
"Sebenarnya lo tinggal dipanti mana? jujur gue penasaran kenapa lo gak pernah mau ajak kita ke panti yang lo tinggalin."
Emma yang sejak tadi sibuk dengan keterdiamannya sedikit tersentak, matanya menatap pemuda yang juga menatapnya lewat spion mobil.
"Emma." panggil Rey.
"Gak apa-apa, aku cuma takut kalian risih ketempat aku."
"Kalau lo lupa gue dulu juga pernah tinggal dipanti, lo gak perlu khawatir kalau cuma masalah itu." Anika sedikit menoleh dengan senyum manis terpatri diwajahnya.
Rey membenarkan, ia mengangguk setuju menanggapi ucapan Anika. Walaupun ia tak pernah tinggal dipanti dan lagi ia juga orang kaya tapi ia tak pernah menomorsatukan masalah kasta, kalau menurutnya ia nyaman! it's okey ia sudah cukup kaya tanpa harus menjilat demi lebih kaya.
"Kalau dari awal gue masalahin status lo, gue gak mungkin mau temenan sama lo." jelasnya, pemuda itu tersenyum tipis menatap Emma yang masih terdiam.
"Lain kali aku ajak kalian ke panti tempat aku tinggal." jawabnya dengan senyum manis.
"Oke, jadi lo diturunin disini lagi?" tanya Rey tiba-tiba.
"Iya, lagipula tinggal jalan sedikit aja udah nyampe kok." tuturnya dengan tangan membuka pintu mobil milik pemuda itu, tangannya melambai menatap mobil sahabatnya yang kian menjauh.
Mau sampai kapanpun ia tak akan membiarkan mereka mengetahui tempat tinggalnya, terlalu banyak sesuatu yang dirahasiakan, ia tak mungkin membiarkan salah satu dari mereka mengetahui kehidupannya, sama saja ia menggali kuburannya sendiri.
Emma menaiki taxi online yang sudah dipesannya diam-diam, matanya menatap jalanan yang kini dilewatinya.
Entah kenapa fikirannya tiba-tiba kosong, ia harusnya bahagia karena sudah berada dititik ini, tubuhnya sudah sempurna, tak ada lagi cacat pada organ dalam tubuhnya.
"Udah sampai neng."
Ia mengangkat wajahnya, tangannya terulur menyerahkan selembar uang pada sopir taxi itu, setelah mengucapkan terimakasih ia akhirnya keluar dari mobil yang ditumpanginya.
Kepalanya menunduk dengan kaki yang terus melangkah, suasana hatinya terlalu buruk hari ini, bahkan berjalan saja membuatnya malas.
"Nak Emma berhenti."
Kepalanya menoleh, keningnya mengernyit menatap banyaknya orang disekitar tempat tinggalnya bahkan ia baru menyadarinya sekarang, belum lagi adanya beberapa polisi membuat ia semakin bingung.
Apa ada masalah?
"Nak Emma yang sabar ya."
Lagi-lagi ia dibuat penasaran, ia tak mengerti maksud dari ucapan tetangga pantinya, sepertinya memang ada yang sesuatu yang dilewatkan.
"Bu Sri dan anak panti yang lainnya udah gak ada, nak Emma yang sabar ya."
Emma mengernyitkan keningnya, tak bisa dipungkiri ucapan barusan mampu membuatnya terdiam, kepalanya menggeleng menghalau perasaan buruk yang menghampiri hatinya, ia harus memastikan sendiri maksud dari ucapan wanita paruh baya didepannya.
Tubuhnya ia balikkan, baru saja ia akan berjalan kepanti tempatnya tinggal! tapi apa yang dilihatnya membuat tubuhnya menegang, matanya membola, kenapa ia baru sadar sekarang? fikiran kosongnya membuat ia terlambat menyadari kalau panti asuhan Laksana tempatnya tumbuh dan berkembang kini rata dengan tanah.
__ADS_1
Emma menggelengkan kepalanya, pipinya ditepuk berusaha bangun dari mimpi buruknya, bibirnya bergetar menahan tangis.
Ini bukan mimpi.
"SIAPA YANG LAKUIN INI?" teriaknya histeris, air matanya kian deras melewati permukaan pipinya.
"SIAPA YANG LAKUIN INI HAH?" tubuhnya tak terkendali, wanita paruh baya yang ada didepannya ia guncang, ia tak peduli lagi yang namanya sopan santun yang ia inginkan hanya satu mengetahui siapa yang membakar tempatnya tinggal.
