
Gadis cantik itu tak peduli lagi dengan cemoohan para murid yang sudah termakan oleh rekaman itu. Jujur! Bahkan ia sendiri terhenyak melihat rekaman yang sama persis dengannya.
Walaupun muka dari video CCTV itu tak begitu jelas menangkap wajahnya! Tapi tetap saja bentuk tubuh, cara berpakaian, warna kulit bahkan potongan rambut dan juga sedikit dagu benar-benar terlihat seperti dirinya dari atas.
"Huft."
Sekarang ia hanya perlu menunggu satu hari, kalau nama baiknya tak kembali besok pagi terpaksa ia akan menyeret satu orang untuk ikut dengannya. Ia tak mau hancur sendirian. Dengan senang hati video Emma juga akan tersebar saat mengambil uang ratu saat pentas sekolah. Bukannya jahat! Hanya saja ia cukup tau gadis itu yang paling terbukti menjebaknya seperti ini.
"Lo oke Anika?" tanya Roy tiba-tiba.
Gadis cantik itu membalikkan tubuhnya, bibirnya tersenyum tipis sambil mengangguk pelan sebagai jawaban.
"Gue gak mau ikut campur tapi karena lo teman kelas gue mau gak mau gue liat rekaman itu, walaupun gak kelihatan pasti tapi kalau dilihat dari sudut yang terekam CCTV itu benaran mirip lo. Maaf kalau gue kesannya ikut nyudutin juga."
"Gue ngerti. Lagian apa yang dilihat dari mata jauh lebih dipercaya daripada pembelaan dari bibir." jelas Anika santai.
"Sorry."
"Ya."
...***...
Perasaan kesal dan juga keadaan berantakan cukup membuat para perawat merasa prihatin melihat remaja SMA itu. Tak ada yang ingin bertanya lebih lanjut kecuali pemberitahuan bahwa sebentar lagi gadis itu akan melakukan operasi ringan pada jarinya yang patah.
"KELUAR." bentak Emma tentu dengan cepat suster itu keluar mendengar suara melengking dari gadis yang beberapa saat lalu dibawah ke sini dengan tampilan mengenaskan.
"SIALAN."
Dengan nafas tersenggal-senggal ia meraih ponsel miliknya yang ada diatas meja. Tangan kirinya dengan lihai mencari kontak seseorang yang ada disana, tak ingin berlama-lama akhirnya ia menekan tombol panggilan untuk seseorang diseberang.
"Ayo angkat." monolog Emma greget.
[Hallo]
Suara bas dari seseorang diseberang membuat perasaan kesal yang awalnya singgah kini mulai menghilang. Walaupun tak begitu yakin kalau orang itu akan kembali membantunya, mengingat dia pernah menolaknya saat meminta bantuan lagi. Tapi setidaknya ia akan mencobanya lagi.
[Siapa?]
"Ini gue." tak ada balasan dari seberang, dan Emma cukup yakin kalau pemuda itu menunggunya melanjutkan pembicaraan.
"Gue butuh bantuan lo lagi, gue mohon jangan tolak gue lagi." selanya cepat. Kini terdengar helaan nafas dari seberang, sontak membuat perasaannya semakin was-was seketika.
__ADS_1
[Gue udah bilang gak---]
"Kenapa gak bisa? Sampai kapan lo kayak gini. Bukannya lo pernah bilang kalau lo juga benci sama dia Ian." desak Emma. Mencoba menyadarkan pemuda itu kalau tujuan mereka sama.
[Gue tau]
"Lalu apa lagi! Apa yang lo tunggu? Bahkan gue juga bayar lo dengan harga tinggi. Selain musuh lo juga musnah lo juga dapat kompensasi."
Emma berusaha mengatur nafasnya yang mulai memburu, mau bagaimanapun seseorang diseberang sangat penting menjadi pendukungnya. Sebuah pion yang tak bisa dibiarkan lepas begitu saja.
[Gak bisa]
"Kenapa gak bisa? Mau sampai kapan lo kabur dan biarin dia hidup bebas kayak gini hah?" bentak Emma lepas kendali.
[Sampai dia bisa buat lo lenyap, atau paling gak sengsara. Dan itu janji gue sama dia, jadi gak ada gunanya lo ngemis minta bantuan sama gue]
Tik
Emma tersentak, tubuhnya menegang bersamaan ponsel miliknya yang sudah terjatuh dalam genggamannya. Apa yang baru saja didengarnya? Seolah nyawa dalam dirinya terangkat. Kenapa orang yang berada pada kubunya malah perlahan menjauhinya?
...***...
