Antagonis

Antagonis
Chapter 38


__ADS_3

Anika sudah menduga sebelumnya, berdampingan dengan Adelard akan membuatnya menjadi pusat perhatian, ia sadar akan pesona gebetannya yang tak pernah main-main.


Bibirnya tersenyum lebar melewati koridor yang dipenuhi siswa/siswi, mereka berdua sudah menjadi fokus utama sejak turun dari mobil.


"Jalan sama pria tampan damagenya beda coy." monolog Anika.


Adelard menatap deretan penghuni sekolah dengan pandangan menyapu, matanya menyipit mencari keberadaan adiknya dari banyaknya kerumunan. Tidak ada, berarti ia harus ke suatu tempat untuk menemukan adiknya itu.


"Eh...kak Adelard mau kemana? Panggung pentasnya bukan disana." cegah Anika.


"Aku ada urusan." Adelard melangkahkan kakinya meninggalkan koridor bahkan sebelum Anika mengeluarkan suaranya, tujuannya kini hanya satu, menuju kelas IPA yang ada dilantai 2 sesuai informasi yang didapat dari Daren.


"Jangan cepat-cepat jalannya dong." gerutu Anika, kakinya ikut melangkah lebar mengikuti pergerakan gebetannya, tapi cekalan pada lengannya menghentikan pergerakannya.


"Siapa sih." sewotnya, kepalanya menoleh menatap tiga orang yang membuatnya kesal setengah mati.


"Kamu kenapa buru-buru?" tanya Emma polos, jemarinya ia lepaskan dari pergelangan tangan Anika.


"Udah tau buru-buru malah ganggu." sarkasnya marah, ia paling benci seseorang yang mengganggu kegiatannya.


"Lo apa-apaansih, gak usah nyolot dong." timpal Ratu, tatapannya bertabrakan pada manik amber yang juga menatapnya tajam.


"Ck...hama." decak Anika.


"Maksud lo apa?" tanya Ratu, wajahnya sudah tak bisa menahan rasa geram pada gadis yang membuatnya muak.


"Lo diem Ratu." titah Rey dingin.


Gadis itu bungkam, lagi-lagi pemuda yang menempati hatinya membela gadis lain, gadis yang bahkan jauh dibawahnya.


"Aku minta maaf, aku yang salah." lirih Emma, bola matanya menyendu menatap gadis didepannya.


Rey menghela nafas pelan "emang lo buru-buru kayak gitu mau kemana?" tanyanya, mencoba mencairkan situasi yang cukup tegang.


"Penting?" tanya Anika datar.


"Maksud lo?"


"Gak ada, gue cuma kebelet e'ek, tapi gara-gara kalian kotorannya naik lagi." jawabnya santai.


Ratu geram sendiri, bilah bibirnya mengeluarkan nafas pelan agar emosinya tak sampai keluar, ia tak mau mengambil perhatian dengan cara membuat masalah, setidaknya ia harus berhenti menjadi queen bully agar menjadi baik dimata Rey.


"Terus kamu kesini bareng siapa? kamu kan gak bareng kita bertiga." tanya Emma angkat suara, raut wajahnya masih terlihat damai dan santun, suaranya bahkan terdengar selembut sutra.

__ADS_1


Anika tersenyum lebar, ia tau sebenarnya maksud gadis didepannya, ucapan Emma seakan menekankan Rey sengaja tak menjemputnya dan hanya menjemput mereka berdua.


Jujur ia sedikit kesal, ia tak masalah kalau pemuda itu memang tak ingin menjemputnya, tapi kenapa hanya dia? Seolah memang keberadaannya menjadi pengganggu diantara mereka bertiga.


"Bagus dong." celetuk Anika.


"Bagus?" beo Emma.


"Gue gak tau dan gak mau tau kenapa Rey gak mau jemput gue, tapi gue juga bersyukur karena berkat kalian gue bisa bareng calon suami gue." jawabnya santai.


"Halu lo ya?" ejek Rey, tangannya diletakkan pada kening Anika yang tertutup poni "gak panas juga, masih sehat."


"Ck."


"Gue minta maaf deh karena gak bisa jem---"


"No, bukan gak bisa tapi gak mau." sela Anika, tangannya diletakkan didepan dada dengan pandangan lurus kemanik tajam milik pemuda itu.


