
Kedatangan beberapa polisi ke sekolah Arwana membuat sebagian murid penasaran mengenai kasus perampokan disekolah mereka menimba ilmu. Apalagi belakangan ini kehilangan laptop maupun komputer yang ada dilab sering terjadi tentu membuat rasa penasaran bagi diri mereka semakin membuncak.
"Gue dengar semua murid yang lambat pulang dihari pertama kali sekolah kehilangan barang dipanggil untuk diintrogasi." ucap Rey sambil menatap Anika dan Emma secara bergantian.
"Bukan cuma murid tapi guru, satpam maupun tukang bersih-bersih ikut dipanggil sama polisi." tambah Anika.
"Semoga kasus ini cepat diatasi ya, nama baik sekolah bisa dipertaruhkan kalau kasus ini terus berlanjut." celetuk Emma.
"Gue makin penasaran siapa dalang dari perampokan ini, apalagi susahnya bukti bagi polisi semakin buat gue yakin kalau ini memang direncanakan, orangnya pasti bukan perampok abal-abal." timpal Rey sambil mengucah cemilan yang sudah ia beli pada ibu kantin.
Emma mengangguk setuju, dagunya ia topang sambil menebak-nebak sosok yang memiliki kemungkinan besar dalang dalam kasus ini.
"Eh, tapi gue waktu itu cepat pulang gak ya? Emang hari apa sih awal perampokan disekolah kita?" tanya Rey tiba-tiba.
"Kamis." jawab Anika seadanya.
Rey menimang-nimang beberapa saat, hingga otaknya jernihnya sudah mengingat kalau waktu itu ia membolos dari sekolah, tentu ia tak mungkin ikut diintrogasi karena waktu itu ia cepat pulang. Sekarang ia lega rasanya.
"Alhamdulillah, waktu itu gue bolos. Baru kali ini bolos ada manfaatnya." celetuk Rey dengan wajah riangnya membuat Anika mendengus sambil memutar bola matanya malas.
"Kamu lucu deh Rey, kayak orang takut diintrogasi aja. Kalau gak salah kenapa harus takut." kekeh Emma pelan.
"Gak gitu beb, tapi naluri gue sebagai orang yang lemah lembut terasa terintimidasi kalau berhadapan sama polisi. Jangankan berhadapan langsung, gue liat polisi aja dari jarak 5 meter otak gue udah meronta-ronta ingin lari."
"Aneh kamu."
"Bukan aneh sayang, tapi wajar."
Emma menundukkan kepalanya mendengar nama panggilan yang digunakan pemuda itu untuknya. Rasanya ia tak bisa menyembunyikan rasa senangnya saat disebut 'beb' ataupun 'sayang' padahal ia tau kalau Rey selalu friendly pada semua gadis yang menurutnya menarik.
"Lo kan waktu itu gak mau ikut gue bolos Anika, jadi hari itu lo cepat pulang atau enggak?" tanya Rey penasaran.
"Gue---"
"Kak Anika dipanggil ke kantor kepala sekolah." potong siswi kelas satu yang baru saja muncul.
"Kamu ikut diintrogasi Anika, berarti waktu itu kamu masih disekolah." celetuk Emma tiba-tiba.
"Ya ampun istri gue, pokoknya lo harus baca basmalah." peringat Rey yang hanya dibalas dengusan malas dari Anika.
"Lebay lo."
"Gue nyuruh lo baca basmalah bukan karena masalah kasus perampokan ini, tapi gue cuma mau semuanya berjalan lancar tanpa adanya adegan lo kepincut sama pak polisi. Apalagi tadi gue liat polisinya kayak tipe lo banget yang apa namanya? Oh iya sugar Daddy. Gue kan takut lo selingkuh dari gue lagi."
__ADS_1
Anika berdecak pelan "ingat ya best friend forever, gue udah tobat karena apa? Karena saat ini gebetan gue cuma kak Adelard seorang."
Setelah mengatakan dengan santai ia meninggalkan kantin, berjalan menuju ruang kepala sekolah untuk segera menyelesaikan introgasi ini.
"Sekarang Anika dipanggil, kalau lo waktu itu cepat pulang gak?" tanya Rey pada Emma, ia sudah cukup was-was salah satu sahabatnya dipanggil! Walaupun ia sebenarnya yakin kalau Anika sama sekali tak ada sangkut pautnya.
"Aku pulang kayak biasanya kok, pas bel pulang sekolah aku langsung ke tempat pemberhentian bus. Aku juga gak ada alasan lama-lama tinggal disekolah."
"Bagus-bagus."
"Hallo kak Rey kak Emma." sapa siswi kelas satu dengan senyum manis pada bilah bibirnya, tentu membuat orang yang bersangkutan menatap asal suara.
"Eh...lo kan! Siapa ya---"
"Naya kak, yang waktu itu kasih kak Rey bekal." jawab siswi itu malu-malu.
Rey menepuk dahinya pelan, sekarang ia ingat siapa gadis manis disampingnya dengan senyum menawan ia menatap siswi yang baru saja muncul itu.
