Antagonis

Antagonis
Chapter 45


__ADS_3

"TURUN LO DASAR PLAGIAT."


Anika tersentak, teriakan dari bawah panggung membuatnya berdecak malas, sebelum keadaan semakin kacau anggota OSIS yang menjadi pembina dalam acara ini berusaha melerai.


"Sudah-sudah, disini kita gak bisa menghakimi, Anika harus menjelaskan dulu kenapa puisi yang ia bawakan sama persis dengan yang dibawakan Ratu."


"Udah jelas dia plagiat puisinya Ratu." sahut salah satu siswa dibawah sana.


"Pasti dia gak bisa buat puisi, tapi karena mau caper makanya maksain diri sendiri, akhirnya dia ambil puisinya Ratu." jelas siswi lain.


"Karena udah gak mungkin Ratu kayak gitu, dia pintar! Mustahil dia yang plagiat." celetuk mereka lagi.


"Kenapa gak mungkin?" Anika yang sejak tadi diam mulai angkat suara, ia sengaja menggunakan Mic agar ucapannya didengar oleh mereka semua.


"Karena dia pintar."


Anika tersenyum remeh "oke, berarti gue yang gak pintar disini, tapi kenapa orang gak pintar kayak gue bisa masuk ke sekolah ini? Ah...berarti sekolah ini gak pintar juga dong karena nerima murid kayak gue." jelasnya santai.


Kepala sekolah yang duduk pada bagian depan akhirnya angkat suara, ia tak ingin karena masalah ini sekolah yang dibawah naungannya dicap buruk, apalagi tamu undangan dari orang tua murid hampir semuanya keluarga terpandang.


"Kamu punya satu kesempatan, kasih bukti sebagai pembelaan kalau puisi itu memang milik kamu atau akuin kalau kamu memang salah kemudian minta maaf dan bacakan puisi yang baru." ucap sang kepala sekolah.


Suara riuh yang tadinya tercipta kita mulai terhenti, ujung bibir Anika mulai terangkat membentuk senyum yang lumayan tipis, ini yang ia suka dari sang kepala sekolah, memberi pilihan agar dia bisa membelah diri.


Ratu melangkah lebih dekat, ia berdiri tepat didepan panggung pentas, tasnya ia buka, mengeluarkan bukti kertas yang berisikan coretan tinta puisi buatannya.


"Gue punya bukti kalau puisi itu punya gue." ucapnya bangga, kertas yang ada ditangannya ia angkat.


Anika mengenyit, bukti seperti itu menurutnya tak kuat, bisa saja tulisan itu ia buat setelah puisinya sudah dicontek, tapi tak apa ia akan mengikuti kemauan gadis itu, matanya menatap kearah ketua kelasnya, meminta tolong membawakan tas miliknya untuk dibawah naik keatas panggung.


"Gue juga punya bukti kayak gitu." ia mengobrak-abrik isi bukunya, mencari kertas yang digunakan saat membuat puisi bersama Adelard waktu itu.


Hilang!


"Gimana?" tanya anggota OSIS, sambil menunggu gadis itu mencari bukti yang ada didalam tasnya.


"Lo gak usah bohong, pasti habis ini lo bilang kertas lo hilangkan?" tanya Ratu sedikit keras.

__ADS_1


"Alah basi, alasan murahan lo udah ditebak tau gak." timpal siswi lain.


Anika berdecak, sekarang ia yakin mereka semua mulai menggunjingnya, situasi ini benar-benar membuatnya kesal setengah mati. Apalagi wajah Emma dan Ratu benar-benar memuakkan.


"Kapan lo buat puisi itu?" tanya Anika tiba-tiba, matanya terfokus pada Ratu yang masih terlihat santai.


"Tanggal 28."


"Lo yakin?" tanyanya lagi.


"Yakin banget." jawabnya santai.


Anika tersenyum tipis "kalau gitu lo yang plagiat puisi gue."


"Gak usah bohong lo, udah salah bukannya ngaku malah nuduh, waras lo." sarkas Ratu.


Harusnya ia yang mengatakan itu, tapi tak apa, kadang seseorang memang tak tau malu. Ia mengeluarkan ponselnya, video berdurasi 1 menit ia putar, video saat dirinya membuat puisi, diakhir video bahkan ia sempat merekam wajah paripurna Adelard gebetannya.


"Ini video gue, jelas kan? Bahkan divideo itu gue jelas-jelas nulis puisi tanpa contekan, bahkan tanggalnya juga ada, tanggal 26." ia benar-benar tak mengira videonya waktu itu menjadi bukti atas puisi yang sekarang dibacanya.


