Antagonis

Antagonis
Chapter 64


__ADS_3

Ulangan harian yang cukup menguras otak, apalagi ini pelajaran IPA yang berbaur hitung-hitungan. Gadis cantik yang sedang duduk dibangku kantin menopang dagunya dengan bibir mendengus kesal.


"Lo kenapa sih? Takut nilai lo jatuh lagi kayak biasanya?" tanya Rey tiba-tiba.


Anika menghela nafas malas "lo fikir gue gak punya otak buat mikir sampai takut nilai gue jemblok." jawabnya sinis.


"Kan emang biasanya lo dapat nilai dibawah kita semua." timpal Rey santai, batagor yang ada didepannya ia makan kemudian kembali menatap Anika.


"Gak boleh ngomong gitu Rey, yang penting Anika udah usaha, lagipula nilai Anika gak sampai merah kan? Paling mentok kebawah dia cuma dapat nilai 88." nasehat Emma.


"Iya sih, tapi tetap aja rendah. Yang lain aja termasuk gue paling dibawah cuma dapat nilai 90." sela Rey.


"Ckk...gak usah bandingin gue sama kalian, gue ya gue, kalian ya kalian gak akan bisa sama." sentaknya datar.


"I'm sorry." Rey menatap Anika dengan raut bersalah, ia juga tak berniat menyinggung gadis itu hanya saja kadang mulutnya tak bisa diajak berkompromi.


Gadis cantik itu memutar bola matanya malas, ponsel miliknya ia raih kemudian meninggalkan area kantin tanpa sepatah katapun.


"Gue salah ya?" tanya Rey dengan pandangan nanar menatap punggung Anika.


Emma tersenyum tipis, tangannya mengelus punggung pemuda itu pelan "kamu gak salah kok, mungkin hari ini Anika sensi aja makanya marah kayak tadi."


Bibir pemuda itu mengembang, gadis disampingnya memang selalu berhasil membuatnya tenang, ia tak tau lagi harus bertanya kesiapa kalau bukan dengan Emma.


"Thanks." ucap Rey tulus.


Anika melangkah menyusuri koridor dengan raut kesal, ia paling benci hidupnya dikomentari oleh siapapun itu, apalagi dibandingkan dengan seseorang yang bahkan tak lebih baik darinya.


"Jangan bahas disini."


Gadis cantik itu mengerutkan keningnya, suara samar yang menyapa indra pendengarannya membuatnya penasaran, ia cukup asing dengan suara barusan.


Kakinya mendekat, mengintip seseorang yang sedang berbicara didalam kelas, kelas yang hanya diisi dua orang dengan usia yang terpaut beberapa tahun, ia mengenali keduanya bahkan sangat.


"Kak Adelard sama Drian ngapain?" monolognya bingung.


Berbagai macam pertanyaan berkacamuk didalam otaknya, ia benar-benar tak tau kalau kedua orang itu saling mengenal, sekarang ia bingung ada hubungan apa antara mereka berdua.


"Lo ngapain disitu?"


Tubuh gadis itu tersentak, kepalanya menoleh menatap kedalam kelas dengan bibir tersenyum canggung, kakinya mendekat dengan pandangan terarah pada keduanya yang juga menatap setiap pergerakannya.


"Kak Adelard ngapain disini?"


"Ada sedikit urusan." jawab pria itu seadanya.


"Urusan apa?" tanyanya penasaran.

__ADS_1


"Kamu gak perlu tau." setelah mengatakan itu sang CEO Lard Corp berjalan meninggalkan kedua remaja yang kini menatapnya dengan pandangan berbeda-beda.


"Lo kenal sama dia?" tanya Anika tiba-tiba.


Drian mengedikkan bahunya, kakinya berjalan pada tempat duduknya kemudian membuka buku yang baru saja ia pinjam pada perpustakaan.


Gadis cantik itu mendengus kesal, ia mengekori pemuda itu dengan pandangan penuh tanya "lo beneran kenal dia kan? Lo ada urusan apa sama kak Adelard?" tanyanya beruntun.


"Lo gak perlu tau, dan gue berhak gak jawab pertanyaan lo itu." jelasnya.


Anika berdecak kesal, ia tak akan pergi sampai pemuda didepannya menjawab rasa penasarannya, apapun yang berhubungan dengan gebetannya ia harus tau apalagi melihat Drian sang ketua kelas berbicara dengan CEO tampan membuat keingin tahuannya semakin tinggi.