Anika memasuki rumahnya dengan pandangan mengernyit. Pikirannya tertuju pada dua orang yang beberapa hari lalu tinggal dengannya, hingga sebuah catatan kecil yang tertempel didepan kulkas menjawab rasa bingungnya sekaligus membuat ia lega.
Senyum Anika perlahan terbit, sekarang ia kembali merasakan yang namanya kehangatan keluarga setelah orang tua angkatnya sudah menyatu dengan tanah.
Tok...tok...tok....
"Tungguuu." teriaknya sambil berjalan menuju pintu utama yang kini sudah diketuk beberapa kali. Sebenarnya ia cukup bingung siapa yang berkunjung ke rumahnya? Atau mungkin Bu Sari dan juga Axel sudah pulang?
Cklek.
"Kak Adelard?" monolognya pelan.
"Bisa bicara sebentar?" tanya Adelard balik sambil menatap remaja didepannya yang sudah beberapa minggu tak ia lihat wujudnya karena kesibukan bisnis.
"Bisa-bisa, silahkan masuk kakak tampan. Gak usah sungkan sama calon istri sendiri." celetuk Anika riang.
Adelard mendengus pelan kemudian mengikuti langkah Anika dari belakang. Mereka berhenti tepat setelah mendudukkan tubuh pada sofa. Ia sebenarnya bingung harus mengatakan apa lebih dulu pada remaja itu karena tentu ia datang kesini karena suatu hal.
"Jauhi Adrian." titah Adelard tiba-tiba mengundang tatapan heran pada wajah polos tanpa make up gadis itu.
__ADS_1
"Kenapa?"
"Pokoknya jangan terlalu dekat dengan dia, kalau perlu jangan berusaha akrab ataupun terlibat pembicaraan sama dia."
"Kak Adelard cemburu ya?" Goda Anika membuat Pria itu terhenyak mendengar penuturan remaja disampingnya. Padahal niatnya bukan seperti ini hanya saja ia cukup tau kalau gadis itu sudah dalam genggaman adiknya sendiri. Tentu ia tak akan membiarkan orang tak bersalah menanggung kesalahan orang lain. Apalagi sampai mau dilenyapkan.
"Bukan, tapi---"
"Adik kak Adelard mau lenyapin gue kan?" sela Anika cepat dengan perubahan raut wajah begitu cepat. Bibirnya menghela nafas pelan "gue udah tau."
"Kamu tau dari mana?"
"Dia udah beberapa kali hampir lenyapin gue tapi gagal. Sebenarnya gue bingung masalah apa yang pernah gue lakuin hingga bisa terjerat dalam dendam kayak gini! Sama adik kak Adelard."
Pria itu bungkam, ia tak mungkin mengatakan yang sebenarnya pada gadis disampingnya. Sama saja itu membongkar aib tentang pembantaian pada keluarganya, cerita itu bukanlah Kisah yang harus disebarkan.
"Yang jelas jauhi dia."
"Tenang kak, lagian gue juga gak pernah benar-benar dekat sama dia. Kita berdua cuma dua orang yang gak sengaja menjadi teman kelas. Hubungan gue sama dia gak sedekat itu." jelas Anika menimbulkan raut tanya pada dahi Adelard, padahal yang ia lihat selama ini malah sebaliknya.
"Kamu udah gak dekat sama dia lagi? Sejak kapan?"
"Maksud kak Adelard apa? Kapan emang gue pernah dekat sama dia?" tanya Anika balik, bahkan menurutnya dia dan Drian bisa dihitung jari kalau berbicara saking jarangnya.
"Ah sudahlah. Lupain aja yang jelas jangan dekat-dekat dengan dia." titah Adelard tak mau ambil pusing.
Anika mengangguk paham, lagian ia juga tak ada niatan membangun hubungan dengan orang yang jelas-jelas mengincar nyawanya sendiri "tapi kenapa kak Adelard mau bantu gue? Bukannya dia adik kakak?"
"Salah tetap salah, gak mungkin aku bantu kalau permasalahannya udah kayak gini. Tapi aku juga gak bakal biarin dia masuk penjara. Kalau kamu mau bilang egois gak apa-apa, itu memang kenyataannya. Tapi tenang aja aku gak bakal biarin dia lenyapin kamu dan aku juga gak akan biarin kamu buat dia mendekam dipenjara." jelas Adelard.
"Hidup kak Adelard berat ya."
.
.
.
.
Bersambung.
__ADS_1
Instagram: siswantiputri3
Komenannya dijaga ya orang baik, dosa loh bikin orang sakit hati walau cuma ketikan.