
"Lo habis darimana sih?" sembur Rey saat Anika baru saja menginjakkan kakinya dalam ruangan pentas.
"Ada urusan."
"Ck." pemuda itu berdecak, gadis didepannya benar-benar membuatnya kalang kabut "untung lo udah datang, lo tau gak! Pembukaan buat pembacaan puisi udah dibuka dari tadi, bahkan udah ada beberapa orang yang namanya dipanggil naik."
"Santai, yang penting perwakilan kelas kita belum dipanggil."
Rey menghela nafas pelan, jika sudah begini ia tak bisa berbuat apa-apa lagi, gadis didepannya memang keras kepala dan tak bisa dibantah, pasti ada saja jawaban yang keluar dari mulutnya.
"Udahlah Rey, yang penting nih anak udah datang." lerai Drian, sang ketua kelas.
"Oke." pasrahnya.
"Oh iya, gak usah malu atau tremor, pokoknya kita semua dukung lo." sahut Sri, tangannya terangkat memberi pose semangat pada teman kelasnya itu.
"Lo jangan malu-maluin Anika." celetuk salah satu dari mereka, ia bukannya ingin menjatuhkan gadis itu tapi ia hanya mencoba mencairkan suasana agar temannya tak merasa gugup.
"Yang penting lo udah usaha, kalau lo jatuh atau kesandung diatas panggung berarti lo sial aja." tambah Naya, gadis yang selama ini berkutat diperpustakaan sekolah dengan buku-buku sebagai kekasihnya.
Anika memberenggut, bukannya tenang jantungnya malah dag dig dug serrr, jika apa yang dikatakan gadis itu kejadian! Ia berjanji akan mengambil cuti sekolah selama seminggu penuh.
"Lo tenang aja, gue bakal doain lo, semoga berhasil." timpal Dara, tangannya menepuk punggung Anika pelan.
Gadis cantik itu menghela nafas pelan, setidaknya salah satu teman kelasnya pemikirannya ada yang normal, bukan memberinya kesan negatif seperti yang lainnya.
"Tapi kaki gue lemas." rengeknya, tubuhnya bahkan panas dingin, padahal namanya belum disebutkan untuk naik ke atas panggung.
"Tenang-tenang, kita semua bakal bawa lo ketempat pijat kalau udah selesai." celetuk Roy enteng.
"Gue setuju sama lo teman yang namanya nyerempet ke nama gue." timpal Rey, tangannya merangkul pundak teman sabangkunya itu.
Anika membuang nafas kesal, mulutnya terbuka ingin mengucapkan sesuatu tapi perwakilan dari anggota OSIS yang menjadi pembawa acara menghentikan ucapannya, ia sedikit terkejut mendengar nama Ratu disebutkan, bahkan ia tak pernah mengira gadis itu akan menjadi perwakilan kelas Jenius IPA membaca puisi diatas.
"Ratu cantik banget ya." puji Sri, bahkan ia saja yang bergender sama dengan sang primadona sekolah merasa terpesona, apalagi bagi kaum Adam.
__ADS_1
"Ini sih cantik banget." timpal Roy.
Dari awal Ratu naik ke atas panggung semua siswa/siswi menatap kearahnya, bahkan tak jarang beberapa guru yang ikut hadir memuji gadis itu, bukan hanya otaknya yang jenius dalam pelajaran IPA, tapi bakat dari gadis itu yang membuat sebagian guru merasa kagum, darah keluarga Axelion benar-benar mengalir pada remaja itu.
Anika bahkan ikut terkesima, mulutnya terkatup saking syoknya menyaksikan penampilan Ratu, bukan karena pembawaannya yang sempurna tapi puisi yang dibacanya 100% sama dengannya, jika ia menjiplak dari sosial media mungkin ada kemungkinan bisa sama, tapi masalahnya! Puisi itu otaknya sendiri yang berfikir tentu dengan bantuan dari Adelard, tapi kenapa bisa sesama ini?
Ia menghela nafas pelan, terjawab sudah rasa penasarannya mengenai ucapan gadis itu tadi pagi. Semoga sukses dari Ratu memang benar-benar patut diragukan dan terbukti sekarang ucapan itu memiliki artian bertolak belakang dari yang sebenarnya.
"Parah sih, saking bagusnya Ratu bawain puisi gue sampai gak bisa komen." celetuk Dara.
