Antagonis

Antagonis
Chapter 23


__ADS_3

Anika berjalan santai menuju belakang sekolah, matanya menatap sekitar sebelum ia memanjat tembok yang lumayan tinggi, batang pohon mangga mempermudah aksi bolosnya dari sekolah itu.


HAP


"Pendaratan sempurna." monolognya bangga, roknya ia tepuk-tepuk dengan pandangan menatap jalan raya yang lumayan sepi.


Dengan santai ia bersiul meninggalkan tempat itu, dengan langkah tak pasti ia terus menyusuri pinggiran jalan raya, biarlah hatinya yang menjadi pengiring tujuannya untuk saat ini.


"Biarku pendek tapi nyaman dipeluk." senandung Anika, kakinya melompat-lompat kecil dengan tangan diayungkan kedepan.


"Langkahku kecil pengen digandeng terus." matanya kini menerawang, membayangkan wajah pria tampan yang beberapa hari lalu tak sengaja bertemu dengannya.


"Biarku pendek tapi paling sayang kamu." suara merdu miliknya semakin dikeraskan, tak peduli dengan pasang mata yang menatap dirinya aneh.


"Walau mirip mi...NIKMAT MANA LAGI YANG KAU DUSTAKAN." heboh Anika, matanya berbinar menatap pria tampan yang sudah berhasil mengambil antenasinya.


Kepalanya menoleh ke kiri dan ke kanan kemudian berlari cepat menyebrangi jalan raya, kakinya melangkah tergesa-gesa menuju pemilik tubuh bernama Adelard yang berada digang sempit bersama pria bernama Daren dan satu lagi entah siapa.


"Hallo kakak tampan." serunya sedikit keras, bibirnya tersenyum lebar menatap Adelard yang juga menatapnya sedikit terkejut.


"Kau--"


"Iya...gue." jawabnya antusias.


Pria itu mendengus, terlalu malas menanggapi celotehan gadis didepannya yang sama sekali tak bermutu, lebih baik ia menyelesaikan masalahnya dengan pria paruh baya yang sudah berniat menjalankan aksi korupsi diperusahaannya.


"Kau fikir kau hebat?" tanya Adelard dingin, tatapannya menghunus pada pria paruh baya yang kini berlutut didepannya, wajah memar yang membiru membuktikan ia sudah mendapat bogeman gratis entah itu dari Adelard ataukah Daren.


"Ma--maaf tuan, maafkan saya." tunduknya takut.


"Baru 1 bulan kau diterima tapi kau sudah ada niatan melakukan korupsi pada perusahaanku, kau bahkan tidak cukup hebat untuk itu." Adelard menatap datar pria didepannya, ia tak peduli yang namanya sopan santun, orang tua pun harus mendapat ganjaran jika memang terbukti bersalah.


"Maafkan saya tuan, sa--saya salah karena ingin korupsi pada perusahaan anda, tolong maafkan saya."


"Pergi dari hadapanku, kalau perlu pergi dari kota ini." titah Adelard dingin.

__ADS_1


"Ba--baik." dengan langkah tertatih ia berusaha bangkit dari duduknya, tubuhnya terasa remuk karena pukulan dari atasannya yang tak main-main, setidaknya ia cukup beruntung karena hanya mendapatkan pukulan bukan yang lain.


"Wow, kesalahan sefatal itupun hanya berkahir dengan pukulan? Ckck...kurang menarik." Anika menggelengkan kepalanya, tangannya diletakkan didepan dada dengan pandangan menatap pria paruh baya didepannya.


"Apa maksud anda nona?" tanya Daren angkat suara.


"Bukan apa-apa om, tapi keputusan kakak tampan terdengar sangat ringan untuk seseorang yang berniat korupsi." jawab Anika santai.


Pria paruh baya itu mengepalkan tangannya "jangan ikut campur, anak kecil sepertimu tidak mengerti apa-apa, dan ingat aku memang salah karena berniat korupsi, tapi itu hanya niat, berarti aku belum melakukannya." jelasnya membela diri.


"Yayaya...terserah saja, tapi yang pasti paman bukan menyerahkan diri tapi ketahuankan?" tanya Anika santai.


"Kamu fikir siapa orang bodoh yang mau mengaku terang-terangan kalau dia korupsi, dasar gadis idiot." sarkas paruh baya itu dengan pandangan remeh.


