Antagonis

Antagonis
Chapter 39


__ADS_3

"Lo gak mau lihat pembukaan pentas?" tanya Rey, tangannya sesekali menyendok bakso yang ada didepannya.


"Males." jawab Anika acuh, kepalanya ditopang menatap kantin yang sangat ramai karena beberapa anggota keluarga murid tampak menyantap makanan bersama anak mereka.


Benar-benar keluarga yang harmonis.


"Sekolah kita penuh ya." timpal Emma "lihat mereka buat aku iri, rasanya punya keluarga gimana ya?" tanyanya sedih, sorot matanya menyendu melihat keharmonisan dari beberapa keluarga yang menyapa penglihatannya.


"Gue emang gak pernah ketempat lo, tapi gue udah beberapa kali ketemu sama almarhumah Bu Sri, pemilik panti tempat lo tinggal dulu, bahkan dilihat dari segi manapun Bu Sri orangnya baik, harusnya dengan kasih sayang yang Bu Sri kasih ke lo buat lo bersyukur."


"Tapi tetap aja beda, aku juga pengen tau gimana rasanya berada diantara keluarga kandung aku sendiri." Emma menunduk dengan tangan memilin ujung rok abu-abunya.


"Lo tau rasanya disayang keluarga kandung lo?" tanya Anika.


Emma menggeleng pelan "aku udah tinggal dipanti sejak umur 3 tahun, bayangan tentang keluarga aku sendiri aja gak ada, makanya aku mau tau rasanya...aku rindu keluarga kandung aku."


"Lo gak perlu rindu sama orang yang bahkan gak lo kenal." jelas Anika santai, walau sebenarnya apa yang dirasakan Emma juga dirasakannya, tapi kali ini ia hanya ingin munafik, menyangkal apa yang ada dihatinya demi menghindari perasaan sesak saat orang lain bisa merasakan yang namanya keluarga sedangkan ia tidak.


Emma mengatupkan bibirnya, mulutnya tak bisa menemukan jawaban yang pas atas pernyataan Anika.


"Kalian udah lama kenal ya?" tanya Rey tiba-tiba, sedikit penasaran dengan kedua gadis yang menjadi sahabatnya sejak bersekolah disini.


"Kita gak sengaja ketemu ditaman saat umur 5 tahun, sejak saat itu aku sering ketemu sama Anika hingga jadi sahabat kayak sekarang." Emma tersenyum manis "eh pas SMA ketemu kamu, nambah deh sahabat 1." kekehnya pelan.


Rey ikut menyunggingkan senyumnya, tawa Emma benar-benar menular, wajah damai yang sangat bersahabat membuat gadis itu mendapat julukan gadis ramah disekolah ini.


"Eh...kamu udah ada puisi kan? Besok giliran kamu baca puisi diatas panggung." celetuk Emma.


"Hu'um."


"Lo udah ada persiapan juga kan?" tanya Rey, netranya fokus pada wajah damai Emma.


"Udah kok."


"Lo emang mau nampilin apa? Ngalahin Ratu buat jadi primadona sekolah lumayan susah sih." tambahnya lagi.


"Rahasia, kalian liat aja nanti." kekeh Emma melihat wajah kepo pemuda itu.


Anika mengambil bakso Rey yang tinggal satu, tak peduli dengan tatapan tak terima dari pemuda itu, ia terlalu malas berjalan memesan bakso yang antriannya cukup panjang.


"Kebiasaan." gerutu Rey.


PUK.


Anika mengenyit, kepalanya menoleh melihat seseorang yang menepuk punggungnya, matanya membulat dengan pandangan binar pada pria yang berdiri dengan senyuman lebarnya.


"KAK ABIAN." hebohnya bahagia.


Abian menepuk dahinya, tangannya melakukan gestur minta maaf saat penghuni kantin menatap kearah mereka dengan sirat terganggu, mau bagaimapun mereka cukup kesal waktu makannya harus terhenti karena teriakan cempreng yang cukup membahana.


"Duh mulutnya."

__ADS_1


Anika terkekeh pelan, mulutnya dibekap seraya mengatakan 'ups' dengan pandangan tak berdosa.


"Lo kan..." tunjuk Rey dengan pandangan berfikir, keningnya mengernyit menatap pria didepannya yang cukup asing "oh iya, lo kan pria simpanan Anika."


"Hah?"


