
"Soal----"
"Sekolah Anika bakal adain pentas tahunan loh." pamer gadis cantik itu, bibirnya menyunggingkan senyum sombong pada pria didepannya, setidaknya pengalihan topik pembicaraan ini bisa membuat Abian merasa lebih plong.
"Oh ya?"
Anika menganggukkan kepalanya, tiket yang ada disaku celananya ia keluarkan "jreng jreng jreng..." tangannya tersodor menyerahkan tiket itu pada Abian.
"Buat kakak?" tanyanya menunjuk diri sendiri.
"Kak Abian datang sebagai kakak Anika." jawabnya dengan binar mata cerah pada dokter muda didepannya.
Apa yang diucapkan Anika cukup membuat Abian terharu, bibirnya ikut mengulum senyum lebar dengan tiket yang dipegangnya erat, setelah sekian lama akhirnya ia kini bisa berperan lagi menjadi seorang kakak.
"Pentas sekolah diadain 4 hari, besok hari pertama pembukaan pentas."
Abian mengangguk, tangannya mengacak rambut Anika pelan "kalau gitu kakak balik ke rumah sakit dulu."
"Oke." tangannya terangkat membentuk huruf 'o' dengan senyum merekah sempurna.
Gadis cantik itu memandang punggung Abian yang mulai menjauh, matanya masih mengikuti pergerakan pria itu hingga menghilang dari balik pintu "gue masih bingung." monolognya.
Ia bangkit dari duduknya, tungkainya berjalan menuju kamar pribadinya dengan langkah lesu. Jam sudah menunjukkan pukul 17:01, waktu berjalan cepat tanpa ia sadari.
Anika menatap langit kamarnya dengan wajah datar "gue yang bodoh atau orang itu yang terlalu pintar, walaupun kak Abian udah jawab pertanyaan gue, tetap aja gue ngerasa orang yang ikut andil dalam masalah ini ada disekitar gue."
Ia berdecak kesal "ck...taulah, ribet."
...***...
Tok...tok...tok....
Ketenangan yang dialami Emma harus terganggu karena ketukan pada pintu kontrakannya "iya tunggu."
__ADS_1
"Ada apa Bu?" tanyanya setelah pintu berbahan tripleks itu berhasil dibuka.
"Udah satu minggu kamu tinggal disini, tapi kamu sama sekali belum membayar uang kontrakan." ucap sang wanita paruh baya.
Emma menunduk bingung, terbakarnya panti asuhan tempatnya tinggal benar-benar merubah hidupnya, satu hari luntang-lantung mencari tempat tinggal yang murah benar-benar susah, apalagi ia hanya memegang uang 1 juta lebih, dan uang itu juga digunakannya untuk makan sehari-hari.
"Saya sudah cukup baik memberi kamu waktu, tapi sampai sekarang kamu belum membayar sepeserpun." tambah sang ibu kontrakan.
"Maaf Bu, aku masih belum punya uang, aku gak tau mau cari uang dimana." jawabnya sedih, wajahnya terangkat menatap wanita paruh baya didepannya dengan wajah sendu "bahkan aku gak pernah nyangka bakal keluar dari panti dengan cara kayak gini." lirihnya.
Sang ibu kontrakan menghela nafas pelan, ia cukup tau musibah apa yang dialami remaja didepannya, tapi ia juga tak bisa mentoleransi jika terus seperti ini, keluarganya juga butuh nafkah, suaminya yang meninggal 2 tahun yang lalu membuatnya harus menanggung kebutuhan hidup kedua anaknya dan juga ibunya yang sudah rentan.
Ia bahkan sudah berbaik hati memberi keringanan pada gadis itu, kontrakan yang harganya 500 ribu perbulan sudah ia potong menjadi 300 ribu perbulan.
Seandainya rasa kemanusiaannya sudah pupus ia mungkin tak mau berbaik hati pada gadis panti itu. Tapi, mau bagaimanapun kondisi ekonominya! Ia juga tak tega pada gadis yang usianya hampir sama dengan anaknya.
"Jadi, kapan kamu bisa bayar? Ibu juga butuh uang, banyak kebutuhan yang ibu harus bayar."
"Kasih aku waktu satu minggu lagi, aku janji bakal bayar lunas biaya kontrakan bulan ini dan bulan depan." mohon Emma.
