
"Dan untuk kamu."
Emma tersentak, pandangannya beralih pada sang kepala sekolah tubuhnya menegang menahan gugup yang berkacamuk "iya pak."
"Harusnya kamu bisa menahan diri, apalagi argumen yang kamu pertahankan sudah jelas salah, saya tidak bermaksud membedakan murid beasiswa dengan yang lainnya, tapi mau bagaimanapun semuanya memang berbeda, harusnya kamu tidak bertindak gegabah agar beasiswa kamu terus berlanjut." jelas Pak Bruto.
Rasa tegang mulai menjalar pada tubuh Emma, ia tak mungkin hanya bersikap pasrah tapi semakin ia membantah kondisinya semakin terpojok.
"Kamu tau seketat apa sekolah ini kan?" tanyanya tegas.
"Iya pak." Emma meremas jarinya, ia benar-benar tak bisa menebak keputusan apa yang akan diambil sang kepala sekolah.
"Selain mempertahankan prestasi sikap kamu juga tak boleh cacat." jelas Pak Bruto, wajahnya masih sama datarnya tak ada tanda-tanda akan mulai melunak.
"Dengan berat hati beasiswa kamu saya cabut." tegasnya tanpa ada bantahan.
"Tapi pak---"
"Kamu masih bisa bersekolah disini, tapi bukan lagi dengan jalur beasiswa, mulai sekarang tak ada lagi tunjangan beasiswa yang membantu kamu." tegasnya.
"Saya minta maaf pak, tolong jangan cabut beasiswa saya, saya tidak tau mau bayar sekolah dengan cara apa, bapak tau sendirikan kondisi saya." mohon Emma, matanya berembun menatap sang kepala sekolah dengan pandangan memelas.
"Ini sudah keputusan saya." finalnya.
Emma semakin kalang kabut, apalagi tak ada yang berniat membantunya, bahkan guru-guru saja mengatupkan mulutnya rapat-rapat.
"Tolong jangan cabut beasiswa saya pak, saya janji untuk kedepannya menjadi lebih baik dan tidak berfikiran dangkal lagi, tapi saya mohon jangan cabut beasiswa saya, ini juga pertama kalinya saya melakukan kesalahan." bujuk Emma, ia benar-benar tak bisa membayangkan jika beasiswanya benar-benar dicabut, bahkan membayar kontrakan saja ia sulit apalagi jika membayar uang sekolahan yang jauh berkali-kali lipat mahalnya.
"Justru karena ini pertama kalinya saya mendengar bahkan melihat langsung kamu berbuat salah makanya kamu masih bisa bersekolah disini, tentu tanpa bantuan beasiswa lagi."
"Saya mohon---"
"Ini sudah keputusan saya." finalnya "saya anggap masalah ini sudah selesai, kalian bisa keluar sekarang."
Anika bangkit dari duduknya, bibirnya tersenyum tipis mendengar keputusan yang cukup menyenangkan baginya, ia yakin guru-guru dan kepala sekolah membahas agar kasus ini tidak menyebar keluar dari sekolah.
Benar-benar menyenangkan, bahkan ia tak perlu repot-repot melakukan apapun, semuanya sudah terkendali, tinggal duduk diam dengan uang yang mengalir ke nomor rekeningnya dari 2 orang dari keluarga Axelion, belum lagi beasiswa dari sahabat tersayangnya yang dicabut.
"Benar-benar hidup yang indah." gumamnya riang.
...***...
Seragam sekolah yang lusuh dengan keringat yang tercetak pada hampir seluruh punggungnya tak membuat ketampanan pemuda itu berkurang, bahkan keringat yang bercucuran pada pelipisnya menambah kadar menawan pada pemilik tubuh atletis itu.
__ADS_1
Bibirnya mengumpat, sesekali menengok kebelakang melihat seseorang yang masih mengejarnya sejak tadi.
"Sial, kalau gini terus gue bisa jamin kak Adelard benar-benar nyeret gue pulang ke Amerika." kesalnya.
"BERHENTI ADRIAN." teriak Adelard menggelegar.
"GAK MAU." balasnya tak kalah lantang.
Kakinya berlari kesetanan, mencoba menghindari kejaran dari Adelard yang hampir 1 jam yang lalu berlangsung, ia benar-benar sial hari ini, andai saja ia tak membolos sekolah pasti mereka tak akan bertemu pada pinggiran jalan.
