Antagonis

Antagonis
Chapter 68


__ADS_3

Anika menatap pantulan dirinya didepan cermin, bibirnya tersenyum tipis seraya menyemprotkan parfum pada tubuhnya. Setelah dirasa penampilannya sudah bersih ia segera keluar dari kamarnya, berniat membuat makan malam untuk Bu Sari dan juga Axel.


"Nak Anika mau kemana?" tanya Bu Sari yang baru saja muncul.


"Anika mau masak Bu, Axel sukanya makan apa ya? Terus Axel gak punya alergi kan?" tanyanya memastikan, ia takut menyampurkan bahan makanan yang tak cocok dengan bocah gembul itu.


"Axel gak punya alergi nak, dia juga makan apa aja."


Gadis cantik itu mengangguk paham, ia sekarang juga tau makanan apa yang akan ia hidangkan untuk mereka berdua.


"Ibu bantu ya nak." pinta Bu Sari


"Oke Bu." jawabnya dengan jari membentuk tanda 'oke' pada wanita paruh baya didepannya.


"Nak Anika mau masak apa?" setidaknya ia harus tau apa yang akan dimasak remaja itu agar bisa membantu.


"Anika mau masak ayam bakar madu Bu."


Bu Sari tampak kebingungan, hidup susah bertahun-tahun membuat ia tak tau banyak tentang menu makanan yang ada, bahkan untuk masak dirumah ia sangat jarang melakukannya, tapi saat ini ia juga tak mungkin hanya menumpang dan membiarkan gadis itu memasak sendiri.


"Kenapa Bu?" tanya Anika tiba-tiba, ia sedikit bingung melihat wanita paruh baya itu terdiam didepan meja.


Bu Sari tersenyum canggung "Ibu gak tau mau ngapain." jawabnya jujur.


Anika terkekeh pelan, ia berjalan kearah kulkas untuk mengambil ayam yang masih terbungkus plastik "Bu Sari potong ayam aja kalau gitu, kalau udah biar Anika yang lakuin selanjutnya."


Bu Sari mengangguk paham, dengan tergesa-gesa ia melakukan apa yang dikatakan gadis itu, memotong ayam tentu bukan masalah besar untuknya.


Anika tersenyum tipis kemudian melanjutkan tugasnya, ia mengambil bahan dapur yang akan ia campurkan pada ayam yang masih dalam tahap dipotong. Tangan lentiknya tampak cekatan melakukan aktivitasnya saat ini.


"Ayamnya udah Ibu potong nak." beritahu Bu Sari, ayam yang ada diatas piring berwarna putih ia sodorkan pada gadis remaja disampingnya


Gadis cantik itu mengangguk paham, wajan yang ada disana ia panaskan untuk memasak ayam yang baru saja dipotong, tak lupa ia mencampurkan bawang, merica, jahe, serta air hingga empuk.


Kecap manis yang ada disebelahnya ia tuangkan lalu diaduk hingga rata. Sambil menunggu bumbu meresap ia segera menyiapkan tempat untuk membakar ayam.


"Nak Anika jago masak ya." celetuk Bu Sari.


Anika tersenyum malu "gak jago kok Bu, Anika cuma udah biasa hidup sendiri jadi mau gak mau Anika harus mandiri."


"Ibu salut sama kamu."


"Ibu bisa aja." timpalnya.


Disela-sela pembicaraan mereka gadis cantik itu kembali melanjutkan membakar ayam diatas api, tak lupa ia mengoleskan madu sambil menunggunya matang.


"Kakak cantik masak apa? Kok harum?" tanya Axel tiba-tiba, matanya dikucep pelan karena rasa ngantuk yang belum sepenuhnya menghilang.

__ADS_1


"Adek ganteng baru bangun ya?" tanya Anika gemas.


Axel mengangguk berulang-ulang, bibirnya menguap kecil dengan pandangan sayu "hu'um."


"Anak mama udah cuci muka belum?" tanya Bu Sari lembut.


Bocah gembul itu menggeleng pelan sebagai jawaban, netranya kini terfokus pada kompor yang masih membakar ayam dengan aroma menggiurkan.


"Anak mama cuci muka dulu ya, habis itu kesini lagi." perintah Bu Sari.


"Axel lapar ma, kalau udah makan baru Axel cuci muka, bolehkan?" tanyanya dengan mata mengerjap lucu.


Anika terkekeh pelan, kepalanya menggeleng pelan mendengar bujukan bocah lima tahun itu "adek ganteng cuci muka dulu, ini juga belum matang, nanti kalau udah cuci muka ayamnya juga matang kok, percaya deh sama kakak."


Axel tampak menimang, kening halusnya tampak berkerut seolah memikirkan jawaban yang tepat "okeyyy." jawabnya cempreng.


"Ayo sayang, sekalian mama mau gantiin baju kamu." sahut Bu Sari.


