
Gadis cantik dengan rambut sebahu berjalan menyusuri trotoar dengan bibir bersiul pelan, seragam sekolahnya sudah ia lepas didalam toliet umum sejak tadi.
Matanya mengamati sekitar, hari ini ia benar-benar senang, keadaan hatinya berbunga-bunga karena mendapatkan apartemen gratis dari pria paruh baya itu.
"Eh." Anika menghentikan langkahnya, matanya memicing melihat sosok yang sangat familiar pada indra penglihatannya.
"Adek ganteng." panggilnya memastikan.
Anak kecil itu mengerjap pelan, kepalanya ia miringkan menatap seseorang yang baru saja memanggilnya "kakak cantik." celetuknya polos.
Anika terkekeh pelan, tubuhnya ia jongkokkan tepat didepan anak itu "Axel ngapain disini?" tanyanya lembut, ia tak mungkin melupakan anak kecil didepannya.
Sosok yang pernah ia temui sedang menunggu mamanya dengan dos yang berserakan disekelilingnya, jujur ia cukup terkejut bertemu anak itu disini, ditempat yang cukup jauh dari pertemuan mereka sebelumnya.
"Axel ngapain disini?"
"Axel tungguin mama." jawabnya dengan suara khas anak kecil.
Anika mengangguk paham, tangannya terulur mencubit pelan pipi gembul anak itu, ia benar-benar gemas melihat wajah imut dari anak kecil didepannya.
"Mama." seru anak itu tiba-tiba.
"Mama?" bingungnya.
Axel mengangguk pelan, tangan kecilnya menunjuk wanita paruh baya yang berjalan kearah mereka. Sekaligus menjawab raut bingung dari wajah orang didepannya.
"Maaf mama lama nak." ucap wanita paruh baya itu dengan raut bersalah, tak lupa ciuman pada wajah anak semata wayangnya ia berikan bertubi-tubi.
Axel terkikik pelan, wajahnya yang diserbu oleh mamanya benar-benar menimbulkan tekanan geli pada permukaan kulitnya, tapi itu bukan masalah. Ia senang mamanya tetap sayang padanya walaupun dengan kondisi yang jauh dari kata baik.
"Kakak cantik yang dulu kasih Axel uang ada disini loh." celetuknya tiba-tiba.
"Oh ya? Mana?"
"Tuh." tunjuknya dengan wajah polos.
Anika tersenyum kikuk, ia begitu larut pada kedekatan mama dan anak yang terlihat sangat harmonis, ada perasaan hangat melihat interaksi mereka berdua.
"Anika Bu." sapanya sopan.
"Eh...iya nak, tadi ibu gak lihat kamu. Maaf ya nak." jawab wanita paruh baya itu dengan suara lembutnya.
"Iya Bu, gak apa-apa kok...oh iya, ibu sama Axel ngapain disini?" tanyanya penasaran.
Wanita paruh baya itu tiba-tiba menyendu, sorot matanya benar-benar terlihat putus asa, apalagi saat netranya menangkap wajah anaknya yang masih kecil dengan binar polos.
__ADS_1
"Ibu gak apa-apa?" tanya Anika khawatir, ia mendekat mengelus pundak wanita itu berulang-ulang, berharap beban yang dirasakannya bisa sedikit berkurang.
"Tempat tinggal kami sudah digusur, ibu juga gak bisa buat apa-apa karena tanah itu milik pemerintah." jelasnya pelan.
Anika tergelak, matanya menatap wanita paruh baya itu dengan Axel bergantian, sekarang ia merasa prihatin pada kehidupan yang dijalani keduanya, apalagi untuk Axel, ia masih terlalu kecil untuk kehidupan keras ini.
Ia mensejajarkan tubuhnya dengan Axel, tangannya membekap wajah anak itu dengan kedua tangannya "Axel mau ikut kakak?" tanyanya dengan sorot lembut.
"Mauuu mauuuuu." jawabnya semangat.
Anika terkekeh pelan, tangannya mencubit pipi gembul itu kemudian bangkit dari duduknya, matanya menatap wanita paruh baya didepannya dengan senyum lembut "ibu tinggal sama Anika aja ya."
"Tapi nak---"
"Anika tinggal sendiri, kalau ada kalian pasti rumah Anika rame, mau ya Bu?" ajaknya penuh harap.
"Tapi nak, ibu gak enak sama kamu apalagi sama orang tua kamu."
"Orang tua Anika udah gak ada Bu, Anika benar-benar tinggal sendiri, kalau kalian ada kan Anika ada temannya." jelasnya.
