
"Gimana introgasinya, lancar?" tanya Rey penasaran yang hanya dibalas edikkan bahu acuh dari Anika. Bukannya tak ingin memberi tahu hanya saja memang tak ada yang perlu disampaikan semuanya terjadi seperti yang seharusnya.
"Semoga semuanya baik-baik saja, dan pelakunya cepat ditemukan." ucap Emma.
"Tenang aja, pasti pelakunya akan ditemukan dan itu pasti." jawab Anika dengan pandangan serius.
Rey mengangguk setuju sambil mengeluarkan sendawa pelan dengan tangan menepuk perutnya yang sudah kenyang, dagunya ia topang kemudian tersenyum tipis melihat rombongan kelas genius IPA dengan pakaian praktek. Matanya menyusuri satu persatu barisan perempuan untuk mencari keberadaan sang primadona sekolah.
"Kamu nyari siapa Rey?" tanya Emma penasaran sambil mengikuti arah pandang pemuda itu.
"Ratu kok gak kelihatan ya?"
"Gak sekolah kali." jawab Anika santai, tak terlalu peduli urusan sahabatnya yang menurutnya tak penting.
"Gak mungkin! Orang ambisius sama nilai mana mungkin alpha sekolah, apalagi kelas dia hari ini ada jadwal praktek dilab buat pengambilan nilai."
"Bahkan kamu tau jadwal dia ya." kekeh Emma dengan perasaan iri berusaha ditahan, kuku jarinya memutih dengan tangan terkepal dibawah meja.
"Harus dong, masa gak tau ke sibukan calon pacar sendiri."
...***...
Berkas yang menumpuk bahkan tak membuat sosok CEO muda itu tergerak untuk mengerjakan tugasnya, pena yang ia pegang diketuk-ketukkan pada meja sambil berpikir masalah pelik yang sudah datang karena ulah adiknya sendiri.
"Daren." panggil Adelard datar pada sang asisten yang masih berdiri tegap menunggu perintah.
"Iya tuan!"
"Usahakan para polisi tidak bisa mengendus identitas asli Ian ataupun In. Terserah kau mau melakukan apa yang jelas jangan sampai mereka tau siapa sebenarnya pemilik nama itu."
"Tapi, mau sampai kapan anda menutupi kejahatan Adrian! Saya tau dia adik kandung anda sendiri tapi apa yang dia lakukan tidak bisa dibenarkan. Cepat atau lambat polisi pasti menangkapnya, mereka sudah menjadi buronan."
Adelard menghela nafas kasar "lakukan saja perintahku, yang jelas Adrian tidak akan ku biarkan mendekam dipenjara, setidaknya selama aku hidup polisi tidak bisa menangkapnya, walaupun saat ini dia sudah menjadi kriminal."
"Baik tuan Adelard."
...***...
__ADS_1
Anika berjalan santai memasuki pekarangan rumahnya dengan baju sekolah yang sudah tercetak sedikit keringat, alisnya menukik melihat adanya mobil polisi terparkir tepat didepan rumahnya. Tak ingin berpikiran negatif akhirnya ia berjalan ke dalam rumah tanpa ingin menimang-nimang apa yang sebenarnya terjadi.
"Nak Anika!" panggil Bu Sari tepat ketika kaki Anika melewati pintu rumah.
Perasaan was-was tak bisa disembunyikan melihat raut sedih, kaget dan takut pada wajah paruh baya itu. Apalagi melihat dua polisi yang kini duduk diatas sofa sambil menatap tegas ke arahnya. Ia merasa tak pernah melakukan kesalahan sampai bisa berhubungan dengan polisi. Ah! Kecuali masalah kebakaran panti Laksana satu tahun yang lalu tentunya.
"Ini ada apa ya?" tanya Anika sopan dengan wajah santai sebisa mungkin.
Sebuah kotak yang sudah dilumuri tanah tiba-tiba diletakkan diatas meja, kotak yang sangat familiar pada penglihatan gadis itu. Matanya tanpa diminta secara spontan membola, kotak yang kini dilihatnya adalah kotak yang sama dengan kotak waktu itu.
"Kamu pasti tau ini apa." ucap salah satu polisi dengan nada tegas.
Bukannya ingin menyangkal tapi bibirnya seakan keluh mengeluarkan suara, padahal ia sudah mengubur kotak itu dengan tangannya sendiri! Lalu kenapa bisa ada ditangan kedua polisi didepannya. Tidak! Bisa saja kotak itu adalah kotak yang berbeda.