Ratu tersenyum remeh, ia juga sebenarnya tak tau kenapa untuk pertama kalinya Rey mengabaikan Anika, apa ini berhubungan dengannya? Apa keberadaannya mulai dianggap oleh Rey?


Ia bahkan cukup syok melihat kedatangan pemuda itu ke apartemennya tadi pagi, apalagi Rey datang karena ingin menjemputnya pergi kesekolah, walaupun Emma berada diantara mereka berdua, tapi tak apa ini juga awal yang bagus untuknya kedepannya.


Rey menatap Anika serius, bola matanya menatap lembut manik indah milik gadis didepannya "i'm sorry." tuturnya dengan perasaan bersalah.


"Kamu marah?" tanya Emma "mungkin Rey gak sempat jemput kamu, ini juga baru pertama kali Rey kayak gitu kan?"


"Kamu serius soal calon suami?" tanya Emma lugu.


Anika mengangguk cepat, ujung bibirnya semakin tertarik membayangkan ia menjadi istri CEO tampan nan menawan pujaan hatinya.


"Gue gak tau lo jujur atau cuma halu, tapi kalau lo jujur bagus deh." timpal Ratu.


"Emang bagus, bagus karena gue dapat anak tunggal kaya raya dengan katampanan yang hakiki, fiks hidup gue sehat lahir batin kedepannya."


"Gak usah bercanda." sahut Rey.


"Orang gue serius, tanya aja sama mereka semua." tunjuk Anika pada siswa/siswi yang ada dikoridor "mereka liat gue bareng kakak tampan kesini kok."


Beberapa murid yang mendengar ucapan Anika mengangguk membenarkan "iya, malah orangnya ganteng banget lagi."


"Yang tadi bareng Anika kayak hot Daddy aja, gue sampai gak bisa berkata-kata."


"Lah gue jadi ragu orang tadi beneran tinggal satu bumi dengan kita semua atau enggak sangking mempesonanya."

__ADS_1


Anika tersenyum bangga "bukan hot Daddy, tapi hot brother kawan." jawab Anika membenarkan.


Rey menangkap wajah Anika, matanya menatap tajam bola amber gadis didepannya "lo serius?" tanyanya dingin.


Gadis cantik itu mengerutkan keningnya, hawa disekitarnya tiba-tiba mencekam menghadapi perubahan atmosfer pada diri sahabatnya.


"Iya, emang kenapa?" tanyanya dengan kedua mata mengerjap bingung.


"Pftttt...." wajah Rey memerah, detik berikutnya tawa menggelegar memenuhi koridor yang mereka pijak "kasian banget tuh orang disuka sama cewek modelan kayak lo, duh padahal masih muda lagi."


Tak ada yang bisa menyangkal pesona pemuda itu, bahkan mereka semua diam karena larut menatap wajah tampan yang kini tertawa lebar, bahkan kini Ratu semakin yakin ingin mendapatkan Rey.


"GUE DOAIN LO KEGENCET TRAKTOR REY." murka Anika, kepalanya berasap mendengar ejekan tak berperikemanusiaan dari pemuda yang katanya sahabatnya.


"Heh, mulutnya dikondisikan ya." ucap Rey tak terima, tawanya kini harus terhenti mendengar doa Anika yang membuatnya beristighfar.


"Bodoamat." Anika berjalan dengan kaki dihentak-hentakkan meninggalkan tempat itu.


"Eh...eh...lo mau menjanda kalau gue beneran kegenjet traktor." cerocos Rey, kakinya ikut berlari menyusul pergerakan Anika.


"Gue bisa jadi janda bahenol."


"Gak bisa gitu dong, enak aja gue is dead lo malah seneng-seneng, yang ada lo bisa nyari duda." jawab Rey ngawur.


Semua siswa/siswi yang ada disana menganga tak percaya, harusnya mereka sudah tau kelanjutan drama dari Rey dan Anika, mereka bahkan sering melihat tingkah absurd keduanya, tapi tetap saja otak mereka tak habis fikir dengan kedua orang itu.


"Lagi?" kesal Ratu.


"Lo harus lebih ekstra pisahin mereka berdua." bisik Emma kemudian melenggang pergi mengikuti Rey dan Anika seperti biasanya.


.


.


.


.


Bersambung


Hallo~jangan lupa tinggalkan jejak ya.


Ig: siswantiputri3

__ADS_1


see you


^^^20-DESEMBER-2021^^^


__ADS_2