Senyum manis tercetak pada ujung bibir gadis cantik itu "wow...paman pintar, bahkan sangat, jadi...kira-kira apa yang terjadi kalau paman tidak ketahuan saat ini, mungkin beberapa bulan kedepan aksi korupsi paman akan semakin menjadi, dampaknya mungkin saja berakhir pada perusahaan kakak tampan yang mengalami kebangkrutan dan juga karyawan yang harusnya sedikit terbantu masalah perkenonomiannya dengan bekerja di perusahaan itu akan luntang-lantung mencari pekerjaan yang lain, kalau semua itu terjadi siapa yang harus disalahkan?"


Tak ada yang menyela, pandangan mereka terfokus pada gadis yang memakai rok sekolah dengan hoddie ditubuhnya.


"Apa paman bisa menjamin akan bertanggung jawab jika semua itu terjadi? Tidak kan! siapa orang bodoh yang mau mengaku korupsi?" tanya Anika balik.


"Jangan ikut campur, ini bukan urusanmu." tegasnya, kuku tangannya memutih menahan kesal pada gadis SMA yang baru saja datang tanpa diundang.


"Maksud nona apa?" tanya Daren.


"Ck...ayolah om, apa semuanya harus diperjelas?" tanyanya tak habis fikir, orang berpendidikan tinggi seperti mereka harusnya tau apa maksud ucapannya.


"Bawa kasus ini ke jalur hukum, bahkan semua bukti sudah cukup membuatnya mendekam di penjara." perintah Adelard, raut wajahnya masih sama datarnya seperti sebelumnya.


Senyum Anika mengembang "kakak tampan ternyata memang jodoh gue, salah satu ciri-ciri kalau orang itu adalah jodoh kita adalah adanya kemiripan, dan kemiripan kakak tampan dan gue terletak pada pemikiran."


"Tidak, jangan bawa kasus ini kejalur hukum, saya mohon tuan saya tidak mau dipenjara." selanya takut-takut, tubuhnya kembali berlutut pada pria yang usianya bahkan jauh lebih mudah darinya.


"Oke, bisa saja kesalahan Paman kali ini dimaafkan, tapi bagaimana dengan tindakan korupsi pada perusahaan-perusahaan lain yang menjadi korban paman?"


Ketiga pria beda usia itu spontan menatap Anika, yang menjadi tersangka menegang sempurna sedangkan Adelard dan Daren cukup terkejut dengan penuturan gadis itu.

__ADS_1


Fikiran mereka berkacamuk, perkataan gadis itu seolah membuktikan ia sangat mengenal pria paruh baya yang kini masih berlutut takut-takut.


"Setidaknya untuk memiliki niatan melakukan tindakan korupsi pada perusahaan sebesar Lard corp harus ada pengalamankan?" celetuk Anika, matanya masih terarah pada paruh baya yang kini sudah terlihat menyedihkan.


"Kau--"


"Adelard Adelio Louis, direktur utama perusahaan Lard corp." Anika menunjuk tanda pengenal yang ada pada jas Adelard, sekaligus menjawab rasa penasaran pria itu karena identitasnya sudah ia ketahui.


Adelard mengumpat pelan, bisa-bisanya ia bertingkah sebodoh ini, tentu siapa saja akan tau siapa dia, apalagi tanda pengenal yang bertengger rapi pada bagian jasnya.


"99% paman pernah melakukan korupsi pada perusahaan-perusahaan lain, paman cukup pintar bisa diterima pada perusahaan Lard corp, tidak mungkin paman memiliki niatan berkorupsi pada perusahaan sebesar ini jika tidak memiliki pengalaman pada perusahaan yang lebih kecil---"


"BOHONG, SAYA TIDAK MELAKUKANNYA, GADIS ITU BOHONG." tangannya memeluk kaki Adelard, berharap ia bisa secepatnya dibebaskan dan perkara ini tidak dibawa ke jalur hukum.


"Kakak tampan dan om bisa menyelidikinya, ya...kalau kalian mau sih, kalau gak mau juga gak apa-apa." sahutnya santai "yaudah ya, bay...bay, sudah saatnya kembali kesekolah, kakak tampan jangan kangen, kalau nanti kita ketemu lagi...fiks kita jodoh."


Anika melangkah kecil meninggalkan tempat itu, bibirnya terdengar bersenandung bersama tubuhnya yang kian menjauh.


"Kau dengar apa yang dikatakan gadis itu kan Daren." titahnya datar.


"Iya tuan, saya mengerti."


"TIDAK, SAYA MOHON JANGAN PENJARAKAN SAYA, LEPAS...SAYA TIDAK MAU DIPENJARA."


.


.


.


.


Bersambung


Bantu vote, like dan komen ya, supaya makin semangat lanjutinnya.

__ADS_1


Ig: siswantiputri3


^^^06-DESEMBER-2021^^^


__ADS_2