"Tenang dulu nak."
"SIAPA YANG BAKAR TEMPAT TINGGAL EMMA, SIAPA ORANG JAHAT YANG BUAT KELUARGA EMMA MATI...JAWAB BU."
Beberapa polisi yang ada disana menghampiri gadis itu, mau bagaimanapun mereka harus meluruskan permasalahan ini.
"Tenang nak, gak ada orang jahat yang bakar panti Laksana, setelah kami selidiki kebakaran ini murni kecelakaan, beberapa warga yang ada disini juga bilang kalau mereka mendengar ledakan dari panti Laksana sebelum kejadian naas ini terjadi."
"Bisa dipastikan ini karena kebocoran gas pada tempat kamu tinggal."
Tubuh gadis itu terguncang, seperkian detik badannya sudah didekap oleh paruh baya disampingnya, punggungnya dielus mencoba memberi kekuatan atas musibah yang dialaminya hari ini.
"Hiks...semuanya udah hancur, Emma gak punya siapa-siapa lagi Bu..."
"Yang sabar nak, kamu harus kuat."
...***...
"Ngapain sih?"
"Gue mau beli taro sama air minum."
Rey mendengus, walaupun ogah-ogahan ia tetap menepikan mobilnya "yaudah jangan lama."
Sudah 2 menit tapi gadis disampingnya tak kunjung turun, alisnya terangkat menatap bingung tingkah aneh sahabatnya itu.
"Lo gak turun?"
"Lo yang turun beliin gue." perintah Anika seenaknya, tak lupa puppy eyes andalannya ia tunjukkan pada Rey agar pemuda itu luluh.
"Huft...sabar Rey sabar...." tangannya terulur kedepan wajah gadis itu "yaudah, uang lo sini."
Bukannya memberi uang gadis cantik itu malah menampilkan senyum polos "lo yang traktir ya, uang gue habis." pintanya dengan wajah memelas.
"Bohong lo ya." tuding Rey sedikit kesal.
"Gak kok sumpah."
"Kok lo ngeselin sih." Rey misu-misu sendiri, tangannya sudah berniat mencekik gadis disampingnya tapi ia urungkan, bibirnya menghela nafas sabar kemudian keluar dari mobilnya dengan wajah malas-malasan.
__ADS_1
"OH YA...COKLAT JUGA REY." Teriak Anika dari dalam mobil.
Tak sampai 5 menit pemuda itu akhirnya kembali, cemilan yang dibelinya ia lempar ke atas paha Anika, baru saja ia akan menginjak pedal gas tapi celetukan sahabatnya membuatnya mendengus kembali.
"Coklatnya mana?"
"Gak ada, udah! lo makan itu aja."
Anika menghela nafas pelan, wajahnya mendadak lesu kemudian memakan taro pesanannya tanpa minat. Rasanya ia tiba-tiba tak ada selera memakan cemilan ini.
"Tunggu gue disini."
Ia menoleh kesamping, alisnya mengernyit menatap Rey yang kembali keluar dari dalam mobil, karena tak ingin ambil pusing akhirnya ia melanjutkan acara makannya.
"Nih."
Senyum Anika melebar, tangannya dengan cepat mengambil coklat yang tersodor kewajahnya "makasih." ucapnya riang.
"Sama-sama."
Rey kembali melajukan mobilnya, matanya fokus pada jalanan hingga tiba-tiba gadis disampingnya mengoceh kembali, padahal baru 5 menit mobil yang dikendarainya melaju dijalan raya.
"Ada film baru dibioskop, film action lo udah tau belum?"
Ia melirik gadis disampingnya, karena ia pemuda yang peka jadi ia sudah tau maksud dari ucapan sahabatnya itu "lo mau nonton?" tanyanya "lo mau nonton di bioskop mana?" tambahnya lagi.
Anika tersenyum lebar "dibioskop yang disampingnya ada tempat makan khusus seafood, tempat makan yang viral itu loh."
Rey menghentikan mobilnya, matanya menatap lamat bola mata amber gadis cantik itu "lo sebenarnya ngode gue buat nonton atau makan sih?" tanyanya tak habis fikir.
"Tergantung kepekaan lo aja, gue mah cuma ngikut." jawabnya seenaknya.
"Jual lo laku berapa ya?" tanya Rey mulai frustasi.
.
.
.
.
Bersambung.
Hallo guys~jangan lupa tinggalkan jejak ya, vote, like dan komen.
see you.
__ADS_1
^^^23-NOVEMBER-2021^^^