
Waktu sudah menunjukkan pukul 13:01, acara pentas sekolah yang diadakan juga sudah berakhir tepat pukul 12:00 siang, dua remaja beda gender itu akhirnya memilih untuk makan bakso mercon pada warung yang ada dipinggir jalan.
"Lo yang traktir ya." celetuk Anika.
"Enak aja, gak mau." tolak Rey.
Gadis cantik itu mendengus, bola matanya tiba-tiba mengeluarkan tatapan puppy eyes andalannya "lo kan baik, gue juga gak bawah uang." pintanya selembut mungkin.
Rey mendelik "bohong lo."
"Gue serius, ya ya ya kali ini lo traktir gue ya." bujuknya lagi.
"Pantes lo banyak cadangan, rayuan lo gak bisa ditolak soalnya." monolognya pelan, tangannya mengeluarkan dompet yang ada disaku celananya, dompet kulit berwarna hitam itu ia buka untuk memeriksa isi didalamnya.
"Gimana?" tanya Anika memastikan.
"Uang gue pas." jawab Rey ogah-ogahan.
"Alhamdulillah, sini gue bayarin." tangan lentiknya menyambar uang yang baru saja dikeluarkan pemuda didepannya, kakinya dengan cepat melangkah pada sang pemilik warung "bakso merconnya dua bang."
"Oke neng."
"Suka banget lo buat gue sengsara." sambar Rey.
"Orang kaya kok traktir bakso seharga 25.000 udah kayak ngeluarin uang 25.000.000." sindir Anika, tangannya diketuk-ketuk diatas meja menunggu bakso pesanannya sambil mengusir rasa bosan.
Rey menghela nafas sabar, dadanya dielus pelan dengan mulut beristighfar pelan, hari ini ia benar-benar gerah hati dan gerah body menghadapi cuaca terik dan juga mulut pedas milik gadis didepannya.
Wajahnya tiba-tiba berubah serius, matanya terfokus pada leher Anika yang sudah tak memiliki bekas, ingatannya terlempar pada kejadian beberapa hari yang lalu.
"Bekas itu."
"Apa?" tanya Anika bingung.
"Cekikan dileher lo." jelas Rey.
Anika menyentuh lehernya, pandangannya menerawang kedepan dengan memori terlempar pada percakapan antar dirinya dan Abian berlangsung "menurut lo---"
"Jangan gampang percaya." potong Rey.
Pandangan gadis itu beralih pada pemuda didepannya, matanya menyelami manik hitam dengan tatapan tajam milik sahabatnya "kenapa?"
"Gak ada yang tau kedepannya, dan satu yang harus lo ingat! Jangan pernah percaya sama siapapun selain diri lo sendiri." ucap Rey serius.
"Ini baksonya neng, mas."
Anika tersentak, otaknya yang masih mencerna ucapan Rey kini mendadak bubar, kepalanya digeleng sambil tersenyum manis melihat bakso mercon kesukaannya sudah ada didepan mata.
__ADS_1
"Makan yang banyak, kalau perlu makan sampai kepiring-piring, gak boleh mubasir apalagi gue yang bayar." celetuk Rey dengan kalimat yang ditekankan dibagian akhir.
Gadis cantik itu menulikan pendengarannya, lebih baik ia menikmati makanan gratis yang ada didepan matanya, berdebat dengan Rey juga harus memiliki energi ekstra.
"Ugh...enaknya." puji Anika, mulutnya mengunyah potongan bakso dengan rasa pedas menjadi pelengkap, ia benar-benar jatuh hati dengan makanan ini.
"Jelas enak, orang gratis." serbu Rey, jujur ia juga mengacungi jempol untuk bakso yang dimakannya, rasa pedas dengan olahan daging yang dibentuk bulat ini benar-benar nikmat, hanya saja ia tak selebay Anika yang memuji terang-terangan.
"Bodoamat, yang pen----"
"Rey." panggil seseorang.
"Ratu?" Pemuda itu sedikit terkejut melihat gadis cantik didepannya "lo ngapain disini?"
Ratu tersenyum manis "gue lihat lo makanya gue samperin, gue boleh duduk?"
"Duduk aja, gratis kok." serobot Anika.
Ratu mendengus, matanya menatap sinis gadis itu tapi hanya sekilas, pandangannya kembali pada Rey yang masih melanjutkan acara makannya "gue duduk ya."
