Antagonis

Antagonis
Chapter 58


__ADS_3

JTAK


"Aww." tangannya mengusap pelan dahi mulusnya yang baru saja disentil, pandanganya menatap Adelard dengan mulut berdecak kesal.


"Gak usah aneh-aneh."


Anika mencebikkan bibirnya "ngajak pacaran gak aneh-aneh, cuma satu aneh." jawabnya asal.


"Terserah." ia tak mau lagi melanjutkan perdebatan dengan remaja labil disampingnya, lebih baik ia fokus pada jalanan supaya tak terjadi hal-hal yang merugikan.


"Emang kak Adelard udah punya istri?" tanyanya penasaran.


"Gak."


"Pacar?"


"Gak."


Anika tersenyum lebar, ambisinya untuk mendapatkan hati sang pujaan hati semakin besar, sosok seperti Adelard terlalu berharga untuk disia-siakan.


"Kalau gebetan?" tanyanya antusias.


"Cih."


"Kok cih sih, harusnya tuh dijawab iya atau enggak." jelas Anika.


Adelard menghela nafas sabar, menghadapi bocah SMA terlalu menguras emosi dibandingkan berhadapan dengan pesaing bisnis.


"Gak." jawab Adelard pada akhirnya.


"Alhamdulillah." tangan Anika terangkat, mengusap wajahnya dengan bibir semakin lebar menampilkan senyum manis.


Bahkan jawaban sesederhana itu mampu membuat perasaanya menjadi plong, seakan beban hidup yang menghimpit rongga dadanya diangkat seketika. Dalam hidupnya baru kali ini ia merasakan tertarik pada seseorang bahkan sekarang ia sangat menyukai pria disampingnya dan itu membuat tingkahnya terlalu mendramatisir jika menyangkut soal Adelard.


Apalagi vibes dingin yang ada pada diri Adelard membuat ekspektasinya melambung tinggi menjajarkan gebetannya dengan tokoh utama pria pada novel remaja yang bertema romansa.


"Kak Adelard sibuk gak?"


"Sibuk."


Anika merutuki pertanyaannya, ia terlalu idiot mengajukan pertanyaan untuk pria disampingnya, jelas Adelard selalu sibuk! Mengingat jabatan yang bertengger pada gebetannya, CEO pada perusahaan Larn Corp.


"Kak Adelard lapar gak, makan yuk gue yang traktir deh." ajaknya.


Adelard menoleh ke samping, alisnya terangkat mendengar pernyataan remaja itu, tak ada yang salah dengan mengajaknya makan hanya saja ia cukup tergelak mendengar gadis itu ingin mentraktirnya. Ia cukup speechless.


"Traktir?" tanyanya memastikan.


Anika mengangguk cepat, matanya masih memandang wajah Adelard dari samping, dengan jarak sedekat ini ia bisa melihat rahang tegas pria itu "mau ya." ajaknya lagi.


"Oke."

__ADS_1


Mata Anika berbinar, terlalu senang mendengar jawaban pria itu "beneran?"


"Hmm." dehem Adelard, lagipula ia cukup penasaran dimana gadis itu akan mentraktirnya, mengingat statusnya yang masih anak sekolahan, apalagi latar belakang kehidupan gadis itu bisa dibilang biasa-biasa saja. Tentu tak mungkin ia diajak ke restoran kan?


"Gak jauh dari rumah sakit permata disana ada warung bakso mercon, gue traktir kak Adelard disana." sahut Anika tiba-tiba.


Sudah ia duga, tebakannya benar-benar tepat, ia tak kaget lagi mendengar ucapan gadis itu lagipula ia juga tak masalah makan pada warung yang ada dipinggir jalan, sebelum sesukses ini ia juga pernah menjalani hidup susah.


"Gak masalahkan?" tanya Anika.


"Hmm."


Anika tersenyum lebar, perut yang sebelumnya sudah beberapa kali sudah ia isi mendadak lapar seketika, kesempatan untuk makan berduaan dengan gebetannya tak boleh disia-siakan, bahkan ia sudah merencanakan memesan 1 porsi bakso mercon ukuran jumbo agar ia bisa sepiring berdua dengan Adelard.


"Gue emang pintar." monolognya pelan.


"Sudah sampai." sahut Adelard, seatbel yang ia pakai sudah dilepas, bahkan pintu mobilnya sudah ia buka tapi gadis disampingnya terdiam layaknya patung dengan bibir senyum-senyum tak jelas.


"Hey." panggilnya.


