
Kedua bola mata Anika terbuka, bibirnya menguap merasakan ngantuk yang masih tersisa, jam sudah menunjukkan pukul 06:20 masih ada waktu untuk bersiap-siap kesekolah.
Matanya dikucep pelan sebelum melangkah memasuki kamar mandi, bibirnya kembali menguap dengan tangan direnggangkan selebar-lebarnya.
Pergerakannya tiba-tiba terhenti, netranya melihat pantulan dirinya didepan cermin yang ada di wastafel, dapat ia lihat warna merah yang memenuhi bagian lehernya.
"Ini udah gak wajar." monolognya pelan, dengan tergesa-gesa ia keluar dari kamarnya, kakinya berlari cepat menuju jendela yang ada dipojok kiri.
"Masih ketutup."
Anika menghela nafas kasar, kepalanya dipijat pelan karena rasa pusing yang tiba-tiba menyerang, detik berikutnya ia kembali berlari menuju ruang tamu, entah fikiran bodoh apa yang menghampirinya, tapi kejadian ini benar-benar membuatnya panik.
Langkahnya terhenti menatap seisi ruangan, lebih tepatnya pada sofa didepan televisi. Rey masih ada, bibirnya menghela nafas pelan melihat pose pemuda itu, kepala dibawah lantai dengan kaki diatas sofa, bahkan dalam keadaan tidur saja Rey bisa seabsurd itu.
Tapi sepertinya ada yang aneh, ia mendekat kearah sofa itu, keningnya mengernyit mengetahui ada yang kurang "kak Abian mana?"
Fikirannya tiba-tiba kosong, tubuhnya terduduk pada sofa dengan pandangan tak jelas. Pertama, tangannya yang digores kemudian sekarang lehernya yang memerah, ia tau ini bukan alergi tapi bekas cekikan.
Kedua bola mata Rey tiba-tiba terbuka, matanya menyipit menyesuaikan cahaya yang masuk keindra penglihatannya.
"Hoam...kok gue disini." monolognya sedikit linglung.
Pemuda itu mendudukkan tubuhnya, kesadarannya masih belum terkumpul, bahkan beberapa kali mulutnya masih menguap lebar.
"Lo ngapain disitu?" tanya Rey dengan suara serak "kok gue dirumah lo...oh iya gue kan kesini tadi malam."
"Rey." panggil Anika pelan.
"Apa." tanyanya malas, tangannya menggaruk kepalanya berulang-ulang, rambut yang awalnya berantakan kini tambah berantakan.
"Kak Abian mana?"
"Tuh." tunjuk Rey "eh...kok gak ada ya?" tanyanya tiba-tiba "gak tau lah." lanjutnya tak ambil pusing.
"Lo ada liat dia pergi gak?"
"Gue kan tidur." jawabnya seadanya "gue pinjam kamar mandi lo ya, perut gue mules." Ia bangkit dari duduknya, baru saja kakinya akan melangkah tapi tiba-tiba suara dari Anika menghentikan pergerakannya.
"Kayaknya ada yang mau bunuh gue."
Rey mengernyitkan keningnya, tubuh yang awalnya ingin kekamar mandi kini beralih menuju gadis itu "lo ngelantur ya?"
"Gue serius." jawabnya cepat, kepalanya mendongak menatap Rey yang juga menatapnya.
__ADS_1
"Lo ada masalah?" tanya Rey khawatir, tubuhnya ia jongkokkan didepan sahabatnya yang masih duduk diatas sofa.
"Gue---"
"Leher lo kenapa?" serbu Rey tiba-tiba, dagu Anika ia dongakkan, pandangannya menyipit menatap memar merah yang mengelilingi leher gadis didepannya.
"Gue gak tau." jawabnya jujur.
"Kurang ajar, ini bekas cekikan. Siapa yang cekik lo, dan kapan?" tanya Rey dingin, kedua tangannya bertengger pada pundak Anika dengan tatapan serius pada bola mata amber gadis didepannya.
"Gue gimana?" tanya Anika tiba-tiba.
"Gimana apanya?"
"Menurut lo gue gimana?" tanya Anika serius.
Rey menghela nafas pelan "lo ada masalah? Apapun yang ngusik lo kasih tau gue sekarang, gue paling benci adanya kebohongan."
