Antagonis

Antagonis
Chapter 56


__ADS_3

Emma mengatupkan mulutnya, tubuhnya menegang saat sadar ucapannya sudah lepas kendali, ia merutuki kebodohannya yang tak bisa mengontrol emosi.


"Lo...Emma kan?" tanya Rey angkat suara, jujur ia masih sulit percaya.


"Ak---aku..."


"Lo kenapa? Sumpah gue gak nyangka lo sampai emosi segitunya, lo ada masalah?" tanya Anika lembut, binar matanya menunjukkan kekhawatiran pada gadis didepannya.


"Maaf, aku...aku minta maaf, fikiran aku akhir-akhir ini kacau, maaf Anika aku udah bentak kamu." ucapnya lirih.


Anika tersenyum tipis "it's okey, gue udah biasa dibentak sama orang yang terang-terangan gak suka sama gue bahkan sama orang yang pura-pura suka sama gue."


Emma mengepalkan tangannya bibirnya ikut menyunggingkan senyum manis pada gadis didepannya.


"Kayaknya lo emang ada masalah, mending kita pulang aja sekarang." titah Rey, menatap kedua sahabatnya dengan wajah tak ingin dibantah.


"Tapi makanan kita bertiga?"


"Gampang, tinggal bungkus aja. Lagian gue gak tega lihat lo banyak fikiran kayak gini." jelas pemuda itu.


Emma menganggukkan kepalanya, bibirnya tersenyum manis dengan pandangan terarah pada wajah tampan pemuda disampingnya, dengan apa yang dilakukan sahabatnya tentu tak ada alasan untuk ia tak suka dengan pemuda itu, semua tindakan Rey untuknya benar-benar memporak-porandakan hatinya, dan ia senang dengan perasaannya ini.


"Lo juga ikut kan Anika? Lagian lo juga belum tau tempat tinggal Emma sekarang." tanya Rey.


"Oke.


...***...


Adelard tampak serius membaca laporan yang baru saja diberikan Daren, matanya menyipit dengan pandangan tak percaya membaca setiap rentetan kata pada kertas putih itu.


"Ini..."


"Semua itu nama korban yang sudah adik anda lenyapkan, tuan muda Adrian sudah bertahun-tahun turun tangan pada dunia gelap, informasi yang cukup sulit dibobol mengenai identitas baru dari tuan muda Adrian membuat saya baru mengetahui kebenarannya tadi."


Adelard mengepalkan tangannya, ia tak menyangka adiknya bisa sejauh itu. Ia fikir Adrian menjalani hidup normal dikota ini, memulai kehidupan yang baru untuk menutupi luka yang pernah mereka alami, tapi kenapa adiknya bisa seperti mereka, bertindak layaknya orang tak punya perasaan. Lalu sekarang apa bedanya adiknya dengan orang itu?


"Apa lagi yang kau tau?" tanyanya dingin.

__ADS_1


Daren menggeleng pelan "sejauh ini hanya informasi itu yang saya dapat, tapi tak menutup kemungkinan adik anda masih menutupi rahasia yang lain."


"Cari tau semuanya tentang Adrian, temukan juga dimana dia tinggal, tempat tinggal yang sebenarnya bukan rumah kosong seperti sebelumnya." titahnya tegas.


Daren mengangguk patuh, padahal hampir setiap hari ia berhasil membuntuti adik atasannya setiap pulang sekolah, tapi tetap saja Adrian sadar akan kehadirannya, lalu dengan ajaibnya remaja itu tiba-tiba menghilang dalam satu kali kedipan mata.


Sudah tak terhitung berapa kali umpatan ia keluarkan saat Adrian lolos dari jangkauannya, kerjaannya benar-benar menumpuk karena ulah remaja itu.


"Tuan Adelard mau kemana?"


"Ke tempat terakhir kali anak itu membuat ulah."


...***...


Anika mengamati kontrakan kecil yang ada didepan matanya, ternyata hidup Emma benar-benar miris! Panti tempat gadis itu tinggal jauh lebih besar daripada bangunan ini.


Tapi bagaimana lagi, takdir sudah berputar, mau tak mau suka gak suka tetap harus dijalani, lagipula dia sendiri yang memulai semuanya, tentu ia dengan baik hati membantu keadaan gadis itu agar terlihat lebih dramatis.