"Kau pasti sudah tau tentang kabar kematian penjaga gerbang dikediaman Louis. Dan yah! Seperti dugaanmu, kotak ini kami temukan terkubur pada hutan dibelakang rumah ini." jelas polisi itu.
Kotak itu sedikit dibuka untuk memperlihatkan isinya, bau busuk yang sangat menyengat jelas tercium pada hidung Anika. Tangannya dikibaskan untuk mengurangi bau busuk hingga sang polisi menutup kembali kotak berisi kepala manusia itu.
"Jadi apa hubungannya dengan saya?"
"Cangkul?" tanya Anika syok, bagaimana mungkin? Ia dengan jelas membawa cangkul itu pulang ke rumahnya.
Lalu kenapa bisa kembali ke sana lagi! Atau mungkin ada orang yang sengaja menjebaknya? Atau jangan-jangan pria bertato itu sengaja memberinya paket seolah ia mendapat bantuan padahal hanya jebakan untuk dirinya seperti sekarang yang terjadi?
"Jadi maksud bapak kami dituduh terlibat dalam pembunuhan ini?" tanya Bu Sari angkat suara.
"Iya, kami akan melakukan pertanyaan labih lanjut dikantor polisi. Dan kami juga akan melakukan ke cocokan sidik jari pada cangkul itu."
Bu Sari menghela nafas pasrah, pandangannya terarah pada Anika yang masih diam dalam tempatnya "jangan takut nak, kita gak salah." ucapnya lembut sambil mengusap rambut gadis itu dengan sayang.
"Iya Bu, tapi Axel gimana?"
"Masih tidur nak! Tenang aja dia anaknya pulas dan lama kalau tidur. Kita pasti sudah pulang sebelum Axel bangun."
Anika mengangguk pelan, kemudian melangkah mengikuti dua polisi itu masuk ke dalam mobil. Bibirnya menghela nafas pelan, semoga kasus kesalah pahaman ini bisa diselesaikan.
...***...
__ADS_1
"Ini apa lagi Ian?" tanya In pelan saat melihat rekaman seorang gadis dibawah masuk ke dalam mobil polisi.
"Bukan apa-apa." jawab Ian santai sambil menghembuskan asap rokok berulang kali melewati mulut dan juga hidungnya.
"Bukan apa-apa! Lalu kenapa Anika bisa terlibat dengan polisi seperti ini?" tanya In pada adik angkatnya, ia benar-benar tak habis pikir dengan jalan pikiran pemuda belasan tahun itu.
Ian menghela nafas pelan, dengan santai ia memutari meja dimana In duduk berulang kali Kemudian mendudukkan tubuhnya pada kursi kayu dekat jendela.
"Gue cuma gak mau seseorang menghalangi ke senangan gue. Beberapa hari yang lalu bang In sudah beri dia kemudahan untuk membongkar identitas gue kan! Tapi gak apa-apa, seberapa keraspun abang bantu dia maka gue juga akan buat dia susah berkali-kali lipat."
"Ini sudah keterlaluan."
Ian mengedikkan bahunya acuh "kalau mau jahat sekalian jahat, gak usah nanggung-nanggung. Selama ini kita udah bunuh puluhan orang tapi kenapa baru sekarang bang In protes?"
"...."
"Gue pasti berhenti tapi bukan sekarang."
"Harusnya sejak awal aku melarangmu mengikuti jejak kriminalku. Ini sudah terlalu jauh Adrian."
"Kalau bang In udah gak mau ikut campur sama masalah gue gak apa-apa, tapi jangan halangi gue untuk balas dendam. Apalagi bantu dia untuk apapun itu." jelas Ian datar.
Tidak ada yang bisa In lakukan sekarang, adik angkatnya ini sudah sangat jauh masuk pada kubangan dendamnya sendiri, ia benar-benar tak akan berhenti sampai semuanya selesai.
"Tapi tenang aja, Anika! Ah atau lebih tepatnya orang yang sudah bang In anggap sebagai adik sendiri gak akan masuk penjara kok. Itu cuma sedikit kejutan kecil dari gue." celetuk Ian kemudian melangkahkan kakinya pergi meninggalkan In yang menghela nafas pasrah.
.
.
.
.
Bersambung.
Instagram: siswantiputri3
__ADS_1