"Duduk aja." jawab Anika lagi.
"Gue gak nanya lo ya." Ratu kesal sendiri, ia benar-benar tak habis fikir dengan Anika yang selalu saja menggangu rencananya untuk membuka obrolan dengan Rey.
"Gak usah marah-marah, entar cantik lo hilang, duduk aja disamping gue." ucap Rey angkat suara.
Sang primadona sekolah itu tersenyum lebar, tanpa ada bantahan ia mendudukkan tubuhnya disamping Rey, ia benar-benar senang mendengar ucapan yang keluar dari mulut pemuda yang membuatnya jatuh hati.
"Gak makasih, gue mau diet." jawabnya lembut.
Anika mengenyit, matanya menatap intens tubuh Ratu "tubuh lo udah tipis kek tripleks masih mau diet?" tanyanya tak habis fikir.
"Ini bukan tripleks ya, tubuh gue ini body goals." jawab Ratu dengan nada sombong "emang lo---"
"Gembul." sambung Rey dengan kekehan pelannya.
Anika memutar bola matanya malas, dua remaja didepannya benar-benar cocok menjadi pasangan, ia akan jadi gardan terdepan jika mereka menjalin hubungan, mereka berdua benar-benar memiliki kenarsisan yang tinggi.
"Besok gue numpang lagi ya?" pinta Ratu tiba-tiba.
"Oke."
"Tapi gak apa-apa kan? Lo pasti makan waktu buat jemput gue karena lo juga jemput Anika sama Emma."
Rey meneguk air putih yang ada didepannya, kepalanya kini menoleh pada gadis cantik disampingnya "gue---"
"Gue gak bareng kalian." potong Anika.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Rey cepat.
"Gak apa-apa." jawab Anika seadanya.
"Jawab yang jujur Anika." ucap Rey dingin, matanya menatap wajah Anika dengan pandangan datar, ia paling tak suka gadis didepannya melakukan sesuatu tanpa sepengetahuannya.
Anika menghela nafas pelan "gue kasian aja sama lo, Ratu benar, lo buang-buang waktu kalau jemput kita bertiga."
"Jadi maksud lo Rey gak boleh jemput gue?" tanya Ratu kesal, tangannya mengepal menahan emosi yang memuncak.
"Gue gak bilang gitu." jawab Anika santai.
"Maksud lo?"
"Ada yang harus dikorbankan."
"Gue gak jemput Emma besok, nanti bakal gue SMS." celetuk Rey.
Anika menyeringai tipis, ia benar-benar senang pemuda didepannya bisa mengerti isi otaknya, jika seperti ini ia semakin semangat membuat gadis itu merasa diabaikan.
Semuanya harus perlahan, membuat orang sakit hati akan lebih terkesan dan lama membekas daripada menggores luka luar.
"Lo yakin?" tanya Ratu memastikan.
"Kenapa gue harus gak yakin?" tanya Rey balik, alisnya terangkat sebelah dengan pandangan santai pada gadis disampingnya.
"Ah...eng---enggak." Ratu tersenyum paksa dengan pandangan menatap kesembarang arah, ia juga harusnya tak mempermasalahkan ini, ia dan Rey berangkat kesekolah bersama untuk kedua kalinya sudah bagus.
Masalah Emma itu bukan urusannya, ia tak mau mempermasalahkan itu, bahkan jauh lebih bagus jika pemuda itu melupakan salah satu sahabatnya hanya untuk menjemputnya.
Pelan-pelan ia akan menyingkirkan mereka satu persatu, hingga pada akhirnya diending cerita hanya dia dan Rey yang akan menjadi pemeran utamanya.
"Kalau gitu gue pergi dulu ya, bay Rey...Anika." pamit Ratu, kakinya melangkah meninggalkan warung kecil yang ada dipinggir jalan, seumur-umur baru kali ini ia menginjakkan kaki kedalam warung makan seperti itu.
.
.
.
.
Bersambung
Hallo guys~jangan lupa tinggalkan jejak ya, bantu author dengan cara luangkan beberapa detik buat klik tombol like, vote dan komen supaya lanjutinnya makin semangat.
Ig: siswantiputri3
__ADS_1
see you
^^^23-DESEMBER-2021^^^