Antagonis

Antagonis
Chapter 85


__ADS_3

Langkah Anika melewati koridor perlahan melambat. Gadis dengan rambut dikuncir satu itu menatap sekitarnya sedikit bingung. Keadaan ini seperti dejavu, tapi masalahnya pandangan mereka bukan lagi pandangan menuntut, tak percaya ataupun muak. Sekarang semua murid malah menatapnya dengan pandangan bersalah. Apa sahabatnya itu sudah mengembalikan nama baiknya?


"Tapi emang harus sih! Gue kan cuma kasih dia waktu satu hari." timpal Anika.


Puk.


"Gue pribadi minta maaf karena udah curiga sama lo." celetuk Roy tiba-tiba membuat gadis cantik itu mengangguk pelan sebagai jawaban.


"It's okey, jadi! Semuanya udah terbongkar kalau bukan gue pelakunya? Dilihat dari mimik muka sama ucapan lo kayaknya apa yang ada dipikiran gue benar."


"Iya. Pagi tadi video baru gempar ke website sekolah, divideo itu bahkan jelas nampilin muka dia. Jadi lo bebas dari tuduhan itu."


"Baguslah."


Roy tersenyum santai sambil menepuk pundak gadis didepannya beberapa kali sebelum pergi dari sana "sekali lagi gue minta maaf! Ah, tapi gue gak nyangka ternyata yang lakuin itu ternyata Ratu."


Anika mengerjapkan matanya, badannya secara spontan menoleh menatap punggung Roy sambil berfikir keras. Ia tentu tak salah dengar! Apa maksudnya kalau Ratu yang lakuin itu semua? Dengan cepat ia mengeluarkan ponselnya, mengaktifkan WiFi kemudian segera membuka website sekolah.


"Jadi beneran Ratu! Tapi kenapa ini terdengar mustahil?" monolognya pelan.


...***...


Emma menatap jari kanannya yang kini terbalut sempurna. Setelah melakukan operasi ringan akhirnya salah satu tulang jarinya yang bengkok kini digantikan oleh besi agar terlihat normal. Ia masih tak menyangka kalau Anika bisa melakukan ini padanya. Bertindak diluar nalar.


"Gara-gara sialan itu gue gak ke sekolah dua hari." decaknya kesal "belum lagi gue harus ngeluarin tambahan uang buat operasi ini. Benar-benar sialan."


Tok...tok...tok....


Ia menatap pintu ruangan yang kini menampilkan dokter paruh baya, tanpa ingin berbasa-basi ia cukup tau untuk apa dokter itu datang. Matanya terus mengamati jarinya yang kini diperiksa secara hati-hati.

__ADS_1


"Kondisi jarimu sudah cukup baik, tinggal menebus obat pereda rasa nyeri dan besok juga kamu bisa pulang." ucap sang dokter yang hanya dianggap angin lalu oleh Emma. Suara paruh baya itu sudah sangat jelas tanpa harus bertanya lagi.


"Kalau begitu saya keluar dulu." pamitnya sambil menghela nafas pelan karena tak mendapat respon dari pasiennya. Mau bagaimana lagi, tugas utama dokter sepertinya hanya mengobati bukan menjadi teman curhat dari remaja yang terlihat memendam kesal ini.


Emma menatap seekor burung yang kini hinggap pada pohon dari luar ruangannya. Matanya terus mengamati burung itu hingga kembali terbang menjauh dari pohon itu.


"Karena ancaman dia gue sampai harus melakukan rencana ke dua gue. Cih! Untung gue udah siapin semuanya, walaupun sebenarnya gue gak pernah berfikir kalau rencana ini bakal gue pake."


Bibirnya menghela nafas kasar sambil menyandarkan punggungnya "tapi gak apa-apa. Setelah dipikir-pikir gak ada yang lebih baik dekat dengan Rey, mau itu Anika ataupun Ratu semuanya gak bisa gue terima. Jadi! Walaupun Anika bisa lolos dari rencana gue setidaknya ada Ratu yang gue kambing hitamkan. Tentu Rey gak perlu berpikir keras buat jauhin dia kayak sesulit dia untuk jauhin Anika."


