
Abian menatap dedaunan yang kini bergoyang diterpa angin. Akhirnya ia bisa beristirahat setelah menangani pasien tabrak lari beberapa saat lalu. Matanya ia pejamkan sambil mencari posisi ternyaman menyandarkan punggungnya ke belakang.
Netra yang awalnya tertutup perlahan terbuka saat mendengar derap langkah kaki mendekat kearahnya. Tanpa membalikkan badan rasanya ia sudah tau siapa orang itu.
"Ada apa Ian?"
"Ian?"
Tubuh Abian tersentak, badannya secepat kilat berbalik menatap gadis remaja yang juga menatapnya bingung. Bibirnya berdehem pelan disusul dengan senyum lembut pada ujung bibirnya.
"Kamu nyari kakak ke sini! Ada apa? Kamu butuh sesuatu?"
"Gak ada apa-apa. Cuma belakangan ini kak Abian gak pernah ke rumah Anika. Kayaknya kakak sibuk, karena sedikit rindu makanya Anika ke sini. Rasanya udah lama Anika gak liat muka ganteng kakak." kekehnya pelan.
Abian ikut tertawa renyah mendengar ucapan gadis didepannya. Semakin ke sini rasa bersalahnya perlahan timbul, mungkin itu juga alasan baginya tak menemui Anika. Rasanya bersikap santai seolah tak memiliki salah cukup membuatnya tertekan, apalagi jika orang itu memiliki wajah polos seperti Anika. Ia benar-benar tak tau harus bertindak seperti apa sekarang.
"Kak Abian sibuk?"
"Ah...enggak kok. Kebetulan sekarang waktu istirahat kakak. Emang kenapa?"
"Gitu ya. Jadi Anika boleh gak ajak kakak berfikir sebentar aja! Orang pintar kayak kakak harusnya bisa bantu pecahin permasalah ini."
Abian mengernyitkan keningnya. Jujur! Ia sedikit bingung mendengar ucapan gadis itu, tapi tak ada salahnya mengurangi beban fikiran dari gadis yang sudah ia anggap adik sendiri.
"Boleh kan?"
"Boleh kok. Emang kamu mau bahas masalah apa, kakak janji bakal bantu semampu kakak." jawabnya tulus.
Anika tersenyum tipis. Bibirnya menghela nafas pelan sambil menatap wajah pria didepannya serius "beberapa bulan yang lalu kak Abian pernah perbaiki bekas jahitan diperut Anika. Mungkin kakak gak tanya tapi Anika yakin kalau kakak pasti penasaran liat orang berantakan kayak kondisi Anika dulu."
Abian sedikit terhenyak, ia tak menyangka kejadian itu akan diungkit oleh gadis didepannya "iya, tapi sebagai dokter kakak juga gak berhak terlalu penasaran sama pasiennya. Jadi kakak diam walaupun sebenarnya kakak penasaran apa yang terjadi sama kamu."
__ADS_1
"Sebenarnya waktu itu kamu kenapa? Kenapa kondisi kamu bisa berantakan kayak gitu?" tanyanya dengan suara tercekat. Bagaimana mungkin ia tak tau kalau salah satu orang yang membuat kondisi Anika menyedihkan seperti itu juga dirinya. Rasanya ia menyesal melakukan itu semua.
"Anika gak tau kenapa ada orang sejahat itu. Padahal Anika gak ngerasa ngelakuin salah tapi tetap aja ada orang yang tega ngelakuin itu---" Abian menatap nanar gadis didepannya, dadanya terasa diremas mendengar penuturan itu.
"Mereka tega ambil ginjal Anika cuma mau buat kehidupan orang lain lebih sempurna." tuturnya mengundang guratan samar pada dahi Abian. Ia sekarang tak mengerti, mungkin memang ada yang ia lewatkan. Karena setaunya dulu ia hanya mengeluarkan ginjal gadis itu setelahnya Adrian yang mengambil ginjal itu entah untuk apa.
"Ayah Anika tega ambil paksa ginjal Anika cuma buat didonorin sama adik Anika sendiri. Anak kesayangan mereka. Sosok yang selalu jadi juara disekolah. Padahal kita sama, sama-sama memiliki darah yang sama---"
"CUKUP---kenapa kamu bohong kayak gini Anika." potong Abian cepat.
