
"Nah Axel ganteng, ini rumah kakak."
"Wah...Rumah kakak cantik bersih sama rapi ya, Axel suka." timpalnya lugu.
Anika tersenyum tipis, ia menuntun keduanya untuk duduk diatas sofa, tak lupa ia mengambil minuman serta kue kering yang tak pernah kosong dari lemari makannya.
"Makasih nak." ucap Bu Sari tulus.
Gadis cantik itu tersenyum lebar "sama-sama Bu. Bu Sari sama Axel tunggu disini dulu ya, Anika mau nyiapin kamar buat kalian."
"Oke kakak cantik."
Lagi-lagi ia terkekeh pelan mendengar suara cempreng bocah gembul itu, keberadaan mereka benar-benar menjadi pelengkap kekosongan pada hidupannya. Nyatanya! bahkan tanpa adanya hubungan darah ia bisa merasa hangat dengan kehadiran mereka.
Sebelum ia pergi tangannya mengacak pelan rambut anak itu. Kakinya berjalan pelan kearah kamar kosong tempat almarhum dan almarhumah orang tua angkatnya, sang pemilik rumah yang telah diserahkan kepadanya.
Netranya mengamati ruangan itu, sejak kepergian keduanya ia tak pernah lagi menginjakkan kakinya dikamar ini, kamar milik sepasang suami istri yang menolongnya setelah kabur dari panti yang lebih cocok disebut neraka dunia.
Sekarang ia benar-benar rindu dengan sosok penolongnya itu, padahal sudah bertahun-tahun! Tapi tetap saja ia tak bisa lupa pada keduanya, cara mereka mendidiknya dengan baik benar-benar membekas.
Anika menggeleng pelan, ia tak boleh larut pada masa lalu, hidupnya masih panjang dan masih banyak masalah yang harus ia selesaikan sebelum bisa tenang menikmati masa depan.
"Orang cantik gak boleh sedih." celetuknya semangat.
Bibirnya tersenyum lebar, tangannya dengan cekatan membersihkan ruangan itu dari debu yang menempel, bahkan debu dari kolong ranjang ia sapu keluar, tak peduli dengan mulutnya yang mulai bersin-bersin karena udara kotor sudah terhirup masuk.
30 menit melakukan kegiatan itu akhirnya ruangan ini tampak lebih bersih dari sebelumnya, tubuhnya ia hempasan diatas kasur dengan deru nafas tersengal-sengal.
"Capek banget deh gue."
"Anika pinjam kamar Ayah sama bunda dulu ya." celetuknya dengan pandangan menerawang ke langit kamar.
Tok...tok...tok...
Gadis cantik itu bangkit dari tidurnya, pandangan menoleh pada pintu kayu yang baru saja diketuk "siapa?"
"Ini Ibu nak."
"Eh...masuk aja Bu."
__ADS_1
Bu Sari tersenyum lembut "maaf nak Ibu ganggu, tapi tadi ada paket buat nak Anika, Axel suka penasaran anaknya jadi Ibu langsung kasih ke kamu aja."
Anika terkekeh pelan, ia bisa memaklumi rasa penasaran untuk anak yang umurnya lima tahun, dan itu sangat wajar menurutnya ia juga tak akan marah pada bocah gembul itu.
"Makasih Bu, eh iya...Bu Sari sama Axel istirahat dikamar ini ya, mulai sekarang Ibu sama Axel pemilik kamar ini."
Bu Sari tersenyum hangat, kepalanya mengangguk pelan sebagai jawaban, ia benar-benar tak tau lagi harus mengucapkan apa karena pertimbangan gadis muda didepannya.
"Kalau gitu Anika kekamar dulu ya Bu, mau mandi. Nanti kalau udah makan malam Anika panggil Ibu sama Axel." Gadis itu tersenyum tipis sebelum pergi dari tempatnya, paket yang ada ditangannya ia dekap dengan bibir bersiul pelan, ia jadi penasaran siapa yang mengiriminya.
"Kakak cantik mau kemana?" tanya Axel tiba-tiba. Muka cemong dengan kue pada kedua tangannya membuat Anika tersenyum tipis.
"Kakak mau ke kamar dulu, nah...yang itu kamar kakak dan itu kamar Axel." tunjuknya bergantian pada kamar yang tak jauh jaraknya.
Axel mengangguk pelan, kue yang sudah penuh pada mulutnya membuat ia tak bisa mengeluarkan suara "hu'um."
