
"Pulang sana." usir Anika, tangannya mendorong punggung Rey agar keluar dari rumahnya, mau bagaimanapun ia hanya tinggal sendiri, ia tak mau adanya gosip yang dibuat para tetangganya mengenai mereka berdua.
"Kok lo ngusir gue sih?"
"Ini udah malam Rey." jelasnya berusaha sabar, semoga pemuda didepannya cepat tau diri dan segera pergi dari tempat tinggalnya.
"Yaudah iya."
Dengan setengah hati Rey keluar dari rumah sahabatnya, sebelum ia benar-benar pergi kepalanya menoleh menatap Anika yang menampilkan raut tanya.
"Apa?"
"Besok gue jemput."
"Biasanya juga gitu kan?" kepalanya menggeleng menatap pemuda didepannya.
"Lupa." Rey benar-benar meninggalkan Anika yang kini menampakkan senyum lebar, gadis itu berlari kearah kamarnya setelah tak ada gangguan lagi.
Tas dan jaketnya ia lempar asal, dengan raut bahagia yang masih kentara ia berjalan memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri.
Mulutnya bersenandung ria seiring rasa dingin dari air yang menyentuh permukaan kulitnya, matanya terpejam menikmati perasaan rileks yang membelenggu otaknya.
Benar-benar damai.
Tak butuh 15 menit akhirnya ia selesai dari rutinitasnya, tubuhnya ia rebahkan diatas kasur dengan pandangan menatap langit kamar.
"Ah...iya."
Nomor ponsel dari buku sekolahnya ia keluarkan, tangannya menyimpan nomor pria tampan itu pada benda pipih persegi panjang miliknya. Bibirnya tersenyum dengan tangan lentik menekan tombol panggilan pada seseorang diseberang.
Senyumnya semakin lebar saat nomor yang ia dapat ternyata memang nomor asli, jari tangannya ia gigit menahan rasa gugup yang kini mulai mendominasi.
"Tersambung." Monolog Anika dengan binar bahagia.
"Hallo."
[Di sini dari hotel star, ada yang bisa----]
"Kampret." umpat Anika spontan.
[Maaf nona ada yang bisa kami bantu?]
"Ah...bacot."
Tik.
Anika menggigit guling miliknya saking kesalnya, bisa-bisanya ia ditipu oleh pujaan hatinya, rasanya seperti ditolak bahkan sebelum berjuang.
"HUAAAAAAAA....Pengen punya pacar ganteng...."
...***...
Anika mendengus kesal, kantung matanya sangat jelas terpampang pada wajah putihnya, tangannya diletakkan didepan dada sambil menatap jalanan.
__ADS_1
Waktu sudah menunjukkan pukul 06:25 tapi Rey masih belum datang menjemputnya, tidak biasanya pemuda itu seperti ini, padahal tinggal 35 menit gerbang sekolah akan ditutup.
TIN...TIN....
"Lama lo." sarkasnya saat Rey keluar dari pintu mobil, Emma juga nampak menampilkan senyum lebar seperti biasanya.
"Maaf-maaf, tempat tinggal Emma lumayan jauh."
Alis Anika menukik "lo udah ketempat tinggal Emma? Kok gue gak diajak?"
"Kan kemarin kamu gak pulang bareng kita." jawab Emma.
"Oh iya, yuk buruan nanti keburu telat lagi." Anika mendahului Rey dan Emma, dengan langkah cepat ia masuk kedalam mobil milik pemuda itu.
Mereka berdua ikut menyusul Anika, Rey dengan santai duduk dan memakai seatbel, kepalanya melirik Emma dari kursi penumpang "lo udah siap?"
Emma tersenyum manis kepalanya mengangguk sebagai jawaban, matanya kini menatap punggung Anika intens, itu tempatnya, seseorang yang harusnya disamping Rey adalah dirinya bukan gadis itu.
"Yaampun gue lupa, kenapa gue duduk disini." Anika tiba-tiba menepuk dahinya, kepalanya menoleh kebelakang "lo duduk disini Emma, gue mau ketempat duduk gue, muka Rey bikin kesel soalnya."
Emma Tersenyum lebar "ah...iya." baru saja ia ingin keluar dari mobil tapi seruan dari Rey menghentikan pergerakannya.
"Enak aja, gak ada syukurnya emang lo jadi orang, udah syukur lo duduk disamping cowok ganteng, masih aja protes." sewot Rey.