Pandangan gadis itu tiba-tiba kosong, cukup sudah ia membohongi diri kalau ini memang sebatas kebetulan "kenapa kak Abian tau kalau Anika bohong?"
"Karena kakak yang---" matanya tiba-tiba membola, tenggorokannya seakan tercekat seiring matanya bertambrakan dengan manik amber yang juga memandangnya kecewa.
"Walaupun samar Anika tau kalau orang yang nolongin Anika waktu itu dijalan adalah kakak. Tapi kenapa kak Abian gak jujur kalau kakak yang bawa Anika kerumah sakit. Selain kakak yang perbaiki bekas jahitan Anika kakak juga yang nolongin Anika sekarat dijalanan."
"Itu---"
Sekarang Abian tak tau lagi harus mengatakan apa. Menyangkal juga rasanya tak bisa, apa sekarang semaunya akan terbongkar? Apa setelah merasakan menjadi kakak seorang perempuan akan berakhir lagi sekarang. Rasanya ia selalu gagal menjadi kakak dari anak perempuan. Dulu adik kandungnya dan sekarang adik angkatnya.
"Sebenarnya dulu Anika gak mau ambil pusing. Tapi semakin ke sini ternyata benar kalau kita gak boleh acuh sama fakta yang jelas-jelas tergambar didepan mata. Sedikit kebenaran sudah jelas terpampang tapi karena Anika yang terlalu idiot dan membodohi diri makanya Anika terus nyangkal kalau itu memang kebetulan. Kakak hanya kebetulan lewat disana waktu itu."
"Kakak---"
"Gue cuma berharap itu memang kebetulan." lirihnya datar.
Abian mengalihkan pandangannya ke sembarang arah. Ia tak bisa menatap wajah putus asa, kecewa dan juga terluka dari gadis didepannya. Dari banyaknya orang yang ia bunuh bahkan ia curi organ dalam tubuhnya baru kali ini ia merasa kalau perbuatannya salah.
"Kak Abian!"
Dokter muda itu menghela nafas kasar, rasanya ia benar-benar frustasi karena rasa bersalahnya "kakak mau juj---"
__ADS_1
"Gak usah." potong Anika cepat. Mau tak mau Abian mengangkat wajahnya dengan pandangan menatap wajah Anika yang kini menampilkan senyum tipis.
"Kelemahan Anika cuma satu. Masih belum bisa nerima fakta menyakitkan dari orang terdekat Anika. Walaupun pada akhirnya kalau yang lakuin ini semua ada hubungannya dengan kakak---" air mata yang meluruh pada pipinya ia hapus kasar dengan bibir yang masih mempertahankan senyumnya.
"Jadi tolong tetap rahasiain semaunya dari Anika. Setidaknya jangan biarin Anika dapat bukti yang sangat jelas kalau kakak ikut andil dengan semuanya. Anika gak peduli sama orang yang satunya karena memang Anika gak sedekat itu sama dia tapi kalau sama kak Abian---"
Dengan cepat tubuh gadis itu ia rengkuh, tangan kekarnya mendekap Anika sebelum permintaan lirih itu kembali keluar dari bibirnya. Sudah cukup ia mendengar nada putus asa dari gadis itu, rasanya perasaannya ikut diremas mendengar permohonan yang bahkan akan sia-sia. Mau seberapa keras pun ia menyangkal nyatanya tak akan mengubah fakta kalau salah satu dalang dari orang itu adalah dirinya.
"Sudah cukup, jangan dilanjut lagi ya." pinta Abian lembut, tangannya mengelus rambut gadis itu berulang-ulang.
"Kakak mohon jangan lanjutin lagi. Sudah cukup kamu bicara ngawur kayak gitu. Kakak berharap ini pertama dan terakhir kalinya kamu kayak gini." tambahnya sambil mengeratkan pelukannya.
"Maaf." lirih Anika pelan dengan tangan ikut membalas pelukan itu. Kepalanya ia benamkan pada dada bidang Abian yang kini masih dibaluti pakaian khas dokter.
"Gak apa-apa. Tapi lain kali jangan ngomong sembarangan kayak gitu lagi, kakak gak suka." jawab Abian pelan.
"Anika ngerti."
.
.
.
.
Bersambung
Instagram: siswantiputri3
Cerita baru judulnya 'suami cadangan'
__ADS_1