Anika terkekeh lucu kemudian beranjak dari ruang tamu. Tangannya menutup pelan pintu kamarnya dengan paket yang sudah ia letakkan diatas kasur.
"Siapa ya yang ngirim?" monolognya bingung. Rasa penasaran yang meluap pada otaknya membuat ia tak ingin menyia-nyiakan waktunya untuk mengetahui isi didalam kotak itu.
Semakin ia buka pembungkus plastik pada paket didepannya semakin ia mencium aroma menyengat yang keluar dari benda itu.
"Gak beres nih." Dengan tergesa-gesa ia beranjak dari duduknya, pintu kamarnya ia kunci kemudian mengambil kaus tangan pada laci mejanya.
Bibirnya menghela nafas pelan kemudian membuka kotak didepannya yang sejak tadi mengeluarkan bau amis.
Matanya membulat, isi perutnya terasa diaduk melihat penampakan yang tak wajar didalam kotak itu, bibirnya ia bekap erat dengan kaki berlari kekamar mandi mengeluarkan muntahan.
Kepala laki-laki yang sudah pucat pasi dengan aroma menyengat adalah pemadamangan yang ia lihat saat penutup kotak itu diangkat.
"Huek...siala---huekkkkk...."
Mata ambernya menatap cermin yang memantulkan dirinya, tak ada rona diwajahnya, bibirnya memucat karena terlalu syok melihat penampakan didalam paket itu.
Gadis cantik itu menghela nafas berulang-ulang, dadanya ia elus mencoba menetralkan deru nafasnya yang tak terkontrol. Ia benar-benar hampir jantungan karena paket yang entah darimana asal-usulnya.
Dengan sedikit keberanian ia kembali pada kasurnya, mulutnya terkatup rapat menahan mual yang kembali keluar. Walaupun sedikit gemetar ia tetap mengangkat kepala itu. Matanya menyipit menatap kertas yang terselip disana.
'semoga ini membantu.'
__ADS_1
Anika mengernyitkan keningnya membaca kalimat yang tertera disana, ia tak tau maksud 'membantu' pada kertas ditangannya, membantu membuatnya serangan jantung atau apa?
Ia menggeleng tak habis fikir, walaupun takut ia mencoba menatap kepala yang ada pada tangan kirinya, ia tak mengenali orang itu. Lagi-lagi helaan nafas kasar ia keluarkan, hingga tiba-tiba matanya tertuju pada kalung yang tergeletak didalam kotak didepannya.
Kalung berwarna biru langit yang terlihat mengkilat dengan inisial 'L' sangat jelas terbentuk "siapa L?" monolognya bingung.
Ia kembali meletakkan kepala itu pada tempatnya, tentu dengan kalung yang sudah ia keluarkan dari sana. Otak kecilnya mencoba memecahkan kejadian yang baru saja menimpanya.
"Semoga ini membantu." ulangnya pada kalimat yang ada dikertas itu, dengan tergesa-gesa ia mengambil ponselnya, kepala buntung itu ia foto cepat.
"Kepala pria, inisial 'L' dan 'semoga ini membantu'. Gue emang gak tau siapa orang yang ngirim paket ini, tapi kalau pemikiran gue gak salah. Maka saat ini juga gue berterimakasih sama lo karena mau buka jalan buat gue tau identitas cowok biadab itu."
Dengan tergesa-gesa ia masukkan kotak itu pada kantong kresek yang lumayan besar, kakinya berlari cepat kesuatu tempat untuk menguburkan kepala pria itu sebelum Bu Sri dan Axel mengetahuinya.
Ia tak ingin kedua orang itu salah paham tentang keberadaan kepala pria yang bahkan tak ia kenal.
"Gue akan nemuin lo, cepat atau lambat gue bakal tau siapa orang yang dibayar Emma buat ganggu ketenangan hidup gue." ucap Anika dingin.
Langkahnya ia cepatkan menuju belakang rumah, hutan yang cukup rimbang sangat membantu dirinya untuk menyembunyikan kepala orang itu.
"Semoga lo tenang sekarang." monolog Anika pelan dengan pandangan menatap gundukan tanah didepannya.
Kaos tangannya ia lepas kemudian dibakar disamping gundukan tanah itu, bibirnya menghela nafas pelan kemudian berjalan meninggalkan area hutan dengan sekop yang dibawahnya pulang.
.
.
.
.
Bersambung
Bantu vote, like dan komen ya~
Instagram: siswantiputri3
^^^22-JANUARI-2022^^^
__ADS_1