
"Aku ke WC dulu ya." Emma bangkit dari duduknya, kakinya melangkah meninggalkan kantin yang hanya dihuni beberapa murid.
"Lo mau gue temenin gak?" tawar Anika dengan suara dikeraskan.
"Gak usah, aku cuma mau cuci muka kok." Balasnya dengan senyum tipis.
Gadis cantik itu cuma membalas dengan mulut membentuk 'oh' tak mau memperpanjang dan memaksa Emma agar mengizinkannya ikut, lebih baik ia duduk santai di kantin sekolah sambil menikmati waktu damai sebelum mereka kembali masuk kekelas.
"Saking seriusnya permasalahan Emma gue baru nyadar kalau lo pakai jaket." sahut Rey tiba-tiba, matanya sedikit risih melihat penampilan Anika yang cukup membuatnya gerah sendiri.
Tak ada tanda-tanda langit akan turun hujan, malah cuaca hari ini sangat panas tapi gadis didepannya malah memakai jaket tebal berwarna biru, tak dipungkiri! penampilan sahabatnya sangat mencolok.
"Hidup kadang perlu sesuatu yang baru." jawab Anika santai, matanya masih setia menatap layar ponselnya entah apa yang dilihatnya.
"Sesuatu yang menurut lo baru itu nyiksa diri lo sendiri, gak nyadar lo ya udah keringatan kayak gitu?" tanya Rey tak habis fikir, ia semakin bingung dengan jalan pikiran gadis didepannya.
Anika enggan bersuara, bibirnya terkatup rapat tak ingin melanjutkan, andai saja ia tak mengalami kejadian aneh dengan punggung tangan berlumuran darah, mungkin ia tak akan memakai jaket untuk menutupi sayatan pada tangannya.
"Lo sakit?" tanya Rey lagi, matanya menatap intens gadis cantik didepannya, bahkan ia bisa melihat jelas tingkah sahabatnya yang merasa kepanasan.
"Gak."
Pemuda itu semakin menyipitkan matanya "lo pakai baju sekolah kan?" tanyanya tiba-tiba.
"Iyalah, gila kali lo nanya kayak gitu." sewot Anika, matanya memutar malas melihat pemuda tampan didepannya.
Rey bangkit dari duduknya, tangannya meraih lengan Anika kemudian membawanya pergi dari kantin, kakinya melangkah cepat dengan tangan yang masih setia menyeret lengan sahabatnya.
"Ishhh..." ringis Anika pelan, tangannya berontak mencoba melepaskan cekalan Rey pada lengannya, sialnya pemuda itu malah memegang luka sayatan yang bahkan masih terasa perih.
"ishhh...lepas dulu Rey, lo mau bawa gue kemana sih?" ucap Anika pelan.
Pemuda itu menghentikan langkahnya, badannya berbalik menatap Anika yang hanya setinggi dagunya "udah gue duga ada yang gak beres sama lo."
Anika menghembuskan nafasnya, kepalanya terangkat menatap Rey yang juga menatapnya dengan pandangan mengintimidasi. Tubuhnya bergidik ngeri, ia baru tau pemuda didepannya cukup menakutkan jika serius seperti ini.
"Lo mau jujur atau gue paksa jujur?" tanya Rey dingin.
"Oke-oke." pasrahnya, ia membuka jaket biru miliknya bibirnya sedikit meringis saat kain itu menggores lukanya, bilah bibirnya menghela nafas pelan melihat luka itu kembali mengeluarkan darah.
"SIALAN...siapa yang buat tangan lo kayak gini?" sarkas Rey, tangannya meraih lengan Anika yang terluka cukup parah, luka itu cukup dalam dengan darah yang mulai merambas keluar.
__ADS_1
"Gue gak tau." jawabnya pelan, jujur ia cukup terkejut mendengar nada tinggi dari pemuda didepannya, tapi itu cuma bertahan beberapa menit tubuhnya dengan cepat menetralkan rasa kagetnya.
"Serius lo gak tau apa-apa?" tanya Rey datar, matanya menatap tajam tepat pada bola mata amber gadis didepannya.
Anika mengangguk pelan, bibirnya sedikit meringis menahan perih pada luka ditangannya.
Tak ada yang bisa Rey lakukan selain menghela nafas kasar, walaupun sebenarnya banyak pertanyaan yang masih berkutat pada otaknya, apalagi membaca sayatan 'welcome baby' pada punggung tangan Anika.
