
^^^Selasa 16 November^^^
Rizaldi Setiyawan atau akrabnya di panggil pak Rizal adalah seorang kepala dari Satuan Reserse Kriminal Kupang Kota.
Namanya cukup besar di kepolisian, itu karena dedikasi dan juga prestasinya yang membanggakan di kepolisian.
Banyak kasus kriminal yang telah di tanganinya. Kali ini, Pria berusia tiga puluh lima tahun itu, di tugaskan untuk menangani kasus pembunuhan dan pembuangan mayat di Perpustakaan Universitas Nusa Cendana.
Pagi hari pukul enam Rizal telah bersiap-siap untuk melaksanakan tugasnya.
'Rizal, kau akan di tugaskan Polres Kupang Kota. Selamat bekerja dan penuhi tugasmu sebagai seorang polisi'
Kalimat dari atasannya terdahulu kembali berputar ke memori Rizal, ingatannya kembali ke waktu sepuluh tahun silam saat dia di pindahkan ke Kota Kupang. Daerah yang sangat jauh dari tempat kelahirannya.
'kota itu sangat aman dan damai'
Ingatan itu terus-menerus berputar di kepalanya.
'aku ingin kau memulai hidup di sana dengan bahagia. Itu adalah kota yang tepat untuk hidup tenang'
"Kau salah pak, kota yang aman dan damai ini telah menjadi TKP dari pembunuhan sadis" ujar Rizal sambil menatap foto dari atasannya dulu yang selalu terpajang di dinding rumahnya.
Rizal lalu meninggalkan rumahnya, tujuannya pagi ini adalah untuk menghadiri pemakaman Gilda.
Sekitar setengah jam berkendara dia pun sampai di rumah duka, terlihat sudah banyak pelayat yang datang.
Pemakaman Gilda di hadiri ratusan orang, banyak yang bersimpati atas kematian Gilda. Karangan bunga dari berbagai Pihak menghiasi depan rumah Gilbran, semua orang menunjukan bentuk kepedulian terhadap korban pembunuhan.
Tokoh-tokoh penting, pejabat-pejabat kota turut menghadiri Pemakaman Gilda. Teman-teman sekelas dan juga dosen dari Gilda turut hadir, mereka mendoakan agar Gilda bisa tenang di sana.
Kematian Gilda ini memang menjadi sorotan, pasalnya Gilda adalah korban pembunuhan. Dengan adanya kasus ini juga membuat orang-orang mulai mencari tahu kehidupan Gilda.
Gilda adalah seorang mahasiswi semester satu di Fakultas Hukum, dia lahir dan di besarkan di Kupang. Kedua orang tuanya telah meninggal. Hal itu membuat Gilda tumbuh dan dibesarkan oleh kakaknya Gilbran. Banyak yang merasa empati dengan kehidupan Gilbran dan juga Gilda.
Rizal melihat ke arah Gilbran yang tampak begitu sedih sejak kepergian Gilda. Ada juga sedikit rasa penyesalan di wajah Gilbran seolah menyalahkan diri sendiri.
"Aku turut berduka cita atas kematian adikmu" ujar Rizal.
Gilbran mengalihkan pandangannya ke arah Rizal.
__ADS_1
"Selamat pagi pak, terima kasih sudah datang" ujar Gilbran mencoba sopan, walau di wajahnya masih terbalut kesedihan.
"Aku turut berdukacita" ujar Rizal.
Gilbran mengangguk "Saya senang pak Rizal datang ke sini, ada yang harus saya bicarakan tentang tersangka"
Rizal dan Gilbran sedikit menepih dari kerumunan "aku telah mengingat pelakunya, aku tidak tahu ini akan membantu tapi tidak salahnya keterangan ku ini di gunakan oleh pihak kepolisian"
"Dia perempuan dengan postur tubuh yang tinggi, sekitar 170 cm. Pelaku memiliki tubuh ramping" ujar Gilbran lalu dia mengeluarkan sebuah kertas yang berisi sketsa dari orang yang menyebabkannya celaka "ini dia sketsanya"
"Apa kau yakin?" Gilbran mengangguk.
