
Beradu argumen dengan Anika memang menyenangkan, tapi tak dapat dipungkiri kadang ia juga kesal sendiri mendengar ucapan gadis itu, tapi tak apa itu terdengar lebih baik, hidup akan terasa seperti nano-nano daripada harus lurus dan terkesan membosankan.
"Pulang aja kalau udah selesai, gak usah ke bioskop." sahut Anika.
"Iyalah gak usah, lo udah kenyang kayak gini. Heran gue, hobi makan tapi gak tumbuh dan berkembang, dari dulu gitu-gitu aja perasaan."
Anika mengangkat wajahnya "makanya jangan pake perasaan."
Rey melongo, ingin berkomentar tapi tak tau harus membalas apa! jadi yang ia lakukan hanya menggeser-geser beranda pada layar ponselnya, terlalu gabut ingin melakukan sesuatu tapi juga terlalu malas membalas pesan dari beberapa fansnya, padahal ia bukan artis tapi kenapa ada saja DM beruntun yang memenuhi sosial medianya.
"Ah...kenyang." ucap Anika dengan tangan mengelus perutnya.
"Enak ya makan gratisan." sindir Rey.
"Iyalah."
"Enak ya meras gue tiap hari."
"Tentu."
"Enak ya manfaatin gue."
"banget."
"Enak ya jadi istri gue."
"Oh jelas."
Anika menutup mulutnya, bisa-bisanya ia terjebak dengan perkataan Rey, sekarang ia bisa melihat jelas pemuda didepannya menyeringai dengan alis dinaik-turunkan, benar-benar menyebalkan.
"Apaan sih lo, gak nyambung."
"Gampang, tinggal sambungin aja kalau gak nyambung." Rey mengedipkan sebelah matanya dengan ekspresi menggoda.
"Pulang ajalah, mules gue tiba-tiba." ia bangkit dari duduknya berjalan cepat meninggalkan Rey yang kini sukses membuatnya kesal.
"Alah...bilang aja lo baper, pake alibi mules segala lagi." ledek Rey.
Anika menghentikan langkahnya, tubuhnya ia balikkan dengan pose bersidekap dada "mules gue liat muka lo."
__ADS_1
"Enak aja, secara gak langsung lo ngatain muka gue kayak kloset gitu?" sewot Rey kesal sendiri.
Gadis cantik itu menggeleng pelan sontak mengundang guratan bingung dari kening pemuda tampan didepannya.
"Trus ngapain lo mules?"
"Muka lo kek tai." jawab Anika santai, kakinya kembali melangkah, meninggalkan Rey yang saat ini sudah mencak-mencak sendiri dibelakangnya.
...***...
Abian menghela nafas kasar, sejak tadi ia terus memikirkan gadis pendek yang sudah ia anggap seperti adik sendiri, padahal ia sudah berbicara lewat telepon beberapa saat lalu, tapi tetap saja itu tak membuatnya tenang.
Ia bangkit dari duduknya, kakinya melangkah meninggalkan ruang pribadinya, ia tak akan pernah fokus menjalankan tugasnya dirumah sakit jika fikirannya masih berkelana.
Ia terlalu khawatir larangannya diabaikan gadis itu, beberapa saat lalu ia memberi titah agar tak pergi ke panti asuhan Laksana karena tempat itu mengalami kebakaran.
Walaupun mereka baru saling mengenal, ia sudah cukup tau gadis itu pribadi yang keras kepala, ia bukannya paranoid! tapi ia tak mau adiknya ketempat kejadian ia tak mau jika gadis itu kesana dan tertimpa kayu, batu atau apapun yang membuatnya dalam terluka.
"Dasar pendek, pasti saya diguna-guna nih sama dia sampai sekhawatir ini, padahal kalau difikir-fikir Anika gak mungkin masuk kedalam bangunan yang udah terbakar, tapi kenapa walaupun udah tau masih aja gak bisa tenang....ckk argh."
Ia berlari memasuki mobilnya, pedal gas ia injak kemudian melajukan mobilnya kepanti Laksana yang cukup dekat dari rumah sakitnya.