"Tapi---"
"Mau ya Bu?" selanya.
Wanita paruh baya itu menatap wajah gadis didepannya tak enak, pandangannya Kembali menatap sang anak semata wayang yang kini mengerjapkan matanya polos.
Mau bagaimanapun mereka tak memiliki hubungan darah, bahkan orang yang memiliki hubungan darah dengannya malah mengusirnya tanpa perasaan. Tapi ini malah gadis yang baru ia kenal mau menampungnya dengan tulus, ia tak menyangka masih ada gadis baik yang mau menolongnya, tapi tetap saja perasaan tak enak tetap singgah dihatinya.
"Gak ngerepotin kok Bu, malah Anika senang kalau ibu dan Axel ikut sama Anika." jelasnya sungguh-sungguh.
"Ayo ma, tinggal sama kakak cantik aja." ajak Axel semangat, tangan kecilnya menarik baju mamanya berulang-ulang.
Wanita paruh baya itu mengangguk pelan "asal ibu sama Axel gak ngeropotin nak."
"Gak ngerepotin kok Bu."
"Yeeeeee." teriak Axel semangat, bibirnya tersenyum lebar menampilkan giginya yang ompong, tentu teriakan cempreng itu mengundang tawa pelan dari tenggorokan Anika, ia benar-benar terhibur dengan anak gembul itu.
"Oh iya nama ibu siapa?" tanya Anika.
"Bu Sari nak."
Anika mengangguk paham, bibirnya menampilkan senyum tulus pada wanita paruh baya didepannya "sekarang kita kerumah Anika ya Bu."
"Iya nak."
__ADS_1
Gadis cantik itu kembali menatap wajah lucu Axel "sekarang Axel ikut kakak kerumah ya...let's go." semangat Anika.
"Let's go." balas Axel dengan suara cemprengnya, tangan kecilnya memegang tangan Anika erat. Senyum lebarnya tak pernah pudar tercetak pada wajah gembulnya. Ia benar-benar senang, setidaknya untuk sekarang ia tak tidur dipinggir tokoh dengan kardus sebagai alas.
Walaupun ia masih kecil, tapi ia sudah cukup tau! Kakak cantik disampingnya benar-benar baik. Ia berterima kasih karena kakak itu mau menampungnya beserta ibunya untuk tinggal bersama.
"Axel lapar gak?" tanya Anika tiba-tiba, kepalanya menunduk menatap wajah Axel yang hanya setinggi pinggangnya.
"Axel lapar kak." balasnya polos.
"Eh...nak, kamu gak boleh ngerepotin kak Anika." sela Bu Sari.
Axel mencebikkan bibirnya, kepalanya terduduk lesu mendengar ucapan mamanya, harusnya ia memang tak merepotkan kakak cantik disampingnya, tapi perutnya benar-benar lapar, ia hanya makan kemarin, nasi bungkus yang dibeli mamanya dengan lauk hanya 1 potongan tempe.
"Gak apa-apa Bu, Anika juga gak beli kok, Anika bakal masakin makanan enak buat Axel." celetuknya lembut.
"Kakak cantik beneran?" tanya Axel semangat.
"Iya dong adek genteng."
"Yeeeeee." teriak Axel senang, wajah murungnya kembali digantikan wajah bahagia, ia benar-benar senang bertemu orang sebaik kakak cantiknya.
"Maaf nak, kami ngeropotin lagi."
"Gak ngerepotin kok, yang penting ibu mau bantu Anika masak." timpal Anika dengan cengiran polosnya.
Bu Sari tertawa pelan, gadis disampingnya benar-benar lucu, ia seperti memiliki putri sulung karena kepribadian anak itu yang baik, ia benar-benar senang bertemu dengan gadis baik didunia yang luas ini, apalagi pertemuan mereka terhubung karena anaknya Axel.
Air matanya menitih karena terharu, dengan pelan ia mengusap air matanya tanpa sepengetahuan mereka berdua, ia janji dimasa depan ia akan membantu gadis yang kini menolongnya.
Dunia ini berputar, begitupun dengan hidup. Kadang kita berada diatas begitupun sebaliknya, tapi ia janji jika kelak kehidupannya mulai membaik ia tak akan melupakan orang yang tulus menjulurkan tangan untuk menolongnya, dan itu pasti.
.
.
.
.
Bersambung
Bantu like, vote dan tinggalkan komentar ya~
Instagram: siswantiputri3
__ADS_1
^^^20-JANUARI-2022^^^