
Anika merebahkan tubuhnya, seharian bersekolah benar-benar menguras otaknya, walau sebenarnya ia tak pernah seambisus layaknya beberapa orang untuk saling menggaet nilai terbaik.
Motto hidupnya hanya satu untuk saat ini, lulus dari sekolah dengan nilai yang cukup, bukan yang terdepan bukan juga dengan nilai yang paling rendah.
Ia menghela nafas pelan, tubuhnya ia dudukkan dengan punggung bersandar pada sofa, bahkan ia belum melepaskan seragam sekolah yang masih melekat pada tubuhnya.
"Capekkkk...." rengeknya pelan, entah pada siapa! Mungkin pada udara yang ada disekitarnya.
TING.
Tangan lentiknya meraih ponsel yang ada diatas meja, matanya menyipit membaca deretan kata dari seseorang diseberang.
From: Rey Jamet
Besok kesekolah lo pergi sendiri aja, oh iya besok acara pentas tetap pake seragam sekolah.
Anika mengedikkan bahunya, tak mau ambil pusing dengan pesan singkat dari pemuda itu, lebih baik ia membersihkan tubuhnya kemudian keluar mencari cemilan kesukaannya.
"Cantik banget sih gue." pujinya didepan cermin, ia menatap kagum penampilannya yang tak pernah gagal.
Anika meraih tas jinjing yang tergantung disamping pintu kamarnya, headset yang ada dalam tasnya ia keluarkan kemudian dipasangkan pada kedua telinganya.
"This ain't Build-A-Bitc [A bitc]"
"You don't get to pick and choose." bibirnya sesekali mengikuti lirik lagu berjudul 'Build A Bitc' dari ponsel yang ada disaku celananya.
Lagu yang akhir-akhir ini trending disosial media, ia akui lagu ini benar-benar enak, ia sampai beberapa kali memutarnya disetiap harinya.
"So if you need perfect i'm not built for you"
"La-la-la-la-la-la-la-la-la-la-la-la-la-la-la-la-la-la-la-la-la-la." kepalanya menggeleng mengikuti irama pada lagu itu, bahkan ia sampai tak sadar sudah berada didepan mini market.
Anika menghentikan langkahnya, headsetnya ia lepas dengan kepala menoleh kebelakang, bibirnya tiba-tiba berdecak kagum, saking seriusnya mendengarkan musik ia sampai tak sadar sudah ditempat tujuan tanpa bantuan ojek.
Tak ingin membuang-buang waktu akhirnya ia melangkah masuk, membawa tubuhnya pada rak berisikan Taro yang sudah berjajar rapi.
Anika mengambil 20 bungkus Taro kemudian memasukkannya kedalam keranjang belanjaannya, kakinya kembali melangkah pada meja kasir untuk membayar cemilan yang dibelinya.
"Lama banget." decaknya, ia menggerutu kesal melihat antrian pada meja kasir, apalagi seseorang didepan yang membeli banyaknya makanan.
Ia menghela nafas malas, pandangannya menatap beberapa orang yang berjejer rapi didepannya, netranya tiba-tiba melihat punggung pria dengan tampilan jas yang melekat rapi pada tubuhnya, walaupun sedikit tak yakin tapi ia sepertinya mengenali punggung itu.
"Oh ya ampun, dia...dia kakak tampan." serunya senang, dengan tak tau malunya ia keluar dari barisan menghampiri sosok menawan yang sudah bersiap membayar pada mbak-mbak kasir.
__ADS_1
"Ternyata bener ya, jodoh emang gak kemana." celetuk Anika, bibirnya menyunggingkan senyum manis menatap pria tampan disampingnya.
"Kak Adelard beli apa?" tanyanya penasaran, kepalanya menoleh pada kantong kresek yang sudah berisi penuh.
"Awas."
Anika menggeleng cepat, tangannya direntangkan menghalangi jalan pemuda yang sudah berdiri santai didepannya.
"Awas."
"Antar gue pulang tapi." pintanya cepat, matanya berkedip lucu menatap Adelard dengan pandangan puppy eyes andalannya.
"Gak."
"Kalau gitu gue gak bakal pin---"
"Maaf mbak, jangan buat keributan disini." celetuk mbak kasir.