Bibirnya berdecak kesal melihat gadis itu masih tak bergeming, tangannya terangkat menepuk kening remaja itu tanpa perasaan.


PLAK


"AWWWW...LO---" baru saja mulutnya ingin menyembur sang pelaku dengan umpatan, tapi melihat orang itu adalah Adelard niatnya ia urungkan kembali.


"Sudah sampai, keluar." perintah Adelard.


Anika menghela nafas sabar, tangannya beberapa kali mengelus dada untuk meredakan rasa kesalnya, ia tak boleh terlalu emosional didepan gebetannya, bisa-bisa sang CEO menawan itu ilfeel padanya.


Kesempatan ini harus ia gunakan untuk melakukan aksi PDKT, kisah romansa antara dirinya dan Adelard harus tercipta pada warung bakso favoritnya.


Tok...tok...tok...


Tubuh gadis itu tersentak, kepalanya menoleh pada kaca mobil yang tiba-tiba diketuk, keningnya ia tepuk pelan melihat sang pelaku adalah gebetannya sendiri, ia merutuki dirinya yang terlalu sibuk menghalu sampai pria itu kesal karena menunggunya.


"Lama." sarkas Adelard.


"Iya-iya maaf, tadi juga lagi rencanain masa depan buat kita berdua."


Adelard menggeleng pelan, tak habis fikir dengan isi otak remaja itu, sudah berkali-kali ia mendengar jawaban absurd dari bibir tipis Anika.


"Ayo." ajak Anika, tangannya tiba-tiba menarik lengan kekar Adelard yang masih tertutup jas.


"Kakak tampan duduk disana aja, biar gue yang pesan bakso."


"Hmm---"


"Anika." panggil seseorang.


Gadis cantik itu membalikkan badannya, bola matanya membulat melihat sosok pria yang saat ini masih mengenakan pakaian kedokteran.

__ADS_1


"Kak Abian?" serunya.


"Kenapa bisa disini? Warung bakso ini jauh dari rumah kamu."


Anika menggaruk kepalanya, terlalu bingung menjawab pertanyaan yang hanya beberapa baris itu, tak mungkin ia berkata jujur pada Abian.


"Ani---"


"Kau." tunjuk Abian, tatapannya menghunus pada pria yang berdiri santai dibelakang gadis itu.


"Ya?" alis Adelard terangkat sebelah, bibirnya menyeringai tipis menatap keberadaan dokter yang tak asing baginya.


"Menjauh dari Anika." perintah Abian.


"Kau tak berhak memerintahku." matanya menatap santai pria berumur 25 itu, bahkan dengan umur Abian yang terpaut 4 tahun lebih tua darinya tak membuat ia merasa takut.


"Anika adik---"


Seolah tau apa yang dikatakan Abian dengan cepat ia menyela "kalian ada hubungan darah?" tanyanya datar "tidak kan?"


"KAU---" Abian mengepalkan tangannya, pandangannya menatap lembut wajah Anika yang kini terlihat bingung "menjauh darinya, kakak gak suka. Dia bukan orang baik."


"Tapi---"


"Kau juga tak lebih baik dariku dokter Abian." sela Adelard dingin.


Abian mengepalkan tangannya, lengan Anika ia tarik kebelakang punggungnya, ia tak rela gadis yang sudah ia anggap sebagai adik sendiri berdekatan dengan pria seperti Adelard.


"Pergi kau."


Adelard terkekeh pelan, melihat sikap dokter muda itu ia sudah bisa menafsirkan seberapa benci orang itu terhadapnya, lagipula ia juga tak bisa membuat orang-orang menyukainya, mereka berhak menentukan siapa yang dibenci dan siapa yang diagungkan.


Apalagi dokter muda itu bukanlah orang asing baginya, pertemuan mereka terakhir kali yang tak cukup baik menimbulkan kesan negatif pada diri Abian terhadapnya.


"Kau tak ada hak melarang siapapun berdekatan denganku, bahkan untuk Anika sekalipun." jelasnya.


"Anika terlalu baik untuk berdekatan dengan orang sepertimu." sarkas Abian.


"Kau juga tak cukup baik menjadi kakak untuk gadis seperti Anika." timpal Adelard.


Abian mengepalkan tangannya, emosi yang membuncak pada dadanya berusaha ia tahan agar tak menciptakan keributan, ia juga tak mungkin melakukan tindakan kekerasan didepan Anika yang sudah ia anggap sebagai adik sendiri.


.


.


.


.


Bersambung

__ADS_1


Ig: siswantiputri3


^^^08-JANUARI-2022^^^


__ADS_2