"Tapi gue penasaran, apalagi kak Adelard datang kesini cuma buat bicara sama lo doang, rasanya mustahil kalau pembicaraan kalian bukan sesuatu yang serius."


Drian menghela nafas sabar, buku yang ada digenggamannya ia tutup kemudian menatap manik amber gadis didepannya serius "ini masalah pribadi gue, Lo gak berhak tau Anika."


"Gue emang gak peduli dan gak mau tau urusan lo, tapi kali ini urusan lo itu berhubungan sama kak Adelard, gue penasaran aja kenapa CEO sukses kayak kak Adelard mau kesini kalau bukan masalah serius." kekeh Anika.


"Gue juga gak tau." Drian mengedikkan bahunya acuh, jarinya ia ketuk-ketuk diatas meja dengan kening mengernyit "lagian gue juga gak sengaja papasan sama dia."


"Bohong."


"Gue serius."


Anika mendelik, pandangannya memicing menatap wajah sang ketua kelas dengan intens "gimana gue bisa percaya kalau lo ngomong serius."


Gadis cantik itu mencebikkan bibirnya, mereka bersitatap tanpa ada satu katapun yang keluar dari mulut keduanya.


"KALIAN SELINGKUH" teriak seseorang yang baru saja masuk, kepalanya menggeleng tak percaya melihat pemandangan yang cukup dekat dari dua remaja berbeda gender itu.


"Jangan teriak-teriak Rey." nasehat Emma.


Pemuda itu tak menggubris, kakinya mendekat pada dua orang yang masih berdekatan tapi tak lagi berkontak mata.


"Gue gak percaya sama apa yang gue lihat." celetuknya dramatis.


"Lo sehatkan?" tanya Drian tiba-tiba.


Rey menatap wajah Anika dengan pandangan terluka "lo selingkuh dari gue, cuma gara-gara dia." tunjuknya tak percaya "bukan maen."


"Gue masih kesal ya sama lo, jauh-jauh sana." usir Anika tanpa perasaan.


Pemuda itu menggeleng brutal, pandangannya terarah pada keduanya secara bergantian "kalian beneran pacaran?" tanyanya memastikan.


"Ngaco lo." sentak Drian.


"Tau." timpal Anika dengan bibir mendengus.

__ADS_1


"Kalau gak pacaran ngapain kalian tatap-tatapan kayak tadi? Malah romantis lagi kan gue iri." jelasnya.


"Siapa yang tatap-tatapan sih." sewot Anika.


"Ya kalian lah." jawab Rey ngegas.


"Enggak ya." bantah keduanya.


"Iya gak tatap-tatapan tapi saling pandang." gerutu pemuda itu.


"Sudah Rey, kan gak apa-apa juga kalau Anika sama Drian pacaran, mereka juga cocok kok." timpal Emma.


"Ih." gerling Rey tak terima "gak boleh lah, kan gue calon suaminya, masa belum nikah aja udah mau selingkuh sih."


Drian sudah tak tahan, ia angkat tangan menanggapi drama dari ketiga sahabat karib itu, ia bangkit dari duduknya meninggalkan kelas serta kehebohan yang teman kelasnya ciptakan.


"Eh...eh...DRIANNN." panggil Anika keras, baru saja ia akan menyusul pemuda itu untuk mengorek penjelasan tapi cekalan pada lengannya membuat pergerakannya terhenti.


"Tuh kan, kalian pasti ada hubungan kan?" tanya Rey kesal.


"Yaampun Rey, gue cuma ada urusan sama Drian, tangan lo lepas buruan." kesal Anika.


"Gak mau."


"Ish." dengus Anika.


"Atau kalian lagi PDKT ya? Ngaku aja lo." selidik pemuda itu, matanya memicing menatap wajah Anika dengan pandangan serius.


"Gak lah."


"Kamu lepas dulu tangan Anika, siapa tau memang mereka ada urusan penting." timpal Emma, matanya memanas melihat tangan pemuda itu dengan santainya bertengger pada lengan Anika tanpa ada niatan untuk melepas.


"Tau nih, ganggu aja urusan orang, enyahlah kau beban keluarga." usir gadis cantik itu seenak jidatnya.


.


.


.


.


Bersambung


Jangan lupa bantu vote, like dan komen ya guys~


Ig: siswantiputri3

__ADS_1


^^^18-JANUARI-2022^^^


__ADS_2