Anika mengalihkan pandangannya, tangan pemuda itu ia turunkan dari bahunya "menurut lo, gue harus gimana sama orang yang ganggu ketenangan hidup gue?" tanyanya pelan.
Rey tak tau harus berkata apa, ia bingung ketenangan hidup dari segi mana yang Anika maksud, ia tak bisa memberi solusi jika masalahnya saja ia belum tau.
"Udah, lupain aja." Anika tersenyum manis "tapi kalau nanti lo tau semuanya, satu hal yang perlu lo ingat, gue cuma balas perlakuan yang pernah rugiin gue."
...***...
"Hallo, kamu udah dijalan kan Rey?"
[Lo kesekolah sendiri dulu]
Bibir gadis itu keluh, mendengar jawaban dari Rey membuatnya mematung, baru kali ini pemuda itu tidak datang menjemputnya.
"Tapi---"
[Gue tutup teleponnya]
"Tunggu--"
Tik.
Tubuh Emma membeku, masih tak percaya teleponnya diputus sepihak dari Rey, matanya memerah dengan tangan mengepal sempurna.
"ARGGGGHHHH...BRENGSEK." cermin yang ada didepannya ia pecahkan, tak peduli dengan beling yang kini mulai berserakan diatas lantai kamarnya.
__ADS_1
...***...
"Kapan pentas itu diadakan?" Adelard menatap asistennya datar, ia tak ingin berlama-lama dinegara ini, hidupnya memang berasal dari negara ini tapi tempatnya berpulang bukan lagi disini.
Ia hanya ingin menemukan adiknya dan membawanya ikut dengannya, disini terlalu banyak sumber penderitaan yang pernah mereka alami. Tapi kenapa adiknya malah memilih tinggal disini dan bersembunyi darinya, entah apa yang dipikirkan saudaranya itu.
"Lusa tuan, tapi sepertinya untuk masuk ke sekolah itu harus ada tiket undangan. Mungkin pihak sekolah melakukan itu demi lancarnya acara yang mereka buat." jelas Daren.
"Kau hanya perlu kosongkan jadwalku dihari itu, semua pekerjaan harus selesai apapun yang terjadi." perintahnya.
"Baik tuan."
Adelard bangkit dari duduknya, kakinya melangkah pada jendela kantor miliknya "Kau benar-benar menyelidiki semuanya kan? 10 bulan lalu Adrian pernah menemuiku, bahkan aku memberinya rekening."
"Rekening yang anda berikan sepertinya tidak pernah dipakai, tidak ada bukti transaksi rekening dari adik anda, bahkan satu kalipun." jelas Daren.
Adelard menghela nafas pelan, ia bahkan tak tau adiknya menjalani hidup dengan cara apa, dapat uang darimana dan tinggal dirumah seperti apa.
Hidupnya benar-benar tak tenang karena belum bisa menemukan adiknya, janjinya pada kedua orang tuanya yang sudah tenang masih belum bisa terpenuhi, cukup satu kali ia pernah gagal menjadi seorang kakak, kali ini jangan lagi.
Mengingat semuanya cukup membuatnya frustasi, rasanya ia ingin cepat-cepat pergi saja dari negara ini, ditambah keberadaannya disini bisa kapan saja bertemu dengan kelurganya yang lain, sang penjilat dan mata duitan yang haus akan ketenaran, benar-benar memuakkan.
"Kau bisa keluar." perintahnya.
"Baik tuan."
Adelard melangkahkan kakinya menuju laci yang ada diruangan itu, sebuah kertas kecil ia keluarkan dengan pandangan menajam. Walaupun masih belum pasti, tapi sekarang ia cukup yakin, adiknya ingin tinggal dinegara ini karena sesuatu yang berhubungan dengan kertas ditangannya.
Kertas berisikan marga seseorang yang sangat berpengaruh dengan kehidupan mereka yang sekarang, mereka sama-sama memiliki dendam, hanya saja ia tak ingin membuang-buang waktu membalas kerugian yang pernah dialami, apalagi dalang sebenarnya dari masalah yang mereka alami sudah terkubur dibawah tanah.
.
.
.
.
Bersambung
Bantu vote like dan komen ya guys~tunggalkan jejak dicerita ini supaya makin semangat lanjutinnya.
See you
__ADS_1
Ig: siswantiputri3
^^^11-DESEMBER-2021^^^