
Anika bangun dari tidurnya, matanya melirik jam yang kini menunjukkan pukul 22:03 malam, dengan langkah lunglai ia menuju kamar mandi untuk membersihkan masker wajahnya.
Bibirnya menghela nafas pelan, tinggal seorang diri dengan hujan deras yang kini mengguyur bumi menambah rasa kesepian pada dirinya malam ini, padahal ia sudah terbiasa tapi tetap saja keinginan merasakan lengkapnya keluarga masih tetap ada.
Tangan lentiknya menarik kalung dilehernya pelan, bibirnya menyunggingkan senyum tipis "padahal gue kira bahagia gue akhirnya datang." ucapnya miris.
TOK...TOK...TOK....
Gadis cantik itu mengernyitkan keningnya, sedikit bingung dengan orang yang berkunjung kerumahnya malam-malam begini, apalagi diluar hujan deras, cukup membuat ia merasa was-was tiba-tiba.
"Siapa sih."
TOK...TOK...TOK....
Dengan sedikit keberanian Anika keluar dari kamarnya, kakinya melangkah pelan menuju pintu utama yang ada diruang tamu.
Bibirnya menghela nafas pelan sebelum ia membuka pintu kayu didepannya, dengan rasa gugup yang menyerang akhirnya dengan keberanian penuh akhirnya pintu itu berhasil ia buka.
Bibirnya keluh dengan bola mata melebar melihat siapa orang yang berdiri didepan rumahnya, tubuh basah kuyup tak lupa wajah yang terlihat sangat pucat membuatnya tak bisa berkata apa-apa, ia terlalu terkejut bahkan fikirannya tak pernah menyangka kedatangan orang didepannya.
"Kak Abian." ucapnya pelan.
GREP
Otak Anika tiba-tiba blank, ia tak tau harus melakukan apa saat tubuhnya tiba-tiba direngkuh oleh pria yang sudah menyandang sebagai kakaknya.
"Kak Abian baik-baik aja?" tanyanya khawatir, tangannya terangkat mengusap punggung tegap milik pria itu.
"Padahal udah bertahun-tahun." racaunya lirih.
Anika semakin bingung, ia tak tau harus melakukan apa pada situasi ini, apalagi merasakan tubuh bergetar dari pria yang masih memeluknya erat, dapat ia rasakan pelukan itu semakin mengerat.
"Gimana rasanya keluar dari mimpi buruk yang setiap saat buat kita terasa dicekik? Bahkan rasanya mati terdengar lebih baik daripada harus menanggung perasaan ini." tubuh Abian semakin bergetar, bahkan suaranya kini terdengar parau. Anika semakin tak mengerti situasi yang dialaminya sekarang.
"Kenapa harus tanggal 05?" racaunya lagi, gadis itu layaknya patung yang tak bisa berbuat apa-apa, kini perasaan khawatir muncul menggorogoti hatinya.
Tangannya mengusap punggung Abian pelan, bahkan ia tak peduli dengan bajunya yang ikut basah, kondisi pria yang biasanya ceria kini benar-benar berbeda, sebenarnya kehidupan apa yang dijalani dokter mudah ini?
"Tanggal 05 dia lahir....dan tinggal 05 juga dia menyatu dengan tanah..."
Anika memajamkan matanya, tangannya membalas pelukan dari Abian lebih erat, ia mulai mengerti, walaupun hanya sebagian kecil dari ucapan pria itu.
__ADS_1
"Tangan ini...tangan ini yang buat dia mati...."
Walaupun cukup terkejut tapi Anika tak bisa menghakimi, apalagi mendengar nada frustasi yang keluar dari mulut Abian, benar-benar membuatnya ikut merasakan sesak.
Gadis itu semakin mematung, apalagi telapak tangan besar kini mendarat pada kedua pipinya, matanya mengerjap, kepalanya mendongak menatap Abian yang kini menatapnya sendu.
"Maafin kakak..."
Dua kata yang keluar dari mulut pria itu sebelum terjatuh menghantam dinginnya lantai, Anika masih tak bergeming ia bingung, maaf itu untuk siapa? Apa karena Abian merasa bersalah mengganggu waktu tidurnya dan juga membuat bajunya basah?
