yang diperintahkan tuannya pasti sudah dipertimbangkan dengan matang jadi yang ia lakukan hanya perlu melaksanakannya.
"Kalau begitu saya permisi." pamit Daren.
Ia berjalan meninggalkan ruangan milik Adelard setelah mendapat anggukan pelan dari atasannya.
"Lord corp bukan hanya ingin mendominasi pasar, tetapi menjadi pasarnya." ucap Adelard pelan, matanya menerawang dengan tatapan dingin menghunus kedepan.
...***...
Tatapan mata kosong yang saat ini menatap langit malam dengan hawa dingin menerpa seorang gadis dengan kaos hitam oblong, lututnya ia peluk dengan punggung bersandar pada dinding balkon.
Waktu sudah menunjukkan pukul 02:03 tapi Anika masih belum bisa merasakan ngantuk pada kelopak matanya, bahkan otaknya masih terus memaksanya untuk tetap sadar.
"Gue gak nyangka pada akhirnya gue akan bertindak kriminal kayak gini."
Helaan nafas berhasil lolos dari bilah bibirnya, terpaan angin malam berhasil menyentuh permukaan kulitnya, matanya terpejam menikmati rasa sejuk yang kini mendominasi tubuhnya.
Anika bangkit dari duduknya, kakinya melangkah mendekati kasur empuknya, tangannya mengambil segelas air diatas nakas kemudian meneguknya sampai kandas.
Matanya ia pejamkan, memaksa otaknya untuk beristirahat hari ini, mau bagaimanapun insomnia akut benar-benar menyiksa tubuhnya.
10 menit memaksa untuk tidur akhirnya alam bawah sadarnya terenggut juga, hawa dingin yang masuk melalui jendela kamarnya yang masih terbuka membantu dirinya untuk terlelap.
Nyaman dan damai.
Kegiatan yang dilakukan Anika tak pernah lepas dari sosok yang mengintainya sejak tadi, langkah orang asing itu semakin dekat kearah gadis yang saat ini sudah bergelut dengan alam bawah sadarnya.
tubuhnya ia jongkokkan tepat disamping Anika, matanya menatap gadis didepannya yang tampak damai dalam tidurnya, seringai tipis tercetak dari bibirnya yang tertutup masker.
"So cute." ucapnya pelan, tangannya terulur menyingkirkan poni gadis itu, wajah yang saat ini tak terhalang apapun benar-benar tampak manis walaupun sedang tertidur.
Dengan santai ia mendekatkan wajahnya "gue gak bisa lepasin lo tapi gue gak mungkin pertahanin lo, setidaknya untuk saat ini lo aman, gue masih baik hati biarin lo bermain-main dengan dendam lo itu, salah gue sendiri karena udah terjebak dengan perasaan sialan ini, untuk saat lo tenang aja, gue jamin lo aman jalanin dendam lo itu sampai saatnya nanti lo....mati ditangan gue." bisiknya pelan.
__ADS_1
Tangannya meraih tangan gadis yang terlelap didepannya, maskernya ia buka kemudian mengecup punggung tangan gadis cantik didepannya.
Matanya terpejam menikmati tekstur halus dari tangan lentik yang dipegangnya saat ini, 2 menit ia bertahan dari posisi ini akhirnya dengan halus ia meletakkan tangan itu kembali, maskernya kembali ia pakai dengan wajah mendekat pada gadis didepannya.
"Have a nice dream." bisiknya.
Sebelum ia pergi tangannya mengeluarkan pisau kecil dari Hoodie jaketnya, dengan santai ia menyayat tangan mulus gadis didepannya.
"ishhh.."
Kegiatannya terhenti mendengar ringisan dari seseorang yang masih terbaring, tangan kirinya terangkat menutup mata indah itu, walau sebenarnya gadis didepannya tak mungkin terbangun, obat tidur yang dimasukkan pada air yang diminum gadis itu sudah cukup membuatnya terlelap sampai pagi.
Tangan kirinya mengelus pelan kening Anika yang berkerut dengan tangan kanan yang kembali sibuk menulis sesuatu pada tangan mulus gadis cantik itu.
'Welcome baby.'
Ia tersenyum lebar melihat tulisan indah yang kini sudah bercampur dengan darah, pisau lipatnya kembali ia masukkan pada saku hoddienya, ini sudah cukup dan ia tak mau bertindak lebih karena berlama-lama ditempat ini, cukup tangan mulus itu saja yang jadi korbannya jangan bagian tubuh yang lain.
"See you again Anika Ayudhisa." ucapnya kemudian melenggang pergi dari kamar bernuansa hijau itu.
.
.
.
.
Bersambung
Jangan lupa tinggalkan jejak ya~supaya makin semangat up nya.
Ig: siswantiputri3
^^^25-NOVEMBER-2021^^^
__ADS_1