Antagonis

Antagonis
Chapter 59


__ADS_3

"Kak Abian sama kak Adelard ada masalah apa sih." sentak Anika, ia sudah jengah menghadapi perdebatan dua pria itu, niatnya kesini untuk makan bukan menyaksikan keributan.


"Ayo pulang, kakak antar." tangannya menarik lengan Anika sedikit kasar, ia tak akan membiarkan gadis itu berhubungan dengan sosok seperti Adelard. Sampai kapanpun ia tak rela.


"Kak...kak...tunggu kak Abian." sela Anika, langkah lebar pria itu berusaha ia sejajarkan, apalagi tarikan pada lengannya mau tak mau membuat ia harus mengikuti pria itu.


"Diam Anika."


Gadis cantik itu menghela nafas pelan, kepalanya menoleh kebelakang, menatap Adelard yang tak bergeming pada tempatnya, pria itu bahkan tak berniat mengejarnya.


Ia semakin bingung dengan hubungan keduanya, melihat sikap mereka yang tak bisa dikatakan baik, ia bisa menyimpulkan mereka pernah terlibat konflik entah apa itu.


BRAK


Pintu mobil yang ditutup kasar membuat tubuhnya tersentak, kepalanya menoleh menatap Abian yang masih terlihat tegang dengan rahang mengeras.


Ia semakin penasaran dengan kasus yang terjadi antara mereka berdua, walaupun emosi Abian tak meledak-ledak tetap saja ia bisa melihat raut marah pada wajah pria disampingnya.


Abian tak terlalu apik menyembunyikan ekspresi wajahnya dan ia cukup pintar membaca raut emosional seseorang.


"Kamu kenal dia dimana?" tanya Abian dengan pandangan masih fokus kedepan.


"Dijalan." jawab Anika seadanya.


"Udah lama?" kali ini Abian menolehkan pandangannya, menatap bola mata amber gadis disampingnya beberapa saat.


"Gak kok. Anika kenal baru-baru ini."


Abian mengangguk paham, setidaknya gadis disampingnya tak terlalu jauh mengenal pria itu, ia benar-benar tak rela jika Anika terus berdekatan dengan orang sepicik Adelard.


Kejadian beberapa tahun yang lalu tak bisa dengan mudah ia lupakan, mungkin orang lain bisa berfikir masalahnya tak terlalu serius tapi menurutnya itu tak sesimpel yang dikira dan gara-gara masalah itu juga ia lebih memilih menjauh dan mengambil profesi sebagai seorang dokter dikota ini.


"Emang kak Abian ada masalah apa sama kak Adelard?" tanya Anika penasaran.


Abian menghela nafas pelan "yang jelas orang itu gak sebaik yang kamu kira."


Anika semakin bingung, rasa penasarannya kian membuncak mendengar ucapan Abian untuk kesekian kalinya. Adelard memang dingin, datar dan tak tersentuh, tapi ia tak begitu yakin kalau dia bukanlah orang baik.


Entah perkiraannya memang benar atau ia berusaha menyangkal karena pria itu sudah mengambil hatinya.

__ADS_1


"Emang masalah kak Abian seserius itu sama kak Adelard?"


"Menurut kamu, menjauh dari keluarga yang ada di Amerika dan lebih memilih ke negara Indonesia untuk menjadi seorang dokter hanya karena masalah kakak dengan orang itu bisa dikatakan serius atau tidak?" tanyanya balik.


Anika tampak bungkam, ia tak tau permasalahan apa yang terjadi antara mereka berdua, tapi mendengar sepenggal kisah dari pria disampingnya ia bisa menyimpulkan konflik mereka cukup rumit.


Entah disini siapa yang salah! Walaupun Abian sudah ia anggap sebagai kakak sendiri tetap saja ia tak bisa membelanya dan juga walaupun Adelard sudah mengambil hatinya ia juga tak bisa membela pria itu, mau bagaimanapun keduanya baru memasuki hidupnya akhir-akhir ini.


Tak ada yang benar-benar ia kenal dari keduanya, hanya tampilan luarnya yang bisa ia baca, kepribadian sesungguhnya belum bisa ia tebak. Tapi jujur! Mereka berdua cukup membuatnya nyaman, hatinya menghangat berada disekitar kedua pria itu.


"Udah sampai Nika."


Saking sibuknya melamun gadis cantik itu tak sadar sudah berada pada pekarangan rumahnya "eh...makasih kak Abian."


"Ingat pesan kakak, jangan dekat-dekat sama orang itu." titah Abian.