"Mulut lo butuh disekolahin ya?" Anika memberenggut kesal, tangannya tentu tak tinggal diam karena detik berikutnya sudah mendarat mulus dijidat Rey.


"Jahat lo, udah selingkuh KDRT lagi."


Anika memutar bola matanya malas "gak usah dipeduliin kak, dia emang kayak gitu kadang otaknya nyangkut."


"Teman kamu?"


"Bukan, tapi babu Anika." jawabnya santai.


Abian terkekeh, tangannya mengusap pucuk kepala gadis didepannya, remaja itu benar-benar membuatnya terhibur.


"Kakak siapanya Anika?" tanya Emma tiba-tiba, suara lembutnya mengalihkan antenasi Abian, kening pemuda itu mengernyit menatap remaja SMA didepannya.


"Calon ayah dari anak-anak gue." serobot Anika, bibirnya tersenyum lebar dengan tampang tak berdosa.


Abian melotot, tangannya menyentil kening gadis itu, cukup terkejut mendengar jawaban tak difilter yang keluar dari mulutnya.


"Jahat." Anika mencebikkan bibirnya dengan tangan mengelus keningnya yang terasa sakit, sentilan dari kaum Adam ternyata tak main-main.


"Jadi calon tunangan kamu dia? Yang bareng kamu kesini tadi pagi?" tanya Emma polos.


"No." Anika menggelengkan kepalanya berulang-ulang "yang itu beda lagi." sambungnya santai.


"Heh...lo emang perlu direhabilitas kayaknya, udah berani selingkuh dari gue malah selingkuhnya gak satu lagi, bukan maen...." dramatis Rey.


"Kamu beneran punya calon suami dua?" tanya Emma syok.


Anika menampilkan cengiran polosnya "bercanda, dia kakak gue kok." tangannya merangkul bahu Abian, kakinya berjinjit menjangkau bahu yang cukup tinggi milik pria disampingnya.


"Oh." beo Emma.


"Alhamdulillah, lo masih jaga hati." celetuk Rey.


Anika memutar bola matanya jengah "lo gak ada harganya ya, diskon sana sini ke cewek-cewek yang lo liat."


"Enggak istriku." elak Rey.


"Terserah."


"Kamu beneran udah punya calon suami? Kok gak pernah bilang sama kakak?" tanya Abian, bola matanya menatap wajah Anika dengan pandangan serius.


"Itu---"


"Bener banget, gue aja suaminya gak dikasih tau." serobot Rey.

__ADS_1


"Ih, bukan gitu." kesal Anika.


"Terus kamu kesini bareng siapa?"


"AKU."


Suara dari seseorang mengalihkan antenasi mereka, tatapan keempatnya menatap pria dengan sorot dingin itu dengan pandangan berbeda-beda.


"Kakak tampan." celetuk Anika.


"Hmm." Adelard berdehem menyahuti panggilan dari gadis yang menurutnya cukup cerewet.


"Dia sama aku." jelasnya, tatapannya kini beralih pada seseorang yang menatapnya terkejut "ternyata dunia sesempit ini ya...dokter Abian." seringainya tipis.


"Kak Adelard kenal sama kak Abian?" tanya Anika tiba-tiba.


"Gak penting." jawab Abian.


Anika mengernyit, bahunya mengedik acuh tak mau ambil pusing, ia juga tak harus mengetahui mereka saling mengenal atau tidak, dirinya tak sekepo itu, setidaknya untuk sekarang.


"Kakak...CEO Lard corp." celetuk Emma polos.


Adelard mengangkat alisnya, pandangannya beralih pada gadis disamping Anika, perutnya cukup tergelitik melihat gadis cerewet yang mengganggu dirinya ternyata cukup pendek, bahkan tingginya hanya sampai ditelinga gadis yang barusan bersuara.


"Hmm."


"Kok bisa ada disini?" tanyanya lugu.


"Kan dia calon suami gue." celetuk Anika.


"HAAHHHH?"


Semua pandangan beralih kearah Rey, pemuda yang sejak tadi diam kini mengagetkan mereka dengan suara membahananya, dari segala kemungkinan yang ada! Kenapa pemuda itu yang sangat terkejut dengan bola mata melebar sempurna.


.


.


.


.


Bersambung


Jangan lupa tinggalkan jejak ya~tinggalkan like, vote dan komen supaya makin semangat lanjutinnya.


Ig: siswantiputri3


see you


^^^21-DESEMBER-2021^^^

__ADS_1


__ADS_2