Antagonis

Antagonis
Chapter 63


__ADS_3

Anika menyandarkan tubuhnya pada dinding kelas, tangannya sesekali menggeser layar ponsel miliknya, ia cukup terhibur membaca cerita lucu dari aplikasi didalam benda pipih itu.


"Rey mana?" tanya Emma dingin, ia sudah muak berakting pada gadis yang duduk disampingnya, lagipula Anika mungkin sudah tau kepribadiannya.


"Gak tau." jawab Anika acuh.


"Gue mau bicara serius sama lo, pulang sekolah gue tunggu lo digudang." ucapnya pelan, matanya sedikit melirik teman kelasnya yang sibuk dengan aktivitas masing-masing.


Bibir Anika menyeringai "bicara soal apa? Tentang dalang sebenarnya yang nyuri puisi gue dan ngasih ke Ratu?"


Tubuh Emma tersentak, kepalanya menoleh menatap Anika yang kini tersenyum tipis "jangan bicara sembarangan." sentaknya kesal.


"Lo takut?" tantang Anika "atau lo yang---"


"Gue bilang jangan bicara sembarangan Anika." ucap Emma sedikit keras.


"Lo baik-baik aja?" tanya seseorang tiba-tiba sontak kedua gadis itu menoleh ke belakang, menatap keberadaan Roy teman sebangku Rey.


Emma tersenyum tipis "enggak apa-apa kok, cuma tadi ada kesalahpahaman sedikit sama Anika."


Roy mengangguk pelan, kegiatannya bermain game online ia lanjutkan, lagipula ia tak benar-benar kepo mengenai urusan mereka berdua, hanya saja suara keras Emma sedikit membuatnya kaget.


"Jangan bahas disini." bisik Emma pelan.


Anika mengedikkan bahunya netranya kembali fokus pada layar ponselnya yang masih menampilkan cerita novel yang akhir-akhir ini ia gemari.


BRAKKK


"ASSALAMUALAIKUM KAWAN..." teriak Rey tiba-tiba, tangannya ia rentangkan membuka lebar pintu kelas yang awalnya tertutup rapat.


"Waalaikum salam." serentak mereka sedikit malas.


Rey mengacungkan jarinya pertanda 'mantap' dengan santai ia berjalan pada bangku tempatnya duduk, bibirnya tiba-tiba tersenyum tipis melihat Anika yang tampak sibuk dengan ponselnya.


"Hallo Beb, makasih ya lo udah bawain tas gue." celetuknya dengan mata dikedipkan.


"Hmm."


"Gue dengar-dengar lo habis dikasih bekal lagi ya Rey?" celetuk siswi yang ada dikelas itu.


"Yoi."


"Siapa lagi yang kurang kerjaan mau buatin lo bekal hari ini?" tanya Sri, gadis dengan kacamata yang selalu bertengger pada hidungnya, wajahnya yang memang sudah cantik terlihat lebih cantik dengan kacamata minusnya.


"Naya." jawab Rey seadanya.

__ADS_1


Para penghuni kelas melongo, pandangan mereka terarah pada salah satu siswi bernama Naya yang kini sibuk dengan make up-nya.


"Apa?" tanya gadis itu bingung.


"Lo suka sama Rey?" tanya siswa dengan tampilan urakannya, sedikit syok mendengar penuturan yang baru saja ia dengar.


"Yakali, stres kali gue."


"Lah...trus ngapain lo buatin Rey bekal." serbu Roy.


Naya mendelik, bola matanya memutar mendengar tuduhan teman kelas seperjuangannya "kapan gue buatin dia bekal?" tanyanya sewot.


"Tenang-tenang epribadih, Naya yang gue maksud bukan dia, tapi adik kelas yang kebetulan namanya Naya juga." jelas Rey tiba-tiba.


Keadaan yang awalnya ricuh kini mulai tenang, sang korban yang baru saja dituduh mendengus kesal karena sempat menjadi tersangka, lagipula ia masih waras untuk tidak menyukai teman kelasnya sendiri.


"Sorry Naya, habisnya kita kaget dengar Rey dibuatin bekal sama orang yang namanya Naya."


"Karena gue cantik kalian gue maafin, lagipula gue udah punya cowok, malas banget gue buatin Rey centil bekal." jelasnya dengan tangan dikibaskan.


Rey mendelik, tak terima mendengar gelar panggilan yang baru saja gadis itu suarakan, baru saja ingin membalas! Tapi kedatangan guru mata pelajaran IPA mau tak mau membuat bibirnya terkatup kembali.


