Antagonis

Antagonis
Chapter 37


__ADS_3

Seragam putih abu-abu yang bersih sudah melekat rapi pada tubuh Anika, netranya menatap jalanan yang ada didepan rumahnya dengan perasaan kesal, jam sudah menunjukkan pukul 06:40 tapi pria yang sudah berjanji padanya masih belum menampakkan batang hidungnya.


"Kak Adelard mana sih." gerutunya.


Gadis cantik itu menghela nafas pelan, tubuhnya berbalik mendudukkan dirinya pada kursi kayu yang ada didepan rumahnya "gak mungkin bohongkan?"


Perasaan Anika semakin tak tenang, jam terus berjalan setiap detiknya, tapi Adelard masih belum datang menjemputnya, ia tak mau terlambat dan mendapat masalah.


"Kak Adelard dimana sih---"


"Masuk." titah seseorang dengan suara tegasnya, mau tak mau gadis cantik itu menoleh keasal suara, bibirnya menyunggingkan senyum manis melihat sosok yang ditunggunya akhirnya datang.


"Kok lama sih?" tanyanya dengan raut kesal, matanya menatap Adelard dengan pandangan penuh tanya setelah seatbelnya sudah ia pakai.


"Udah untung dijemput." jawab Adelard seadanya.


"Kan emang udah janji, janji adalah keharusan yang gak boleh dibatalkan." jelas Anika bijak.


Adelard mendungus malas, mobilnya ia jalankan meninggalkan pekarangan rumah yang terlihat minimalis, ini masih terlalu pagi untuk berdebat dengan remaja SMA disampingnya, apalagi tubuhnya masih terasa lelah karena berkas yang dikerjakannya baru selesai pukul 03:35 subuh.


"Kak Adelard mau ngapain emang disekolah?" tanya Anika tiba-tiba.


"Gak ada keharusan buat dijawabkan?" Adelard bertanya balik, matanya sekilas melirik gadis disampingnya kemudian kembali fokus pada jalanan yang cukup lenggang.


"Iya sih, tapi kan---"


"Gak usah kayak beo, duduk aja yang tenang." potong Adelard.


Anika mengatupkan bibirnya, kepalanya menyender pada jendela mobil dengan pandangan menerawang kedepan "kak Adelard udah punya istri belum?" tanyanya lagi.


Pria itu menghela nafas sabar, membuat gadis disampingnya diam sepertinya tak segampang yang ia kira, ia sedikit penasaran apa isi otak gadis itu.


"Kak Adelard."


"Apa?" jawabnya malas.


Kening Anika mengernyit, kepalanya menoleh kesamping, netranya bisa melihat jelas rahang tegas milik pria disampingnya "kenapa?" tanyanya linglung.


"Kenapa apanya?" tanya Adelard balik, ia ikut bingung dengan kelakuan gadis remaja itu.


"Ih bahas apaansih, gak nyambung."


"Yang tadi manggil siapa?" sewot Adelard.


"Emang siapa yang manggil?" Anika menatap Adelard dengan wajah polos, sejujurnya ia juga bingung maksud ucapan pria disampingnya.

__ADS_1


"Ck...taulah."


Anika menggaruk pelipisnya, ia bingung dengan tingkah aneh gebetannya ini, apa ia salah bicara? Atau ia berbuat salah tanpa sepengetahuannya?


Ia terdiam sejenak, kepalanya bersandar sambil berfikir keras, matanya tiba-tiba menyipit dengan kejadian beberapa waktu lalu yang terekam jelas oleh kinerja otaknya.


"Oh." Anika mengangguk paham "gue gak manggil kak Adelard, gue cuma jawab pertanyaan kakak tampan kok." celetuknya.


"Pertanyaan apa?" tanyanya tambah bingung.


"Pertanyaan tentang apa isi otak gue." jawab Anika santai.


Mata Adelard membulat, cukup terkejut dengan pernyataan gadis disampingnya, apa mungkin Anika cenayang? Kenapa gadis itu bisa membaca isi fikirannya.


"Gue bukan cenayang kok." ucap Anika tiba-tiba.


Lagi-lagi ia hanya bisa menggeleng takjub, gadis disampingnya benar-benar memiliki kelebihan yang cukup mengejutkan.


"Gue cuma gadis biasa kok, gue gak bisa baca fikiran---"


"Stop, sudah-sudah semakin kamu mengelak semakin buat orang bingung." cegah Adelard.