"Ayo ma."


Anika tersenyum tipis melihat pemandangan harmonis yang ada didepan matanya, ia sudah lama tak merasakan rumahnya kembali hidup, dan ini! Untuk pertama kalinya keadaan rumanganya terasa hangat karena kedatangan mereka berdua.


"Gak boleh sedih, cewek kuat jodohnya kak Adelard." monolognya semangat.


Dengan perasaan yang kembali riang ia segera menyajikan masakannya diatas meja, bibirnya menyunggingkan senyum lebar melihat semuanya sudah tertata rapi, tinggal menunggu Bu Sari dan Axel untuk segera makan malam bersama.


Walaupun warnanya sudah luntur tapi tetap saja Axel terlihat menggemaskan dimatanya, ia bertekad akan membelikan mereka berdua pakaian setelah pulang sekolah besok.


"Sudah dong, sini dekat kakak, kita makan bareng-bareng." ajaknya.


Karena sudah kelewat lapar akhirnya Axel berlari cepat kesamping Anika, tanpa bantuan siapapun ia duduk diatas kursi dengan pandangan menatap binar ayam bakar yang ada didepannya.


"Baca doa dulu sayang." sahut Bu Sari.


Axel mengangguk patuh, tangannya menengadah dengan mata terpejam sambil meramalkan doa makan yang sejak dulu diajarkan sang mama.


"Udah." celetuknya.


Anika tersenyum tipis, tangannya menyendok nasi kemudian diletakkan pada piring Axel, tak lupa ayam bakar madu sudah berada diatas nasi itu sebanyak dua potong.


"Axel makan yang banyak ya, Ibu juga." celetuk Anika.


"Iya nak."


"Iya kakak cantik."


Sendok demi sendok nasi itu ia masukkan kedalam mulutnya, matanya sesekali melirik bocah disampingnya yang tampak semangat menghabiskan makanannya, melihat cara anak itu makan ada rasa bahagia pada hatinya.

__ADS_1


"Makannya pelan-pelan sayang." peringat Bu Sari.


Axel menampilkan cengiran polosnya, mendengar ucapan mamanya membuat ia mengurangi kecepatan makannya, bagaimanapun ini pertama kalinya lehernya merasakan memakan ayam bakar, apalagi ayam didepannya terasa sangat enak.


Anika meminum air putih didepannya, dengan sedikit bersendawa ia mengelap ujung bibirnya yang masih tersisa jejak nasi, matanya menatap Bu Sari dan Axel bergantian.


"Anika ke ruang tamu duluan ya Bu, kalau Ibu sama Axel udah makan tinggalin aja diatas meja, besok pagi baru Anika cuci."


"Biar Ibu aja yang cuci piring nak."


Anika menggeleng cepat "gak usah Bu, biar Anika aja yang cuci besok."


"Gak apa-apa nak buat ibu aja, ibu gak enak kalau gak lakuin apa-apa, apalagi kamu udah baik mau nampung ibu sama anak ibu." sela Bu Sari.


"Tapi Bu---"


"Ibu tambah gak enak kalau gak lakuin apa-apa." potong Bu Sari, pandangannya jelas menunjukkan permohonan pada remaja didepannya.


Anika menghela nafas pelan "iya deh Bu, tapi kalau ibu capek ibu tinggalin aja cucian piring disitu ya."


"Makasih nak."


Anika tersenyum tipis kemudian bangkit dari duduknya untuk menuju ruang tamu, remote yang ada disana ia jangkau sambil menekan tombol power untuk menghidupkan TV didepannya.


'Seorang pria ditemukan tewas dan tergeletak diatas tanah dengan bersimbah darah, korban ditemukan tewas mengenaskan dengan kepala yang sudah menghilang dari tubuhnya, setelah menyelidiki dan menemukan tanda pengenal dari pria itu polisi sudah bisa menyimpulkan sang korban adalah anak yatim yang bekerja sebagai penjaga gerbang dimansion keluarga Louis---'


Anika mematikan siaran TV didepannya, dari foto yang tadi sempat tampil pada layar didepannya ia dengan jelas mengenali orang itu, pria yang sama dengan kepala seseorang yang baru saja ia terima berbentuk paket.


Keningnya mengernyit dengan kuku digigit berulang-ulang, sekarang ia merasa was-was. Tapi disamping ketakutannya ia sudah memecahkan dan mengetahui sedikit identitas orang yang menjadi dalang penyekapan dirinya.


"L pada kalung itu adalah Louis, gue tinggal cari tau siapa diantara keluarga itu yang jadi dalang penyekapan gue."


.


.


.


.


Bersambung


Tambah kesini makin bingung ngembangin nih cerita, semoga aja masih bisa lanjutin sampai tamat.


Instagram: siswantiputri3


^^^23-JANUARI-2022^^^

__ADS_1


__ADS_2