Mau tak mau ia harus kembali kesekolah, setidaknya saudaranya itu tak akan mengganggu dirinya disana, untung ia tau tabiat Adelard, selain gengsinya yang tinggi ia juga tak mungkin mengejarnya seperti apa yang terjadi sekarang setidaknya ia beruntung kepribadian kakaknya yang tak mau menjadi pusat perhatian membuat dirinya bisa lolos, yang terpenting sekarang ia harus sampai kesekolah bagaimanapun caranya.
Adrian menengok kekiri dan kekanan, bibirnya lagi-lagi mengumpat, pantas saja Adelard tak berhenti mengejarnya, lokasi mereka bisa dikatakan sepi, mungkin hanya satu dua orang yang tampak berlalu lalang.
"ADRIANNNNNN." murka Adelard.
"Huaaaaaaa tolongggggggg."
...***...
Anika bersenandung riang, pop ice yang ada ditangannya ia hisap sesekali, tak lupa roti pada tangannya yang lain melengkapi nikmatnya berjalan mengitari koridor sekolah.
"Oh...nikmatnya hidup." gumamnya dramatis.
"DRIAANNNN." teriaknya murka.
Sang ketua kelas menggaruk kepalanya yang tak gatal, bibirnya cengengesan menampilkan wajah tak berdosa pada gadis yang tak sengaja ia tabrak.
"Lo...lo---oh yaampun." Anika mengacak rambutnya frustasi, roti yang baru sekali ia gigit sudah terlempar belum lagi pop ice yang baru 3 kali ia hisap juga tumpah.
"Maaf deh."
Gadis cantik itu berkacak pinggang, pandangannya menghunus pada sang ketua kelas, tapi detik berikutnya alisnya mengenyit menatap tampilan pemuda itu, rambut acak-acakan, seragam yang biasanya rapi kini terlihat lusuh bahkan kini sudah keluar dari dalam celananya, ia benar-benar bingung melihat tampilan Drian yang tak seperti biasanya.
"Lo habis ngapain, habis diamuk massal?" tanyanya watados.
Drian berdecak, dasi yang hanya tersampir pada lehernya ia tarik, tanpa perasaan mulut gadis itu ia jentik menggunakan dasinya.
CTAK.
"DRIANNNN." ia semakin murka, apalagi bibir indahnya kini sudah ternodai oleh dasi yang tak ada akhlak itu "POKOKNYA LO GANTI RUGI DUA KALI LIPAT." teriaknya nyaring.
"Ada apa nih kawan?" tanya Rey tiba-tiba, kepalanya menatap Anika dan Drian bergantian.
__ADS_1
"Dia udah ganggu ketenangan hidup gue." tunjuk Anika dengan wajah kesal.
"Gue gak sengaja." sela Drian.
Rey menepuk dahinya, ia berjalan menghampiri sang ketua kelas, tangannya merangkul pemuda itu dengan sedikit berbisik "bro, gue berdoa semoga besok lo masih bisa bernafas." tangannya menepuk pundak pemuda itu sebelum melenggang pergi dari sana.
Drian melongo, teman kelasnya itu sepertinya memang tak ada inisiatif untuk membantunya, kepalanya menoleh menatap Anika yang masih menampilkan wajah garangnya.
"Gue bakal ganti rugi deh." bujuknya.
"Emang, harus." sarkas Anika.
Drian meneguk ludahnya kasar "ganti rugi dua kali lipat." sambungnya lagi.
"Bagus." Anika membalikkan badannya, sebelum melangkah pergi kepalanya sedikit menoleh memberi isyarat pada pemuda dibelakangnya "ikut gue kekantin." perintahnya tanpa ada bantahan.
"Oke." pasrah Drian, dengan sedikit malas ia mengikuti langkah gadis itu, ini juga salahnya andai saja ia tak ceroboh mungkin ia tak akan berurusan dengan macan betina, benar-benar hari yang menyebalkan.
"Awas aja kalau lo kabur." ancam Anika.
"Gak bakal."
"Gue bakal gorok lo." tambahnya lagi.
"Iya-iya."
"Daging lo bakal gue cincang-cincang."
Drian meneguk ludahnya kasar "jangan nakut-nakutin deh, kalau lo bicara ngasal gue beneran kabur."
.
.
.
.
Bersambung
Ig: siswantiputri3
^^^31-DESEMBER-2021^^^
__ADS_1