Antagonis

Antagonis
Chapter 82


__ADS_3

Emma tersenyum cerah menatap pantulan dirinya pada cermin yang ada ditoilet sekolah, dengan perasaan riang ia membasuh wajahnya yang masih mempertahankan binarnya. Ternyata usahanya tak sia-sia, harusnya dari dulu ia melakukan rencana ini.


"Hidup yang indah." monolognya pelan kemudian membalikkan badan untuk segera keluar dari toilet.


"Hallo sahabat." sapa Anika tiba-tiba membuat Emma tersentak beberapa detik tapi dengan cepat menetralkan raut wajahnya menjadi tenang kembali.


"Iya, gimana keadaan lo! Masih waras?" tanya Emma dengan pandangan mengejek membuat Anika mengedikkan bahunya tak perduli.


"Gimana ya?" celetuk Anika tiba-tiba, bibirnya menghela nafas pelan dengan tangan memainkan sebuah tang yang entah ada sejak kapan "jujur gue gak tau apa yang sebenarnya udah gue lewatin, tapi satu yang gue tangkap dan itu yang paling penting."


Walaupun bingung apa yang sebenarnya Anika lakukan tapi Emma masih tetap mempertahankan wajah angkuhnya, bahkan tatapannya masih menatap remeh gadis yang sukses membuat gempar satu sekolah.


"Lo benar-benar hebat jatuhin gue."


"Apa maksud lo?"


Anika terkekeh sinis, tangannya kini memainkan tang merah yang ada pada genggamannya bahkan sekarang tubuhnya sudah berjarak sangat dengan pada Emma hingga mau tak mau gadis itu terpojok pada wastafel dibelakangnya.


"Gue sebenernya berniat diskusi sama lo, ngomong baik-baik tentunya." timpal Anika santai "24 jam waktu lo perbaiki kesalahpahaman ini." tambahnya dingin dengan pandangan datar yang hanya dibalas kekehan remeh oleh Emma.


"Lo gak ada bukti kalau gue yang lakuin ini semua, dan lo gak punya hak untuk nyuruh gue turutin omongan lo."


"Gue gak butuh bukti, cukup gue tau dan yakin kalau dalang yang terjadi sama gue hari ini itu karena lo. Dan soal nyuruh lo perbaiki nama baik itu gampang! Tinggal pilih lo mau gue paksa atau dengan suka rela lakuin semuanya." seringai Anika.


"Gue gak ma---"


BUGH.


"Argh..."


Anika tersenyum lebar melihat kepala sahabatnya sudah menyentuh wastafel dengan hantaman keras, rambut panjang gadis itu ia tarik kemudian dengan santai membanting tubuhnya menghantam lantai toilet.


"Gimana? Lo mau secara paksa atau dengan suka rela?" tanya Anika sambil mendudukkan perut gadis itu dengan tangan yang sudah bertengger manis pada leher sang sahabat.


"Uhuk...lo--lo gak bisa paksa gue "


"Bisa! Jadi apa jawaban lo?"

__ADS_1


"G--gue gak mau." jawab Emma susah payah dengan tangan mencoba melonggarkan cekikan pada lehernya.


"Oke." Anika tersenyum tipis sambil menatap tangan gadis itu penuh minat, dengan santai ia meraih tangan kanan Emma sambil memposisikan tang miliknya dijari gadis itu.


"A--apa yang lo lakuin?" tanya Emma takut-takut, bola matanya bergerak gelisah dengan perasaan was-was.


"Kuku lo panjang ya." celetuk Anika santai, bibirnya tiba-tiba menampilkan senyum lebar sambil menjepit kuku gadis itu pada tang miliknya. Emma yang sudah terlampau cemas mencoba bangkit dari tidurnya tapi yang ia dapat malah rasa sesak didadanya karena tekanan dari lutut Anika yang kini menyeringai tipis.


"Lo mau....ARGHHHH."


"satu."


"Jang....ARGHHHH."


"Dua."


"Berhenti....ARGHHHH."


"Tiga."


KREK.


Air mata Emma meluruh, matanya menatap nanar tiga kuku jarinya sudah terlepas paksa ditambah salah satu jari miliknya sudah bengkok ke atas karena ulah gadis itu. Matanya terpejam menahan rasa sakit luar biasa yang mendera jari-jari tangannya.


Pandangannya kini mengarah pada pintu toilet yang tertutup rapat, kenapa disaat seperti ini tak ada siswi yang masuk ke toilet ini bahkan sekarang ia sadar kalau sejak tadi mereka hanya berdua didalam. Sebenarnya apa yang terjadi?