Rizal tampak berpikir, orang yang di gambarkan Gilbran memiliki tubuh yang kurus namun tinggi. Tubuh itu milik seorang perempuan.
Tapi jika kesaksian Gilbran ini benar, bagaimana pelaku yang adalah seorang perempuan bisa mengangkat tubuh Gilda yang bahkan lebih besar dari pelak. Gilda memiliki tubuh yang berisi sekitar 70 -75 kg.
Jika pelaku menyeret Gilda pastikan ada bekas gesekan di baju Gilda yang di temukan di TKP ini juga membuktikan bahwa Gilda di angkat.
"Bagaimana pelaku dengan tubuh sekecil itu bisa mengangkat Gilda?"
"Itu juga yang saya pertanyakan tapi saya sudah menemukan jawabannya, yaitu pelaku menguasai salah satu cabang bela diri yang bisa membuatnya kuat" ujar Gilbran.
"Iya"
"Jika benar pelakunya seorang perempuan maka, dunia ini benar-benar gila. Perempuan yang di anggap lemah bisa melakukan hal yang tidak berperasaan seperti ini" ujar Rizal.
"Dan soal rekaman aku akan mengantarkan langsung ke kantor polisi. Asal dengan satu syarat"
Rizal mengeritkan alisnya "syarat?"
"Aku ingin ikut ke dalam penyelidikan"
"Tidak bisa" Rizal langsung menolaknya.
"Kenapa kau langsung menolaknya, pak Rizal" seorang pria paruh baya tiba-tiba mendekat.
Rizal cukup terkejut dengan kehadiran pria itu "anda pasti sudah tahu siapa saja" ujar pria berusia lima puluhan itu.
"Warga kota mana yang tidak mengenali anda, pak wali kota" ujar Rizal.
__ADS_1
Pria itu tertawa "Jangan panggil saya begitu. Saya di sini sebagai paman Gilbran"
"Apa yang anda inginkan dari saya pak Ben?" Tanya Rizal.
"Ikut sertakan keponakan ku ini pada penyelidikan, dia adalah saksi yang pernah bertemu dengan pelaku" ujar pak Ben.
Rizal menatap Gilbran "Baiklah pak. aku menunggu kedatangan Gilbran di kantor polisi, besok" Rizal langsung meninggalkan rumah duka begitu saja.
Dalam hatinya Rizal sangat marah pada dirinya sendiri karena lagi dan lagi dia harus tunduk pada orang-orang yang berada di atasnya.
Kini tersisa Gilbran dan pak Ben "seharunya paman tidak perlu mengancamnya, aku bisa mengurusnya sendiri"
"Aku selama ini selalu membiarkan mu dan pada akhirnya kau membuat Gilda meninggal" ujar Ben lalu ikut meninggalkan Gilbran.
...
Rizal kini telah sampai di kantor polisi dia langsung menuju ruangan dan berdiam di sana. Dia sedang memikirkan sesuatu.
"Serena!" Rizal memanggil seseorang.
Tidak lama berselang, seorang wanita berpakaian polisi menghampiri Rizal "ada apa pak?"
"Sebelumnya aku menyuruhmu mencari tahu tentang keluarga Korban?!" Serena mengangguk.
"Lalu kenapa kau tidak bilang kalau korban adalah keponakan wali kota?" Dari nada bicaranya, Rizal terdengar marah.
"Maaf pak" Serena hanya bisa meminta maaf.
"Kau dengar ya, kasus yang kita tengani ini adalah kasus besar, jadi persiapkan dirimu. Jangan ceroboh!" Ujar Rizal lalu membiarkan Serena pergi.
Rizal kembali berkutat dengan pikiranya, kasus pembunuhan yang merenggut nyawa Gilda membuat Rizal kewalahan.
"Apa tujuannya?" Gumam Rizal.
"Ini pembunuhan yang tidak masuk akal" Rizal menutup kembali berkas kasus Gilda yang sedari tadi di bacanya kamudian keluar dari ruangannya.
Rizal pergi menemui bawahannya "semua berkumpul di ruang rapat!"
Bersambung...
__ADS_1