Anika mengangguk pelan, walaupun ia tak begitu yakin bisa mematuhi larangan dokter muda itu, mengingat Adelard adalah pria yang berusaha ia gaet hatinya "hati-hati kak Abian."


"Iya, kamu masuk rumah sana."


"Okey." Anika mengangkat tangannya, memberi pose hormat pada Abian yang kini sudah melajukan mobilnya.


"Kayaknya hari ini gue apes banget deh, pertama gak dapat sertifikat apartemen karena Renandra gak ada, malah gue disembur sama nenek lampir lagi terus terakhir gue gagal kencan sama kak Adelard ditambah kena omel kak Abian."


Ia mendesah pelan, pintu rumahnya ditutup kasar karena rencananya tak berjalan lancar, belum lagi kedatangannya pada bangunan lama itu bisa dikatakan sia-sia.


Ia merebahkan tubuhnya pada sofa diruang tamu, punggungnya bersandar kebelakang dengan kaki diangkat keatas meja. Sekarang ia harus bertindak cepat, berdekatan dengan Adelard membuatnya lupa segalanya, bisa-bisanya ia lupa daratan dan mengabaikan masalahnya.


"Jadi detektif dadakannya udah?" bisik seseorang.


Tubuh Anika menegang, hembusan nafas dengan aroma mint menyentuh permukaan lehernya, matanya terpejam! Jika ia menengok kebelakang sudah dipastikan wajah pria itu terlihat jelas oleh penglihatannya, dengan begitu identitas orang itu bisa ia ketahui, tentu semuanya terdengar mudah, bahkan sangat mudah jika saja sebuah pisau tak bertengger manis pada lehernya. Pisau tajam yang kapan saja bisa menembus permukaan kulitnya.


"Udah tau Identitas gue?" tanyanya datar, wajahnya semakin dimajukan hingga benar-benar menyentuh leher gadis itu.


Anika mengeratkan pegangannya pada sofa, kondisinya benar-benar terjepit, pisau dan hembusan nafas orang itu sangat terasa pada permukaan kulitnya. Fikirannya mendadak kacau, ia tak bisa membayangkan jika benda tajam itu tiba-tiba menancap pada lehernya.


"Sebenarnya lo siapa?" tanyanya dengan keberanian penuh.


"Gue bisa jadi siapa aja...babe." Bisiknya serak.

__ADS_1


Anika mengumpat pelan, bukan jawaban itu yang ia inginkan, terlalu sulit menebak identitas orang itu jika seperti ini. Tapi orang idiot mana yang mau mengakui identitasnya pada sang korban.


"Kenapa lo ganggu gue?"


Pria itu memundurkan wajahnya, tapi tidak dengan pisau lipat itu, tangannya masih setia menempatkan pisau miliknya pada leher mulus gadis yang sekarang membelakanginya.


Mulutnya tiba-tiba terkekeh pelan, wajahnya kembali ia majukan mensejajarkan bibirnya tepat disamping telinga Anika "gue tertarik sama lo."


Ucapan yang tak pernah gadis cantik itu sangka-sangka, sekarang ia tak tau pria itu sedang menipunya atau berkata yang sebenarnya, tapi entah apapun itu yang jelas hidupnya benar-benar terancam, pengakuan pria itu mau tak mau membuat mereka terus berurusan untuk kedepannya, jelas itu tak baik untuk keselamatan hidupnya.


"Gak usah bercanda."


"Gue gak pernah bercanda."


Anika memejamkan matanya, otaknya benar-benar tak bisa berfikir jernih untuk sekarang "entah lo mau apa sama gue, tapi gue mohon, untuk saat ini jangan ganggu hidup gue, setidaknya sampai dendam gue selesai dengan gadis itu." mohonnya pelan.


Hening terjadi antara keduanya, tak ada jawaban yang keluar dari mulut pria itu, situasi ini membuat perasaan Anika kalang kabut.


"Gue mohon." lirihnya.


"Oke."


Setidaknya untuk saat ini ia bisa fokus dengan dendamnya, ia menghela nafas pelan. Ia akan menyelesaikan semuanya satu persatu dan ini dimulai dari Emma.


"Tapi lo harus tidur dulu." bisik pria itu lembut, tangannya terangkat mengusap wajah Anika dengan pelan hingga detik berikutnya mata gadis itu sudah terpejam erat.


.


.


.


.


Bersambung


Ig: siswantiputri3


^^^09-JANUARI-2022^^^

__ADS_1


__ADS_2