
Tok...tok...tok...
Pintu didepannya ia ketuk beberapa kali setelah diizinkan oleh penjaga gerbang masuk ke dalam. Ah! Anika tak mungkin lupa pada penjaga gerbang baik hati itu, dan tentu ia tak akan lupa dengan istri Ranendara yang juga angkuh itu.
Semoga saja kedatangannya dikediaman Axelion tak membuatnya bertemu dengan Hariana. Perempuan angkuh dengan wajah khas tampang antagonis seperti yang ada difilm-film. Membayangkan saja ia enggan apalagi jika benar-benar bertemu untuk kedua kalinya, pasti sangat menguras emosi.
Cklek.
"Non siapa ya?"
Dilihat dari penampilannya ia yakin kalau paruh baya didepannya adalah asisten rumah tangga pada kediaman ini, syukurlah orang yang membuka pintu besar yang menjulang tinggi adalah orang yang berbeda.
"Aku Anika Bi, teman sekolah Ratu." jawabnya ramah. Bahkan sangat ramah, soalah ia adalah gadis polos yang baru terlahir didunia. Konyol!
"Oh teman sekolahnya non Ratu? Yaudah masuk-masuk, kebetulan non Ratu hari ini ada dirumah."
"Kebetulan?"
"Iya non! Biasanya kan non Ratu tinggal diapartemen pribadinya. Tapi hari ini tumben pulang ke sini." jelas paruh baya itu yang kini dibalas anggukan paham oleh Anika. Pantas saat dulu dirinya ke sini yang menyambutnya nenek lampir itu, bahkan tak ada tanda-tanda keberadaan Ratu disini waktu itu.
"Non Anika duduk aja, bibi akan buatin minuman didapur."
"Eh gak usah Bi, aku juga gak akan lama disini. Ratunya dimana ya Bi?"
"Non Ratu ada dikamarnya, ayo bibi antar ke atas." ucap paruh baya itu ramah tentu dengan senang hati Anika mengikut langkah ART didepannya hingga sampai pada pintu kayu bercorak coklat, bahkan didepan pintu itu tertempel sebuah tulisan 'Kamar Ratu' ia benar-benar tak menyangka gadis itu bisa menulis kalimat kekanakan didepan kamarnya.
"Kalau gitu bibi tinggal dulu ya non, masih banyak pekerjaan yang belum selesai."
"Iya Bi." sebelum dirinya mengetuk pintu didepannya ia menghela nafas pelan beberapa kali. Mau bagaimanapun mereka tak dekat hingga harus berkunjung seperti ini! Hanya saja kekacauan yang memaksa dirinya agar tak diam dan membiarkan Emma berlaku seenaknya sejauh ini.
Tok...tok...tok...
Dua menit menunggu tapi sama sekali tak ada sahutan dari dalam. Bahkan sekarang ia kembali mengetuk dan hasilnya tetap sama, nihil! Dengan sedikit keberanian akhirnya ia memutuskan membuka pintu kayu didepannya.
Cklek.
Tidak terkunci!
Apa ini bisa disebut keberuntungan? Ah, lebih baik ia masuk ke dalam dan memastikan apakah Ratu memang benar ada didalam atau tidak! Daripada berandai-andai dan pada akhirnya tak menemukan jawaban sama sekali.
__ADS_1
Anika mengernyitkan keningnya melihat ruangan ini terlihat gelap dengan gorden tertutup sempurna. Bahkan semua barang-barang berserakan dilantai seolah habis terkena gempa bumi. Dengan Perasaan bingung akhirnya ia mengelilingi kamar itu sambil mencari keberadaan Ratu yang sama sekali belum terlihat. Padahal paruh baya tadi mengatakan kalau Ratu saat ini ada didalam kamar.
"Ratu!!"
"Mau apa lo ke sini?"
Pendengaran yang sangat bagus, ia pikir akan ada sesi dimana dirinya memanggil sampai gadis itu muncul. Nyatanya baru satu kali tapi Ratu sudah keluar dari persembunyiannya. Hanya saja penampilan sang primadona sekolah terlihat sangat buruk.
