
"Jadi...peran apa yang akan kamu ambil?" tanya Adelard, kepalanya ia topang dengan pandangan fokus ke wajah Anika.
Berdekatan dengan gadis itu membuatnya terasa lebih santai, bahkan nada dan pengucapan kalimatnya kini mulai bersahabat, tak ada lagi nada sarkas dan dingin saat berbicara dengan gadis disampingnya.
Anika menutup bukunya, pulpennya juga ia taruh diatas meja, badannya berbalik menatap pria yang kini menatapnya intens "menurut kak Adelard apa?"
"Entah."
"Orang kayak gue emang cocoknya meranin apa? Penindas atau yang ditindas." tanyanya dengan senyum tipis.
Pria tampan itu menyunggingkan senyum miringnya "manipulasi mungkin."
Anika terbahak, perutnya dipegang dengan tangan memukul meja saking lucunya "yakin?" tanyanya dengan tawa yang mulai mereda, bahkan ujung matanya mengeluarkan sisa cairan bening.
Adelard mengedikkan bahunya acuh "bahkan aku rasa pertemuan ini disengaja." timpalnya santai.
Lagi-lagi gadis cantik itu terbahak, ucapan dari gebetannya ini benar-benar membuatnya tergelitik "mungkin kak Adelard benar, karena semesta gak suka kalau kita jauh-jauh makanya ketemu terus."
Adelard melongos, bibirnya mendengus dengan pandangan malas "gak usah ngegombal, gak mempan."
"Iya deh iya, bilang aja baper susah amat." sindirnya.
"Tiket undangannya mana, aku buru-buru, sibuk." tangan Adelard tersodor, meminta barang yang menjadi alasannya berada dirumah ini.
"Nih, baikkan gue." pedenya seraya meletakkan tiket undangan tepat diatas tangan besar milik pria tampan itu.
"Cih."
"Minta nomor teleponnya dong, nomor asli tapi." celetuk Anika.
"Gak." tolak Adelard.
"Loh." gadis cantik itu memberenggut kesal, padahal baru beberapa menit pria itu bersikap santai dan sangat bersahabat, tapi kenapa gebetannya ini kembali lagi ke tabiatnya.
Adelard bangkit dari duduknya, jas hitam yang sempat ia sampirkan pada sofa kembali ia kenakan matanya melirik sekilas gadis remaja yang berhasil membuatnya penasaran "aku pulang." pamitnya.
"Oke, tapi ingat besok ya kakak tampan."
"Hmm."
Anika tersenyum lebar, kakinya ikut mengekori pergerakan Adelard sampai kedepan rumah "hati-hati, kalau ada belokan lurus aja."
"Oke, bisa dicontoh." jawab Adelard seenaknya.
Anika terkekeh pelan, sekarang ia semakin yakin! Pesona dari pria menawan yang kini sudah berjalan menuju mobilnya benar-benar tak bisa ia abaikan. Selain wajahnya yang tak bisa dibilang biasa-biasa saja, otaknya juga sama mengagumkannya.
"BAY...BAY..." Anika melambaikan tangannya, walaupun ia yakin pria itu tak mungkin membalasnya! Tapi tetap saja ia melakukan hal unfaedah ini.
__ADS_1
Ia membalikkan tubuhnya saat mobil itu sudah menghilang dari pandangannya, bibirnya bahkan masih senantiasa mempertahankan senyuman manisnya, hari ini ia benar-benar senang.
Puk.
Baru saja kakinya akan melangkah kedalam rumah, tapi tepukan pada bahunya menghentikan pergerakannya, Anika mengernyitkan keningnya, tidak mungkin Adelard kembali lagi kan?
"Anika."
Gadis cantik itu membulatkan matanya, tubuhnya menegang mendengar suara yang sangat asing masuk ke indra pendengarannya. Tubuhnya berbalik memastikan orang dibelakangnya adalah orang yang sama diotaknya sekarang.
Damn!
"Ka--kak Abian." gagapnya.
"Kamu gak apa-apa kan?" tanyanya serius, wajah pucat dari gadis didepannya benar-benar membuatnya khawatir.
Tangannya terangkat kemudian diletakkan pada kening Anika, mencoba memastikan remaja didepannya sehat-sehat saja, tapi perlakuan Anika yang tiba-tiba menepis tangannya berhasil membuatnya bingung.
"Kamu kenapa? Kakak ada salah?"
Bibir Anika bungkam, kejadian beberapa hari yang lalu menimbulkan tanda tanya besar pada pria yang sudah ia anggap sebagai kakaknya sendiri.