Anika terkekeh pelan, padahal ia benar-benar tak bisa membaca fikiran, ia hanya asal bicara saja sejak tadi.


"Turun."


"Udah sampai." potong Adelard sebelum Anika melanjutkan ucapannya.


Gadis cantik itu menghela nafas lega, seatbel yang ia pakai dilepas kemudian turun dari mobil milik CEO menawan nan tampan.


Anika berjalan menuju gerbang sekolah bersama Adelard, pria itu mengeluarkan kartu undangan miliknya untuk diperlihatkan pada satpam disekolah ini.


"Eh...neng geulis." sapa pak Udin, satpam yang saat ini berjaga didepan gerbang sekolah. Mengecek semua tamu yang akan datang diacara pentas sekolah yang akan diadakan 4 hari kedepan.


Anika tersenyum lebar "Hallo pak Udin, kali ini Anika gak bakal nyogok batagor lagi kok, soalnya hari ini kan Anika libur buat ulahnya." jujurnya.


Adelard tergelak, gadis itu benar-benar membuatnya geleng-geleng kepala, ia semakin yakin otak remaja itu benar-benar harus diperbaiki.


"Mau nyogok 20 batagor juga gak akan mempang neng geulis, iman bapak kan kuat, walaupun harus nahan godaan makanan kesukaan bapak."


Anika mengerucutkan bibirnya "yahhh...lain kali Anika pakai ketoprak aja deh." serunya polos.


Pak Udin terbahak "mending neng geulis belajar yang bener, tapi bukan belajar buat nyogok bapak ya." candanya.


Anika tertawa lepas, dippelnya terlihat jelas pada kedua pipinya, tak lupa gigi gingsul menambah kesan cantik pada wajah mulusnya, Adelard bahkan sempat hanyut beberapa detik pada pesona gadis itu.

__ADS_1


"Ini siapa neng geulis, kakaknya ya?" tanya Pak Udin tiba-tiba.


"Buk----"


"Calon suami Anika pak, gantengkan pak? Calon Anika juga CEO pak, udah mapan tampan, menawan, dan menghanyutkan." jelas Anika menggebu-gebu.


Pak Udin terperangah "wah, neng geulis bisa aja nyarinya, kalau udah nentuin harinya undang bapak ya! Jangan lupa siapin batagor juga kalau nikahannya."


"Sip, bisa diatur." Anika mengacungkan jari jempolnya dengan senyum lebar pada ujung bibirnya.


Adelard semakin tak habis fikir, yang ia lakukan hanya diam mencerna pembicaraan mereka berdua, lagi-lagi kelakuan Anika membuatnya bungkam saking tak bisanya ia mengimbangi celotehan remaja itu.


"Pantes aja neng geulis hari ini gak sama nak Rey, biasanya kan kemana-mana bareng, bapak juga sering liat ke WC aja bareng, ternyata sekarang bareng sama calonnya toh." sahut pak Udin dengan kepala diangguk-anggukkan.


"Hari ini Anika mau go publik pak, jadi barengnya sama calon suami."


Adelard membulatkan matanya, kesalahpahaman ini benar-benar harus dihentikan "gak usah dipercaya pak, dia emang suka membual."


Pak Udin tampak bingung "loh, jadi bukan toh?" tanyanya linglung.


"Bener kok pak." sela Anika.


"Bener bohongnya maksudnya." timpal Adelard.


"Yaampun kakak tampan, Anika tau kakak orangnya pemalu, tapi tenang aja! Pak Udin udah Anika anggap kayak keluarga sendiri, jadi gak usah malu."


"Heh---"


"Iya nak, gak usah malu sama bapak, walaupun neng geulis sedikit nakal! Tapi bapak jamin anaknya markotop." potong pak Udin.


Adelard mengacak rambutnya frustasi, ingin rasanya ia menghilang dari tempat ini sekarang juga, tiket yang sudah diperiksa satpam didepannya ia masukkan lagi pada saku celananya, tangannya menarik gadis disampingnya untuk kembali masuk kedalam mobil kemudian memarkirkannya kedalam parkiran sekolah.


.


.


.


.


Bersambung


Hallo guys~jangan lupa tinggalkan jejak ya! jangan lupa klik tombol like, vote dan tulis komentar, tapi usahakan komennya yang sopan, bukan malah menjatuhkan author.


Ig: siswantiputri3

__ADS_1


see you


^^^19-DESEMBER-2021^^^


__ADS_2