"Tapi sayang gue gak bisa nikmatin kehancuran sang primadona sekolah sekarang." seringainya puas.


...***...


"Anika!!"


"Hmm." dehemnya, menikmati semilir angin yang menerpa wajahnya jauh lebih memuaskan daripada menatap pemuda disampingnya. Sosok sahabat yang sempat menjaga jarak darinya.


"Rey." potong Anika pelan. Bibirnya tersenyum tipis menatap bola mata pemuda itu dengan pandangan serius.


"Gue ngerti! Dengan ini gue juga bisa simpulin sesuatu. Kalau seberapa dekat persahabatan gue sama lo gak akan menjamin lo bisa percaya sama gue. Lagian dinegara ini hukum juga bisa dibeli dengan uang. Jadi ucapan tanpa bukti dari gue tentu gak bisa buat lo percaya dibandingkan dari apa yang udah tersebar dan udah lo liat."


Tubuh Rey tiba-tiba membatu. Matanya menatap nanar wajah Anika dari samping karena sudah tak menatapnya lagi. Ini memang salahnya! Bahkan rekaman CCTV itu tak sepenuhnya menunjukkan wajah Anika, tapi kenapa ia bisa terkecoh dan malah menuduh sahabatnya itu.


Ia yang membuat hubungan mereka merenggang dan karena ulahnya juga gadis itu seakan membangun tembok diantara mereka berdua. Saling berdekatan tapi suasananya tampak canggung seakan mereka dua orang asing yang tak sengaja duduk berdua.


"Gue minta maaf." lirih Rey.


"Maaf lo gue terima."

__ADS_1


Kepala Rey yang awalnya menunduk kembali terangkat sambil menatap cerah wajah Anika. Ia tak salah dengarkan? Bibirnya tersenyum lebar hingga secara spontan menarik tangan lentik gadis itu.


Ctasss.


"Gue mau liat Ratu dapat hukuman apa dari kepala sekolah." pamit Anika meninggalkan Rey yang kini melunturkan senyumnya dengan pandangan menatap nanar tangannya yang baru saja ditepis.


Mendapat penolakan dari gadis itu sukses menimbulkan rasa nyeri pada hatinya. Ini pertama kalinya ia merasakan perasaan sesak sebegitu tercekiknya. Ia benar-benar tak tau apa yang salah pada dirinya hari ini. Kenapa tepisan dari seorang gadis bisa berdampak separah ini, bahkan tepisan itu tak sekuat tonjokan dari preman yang pernah adu tinju dengannya.


Perasaan kesal, marah dan sesak bercampur jadi satu hanya karena tangannya ditepis dengan santai. Penolakan yang gadis itu lakukan saat ia spontan ingin memegang tangannya sukses membuatnya bungkam sampai kehabisan kata-kata.


"Perasaan ini terasa mencekik, bahkan rasanya mati adalah pilihan yang tepat. Apa gue gila?" monolognya linglung.


Pandangannya menatap tempat disampingnya yang sudah kosong tanpa siapapun. Beberapa detik yang lalu sahabatnya masih ada disitu dan kini ia bahkan tak menyadari kalau gadis itu sudah pergi meninggalkan dirinya.


"Gue gak bisa lari dan menganggap ini lelucon lagi. Kayaknya lo udah berhasil ambil antenasi gue sepenuhnya." bibirnya menghela nafas pelan sambil menatap langit luas yang tampak cerah bersinar.


Tangan kanannya kini bertengger pada dadanya dengan pandangan datar lurus ke depan. Berbagai macam kemungkinan sudah ia susun hingga pada akhirnya ia harus tetap tak boleh jatuh pada posisi putus asa seperti ini.


"Tapi perasaan ini harus segera gue buang Anika, ini---salah."


.


.


.


.


Bersambung

__ADS_1


Instagram: siswantiputri3


Jangan lupa bantu tinggalkan jejak yang kawan, supaya bisa semangat lanjutin cerita ini.


__ADS_2