"Anika masuk dulu." dengan tergesa-gesa ia masuk kedalam rumahnya, baru saja pintunya akan ditutup tapi tangan Abian dengan cekatan menahan pintu kayu itu.
"Jangan kayak gini, kalau kakak ada salah kakak minta maaf." mohon Abian, ia tak perduli dengan tangannya yang kini terjepit disela-sela pintu, ia hanya ingin gadis didepannya tak bersikap menjauhinya.
"Waktu itu?" ulang Abian.
"Waktu kak Abian kerumah Anika dengan keadaan mabuk, paginya Anika cek kakak udah gak ada, kak Abian kemana? Kenapa gak pamit ke Anika?"
Abian bungkam, otaknya berkelana menyusun kalimat yang tepat pada gadis didepannya, matanya menjelajah kesegala arah mencari jawaban yang tepat.
"Atau mungkin kak Abian emang udah lama pergi...bahkan sebelum subuh?" tanyanya lagi.
"Kakak...." Abian tak tau harus menjawab apa, rasa gugup kian menggorogoti hatinya.
"Kenapa kak Abian diam?" tanya Anika dengan tawa hambar "kak Abian takut Anika tau semuanya?"
"Kamu udah tau?" tanyanya hati-hati.
Anika membuka pintu rumahnya pelan, kepalanya mendongak menatap sedih pria yang kini membuatnya kecewa.
"Maaf."
"APA KATA MAAF NGEMBALIIN SEMUANYA?" tanya Anika murka, matanya memera menatap tajam tepat dimanik Abian.
"KENAPA HARUS KAK ABIAN, KENAPA GAK JUJUR DARI AWAL KE ANIKA? KAKAK TAKUT ANIKA LAPORIN POLISI? JAWAB KAK."
__ADS_1
Abian memajamkan matanya "bukan itu." lirihnya pelan, matanya kembali terbuka menatap lantai yang dipijaknya dengan pandangan sendu, ia tak bisa menatap gadis didepannya, ia sudah hilang muka memang siapa orang bodoh yang mau menganggapnya kakak setelah apa yang sudah ia perbuat.
"TERUS APA KAK? KENAPA KAK ABIAN GAK JUJUR DARI AWAL." air mata Anika meluruh, tangannya terkepal menanggung rasa kecewa untuk kesekian kalinya.
"KAKAK GAK PUNYA KEBERANIAN JUJUR KEKAMU KALAU KAKAK PEMBUNUH." teriak Abian, matanya kembali memanas saat potongan kejadian berhasil masuk kedalam otaknya.
"Apa?"
"Gak ada orang yang mau dekat sama pembunuh, dan kakak gak mau kamu jauh sama kakak, kamu udah kakak anggap adik sendiri." lirihnya.
Fikiran Anika kosong, pengakuan pria didepannya berbeda dengan apa yang ia pertanyakan, bukan kejujuran ini yang ia maksud, tapi seseorang yang andil merebut paksa ginjalnya.
"Kakak malu...walaupun kakak gak inget tapi kakak yakin pasti kakak ngomong sesuatu pas mabuk, makanya kakak pulang sebelum kamu bangun." jujurnya, matanya masih menatap lantai daripada wajah gadis didepannya.
"Jadi kak Abian pergi karena itu? Gak ada yang lain?" tanya Anika yang mulai tenang.
Abian mengangkat wajahnya, matanya menatap manik amber milik gadis didepannya "memang apa lagi?"
Anika menghapus jejak air mata yang ada dipipinya, walaupun ia tak tau pasti pembunuhan apa yang diutarakan Abian, tapi yang ia pertanyakan bukan itu, ia juga tak berhak ikut campur mengenai masa lalu pria didepannya.
"Tangan kak Abian merah, Anika obatin ya." ucapnya tiba-tiba, tangannya menarik pelan lengan kekar milik dokter muda itu.
"Kamu gak marah?" tanya Abian hati-hati.
"Anika gak berhak marah."
Abian semakin bingung "kamu masih mau anggap kak Abian kakak? Kamu masih sudi ketemu kakak?"
Anika tersenyum tipis, kepalanya mengangguk sebagai jawaban, mau bagaimanapun kejujuran yang diutarakan Abian bukan jawaban itu yang ia butuhkan.
"Terus kamu marah soal apa?"
"Bukan apa-apa, tadi ada kesalahan teknis aja." jawab Anika disertai cengiran polosnya.
.
.
.
.
Bersambung
Hallo guys~jangan lupa luangkan beberapa detik buat klik like ya.
Ig: siswantiputri3
__ADS_1
^^^17-DESEMBER-2021^^^