"Jadi?" tanya Anika lagi.


Emma menggeleng pelan, bahunya bergetar dengan tangan Anika yang sudah membekap mulutnya. Ia benar-benar tak menyangka bisa berakhir seperti ini, didalam toilet dengan penyiksaan yang tak pernah ia pikirkan akan terjadi.


"Sekali lagi gue tanya lo mau ke kacauan ini atau lo berakhir sama gue disini, didalam toilet dengan jari-jari lo yang bakal gue putusin satu-satu." ancam Anika membuat tubuh Emma semakin bergetar bahkan pelipisnya sudah mengalir keringat dingin membayangkan apa yang akan ia alami selanjutnya.


"Gimana? Lo mau perbaiki nama gue yang tercemar atau enggak!" tanya Anika sekali lagi membuat Emma mengangguk pelan dengan perasaan takut yang cukup kentara. Bahkan sekarang ia tak bisa menyembunyikan wajah pucatnya.


Puk.


Puk.

__ADS_1


"Bagus." puji Anika sambil menepuk pelan pipi Emma yang kini tak ada rona sama sekali, seolah aliran darah gadis itu berhenti saking pucatnya.


Dengan santai gadis cantik itu bangkit dari posisinya menduduki Emma, bibirnya tersenyum tipis melihat penampilan gadis yang kini tergeletak mengenaskan pada kakinya "oh iya! Jangan buat gue terlibat lagi sama drama lo itu, gue gak suka ada orang ngatur jalan cerita hidup gue sendiri. Sampai disini lo ngerti kan kawan?"


Karena tak ada lagi tenaga yang tersisa akhirnya Emma mengangguk pelan sebagai jawaban, wajahnya sudah sembab akibat tangis yang tak bisa ia tahan apalagi rasa perih pada tangannya yang sudah terluka.


Sekarang untuk melihat satu jarinya yang bengkok saja ia tak bisa, terlalu takut melihat penampakan jarinya yang sudah cacat dan ia sangat benci itu. Bibirnya digigit pelan membayangkan betapa mengenaskan keadaan jari tangannya.


"Bay sahabat." pamit Anika dengan senyum manisnya, dengan gesit ia melompat keluar pada jendela toilet untuk segera pergi dari sana.


Bibirnya bersiul santai sambil berjalan melewati belakang sekolah, menikmati rerumputan yang sudah sangat subur apalagi pepohonan yang cukup terawat tanpa adanya daun berserakan diatas tanah. Ia benar-benar mengacungi jempol pada tukang bersih-bersih disekolahnya ini.


Senyum cerah pada bibirnya perlahan luntur melihat seorang pemuda yang kini berjalan ke arahnya, tak ingin berpikir lebih lanjut akhirnya kembali melangkah tanpa sedikitpun menoleh pada Rey yang juga melewatinya begitu saja. Ia cukup sadar hubungan mereka tak lagi sama, dan tentu ia menghargai keputusan pemuda itu untuk menjauhinya.


Bahkan ia sama sekali tak kepikiran untuk menjelaskan lebih rinci agar pemuda itu percaya padanya. Kepercayaan pada seseorang tak bisa dijelaskan oleh kata, kalau memang mereka cukup dekat dan saling mengenal tentu pemuda itu tak akan terkecoh oleh sesuatu yang kini menggemparkan sekolah. Biarlah waktu yang menjelaskan kesalahpahaman ini.


PUK.


Dahi Anika mengernyit, tepukan pada pundaknya sedikit membuatnya berpikir kenapa Rey ingin berurusan lagi dengannya! Dengan raut penasaran ia menoleh pada sang empu.


"Apa Rey---hmm Drian?" tanya Anika mendadak pelan. Ia sungguh idiot dan sedikit senang padahal harusnya ia sadar Rey tentu tak akan repot-repot berurusan dengannya lagi.


"Bahkan video sekalipun gak bisa buat gue yakin kalau yang lakuin perampokan dan jebak Rey itu lo, gue berharap masalah ini bisa selesai secepatnya Anika." tutur Drian sambil menepuk pundak gadis itu pelan kemudian berlalu pergi setelahnya.


Anika bergeming ditempatnya matanya menatap punggung Drian dengan pandangan kosong, ia cukup bingung! Kenapa orang yang tak pernah ia sangka sebelumnya dan tak cukup dekat dengannya malah orang yang bisa percaya dan tetap dukung keadaannya?


"Apa lo orang yang sama?" tanya Anika pada angin lalu. Bibirnya menghela nafas pelan kemudian segera pergi dari tempatnya berpijak.


.


.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


Instagram: siswantiputri3


__ADS_2