"Maaf! Kontrakan aku kecil."


"Gue gak nyangka lo bakal kayak gini, panti asuhan tempat lo tinggal dulu jauh lebih besar dari kontrakan lo sekarang."


Emma menghela nafas lesu "mau bagaimana lagi, panti itu udah kebakaran, sekarang aku gak punya pilihan lain lagi selain ngontrak disini, aku gak seberuntung kamu, diadopsi sama orang baik, walaupun bukan dari keluarga kaya tapi kamu tetap dapat kasih sayang bahkan sepeninggal mereka rumah itu diwariskan sama kamu."


Anika mengerutkan keningnya "sebelum ketemu sama orang tua angkat gue, gue lebih dulu menderita, panti asuhan yang harusnya jadi tempat bersandar untuk anak yatim dan anak jalanan malah dijadikan tempat penjualan anak tanpa orang-orang tau, beruntung gue masih bisa kabur sebelum gue dijual dan organ dalam tubuh gue diambil." jelasnya santai.


Rey tampak terkejut, ia belum pernah mendengar cerita Anika mengenai ini, yang hanya ia tau mereka berdua dari panti asuhan, tentang kehidupan keduanya ia tak tau.


"Maaf..." ucap Emma dengan nada bersalah.


"Harusnya lo beruntung tinggal dipanti Laksana, seingat gue almarhumah Bu Sri orangnya baik banget, jujur gue berharap dulu tinggalnya disana, tapi yasudah lah...semuanya juga udah lewat, lagian panti tempat tinggal gue juga udah diamankan sama polisi."


Emma tersenyum tipis, anggukan pelan ia berikan sebagai jawaban mengenai penjelasan Anika.


"Tapi kenapa masih ada orang yang gak tau diuntung manfaatin kebaikan Bu Sri." sambungnya lagi.


"Namanya juga manusia." sambung Emma lembut.

__ADS_1


"Hmm, iya sih...manusia gak tau diri, udah salah bukannya minta maaf malah berlagak jadi orang yang paling menderita." sahut Anika.


Emma tersenyum paksa, lagi-lagi ia hanya mengangguk membenarkan ucapan gadis itu, tak ada yang bisa ia lakukan selain setuju dengan ucapan Anika.


"Eh...tapi nama panti kalian hampir sama, Laksana sama Laksamana." celetuk Rey tiba-tiba.


Anika mengedikkan bahu acuh, ia tak peduli dengan sesuatu yang berhubungan dari neraka tempatnya tinggal, sudah cukup ia bertahun-tahun menjadi budak dan tertekan disana, bahkan mendengar namanya saja ia merasa muak.


"Ternyata ada orang kayak gitu ya." sahut Rey masih tak percaya, ia merasa prihatin mendengar kemalangan hidup sahabatnya.


Anika terkekeh pelan "itu cuma segelintir orang yang kebusukannya udah terungkap, didunia ini masih banyak orang kayak gitu...bahkan mungkin berkeliaran disekitar kita." jelasnya dengan setiap kata yang ditekankan.


"Wah...harus siap siaga nih kalau kayak gitu, topengnya orang busuk benar-benar meresahkan." timpal Rey.


"Tentu...iya gak Emma?"


"Eh...i--iya hehehe."


Rey ikut terkekeh " lo kenapa elah, gak usah gugup kek lagi nahan perasaan cinta aja, santai cantik lagian gak mungkin orang kayak gitu ada diantara kita, kalau teman sekolah sih mungkin ada." jelasnya.


Emma menggaruk kepalanya yang tak gatal, ia hanya tersenyum tipis mendengar ocehan pemuda itu, lagipula tak ada yang perlu dikhawatirkan, semuanya sudah tertutup rapat tanpa ada yang tau semuanya.


Ia hanya perlua bersikap biasa-biasa saja, setidaknya didepan orang terdekatnya, walaupun ada rasa was-was karena tindakan Anika beberapa hari yang lalu, tapi ia tak terlalu ambil pusing, biarkan semua berjalan seharusnya tanpa dia yang harus disalahkan.


.


.


.


.


Bersambung


Ig: siswantiputri3


^^^06-JANUARI-2022^^^

__ADS_1


__ADS_2