"Makasih Bu." Emma tersenyum tipis, ia berbalik masuk kedalam kontrakan setelah permasalahan yang dialaminya sudah selesai, setidaknya untuk beberapa hari kedepan.
Ekspresi wajahnya berubah menjadi datar setelah sepenuhnya masuk kedalam kontrakan, matanya menatap seisi ruangan sempit yang menjadi tempatnya tinggal.
Kamar tidurnya berdinding tripleks, tak ada yang namanya ruang tamu, hanya ada 1 ruangan sekaligus tempatnya memasak. Harusnya hidupnya tak sesulit ini, andai saja panti asuhan tempatnya tinggal tak terbakar, ia tak mungkin mengalami kehidupan seberat ini, setidaknya tempat yang disebut panti jauh lebih besar dan nyaman dibandingkan kontrakannya sekarang.
"ARGHHHHH SIAL.....padahal semuanya udah gue susun, harusnya panti gak kebakar, harusnya gue bisa dapatin semuanya...." Emma terduduk lesu, kepalanya diacak karena keadaannya kian pelik "tinggal sedikit lagi, tinggal sedikit lagi hidup gue enak."
"ARGHHHHH...." barang yang ada disekitarnya ia pecahkan, tak peduli dengan kondisi sekitarnya yang mulai tak karuan "GUE GAK MAU SUSAH, GUE GAK MAU TINGGAL DIKONTRAKAN SEMPIT INI." teriaknya frustasi.
Air mata Emma meluruh, tubuhnya terguncang menahan isak tangis yang mulai keluar "gue fikir setelah semua yang udah gue lakuin hidup gue akan membaik, kenapa sekarang keadaan gue makin mencekik." isaknya lirih.
"Gue gak mau kayak gini."
__ADS_1
...***...
Adelard melirik jam yang ada diruangannya, bibirnya menghela nafas pelan saat waktu sudah menunjukkan cukup larut, gara-gara ia kerumah gadis itu waktunya terbuang sia-sia, berkas yang harusnya sudah selesai malah masih ia urus.
Bahkan mansionnya hanya sekali ia injakkan, kantornya benar-benar sudah menjadi tempatnya tinggal.
"Berkas ini harus selesai malam ini, besok waktunya mencari Adrian, aku gak akan biarin anak itu main petak umpet lagi." monolognya pelan.
"Ck...awas aja kalau anak nakal itu ketemu." kesal Adelard, ia tak habis fikir dengan jalan fikiran adiknya, padahal waktu kecil adiknya anak manja yang tak bisa apa-apa, bahkan membunuh semut saja ia tak sanggup, bahkan butuh 7 hari 7 malam membujuknya agar berhenti menangis saat ia meninggalkannya kerumah sang kakek.
Adelard menghela nafas pelan, ia Jadi rindu dengan pria tua itu, sang kakek yang menjadi idolanya, pria dengan pemikiran luas dan juga santun, dan kini pria tua itu sudah menyatu dengan tanah bersama kedua orangtuanya.
Semuanya benar-benar berubah, bahkan sekarang ia yakin kepribadian adiknya juga pasti berubah, buktinya! Adrian yang dulunya tak bisa jauh darinya kini bisa hidup bertahun-tahun tanpa dia disampingnya.
Adelard mengusap wajahnya kasar, netranya kini kembali fokus pada beberapa tumpukan berkas yang ada didepannya, mau sengantuk dan selelah apapun kondisinya ia harus tetap teliti membaca berkas penting yang ada dimejanya.
Bisa saja keteledorannya nanti membuatnya rugi ratusan juta, bahkan lebih, tentu ia tak mungkin membuang-buang uangnya secara cuma-cuma.
Membangun perusahaan dan mengembangkannya jauh lebih susah dibandingkan membuatnya bangkrut, mempertahankan perusahaan sebesar ini cukup membuatnya kewalahan, otaknya tak boleh cacat sedikitpun jika ingin tetap bertahan, kinerjanya harus cepat tanggap menganalisis sesuatu yang berhubungan dengan perusahaannya ini.
.
.
.
.
Bersambung
Hallo guys~jangan lupa tinggalkan jejak ya, cantik, manis, ganteng, imut. Luangkan waktu beberapa detik buat klik tombol like dan tulis komentar. Okey~
see you
__ADS_1
Ig: siswantiputri3
^^^18-DESEMBER-2021^^^