"Bodoh amat." Anika membuka pintu mobil, kakinya sudah dilangkahkan keluar tapi tiba-tiba tangannya ditarik spontan.
"Lo ngehina muka gue kan? Yaudah lo duduk disitu aja, gak ada pindah-pindah, mulai sekarang lo duduk dibelakang Emma." titah Rey.
"Siapa lo nyuruh-nyuruh gue?" tanya Anika ngegas.
"Pemilik mobil ini." jawab Rey sombong.
Anika mengerucutkan bibirnya, pintu mobil ia tutup pelan dengan wajah ditekuk, kepalanya menoleh menatap Rey dengan pandangan permusuhan.
"Mulai sekarang lo harus terbiasa." Pemuda itu menepuk pucuk kepala Anika berulang-ulang, senyumnya merekah dengan wajah angkuh.
"Iya-iya." Anika menolehkan kepalanya, wajahnya menunjukkan ekspresi nelangsa pada Emma "tukaran yuk?"
"Ta--tapi Rey---"
"Lo harus terbiasa disitu, siapa suruh lo ngehina wajah gue." sahut Rey cepat.
Anika menghela nafas kesal "ck...iya-iya, mulai sekarang gue dan Emma tukeran tempat duduk, gue akan duduk disini, disamping lo, gantiin Emma."
"Bagus." ucap Rey bangga, bibirnya tersenyum manis pada gadis disampingnya.
"Mulai sekarang posisi Emma gue ambil." ucap Anika lesu, bibirnya diam-diam menampilkan senyum licik.
"Tentu." jawab Rey seenaknya.
"Gak masalah kan Emma?" tanya Anika tiba-tiba.
"Eh...iya."
__ADS_1
Tangan Emma mengepal, kuku jarinya memutih menahan kesal yang sejak tadi membuncak, tempat itu miliknya dan Rey hanya untuknya, siapapun yang ingin menggeser posisinya harus menderita, termasuk...Anika.
Rey melajukan mobilnya, bibirnya bersenandung mengikuti lagu yang kini memenuhi keheningan diantara mereka bertiga.
"Huft...."
Matanya melirik gadis disampingnya yang kini terlihat lesu, kepalanya menggeleng saat netranya jatuh pada bibir sahabatnya yang terlihat mengumpat.
"Kenapa lo?"
Anika kembali menghembuskan nafas pelan "gak apa-apa." jawabnya seadanya, ia benar-benar badmood, dan ini semua karena pria tampan yang secara halus tidak tertarik dengannya.
Padahal menurutnya ia cukup cantik, bisa-bisanya pria itu memberinya nomor hotel, andai saja nomor itu benar-benar nomornyanya mungkin ia sudah melancarkan aksi PDKT-nya.
"Lo aneh tau gak."
"Emang iya?" tanya Anika spontan, kepalanya menoleh menatap Rey serius.
"Iya, lo kayak orang patah hati."
Anika menggigit kuku jarinya "sejelas itu?" tanyanya penasaran.
Rey mengangguk pelan sebagai jawaban "lo pernah ngerasain boker tapi gak mau keluar kan? Nah itu sama kayak patah hati, sama-sama sakit dan muka lo sekarang kayak gitu, makanya gue tau."
"Ck...gak ada perumpamaan yang lebih berfaedah dikit gitu? jijik tau gak."
"Atau gini deh, dilihat dari kondisi lo sih perumpamaannya lebih cocoknya kayak ngupil tapi upilnya mentok didalam, sama-sama susah, jari lo susah dapat tuh upil dan lo susah dapat cowok yang lo bicarain kemarin."
Anika lagi-lagi menggerling jijik, tapi detik berikutnya matanya membola "kok lo tau sih kalau orang yang gue maksud cowok yang gue ceritain."
Rey mengedikkan bahunya acuh "see...itu pertama kalinya lo bahas cowok, jadi udah jelas muka jelek lo mengatakan kalau itu dia."
"Sialan lo." decak Anika misu-misu.
Pemuda itu terkekeh pelan, ia benar-benar suka melihat wajah kesal gadis disampingnya, benar-benar lucu dan itu cukup menghibur dirinya.
"Kalian bicarain siapa?" tanya Emma tiba-tiba.
Anika tersenyum lebar "ayah dari anak-anak gue."
.
.
.
.
Bersambung
Ig: siswantiputri3
^^^03-DESEMBER-2021^^^
__ADS_1