Gadis itu menggelengkan kepalanya, dengan tergesa-gesa ia berjongkok dengan tangan menepuk pipi Abian agar segera tersadar, ia tak mungkin membiarkan pria itu tidur semalaman didepan rumahnya dengan keadaan hujan.
"Maaf...."
Anika menghela nafas pelan, bau alkohol dari mulut Abian benar-benar menyengat, ditambah racauan 'maaf' berulang kali pria itu ucapkan dalam kondisinya ini.
"Maaf...maaf....."
"Kak Abian bisa berdiri kan?" tanya Anika khawatir, walaupun ia tau pertanyaan barusan terdengar bodoh tapi ia juga tak bisa berbuat apa-apa, tidak mungkin badan sebesar ini ia angkat masuk kedalam rumahnya, ia bagaikan kerdil jika dibandingkan dengan Abian.
"Ayo kak, Anika bantu." dengan susah payah gadis itu membantu Abian masuk kedalam rumahnya, dengan langkah sempoyongan akhirnya tubuh pria itu bisa ia tidurkan pada sofa diruang tamu.
Nafas Anika tersenggal-senggal, padahal ia hanya berjalan dari luar rumahnya menuju ruang tamu, tapi tetap saja itu cukup membuatnya lelah, apalagi tubuh Abian yang lumayan besar.
"Ah...gue ganti baju dulu, nanti baru dipikirin lagi."
Dengan langkah tergesa-gesa ia masuk kedalam kamarnya, tanpa membutuhkan waktu lama akhirnya baju basah yang melekat pada tubuhnya digantikan dengan baju lain.
Anika kembali menuju ruang tamu melihat keadaan dokter muda itu, otaknya berfikir keras mencari solusi dengan masalahnya ini.
"Oh iya..."
Gadis itu kembali ke kamarnya, ia mengambil ponsel miliknya yang kini ada diatas nakas, dengan cepat ini menelpon seseorang diseberang.
"Hal---"
[Lo bisa nelponnnya ingat waktu gak?]
Anika menghela nafas pelan, suara serak khas bangun tidur menyambut indra pendengarannya, ini juga memang salahnya sih.
"Lo kerumah gue buruan." perintahnya.
__ADS_1
[Hoaammm...lo ngelantur ya? Ini udah malam, gue mau lanjut bobo ganteng...bay----]
"Gue jamin lo gak bisa buka mata lagi Rey kalau lo gak kesini." ancam Anika.
"[Ck...lo kenapa sih? Lo beneran ngelantur ya?]
"Enggak, lo kesini buruan, jangan lupa bawa baju, celana, dalaman sama jaket."
[Lo beneran sehatkan? Ngapain gue bawah pakaian gue kerumah lo, atau lo mau pelet gue ya...ngaku lo]
"Ini buat Abian." jujurnya.
Anika mengernyitkan keningnya saat mendengar nada grasak-grusuk dari seseorang diseberang. Ia bingung apa yang dilakukan pemuda itu sampai berisk seperti itu.
[Lo melihara cowok? Lo gila ya, ngapain lo berduaan malam-malam begini? Malah hujan lagi]
"Makanya lo kesini supaya gak terjadi hal-hal yang gak diinginkan." perintahnya, ia tersenyum tipis mendengar langkah kaki tergesa-gesa dari seberang.
[Oke tung---]
Anika mematikan teleponnya secara sepihak, akhirnya pemuda itu datang kerumahnya tanpa ada lagi perdebatan yang berkelanjutan.
Ia berjalan menuju sofa disebelah Abian yang saat ini berbaring, kakinya diselonjorkan pada meja didepannya, matanya belum merasakan ngantuk. Pandangannya kini beralih pada Abian, ia cukup penasaran dengan kehidupan apa yang dialami dokter mudah itu.
"Padahal gue kira, gue adalah orang yang paling menderita didunia ini."
Anika menghela nafas pelan, hidup memang benar-benar menjalankan dramanya dengan sangat baik. Ia sampai bingung! Kesakitan yang dialaminya sebenarnya berapa persen dari kesakitan yang dialami orang disekitarnya?
.
.
.
.
Bersambung
Hallo guys~jangan lupa vote like dan komen ya, dukung cerita ini dengan cara tinggalkan jejak.
see you
__ADS_1
Ig: siswantiputri3
^^^09-DESEMBER-2021^^^