"Gimana semua sehat?" tanya guru itu basa-basi, matanya mengamati seluruh penjuru kelas yang terlihat sangat lengkap, hari ini anak didiknya tak ada yang kurang satupun.


"HAAHHHH?"


"Ibu bercanda ya?" celetuk Rey.


"Ibu gak bercanda Rey." jelas sang guru.


"Tapi Bu---"


"Drian bagikan kertas kosong yang ada diatas meja Ibu."


Sang ketua kelas bangkit dari duduknya, menjalankan perintah dari guru didepannya walaupun sedikit tak ikhlas, mau bagaimapun ia juga cukup kesal dengan ulangan mendadak ini.


"Ibu harap kalian seperti Emma yang selalu dapat nilai yang hampir sempurna, ibu tau kalian pintar, hanya saja kalian tak seserius Emma dalam belajar. Bahkan hampir semua mata pelajarannya mendapat nilai terbaik dikelas ini." nasehat sang guru.


"Ibu gak bisa bandingin kita." timpal salah satu siswi tak terima.


"Ibu gak bandingin kalian---"


"Terlalu menjunjung salah satu anak didik ibu dan membedakan dengan kami apa namanya kalau bukan membandingkan?" tanya Anika santai.


"Itu juga demi kebaikan kalian."

__ADS_1


"Ibu salah, itu malah menjatuhkan kami." sela Anika lagi.


"Kalian gak akan maju kalau begini terus, ibu cuma mau kalian berubah dan gak anggap enteng tentang sekolah."


Mereka semua terdiam, tak mau ambil pusing dengan ucapan guru yang ada didepan, hal seperti ini sudah biasa terjadi hanya saja mereka cukup kesal jika harus dibandingkan terus menerus.


"Kalian dengarkan?"


"IYA BUUU." serentak mereka malas.


Emma tersenyum tipis, menjadi kebanggaan guru tentu membuatnya senang apalagi saat sebagian guru tak mempermasalahkan lagi mengenai tindakannya waktu pentas tahunan.


Itu membuktikan citranya didepan para guru masih aman, ia hanya perlu sedikit menambah bumbu mengenai perilaku Anika yang suka membolos pada pengintaian guru BK.


"Ibu harap kali ini nilai kamu tambah bagus setidaknya jangan sampai menurun Emma." sahut guru diatas.


"Iya Bu, aku gak mungkin biarin nilai aku menurun." jawab Emma sopan.


"Bagus nak, soal masalah beasiswa kamu yang dicabut kamu jangan terlalu pikirkan, semua orang pernah berbuat salah, kamu hanya perlu memperbaiki diri dan mempertahankan nilai kamu untuk mendapat beasiswa masuk ke universitas pilihan kamu."


"Iya Bu, lagipula aku memang pantas dihukum karena perbuatanku sendiri, aku juga gak bisa nyalahin kepala sekolah karena udah cabut beasiswa aku." jelasnya pelan.


Sang guru tersenyum tipis, ia cukup kagum mendengar penuturan anak didiknya, walaupun sempat tak menyangka remaja itu bisa berbuat diluar pemikiran, tapi tetap saja kembali ke diri sendiri, semua orang pernah berbuat salah dan itu hal lumrah yang biasa terjadi pada seseorang.


Anika tersenyum miris, dengan apa yang terjadi dipentas tahunan! Tampaknya itu tak berpengaruh lebih bagi sebagian guru, walaupun dengan fakta nama baik sekolah bisa saja tercoreng karena salah satu siswi disekolah ini, tapi tetap saja guru didepannya menganggap hal itu bukanlah permasalahan yang serius.


Anika mengangkat tangannya, matanya menyorot datar pada guru didepannya yang masih saja berceloteh tak kenal waktu dengan anak didik kesayangannya.


"Kalau ibu mau ngasih pencerahan ke Emma lebih baik panggil dia keruangan ibu buat bahas masalah pribadi, ini sudah 15 menit ibu buang-buang waktu karena sibuk sama pembahasan kalian, waktu adalah uang dan ibu sudah ambil waktu 15 menit kami yang harusnya sudah selesaiin sebagian soal ulangan."


.


.


.


.


Bersambung


Jangan pelit-pelit like, vote dan komen ya guys~


Ig: siswantiputri3


^^^16-JANUARI-2022^^^

__ADS_1


__ADS_2