
Hati yang awalnya gundah kini mulai membaik, Anika tersenyum lebar tangannya sudah penuh jajanan yang ada dikantin belum lagi mejanya yang berisi bakso, batagor bahkan nasi kuning juga ada.
"Lo bilang gue tanggung jawab cuma dua kali lipat, ini sih bukan dua kali lipat." sewot Drian, dadanya dielus sabar meratapi dompetnya yang hampir kosong melompong.
"Kan emang dua kali lipat berlipat-lipat." jawabnya santai.
Drian berdecak, bisa-bisanya ia diperdaya oleh gadis didepannya, mau ia taruh dimana harga dirinya sebagai ketua kelas IPA 1 kalau begini.
"Lo boleh pergi." usir Anika tanpa perasaan.
Untuk kesekian kalinya ia hanya mampu menghela nafas, lebih baik mengalah dengan gadis itu daripada menimbulkan masalah baru, tanpa ingin melakukan aksi protes akhirnya ia bangkit dari duduknya, meninggalkan Anika yang sedang menikmati makanan hasil perasan.
Terhitung baru 2 menit kepergian sang ketua kelas kursi itu kini sudah diisi sosok yang baru, dengan polosnya pemuda yang baru saja duduk merampas bakso yang ada didepan Anika.
"Eh."
"Bagi dong." sela Rey.
"Enak aja, mahal nih."
"Gak peduli."
Anika menghela nafas jengah, untung hari ini hatinya berbunga-bunga, jadi memberi semangkuk bakso pada orang yang lebih membutuhkan sepertinya tak masalah, lagipula memberi makan pada orang kaya palsu seperti Rey termasuk sedekah.
Rey menelan bakso yang baru saja ia kunyah, matanya kembali fokus pada Anika yang juga menyantap batagor miliknya "gue heran sama Drian, tumben-tumbenan dia kucel kayak tadi." ghibahnya.
"Gak peduli, dan gak mau peduli." jawab Anika santai.
"Tapi jiwa kekepoan gue meronta-ronta." dramatisnya.
Anika mendengus malas, sepertinya tabiat perempuan dan pria sudah berubah, buktinya ia saja yang gendernya adalah perempuan tak sekepo pemuda itu.
"Lo ngerasa aneh gak?" tanya Rey dengan bahan ghibahan yang mendarah daging.
"Lo yang aneh." sarkas Anika.
Rey kesal sendiri, gadis didepannya sama sekali tak sejalan dengan dirinya jika menyangkut bahan ghibahan, padahal membahas tentang penampilan Drian salah satu misteri yang wajib diungkap.
"Eh...tapi gimana lo sama kepala sekolah, Ratu sama Emma juga gimana?" tanyanya penasaran.
Anika mengedikkan bahunya "gak gimana-gimana, tersangka ada untuk disidang, sidang ada untuk memberi ganjaran." jawabnya santai.
__ADS_1
Tak ingin bertanya lebih lanjut akhirnya Rey mengangguk paham, jujur ia cukup kecewa dengan dua gadis yang selalu bersamanya, terlebih pada Emma, padahal mereka bertiga bersahabat, bisa-bisanya gadis itu memojokkan Anika dengan argumen yang jelas salah.
Kalau untuk Ratu mungkin ia bisa sedikit memaklumi, walaupun sudah jelas dia tersangka utamanya, tapi mengingat tabiat gadis itu mungkin ia tak akan heran, apalagi julukan queen bullying yang sudah lama melekat pada dirinya.
"Anika."
Rey dan Anika sontak mendongak, keberadaa Emma dengan wajah gugup tampak memasuki indra penglihatan keduanya apalagi tangan yang saling diremas benar-benar tampilan seseorang yang patut diberi belas kasihan.
"Apa?" tanya Anika seadanya.
"Aku minta maaf."
"Oke."
Emma mendesah pelan, jawaban yang memang ingin ia dengar tapi kenapa hanya sesimpel dan sesantai itu seolah semuanya terdengar bukan masalah besar " kamu udah maafin aku?" tanyanya memastikan.
"Hu'um."
"Semudah itu?" tanyanya tak yakin.
Anika menopang wajahnya, pandangannya kembali menatap intens gadis yang masih berdiri disamping meja kantin "bukannya emang harus gitu kan? Sahabat ada untuk saling memaafkan, bukan memojokkan apalagi menjatuhkan." tanyanya santai dengan kalimat yang ditekankan.
