Antagonis

Antagonis
Seorang Anak


__ADS_3

Seorang anak laki-laki sedang berdiri di depan sebuah rumah, dia terus memperhatikan rumah itu dengan penuh selidik.


Dari luar rumah itu di bagun dengan arsitektur khas masa kolonial, tampak kuno namun indah.


Dia terus memperhatikan rumah itu sampai hal yang tidak terduga pun terjadi, rumah itu tiba-tiba terbakar.


"*Ampuni kami..." Di iringi api yang terbakar, suara jaritan orang terdengar dari dalam sana*.


"Tolong Ampuni kami"


"Ampuni kami"


Suara itu terdengar dari dalam namun anak itu tidak melakukan apapun, dia hanya terdiam kemudian menyeringai.


....


^^^Senin, 15 November.^^^


Gilbran tersadar dan menemukan dirinya berada di rumah sakit dalam kondisi Tangan di infus dan kepalanya di perban. Dia mencoba bangun namun seluruh tubuhnya terasa lemah. 


"Jangan bergerak, kau baru saja siuman setelah dua hari koma" suara seorang pria.


"Aku akan segera memanggil dokter" suara  pria itu perlahan menjauh lalu terdengar suara pintu di tutup menandakan si pria telah pergi.


Tidak sampai lima menit pria itu kembali dengan seorang dokter pria


"Pak Rizal, anda bisa menunggu di luar" ujar dokter dan di patuhi oleh si pria yang adalah pak Rizal.  Beliau adalah polisi yang bertanggung jawab menangani kasus pembunuhan Gilda.


Memang setelah penemuan jasad Gilda Sabtu lalu, kasus itu di nyatakan oleh pihak kepolisian sebagai kasus pembunuhan dan Tim khusus juga sudah di bentuk untuk menyelidiki.


"Akhirnya polisi gila itu pergi juga, sedari kemarin dia terus berada di sini dan memaksa pihak rumah sakit agar membuat mu siuman" ujar dokter.


Dokter melihat Gilbran yang tampak murung, sepertinya Gilbran sudah mengingatkan apa yang terjadi pada dirinya dan juga adiknya "Saat nya pemeriksaan" Ujar dokter muda itu lalu mulai memeriksa.


"Daniel bagaimana dengan Gilda?" Tanya Gilbran pada sang dokter, rupanya mereka berdua sudah saling kenal.


Daniel menghela nafas "hasil otopsinya sudah keluar. Ku rasa sebentar lagi kau akan di interogasi oleh pak Rizal karena keterangan mu sangat dibutuhkan oleh mereka untuk menangkap pelaku"


Gilbran yang mendengar itu hanya terdiam.

__ADS_1


Setelah melakukan serangkaian pengecekan dan pemeriksaan pada tubuh Gilbran, Daniel segera membereskan peralatannya "Kau belum pulih sepenuhnya, namun aku akan meminta pihak rumah sakit untuk memulangkan mu. Gilda harus segera di makamkam, tubuhnya sudah mulai rusak"


"Terima kasih" ujar Gilbran.


Dokter Daniel tersenyum kecil "kita kan sepupu jadi harus saling bantu" Dokter Daniel pun keluar. Kamudian masuklah Rizal sambil membawa sebuah buku. Polisi itu bersiap untuk menginterogasi Gilbran.


"Selamat pagi Gilbran, aku adalah Rizaldi Setyawan. Kita pernah bertemu sebelumnya" Rizal memperkenalkan diri.


Gilbran ingat betul siapa Rizal, polisi yang di temuinya saat evakuasi jasad Gilda.


"Ceritakan apa yang terjadi pada Jumat sore sebelum Gilda di temukan tewas?"


"Ini sangat tidak etis pak, saya baru saja sadar" ujar Gilbran, bukan nya tidak mau  menceritakan semuanya dengan detil. Namun Gilbran tidak ingin merasa sedih ketika mengingat semuanya.


"Kau bisa bicara kan?! yang perlu kau lakukan hanya bercerita" ujar Rizal dingin.