Langkahnya tiba-tiba terhenti, cukup tercengang melihat pemandangan yang kini memasuki penglihatannya, ia tak pernah mengira kebakaran itu akan separah ini, panti asuhan Laksana, tempat yang beberapa kali ia datangi untuk memberikan donasi kini benar-benar rata dengan tanah, sudah tak berdiri lagi, semuanya benar-benar hangus dan berserakan diatas tanah.
Abian mengamati sekelilingnya, matanya mengedar mencari keberadaan gadis yang sudah membuatnya khawatir tak jelas, melihat kondisi kebakaran ini tak mungkin ada yang namanya tertimpa kayu atau apapun itu karena semuanya benar-benar sudah berserakan diatas tanah.
Saat sosok yang dicarinya tak ada ia tiba-tiba memikirkan anak panti yang tinggal disini, kakinya mendekat pada salah satu wanita paruh baya yang tampak memeluk gadis remaja.
"Maaf, saya boleh tanya?" tanyanya sopan.
"Iya nak, kenapa?"
"Anak-anak panti yang tinggal disana selamatkan? lalu mereka dimana?" tanya Abian sopan.
Wanita paruh baya itu menghela nafas pelan "hanya satu yang selamat dari kebakaran ini, semua anak panti dan juga Bu Sri meninggal karena kebakaran ini." jelasnya dengan gurat sedih.
Abian membulatkan matanya, kabar ini berhasil membuatnya terkejut, anak yang selama ini menampakkan binar bahagia saat ia datang membawa mainan dan pakaian sudah tak ada.
"Apa dia orang yang selamat?" tanya Abian hati-hati, keadaan gadis didepannya cukup memprihatinkan, mata sembab dan rambut berantakan sudah membuatnya yakin kalau remaja didepannya adalah korban yang selamat.
__ADS_1
"Iya nak, namanya nak Emma." jawab wanita paruh baya itu, tangannya masih mengelus tubuh ringkih yang masih bergetar dalam pelukannya.
Jujur ia tak pernah bertemu dengan gadis remaja didepannya, ia hanya sesekali berkunjung kepanti dan waktunya tak sampai setengah jam, mungkin itu yang membuat mereka tak pernah bertemu.
Walaupun merasa kasihan, ia juga tak tau harus berbuat apa, ia bukanlah orang baik seperti yang ada difilm-film, membawa seseorang yang terkena musibah ikut dengannya, ataupun membelikannya rumah, ini bukanlah drama picisan dengan judul seorang pemuda kaya jatuh cinta dengan upik abu.
Abian mengeluarkan uang pada dompetnya, disana terdapat 10 lembar uang 100 ribu, tanpa ba-bi-bu ia mengambil semuanya dan memberikannya pada wanita paruh baya yang ada didepannya.
"Ini memang tidak seberapa, tapi saya berharap ini cukup membantu gadis itu untuk saat ini, saya titip uangnya sama ibu."
"Makasih nak, kamu udah mau bantu nak Emma."
Abian tersenyum tipis "kalau gitu saya permisi dulu."
"Iya nak hati-hati."
Ia kembali melangkahkan kakinya menuju mobil silver miliknya, hatinya sedikit senang Anika menuruti perintahnya, gara-gara kekhawatiran tak mendasarnya pada adiknya ia sampai harus melihat kejadian yang cukup membuatnya sedih.
Kejadian naas ini cukup membuatnya kehilangan, mau bagaimanapun ia cukup terhibur dengan ucapan polos anak panti yang ada disini, jika biasanya ia akan ke panti asuhan Laksana saat memiliki waktu luang tapi mulai hari ini semuanya berubah, bahkan tak ada satupun anak panti yang selalu mengajaknya bermain selamat.
"Semoga kalian udah bahagia."
.
.
.
.
Bersambung
Hallo guys~jangan lupa tinggalkan jejak ya~jangan lupa vote, lite dan komen, supaya makin semangat lanjutinnya, usahakan tinggalkan komentar positif, bukan malah menjatuhkan author.
see you
Ig: siswantiputri3
^^^24-NOVEMBER-2021^^^
__ADS_1