Tubuh Ratu menegang, bahkan Emma sama gugupnya hanya saja ia bukanlah pemeran utama dalam masalah ini, jadi rasa gugupnya sirna begitu saja.


Harusnya ia lebih teliti dan memastikan Anika tak memiliki bukti tentang puisi itu, bukannya langsung mengiyakan hanya karena iming-iming membuat Rey kagum, bisa-bisanya otaknya diperdaya oleh gadis panti itu.


"Gak mungkin." teriak salah satu siswi, bahkan terlihat sebagian siswa/siswi yang ada disana masih tak percaya, tak percaya Ratu Axelion sang jenius IPA melakukan aksi plagiat.


"Gak mungkin apa? Gak mungkin Ratu plagiat karena dia orang kaya makanya kalian bela dia? Gak mungkin plagiat karena dia dikelas jenius IPA berarti gak pernah salah?" tanya Anika santai.


"Gak mungkin Ratu Axelion yang menurut kalian sosok yang sempurna bisa lakuin itu? Lalu apa kabar sosok yang katanya dari keluarga Axelion beberapa kali terbukti menjadi queen bullying disekolah ini, saking kagumnya kalian sama dia sampai-sampai tutup mata? Oh...ayolah bahkan seseorang yang bekerja dipemerintahan bisa buat salah dengan melakukan tindakan korupsi, padahal mereka terpelajar bahkan usianya sudah dikatakan matang, lalu kenapa Ratu mustahil bisa buat salah diumur yang masih belasan, bahkan statusnya masih pelajar?" sambungnya datar, ia benar-benar malas sekarang.


Semua orang bungkam, tak ada yang menyahut, selalu seperti ini! Jika tak diberi siraman rohani mata mereka buta karena tertutup yang namanya kesempurnaan. Padahal mustahil ada yang namanya sempurna.


Ratu mengepalkan tangannya, ia benar-benar malu sekarang, tubuhnya berbalik ingin meninggalkan tempat itu.


"TUNGGU." teriak Anika.


"Apa lagi? Puas lo permaluin gue? Sekarang lo mau apalagi." marahnya.

__ADS_1


Anika memutar bola matanya malas "kalau lo lupa lo sendiri yang buat diri lo malu kayak gini."


"SEKARANG LO MAU APA?" teriaknya, sudah cukup ia menahan malu, nama baiknya sudah tercoreng, dari awal ia sudah basah kenapa tak sekalian ia menyebur saja.


Anika tak habis fikir, gadis itu benar-benar kebal muka, bisa-bisanya memberontak padahal jelas terbukti bersalah, menurutnya kata maaf saja sudah cukup, tapi melihat sikap sombong dan arogan gadis itu membuat ia urung memaafkan begitu saja.


"Lo fikir lo bisa pergi gitu aja setelah buat gue dituduh maling oleh maling?"


Ratu mengepalkan tangannya, emosinya memuncak mendengar ucapan gadis yang berdiri santai diatas panggung.


"Udah Anika, menurut aku Ratu udah cukup mendapat malu, kamu jangan nambah penderitaan dia lagi." lerai Emma, kakinya mendekat kearah Ratu mengelus pundak gadis itu pelan.


"Dia yang udah buat dirinya menderita." jawab Anika santai.


"Kamu jangan egois, kamu gak kasian dia udah tertekan dan malu kayak gini." timpal Emma.


"Dengan lo bela dia kayak gitu berarti lo membenarkan tindakan dia yang melakukan aksi plagiat." Anika meletakkan tangannya didepan dada dengan pandangan datar.


Bisik-bisik dari semua siswa/siswi mulia terdengar, bahkan tak jarang para tamu undangan mencemooh tindakan dari putri bungsu keluarga Axelion, apalagi pembelaan dari gadis yang tak mereka kenal membuat posisi Ratu semakin salah.


Emma mengepalkan tangannya, bukan ini rencananya, ia hanya ingin membuat semuanya selesai dengan dia yang menjadi pelerai, membuat keadaan yang awalnya kacau menjadi tenang, bukan malah menambah kekacauan seperti ini.


Ia benar-benar menyesal mengambil langkah untuk membelah Ratu, tapi menyesal juga sekarang tak ada gunanya, nasi sudah menjadi bubur dan ia sudah ikut masuk dalam masalah yang harusnya ia hindari.


.


.


.


.


Bersambung


gak bosan-bosannya ngingetin kalian buat klik tombol like, luangkan beberapa detik klik like, vote dan komen, supaya makin semangat lanjutinnya.


Ig: siswantiputri3

__ADS_1


^^^27-DESEMBER-2021^^^


__ADS_2