
Sambil menunggu Rey datang akhirnya gadis cantik itu berinisiatif menonton video di internet, bibirnya menghela nafas kasar dengan perasaan tak tenang menghampirinya sejak tadi.
TOK...TOK...TOK....
"Akhirnya." serunya dengan perasaan lega, dengan sedikit tergesa-gesa Anika membuka pintu ruang tamunya.
"Lo bawa semuanya kan?" serbu Anika.
Rey mendengus, sedikit kesal dengan pertanyaan gadis didepannya "awas gue mau masuk, dingin nih."
"Iya-iya, silahkan masuk Baginda Raja." Anika tersenyum manis dengan pose membungkuk, mempersilahkan pemuda didepannya masuk.
"OH YA AMPUN."
Anika dengan cepat mengunci pintunya, badannya berbalik dengan langkah tergesa-gesa menuju Rey saking kagetnya.
"Lo--lo beneran melihara cowok?" tanya Rey ngegas, ia kira gadis itu hanya mengerjainya karena gabut, tapi melihat makhluk hidup yang kini berbaring dengan antengnya diatas sofa membuktikan gadis itu tak main-main dengan ucapannya.
"Kan udah gue bilang." jawab Anika santai.
"Lo emang minim akhlak." celetuk Rey dengan kepala menggeleng, kakinya melangkah mendekat pada pria yang kini tampak tidur dengan nyenyaknya, ia jadi penasaran melihat wajahnya.
"Makhluk ini masuk hidupkan?" tanya Rey, tangannya menunjuk pria disampingnya.
"Enak aja lo bilang makhluk, dia punya nama Rey, namanya kak Abian." jelas Anika.
"Abian?" beo Rey.
Anika menghela nafas jengah "gue kan udah bilang ditelepon, lo gak denger gue ngomong apaan?"
"Nyawa gue masih separuh, gue gak ngeh lo ngomong apaan." jawab Rey seadanya "trus lo nyuruh gue kesini buat apa lagi?"
"Gantiin pakaian kak Abian." perintahnya.
Rey cengo, tak habis fikir dengan perintah seenak jidat dari gadis didepannya "lo nyuruh gue kesini cuma buat itu? Gila emang lo."
Kening Anika mengernyit, menurutnya tak ada yang salah dari ucapannya, bahkan jika ia memikirkan ulang tetap saja ucapannya tak ada yang salah "kalau gue yang gantiin pakaian kak Abian itu baru yang namanya gila."
"Huft...oke-oke." mau tak mau Rey hanya bisa pasrah, dengan malas-malasan ia mengganti pakaian pria yang ia tak kenal asal usulnya "lo masih mau disini liatin?" tanyanya heran.
"Emang kenapa?" tanya Anika, otaknya masih loading mencerna situasi yang ada.
"Ck...lo tidur aja sana." usir Rey.
__ADS_1
Anika tiba-tiba tersenyum lebar, pemuda itu sedikit ngeri melihat ekspresi tak wajar dari sahabatnya, bulu kuduknya meremang menanggapi situasi ini.
"Lo maho ya?" tuding Anika.
"Hah?"
Senyum Anika semakin lebar, membuat pemuda itu kesal benar-benar menjadi hobinya "jujur aja lo, lo nyuruh gue tidur karena lo maho kan? lo terpesona dengan kegantengan kak Abian kan?"
Rey semakin bingung, entah apa yang merasuki sahabatya itu "lo kesambet? Maho apaan sih markonah."
"Ituloh jantan vs jantan." jawabnya santai.
Kedua bola mata Rey membola, tanpa perasaan ia menjitak kepala gadis itu, semoga saja jitakannya berguna bagi kelangsungan otak sahabatnya "lo emang ngelantur ya, tidur sana."
Bibir Anika mengerucut, dengan langkah kesal ia pergi dari ruangan itu, tak lupa telapak tangannya masih bertengger manis mengelus kepalanya sendiri, ia tak habis fikir dengan pemuda itu, bisa-bisanya ia dianiaya dalam rumahnya sendiri.
"Bobo sana, supaya fikiran lo jernih." teriak Rey.
BRAK
Rey mengelus dadanya sabar, bantingan pintu dari Anika benar-benar menguji kinerja jantungnya, kepalanya menggeleng tak habis fikir, lebih baik ia tidur diatas sofa melanjutkan mimpinya yang sempat terjeda.
...***...