"Gue obatin luka lo di UKS." ucap Rey pelan, ia tak lagi menyeret lengan Anika, tangannya kini menggenggam pelan tangan kecil milik sahabatnya.
"Sorry."
Anika mendongakkan kepalanya, matanya menatap punggung pemuda didepannya "gak apa-apa."
"Luka lo ngeluarin darah karena gue, maaf."
"It's okey, gue paham Rey, lo kayak gitu karena khawatir sama gue." jawab Anika cepat.
"Jangan sembunyiin apapun lagi dari gue." titah Rey, nada suaranya masih terdengar dingin, tautan pada tangan Anika semakin ia eratkan, seiring dengan langkah mereka yang kini memenuhi koridor.
"Iya."
...***...
Gudang sekolah merupakan tempat yang paling enggan dihampiri, bahkan sangat jarang bagi semua murid untuk melewati tempat itu, tempat yang berisi barang-barang tak terpakai dengan debu dimana-mana.
Tapi sepertinya itu tak tak berlaku bagi dua orang siswi yang saling berhadapan, tempat ini merupakan tempat yang pas untuk membicarakan pembahasan yang cukup penting bagi mereka.
"Gue tau lo suka Rey kan?"
Gadis yang satunya tampak sedikit terkejut, ia cukup tau siapa siswi didepannya, bukan karena prestasinya tapi hampir beberapa murid bahkan guru menyukai tutur kata gadis didepannya, gadis dengan sopan santun dengan mulut selembut sutra jika mengeluarkan suara.
Tapi apa yang dilihatnya sekarang benar-benar berbeda, ia jamin tak ada yang percaya jika ia mengatakan apa yang baru saja didengarnya.
"Gue tau lo suka perhatiin Rey, bahkan gue tau lo juga suka nyuruh orang kasih bekal buat Rey, gue cukup tau lo secinta apa sama Rey, benarkan....Ratu?" ucapnya lagi.
"Terus lo mau apa?" tantang Ratu, tangannya bersidekap dada dengan pandangan meremehkan.
Gadis didepannya terkekeh pelan "rintangan lo cuma satu..." kakinya mendekat kearah Ratu, tubuhnya berhenti tepat disamping sang primadona sekolah "kehadiran Anika, lo harus singkirin dia." bisiknya pelan.
"Ternyata gue ketipu sama kepribadian lo...gak, bukan cuma gue, tapi semua orang udah ketipu sama kepribadian lo."
__ADS_1
Gadis itu mengedikkan bahunya acuh "satu hal yang perlu lo tau, saingan terbesar lo sahabat Rey sendiri, lo gak akan bisa dapatin Rey selama Anika masih ada."
Ratu menatap datar gadis didepannya "gue bukan pembunuh."
"Gue gak nyuruh lo bunuh Anika, cukup buat dia jauh dari Rey, lebih tepatnya jauhkan dia dari hati Rey." ucapnya santai.
Hening terjadi beberapa saat, Ratu masih enggan menjawab ucapan gadis didepannya, ia bukanlah orang bodoh dan ia cukup tau ada makna tersembunyi kenapa orang didepannya mengatakan hal seperti itu, tapi masalahnya ia belum tau maksud sebenarnya gadis itu apa?
"Gue bisa bantu lo."
"Ada banyak yang suka sama Rey kenapa harus gue?" tanya Ratu tiba-tiba.
Gadis itu terkekeh pelan "lo benar, tapi semuanya gak ada apa-apanya dibandingkan lo, dan gue gak mau cari orang yang jauh dibawah lo."
"Sebenci apa lo sama Anika?"
"Itu gak ada hubungannya sama lo kan? cukup lo mau kerjasama sama gue atau enggak."
Ratu tersenyum remeh "kenapa gue harus jadi pion lo demi menghancurkan sahabat lo sendiri?"
"See, lo bisa dapatin Rey setelahnya." jawabnya santai.
"Lo benar-benar iblis...Emma." timpal Ratu dengan senyum miringnya "tapi gue gak mungkin sia-siain peluang ini kan?"
"Tentu."
.
.
.
.
Bersambung.
Jangan lupa tinggalkan jejak ya~tekan like, vote dan komen supaya semangat lanjutin ceritanya.
Ig: siswantiputri3
^^^29-NOVEMBER-2021^^^
__ADS_1