Emma terhenyak, bibirnya mau tak mau membentuk senyum kaku mendengar jawaban yang masuk ke indra pendengarannya, pandangannya kini beralih pada Rey yang tampak acuh tak acuh.
Pemuda itu menaikkan sebelah alisnya, menatap Emma dengan pandangan tanya. Walaupun sebenarnya ia cukup penasaran melihat perban yang melilit kepala gadis itu.
"Kamu marah?" tanyanya pelan.
"Marah? Buat apa?" tanyanya acuh
Emma semakin gugup, mulutnya kembali terbuka Ingin mengatakan sesuatu, tapi ucapan dari pemuda itu membuat ia mengurungkan niatnya.
"Gue cuma gak nyangka sikap lo kayak gitu, atau mungkin gue emang gak tau kalau lo...bisa sepicik itu."
Anika bangkit dari duduknya, moodnya yang bagus tak akan ia rusak hanya karena gadis itu, waktunya juga terlalu berharga untuk membahas masalah yang tak perlu.
"Lo mau kemana?" cegah Rey.
"Ketempat yang jauh dari sumber masalah." jawabnya santai.
Tak ingin berlama-lama akhirnya ia pergi dari tempat itu, meninggalkan sebagian makanan yang masih berjejer pada meja kantin. Lebih baik ia mencari Ratu untuk, membahas masalah bisnis yang nantinya akan mengalir beberapa jumlah uang pada nomor rekeningnya.
__ADS_1
Sedang asyik-asyiknya celingak-celinguk akhirnya sosok yang dicarinya muncul, dengan hati yang kembali riang akhirnya ia menghampiri gadis itu, bibirnya tersenyum lebar sepanjang langkah kaki yang mulai mendekat, tapi sesuatu yang dilihat membuat ia urung menghampiri gadis itu.
PLAK
Ia baru sadar, sang primadona sekolah tak sendiri, ia bersama pria paruh baya yang beberapa saat lalu ia temui, Renandra Axelion dengan wajah marahnya terlihat jelas pada kedua bola mata Anika, belakang sekolah yang sepi membuat paruh baya itu ringan tangan menampar pipi putri bungsunya sendiri.
Sulit dipercaya! Kejadian yang jelas ia tonton secara langsung membuatnya terperangah, bahkan sekarang kakinya tak sanggup menghampiri gadis itu.
PLAK
PLAK
Dua kali tamparan susulan membuat kaki Anika benar-benar lemas, bola matanya kembali melebar saat rambut gadis itu tiba-tiba ditarik kemudian dihempaskan kasar. Dan itu penutupan dari drama ayah dan anak sebelum Renandra benar-benar pergi meninggalkan Ratu yang tertunduk dengan pandangan kosong menerawang kedepan.
Tak ada air mata, bahkan ia tak melihat Ratu meringis, gadis itu hanya duduk tak bergerak seincipun dari atas tanah, sikap sombong dan arogan juga menghilang dari tubuh sang primadona sekolah, sekarang ia sedikit iba dengan gadis itu.
"Tontonan yang mengejutkan." monolognya pelan.
Anika memutar badannya, bukan saatnya ia menghampiri gadis itu, walaupun cukup merasa kasihan tapi ia tak sebaik itu untuk menjadi pahlawan kesiangan bagi orang yang jelas-jelas menunjukkan sikap benci terhadapnya.
"Gue ngerasa orang-orang disekeliling gue gak ada yang benar-benar hidup normal." decaknya dengan kepala digeleng pelan.
Lebih baik ia menuju kelasnya, mengambil tas kemudian meninggalkan sekolah yang keadaannya sudah tak kondusif lagi, acara yang terpaksa dihentikan, bahkan kegiatan pentas tahunan untuk besok tak lagi dilanjut.
Mereka diliburkan satu hari sebelum kembali bersekolah dengan pembelajaran yang mulai normal kembali. Ternyata tak sia-sia Ratu dan Emma berbuat ulah, setidaknya ia bisa menikmati waktu libur kerena ulah mereka berdua.
"Kasur i'm coming."
.
.
.
.
Bersambung
Jangan pelit-pelit like, vote dan komen ya~bahkan komen 'semangat aja' senangnya pake banget.
Ig: siswantiputri3
__ADS_1
^^^01-JANUARI-2022^^^