"Sorry gue agak lupa sama lo, tapi gue ingat kok muka lo cuma nama lo aja yang agak samar diotak gue."
"Iya kak gak apa-apa, aku boleh duduk gak?" tanya Naya sopan tentu dengan senang hati Rey mengiyakan permintaan adik kelasnya ini.
"Duduk aja, gak bayar kok." candanya.
Naya terkekeh pelan, ia benar-benar senang pemuda itu menerima kedatangannya dengan senang hati, kalau begini ia semakin yakin untuk mendekati kakak kelasnya ini.
"Gak apa-apa kak--"
"Jadi kamu yang kasih Rey bekal waktu itu! Kenalin nama aku Emma." tangannya tersodor pada siswi kelas satu yang kini saat ini duduk bersebelahan dengan Rey.
"Eh, iya kak. Namaku Naya kelas 1 IPS 3, salam kenal ya kak Emma." balas Naya lembut dengan senyum manis pada ke dua ujung bibirnya.
"Duh, mimpi apa gue semalam dikelilingi sama gadis cantik kayak kalian." puji Rey sambil menggeleng pelan, entah apa yang dilakukannya hingga bisa diciptakan semenawan ini sampai-sampai semua gadis cantik ingin berada didekatnya.
"Menurut Naya kak Rey baik, makanya semua orang nyaman sama kak Rey."
"Ya ampun dedek gemes bisa aja, kalau gini gue kan bisa baper."
Emma terkekeh pelan walaupun sebenarnya hatinya sangat kesal, ia tak bisa menerima adanya hama seperti siswi didepannya ini. Padahal ia sudah memaksa hatinya membiarkan Ratu berdekatan dengan Rey agar Anika tersingkir tapi sampai sekarang masih belum terjadi dan ini malah bertambah orang baru yang membuatnya muak.
"Kamu suka sama Rey ya?" tanya Emma lembut, membuat Naya merasa senang dengan sikap kakak kelasnya yang menurutnya sangat baik.
Dengan sedikit gugup dan juga wajah memerah ia mengangguk pelan sebagai jawaban, ia tak ingin munafik untuk menyangkal perasaannya sendiri.
__ADS_1
"Memang siapa yang gak suka sama kak Rey, bahkan semua teman kelas Naya suka sama kak Rey." jawabnya dengan wajah malu-malu.
"Seriusan, cowok juga?" tanya Rey dengan mata membola kaget. Dengan cepat Naya menggeleng brutal.
"Maksud Naya temen kelas cewek, bukan cowok." selanya cepat.
"Alhamdulillah aman, masa depan gue masih cerah tanpa adanya tanjakan ataupun belokan yang gak diinginkan." ucap Rey sambil mengelus dada sabar sontak mengundang kekehan pelan dari adik kelasnya itu.
"Kak Rey lucu ya kak Emma."
"Emang gitu orangnya dek, bahkan dia friendly ke semua cewek apalagi buat baper sana-sini. Kakak kelas aja hampir semua diembat sama dia, untuk kakak kelas udah sadar dan gak jatuh sama mulut manis Rey." jawab Emma membuat Naya membatu mendengar penuturan kakak kelasnya ini.
"Ya ampun beb, bukan gitu! Kan kaum Adam lebih banyak daripada kaum hawa makanya cewek cantik yang belum dapat selimut bernyawa gue hangatin secara bersamaan." jelas Rey bijak.
Naya menundukkan kepalanya, apalagi mendengar nama panggilan dari pemuda disampingnya pada kakak kelas didepannya "kak Rey sama kak Emma pacaran?" tanyanya pelan.
"Pacaran? Kok lo bisa mikir ke situ?" tanya Rey dengan kening mengernyit.
"Tadi kak Rey panggil kak Emma--"
"Udah biasa dek, Rey emang kayak gitu bukan cuma ke aku, jadi kamu harus mikir ulang kalau suka sama dia. Takutnya kamu digosting lagi." canda Emma membuat Rey mendelik kemudian menarik ke dua pipi sahabatnya itu.
"Enak aja, lain kali jangan ngomong kayak gitu. Yang ada pesona gue mubasir karena mereka semua kabur gara-gara omongan lo itu cantik."
Emma mengerucutkan bibirnya, dengan cepat ia menggeplak tangan besar yang bertengger pada pipinya bahkan sekarang perbuatan Rey meninggalkan jejak merah disana.
"Naya pergi dulu kak Rey kak Emma." pamitnya cepat sambil berlari meninggalkan kedua kakak kelasnya dengan perasaan sesak. Ia sudah salah menyukai pemuda itu, ia pikir sikap manis dan lembut Rey hanya untuknya! Nyatanya ia tak se-spesial itu.
"Lah, dia kenapa?" tanya Rey bingung.
"Aku gak tau, mungkin ada urusan penting Rey." jawab Emma dengan seringai samar pada bibirnya.
.
.
.
.
Bersambung.
Gerakin hati pembaca buat tinggalin jejak ternyata sesusah itu ya~
__ADS_1
Cerita lain judulnya 'suami cadangan'
Instagram: siswantiputri3