Matanya ia pejamkan paksa tapi detik berikutnya matanya kembali terbuka, dengan kesal ia bangkit dari duduknya, tangannya mengambil obat tidur dari dalam lacinya.
Bibirnya menghela nafas pelan, ia merutuki insomnia akutnya yang kian menjadi, mengkonsumsi obat tidur memang tak baik bagi kesehatan, tapi ia juga sudah ketergantungan dengan obat itu.
"Ada-ada aja sih."
Anika menelan satu butir obat tidur miliknya, tubuhnya kembali ia baringkan sambil menunggu efek dari obat yang dikonsumsinya.
Matanya terpejam dengan guling yang masih setia dipelukannya, perlahan suara nafasnya mulai teratur, alam bawah sadarnya mulai ditarik paksa, hingga ia benar-benar larut dalam kenyamanan hawa dingin yang menyentuh kulitnya.
Sosok yang beberapa hari ini mengikuti gadis itu keluar dari persembunyiannya, kakinya mendekat kearah Anika.
"Akhirnya gue bisa nemuin lo lagi."
Hujan deras yang membentur bumi tak membuat niatnya hilang untuk bertemu gadis yang saat ini tertidur dengan nyenyaknya.
Tubuhnya ia jongkokkan kemudian mengambil tangan gadis didepannya, bibirnya tersenyum tipis dari balik masker wajah yang dipakainya "bagus, tulisan ini cocok ditangan lo."
Tangannya mengelus bekas tulisan pada lengan Anika, ia benar-benar menyukai karya miliknya, gadis itu benar-benar cocok dengan bekas luka yang sudah ia buat beberapa hari lalu.
__ADS_1
Matanya menatap Anika dengan kilat mata merah, rahangnya mengeras melihat gadis itu masih damai dalam tidurnya, tiba-tiba seringai miring tercetak pada ujung bibirnya.
Ia mengangkat tangannya, mencengkram leher Anika dengan erat, wajah memerah kehabisan oksigen benar-benar pandangan yang indah.
"Hidup lo emang sial, lo harus nanggung kesalahan yang bukan lo perbuat, tapi gue bisa apa? Gue dan lo gak ada bedanya, jadi nikmatin aja, sebelum gue bosan dan mulai main-main sama lo."
Tangannya ia turunkan, nafas tersenggal dari gadis itu sudah cukup membuatnya senang, tangannya terulur mengusap puncak kepala Anika pelan "have a nice dream Anika Ayudhisa."
Ia bangkit dari jongkoknya, matanya menatap intens wajah damai Anika "kita gak akan ketemu sebelum gue sendiri yang nampakin wujud gue."
Mulutnya tiba-tiba menghela nafas kasar, pandangannya tiba-tiba menghangat "dari sekian banyaknya kemungkinan, kenapa harus lo." ucapnya pelan.
"Sial."
Dengan perasaan berkacamuk ia pergi dari ruangan itu, berlama-lama dengan Anika membuat fikirannya tak menentu, ia sangat benci pada situasi ini, dimana hati dan logikanya benar-benar tak searah.
Kakinya dengan santai keluar dari kamar itu, langkahnya terhenti saat tepat diruang tamu, bisa ia lihat adanya makhluk hidup yang masih asik dengan mimpinya.
Tanpa ingin melakukan sesuatu lagi ia keluar dari rumah itu, meninggalkan pintu ruang tamu yang kini terbuka sempurna, tanpa ada sedikit niatan untuk menutupnya.
Kakinya melangkah menuju mobilnya yang kini terparkir tak jauh dari sana, sebelum kakinya menginjak gas! Matanya kembali menatap bangunan itu beberapa detik.
"Huft....."
Matanya memejam pelan, bibirnya tiba-tiba mengumpat kesal, datangnya ketempat ini membuatnya kehilangan arah, otaknya bercabang, terbagi dengan fikiran yang saling bertolak belakang.
"Ah... terserahlah, pusing gue."
Kakinya menginjak gas tiba-tiba, membawa mobilnya meninggalkan tempat itu dengan kecepatan penuh, ia tak peduli dengan kondisi hujan yang membuat kaca mobil kabur atau bahkan jalanan licin, kedatangannya kesini benar-benar bukan pilihan yang tepat.
.
.
.
.
Bersambung
Hallo guys~bantu vote like dan komen ya, supaya makin semangat lanjutinnya.
Ig: siswantiputri3
__ADS_1
^^^10-DESEMBER-2021^^^