Anika memelototkan matanya, menatap sang kasir dengan pandangan terganggu, bisa-bisanya aksi PDKT-nya digagalkan oleh orang yang tak memiliki hak sama sekali.
"Silahkan kembali berbaris, kalau masih mau membuat keributan, pintu keluar ada disana." tunjuk mbak kasir kearah pintu bening yang tak jauh dari mereka.
"Lo ngusir gue?" geram Anika, matanya melotot menatap sang kasir dengan pandangan tak bersahabat.
"Anak kayak gitu emang gak pernah diajari sopan santun jeng." timpal salah satu dari mereka, bahkan semua orang yang berbaris menatap Anika dengan raut terganggu.
Kepala Anika berasap, wajahnya ditekuk mendapat cibiran dari ibu-ibu tukang gosip, kepalanya menoleh ingin mengajak Adelard pergi dari tempat itu tapi yang ada malah ruang kosong tanpa adanya makhluk hidup.
Pria tampan nan menawan malah meninggalkannya sendiri dengan orang rumpi-rumpi ini.
Anika meletakkan belanjaannya asal "bay...gue gak mau bayar." sarkasnya kemudian pergi dari tempat itu.
Mbak kasir hanya mampu menghela nafas sabar, tak jarang dia mendapatkan orang seperti itu bahkan hampir setiap harinya.
"Duh...kak Adelard yang aduhai dimana sih?" monolog Anika dengan kepala celingak-celinguk.
Kakinya melangkah kesana kemari mencari keberadaan sang empu, matanya menyipit melihat mobil yang tak asing dari indra penglihatannya.
"Itu kan..." dengan langkah cepat ia menghampiri mobil itu, bibirnya tersenyum tipis membaca plat nomor yang ada didepannya "jodoh emang gak kemana, tapi saingan dimana-mana."
"Kau...ck, awas." decak Adelard pada gadis yang kini menatapnya dengan binar cerah.
"Gue nebeng ya." pinta Anika sekali lagi.
__ADS_1
"Gak."
Gadis itu menghela nafas sabar, otaknya berfikir keras memikirkan cara agar dia bisa ikut dengan gebetannya ini "kalau kak Adelard mau antar gue pulang, gue akan kasih undangan buat datang ke acara pentas disekolah gue deh, secara kan sekolah gue juga sekolah elit, jadi kak Ade---"
"Oke."
Anika membulatkan matanya, telinganya dikorek karena sepertinya ia salah mendengar sesuatu, tidak mungkin ucapan asalnya diterima oleh pria itu, apalagi menurutnya tak ada untungnya CEO kaya seperti Adelard mau menghadiri acara pentas disekolahnya.
"Masuk." perintah Adelard datar.
Anika tersenyum lebar, wajahnya menatap cerah pria tampan yang ada didalam mobil, tanpa ingin membuang-buang waktu ia akhirnya masuk kedalam mobil mewah milik gebetannya.
"Kak Adelard beneran mau datang?" tanyanya hati-hati setelah berada didalam mobil.
"Hmm."
Anika semakin melebarkan senyuman manisnya "kalau gitu kak Adelard jadi perwakilan keluarga gue, eh...enggak deh kak Adelard datang sebagai tunangan gue aja." celetuknya asal.
Adelard menghela nafas pelan, gadis disampingnya sepertinya memang tak bisa diam, ia jadi heran dengan kecerewetannya dalam berbicara satu tarikan nafas, apa gadis itu memang seperti itu? Atau hanya ingin membuatnya kesal?
"Oh iya, om---om Da...siapa sih."
"Daren."
"Nah itu, om Daren kemana? Biasanya kan nempel mulu sama kak Adelard, cuti atau udah pensiun?"
"Diam atau turun." titah Adelard dingin, ia tak peduli dengan pertanyaan tak bermutu dari gadis disampingnya, tujuannya hanya satu mengantar gadis disampingnya pulang dengan tiket undangan sebagai balasannya.
.
.
.
.
Bersambung
Hallo guys~jangan lupa tinggalkan jejak ya! jangan jadi pembaca gelap, luangkan sedikit waktu beberapa detik buat klik tombol like.
Ig: siswantiputri3
^^^15-DESEMBER-2021^^^
__ADS_1