Gilbran mulai menceritakan semuanya termasuk saat dirinya berbicara dengan pelaku "....aku sempat bicara dengan pelaku pada malam Gilda menghilang. Pelaku mengatakan akan membunuh Gilda"


Rizal cukup terkejut dengan pernyataan Gilbran mengenai pelaku yang sempat berbicara langsung dengan Gilbran.


"Menarik, apa kau dan pelaku saling kenal?" Reaksi yang di berikan Rizal membuat Gilbran berpikir bahwa polisi di hadapannya ini adalah orang gila.


"Jika begitu ada kemungkinan bahwa orang itu adalah kenalanmu, dia sengaja menyamarkan suaranya agar kau tidak mengenalinya" ujar Rizal.


"Itu mungkin saja, tapi aku masih ragu. Jika pelakunya adalah kenalanku itu terdengar mustahil karena aku maupun Gilda tidak pernah memperlakukan orang lain dengan buruk dan jika,  Pelaku adalah saingan bisnisku mereka tidak akan mengincar Gilda apalagi membunuh. Itu tidak akan berdampak pada bisnis ku" jelas Gilbran menduga-duga.


Rizal menghela nafas "kami akan mencari tahu secepatnya" dia bangun dari duduknya dan hendak pergi


"Pertanyaan terkahir, pada saat penemuan jasad Gilda. Aku melihat mu berlari pergi ke arah gerbang, apa alasan mu pergi"


Gilbran baru teringat bahwa dia sempat menemui pelaku "Aku mengejar pelaku" jawab Gilbran yang agak membuat Rizal agak  terkejut.


"Pelaku? Bagaimana kau tahu kalau itu pelakunya?" Tanya Rizal lagi.


"Akh" kepala Gilbran tiba-tiba terasa pusing, ingatannya terhadap pelaku kembali.


"Suaranya, sama seperti orang yang mengancam ku di telepon" tambahnya.


"Benarkah? Aku tidak tahu kalau kau sedang mengejar seseorang" ujar Rizal.

__ADS_1


Gilbran masih merasakan sakit di kepalanya saat mencoba mengingat pelaku.


"Baiklah kalau begitu, istirahatlah. Aku akan menemuimu lagi setelah kau benar-benar pulih" Rizal hendak pergi.


"Iya pak rekamannya juga akan segera ku berikan"


...


Kini Rizal sudah berada di TKP penemuan jasad Gilda yang masih terpasang garis polisi. Dia memperhatikan sekeliling.


Tidak ada CCTV di sekitar sini' batinnya.


Rizal lalu berjalan menunju lokasi tempat Gilbran di tabrak, dia menemukan CCTV yang ada di pasang pada pintu gerbang kampus.


Segera, dia meminta rekaman CCTV pada hari Gilbran di tabrak. Dia ingin memastikan kebenaran bahwa Gilbran melihat pelaku di hari penemuan jasad Gilda.


"Maaf pak, CCTV nya rusak" ujar seorang satpam ketika Rizal ingin melihat rekaman cctv.


"Rusak? Kenapa tidak di ganti? CCTV adalah salah satu standar keamanan yang penting, terutama di tempat umum seperti kampus" Rizal terdengar marah.


"Kami sudah menyerahkan proposal pergantian CCTV dari sebulan lalu dan sampai sekarang belum ada tanggapan" jelas satpam itu.


"Kalian ini! padahal CCTV itu bisa menjadi bukti penting karena ada kemungkinan pada hari kejadian pelaku melewati" Rizal memegangi kepalanya.


"Kalau pelaku berani lewat sini berarti dia tahu kalau CCTV nya rusak" ujar satpam itu.


Rizal terdiam sesaat mencerna perkataan dari pak  satpam.


"Siapa saja yang tahu bahwa cctv dalam keadaan rusak?"


"Selain para satpam, mungkin para mahasiswa yang sadar ketika lewat di depan gerbang"


"Jadi siapa saja pasti tahu"


Bukti kuat yang di harapkan seolah sirna, kini yang bisa di andalkan hanya hipotesis dan praduga. Satu-satunya petunjuk adalah rekaman yang berada di tangan Gilbran.


Rizal menghela nafas  panjang kemudian meninggalkan wilayah kampus. Dari kejauhan terlihat seseorang sedang memperhatikan Rizal dari jauh.


"Sepertinya ini akan seru" orang itu menyeringai.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2