"Gue gak mau basa-basi. Gue ke sini mau buat buat perjanjian sama lo."
"Gue gak peduli, keluar lo dari sini. Hari ini gue gak mood buat keributan." usir Ratu sambil menekankan kata-kata.
"Lo yakin?"
"Keluar dari kamar gue!!"
"Oke! Berarti lo sia-siain kesempatan buat nampilin ke semua orang kalau lo memang gak salah. Tanpa bukti apapun semua yang lo ucapin gak akan pernah ada artinya, apalagi sama ayah lo. Walaupun ucapan lo itu adalah kebenaran!" jelas Anika santai.
"Memang siapa yang bakal percaya perkataan tanpa bukti? Omong kosong."
"Apa maksud lo Anika?" tanya Ratu mulai melunak, bahkan sekarang pandangannya tak sesinis tadi.
"Siapa orangnya."
"Sabar dulu, gue mau ajuin perjanjian sama lo dulu sebelum nama orang itu keluar dari mulut gue. Gimana?"
"Oke gue setuju." jawab Ratu cepat, bagaimana mungkin ia akan melewatkan kesempatan ini. Mau bagaimanapun ini menyangkut nama baiknya, terkhusus untuk papanya. Jujur! Ia tak peduli tentang cibiran yang lain, tapi tidak jika ini berdampak pada papanya.
"Bagus! Perjanjiannya cuma satu. Lo cukup perlu dukung apa yang gue lakuin, terkhusus jika berhubungan dengan materi. Apapun yang terjadi lo harus siap keluarin dompet."
"Lo meras gue?"
"Bukan, tapi lebih tepatnya kerjasama. Gimana kalau gue bilang orang yang udah jebak lo adalah orang yang jadi list hitam dicatatan gue. Jadi gue yang akan buat rencana dan lo cukup ngeluarin uang kalau sewaktu-waktu rencananya keluar dari jalur." jelas Anika.
"Gimana?"
Ratu menimang beberapa saat, hingga kemudian mengangguk pelan sebagai jawaban "oke, kalau itu bisa buat nama baik gue kembali gak masalah."
"Bagus-bagus."
__ADS_1
"Jadi siapa orangnya."
"Emma."
"Sialan! Dia emang perempuan licik. Harusnya dari awal gue gak berhubungan sama dia, kasih tau gue dimana dia tinggal! Gue mau buat perhitungan sama perempuan biadab itu."
"Buat apa? Dengan lo samperin dia dan ngamuk-ngamuk gak akan ngerubah semuanya. Udah gue bilang! Ucapan tanpa bukti dianggap omong kosong sama orang lain. Tindakan lo akan buat keadaan lo semakin tersudut---"
"---Ratu Axelion yang kabarnya menjadi dalang dari perampokan disekolah Arwana tiba-tiba nyerang Emma sang murid lemah lembut yang punya kesopanan gak diragukan lagi. Apalagi sampai nuduh kalau dia sebenernya yang jebak Ratu. Gimana menurut lo reaksi semua orang?" tambahnya santai.
"Ngakak."
Ratu mengepalkan tangannya kesal, tapi ia tak bisa diam saja setelah mengetahui siapa sebenarnya orang yang sudah jebak dirinya "terus gue harus gimana?"
"Ini alasan gue nemuin lo dan buat perjanjian kayak tadi. Menurut lo apa yang lebih asyik! Nyerang secara langsung atau diam-diam?"
"Gue--gue gak tau."
Anika menghela nafas pelan "kalau gitu gue yang jawab. Gimana kalau lo sama gue cari kejahatan Emma yang lainnya buat dikumpulin, hingga sampai waktunya tiba...boommm, bongkar semuanya secara bersamaan."
"Kelamaan kalau kayak gitu."
"Gue gak peduli. Karena menurut gue kejahatan yang terkumpul jauh lebih dahsyat ledakannya daripada membongkar satu persatu yang mungkin bisa ia selesaikan pelan-pelan."
"---kalau sudah terbongkar semuanya gak mungkin ada kesempatan buat ngelak."
"Oke, gue setuju."
.
.
.
.
Bersambung
Instagram: siswantiputri3
__ADS_1