"Bukan cuma pembawaannya, tapi puisi dia benar-benar memiliki makna yang mendalam." timpal Drian.
Lagi-lagi Anika hanya mampu menghela nafas, ia tak mungkin mundur sama saja itu berarti ia mengakui kekalahannya, apalagi puisi itu miliknya.
Mungkin hanya satu perbedaan dari puisi yang dibawakan Ratu dan dirinya, dan itu terletak pada iramanya.
"Selanjutnya perwakilan dari kelas 2 IPA 1, Anika Ayudhisa dipersilahkan naik keatas panggung." teriakan dari pembawa acara didepan menyadarkan kediamannya.
"Semangat Anika." serentak teman kelasnya.
Anika mendengus, bisa-bisanya disaat seperti ini pemuda itu masih bersikap seperti itu, bukannya terharu ia malah malu mendengarnya.
Ia menghela nafas beberapa kali sebelum melangkah maju, rasa gugupnya kembali menguap saat kakinya sudah berada diatas panggung, menjadi tontonan dari banyaknya murid dan sebagian guru, apalagi adanya tamu undangan dari keluarga mereka membuat ia menjadi tremor tiba-tiba.
Ia memejamkan matanya, Mic yang ada ditangannya ia pegang erat, melodi yang mengiringi puisinya mulai terdengar, dengan keberanian penuh ia membuka kembali matanya, rasa kepercayaan dirinya semakin bertambah saat netranya menangkap sosok Abian dan Adelard yang nampak hadir.
Pandangannya tiba-tiba menjadi kosong, kedua bola matanya kini menatap lurus kedepan "Mentalku dirusak lagi, menipis hingga yang terinci."
"Kini keadaan tampak menghancurkan, hingga duniaku runtuh berantakan"
"Tak tersisa....Melebur tanpa tanya."
"Kamu tau rasanya hidup tapi mati? Terarah tanpa pasti? Menimbulkan angan tanpa tujuan?" wajahnya mengeras, kepalanya menatap Emma yang sudah datang dengan bola mata memerah.
Melodi yang awalnya tinggi kini mulai menurun "Ya...itulah aku sekarang, katanya luka ini akan sembuh, tapi kenapa selalu kambuh?"
__ADS_1
Anika memejamkan matanya beberapa detik, netranya kini kembali terbuka, menatap banyaknya orang dengan wajah datar "Katanya cepat atau lambat luka ini akan hilang, tapi ternyata itu palsu."
Semua orang terdiam, ia sudah menduga ini sebelumnya, mau tak mau ia pasti ada disituasi ini, bahkan tak jarang dari mereka menatapnya dengan pandangan permusuhan.
"PLAGIAT." teriak salah satu dari mereka.
"Puisi itu milik Ratu, kalau lo gak bisa buat puisi jangan plagiat milik orang dong." timpal salah satu siswi yang ada dibawah.
"Malu-maluin sekolah ini aja."
"Turun lo dasar plagiat."
Anika masih tak bergeming, pandangannya terarah pada teman kelasnya, mereka terlihat bungkam tak bisa membela tapi juga tak ingin membully dirinya, kini netranya terfokus pada Rey, pemuda itu menatapnya dengan wajah loading. Tampaknya otaknya masih memproses situasi yang ada, ia rasanya ingin tertawa menatap wajah bloon sahabatnya, tapi sekarang bukan saatnya mengejek wajah Rey.
Pandangannya kembali menyusuri banyaknya kerumanan, netranya terlihat menangkap jelas raut khawatir dari wajah Abian, tak ingin berlama-lama pandangannya ia alihkan pada wajah Adelard, dingin dan masih terlihat santai seperti biasanya.
Lagi-lagi ia mengedarkan pandangannya, wajahnya berubah datar saat menangkap seringai dari wajah Emma dengan kepala yang sudah diperban rapi, tak jauh dari sana raut Ratu juga sama dengan gadis itu, bahkan mereka terang-terangan menunjukkan tatapan meremehkan.
"Sudah gue duga." monolognya pelan.
.
.
.
.
Bersambung
Yang belum like sama sekali bantu likenya ya, supaya makin semangat lanjutinnya, luangkan beberapa detik buat klik tombol, like vote dan tulis komentar.
Ig: siswantiputri3
^^^26-DESEMBER-2021^^^
__ADS_1