
"Sebenarnya kami sudah punya cukup bukti untuk menahan kamu, jadi ini adalah kesempatan terakhir untuk kamu menceritakan semuanya." tutur sang polisi tepat mengarah pada Anika tentu hal itu mengundang raut marah pada wajah remaja belasan tahun didepannya.
"Apa maksud bapak!" bentak Anika.
"Sudah saya katakan, kami sudah memiliki cukup bukti tentang kejahatan kamu itu. Jadi bisa ceritakan kisah lengkapnya pada saya kenapa kamu melakukan itu semua?" tanya sang polisi dengan raut tenang.
"Bapak jangan bicara omong kosong ya, atas dasar apa bapak nuduh saya melakukan tindakan kriminal itu?"
"Tenang nak." bujuk Bu Sari sambil mengelus punggung gadis disampingnya berulang kali.
"Gak bisa Bu, ini bukan nanya namanya tapi nuduh! Anika gak terima dihakimi kayak gini. Lagian bukti apa yang mereka punya sampai nuduh Anika segitunya."
"Iya nak ibu ngerti, tapi kamu tenang dulu jangan kebawa emosi kayak gini." tutur Bu Sari lembut.
Anika menghela nafas pelan walaupun sebenarnya perasaan kesal masih sangat jelas pada dirinya, tapi apa yang dikatakan paruh baya itu ada benarnya. Masalah tak akan pernah selesai jika hanya mengandalkan ucapan yang sudah terkontaminasi oleh emosi.
Saat sibuk meredakan emosi tiba-tiba ada satu orang polisi yang tampak menghampiri polisi didepannya sambil berbisik pelan, tentu hal itu mengundang kernyitan samar pada dahi Anika.
"Saya minta maaf untuk keteledoran ini, pelakunya sudah ditemukan dan kalian sudah bebas dari introgasi ini." celetuk sang polisi santai membuat Anika semakin geram melihat keangkuhan pria paruh baya didepannya.
"Bapak gak pantas jadi polisi." sarkas Anika sambil menarik lembut tangan Bu Sari untuk pergi dari sana. Bahkan ia tak peduli jika polisi didepannya tersinggung akan ucapannya karena menurutnya apa yang ia katakan adalah kebenaran.
"Tutup kasus ini."
"Ta--tapi pak."
"Tidak usah membantah."
"Baik pak."
...***...
Umpatan demi umpatan Anika keluarkan didalam mobil taxi yang ditumpanginya, ia benar-benar tak habis pikir dengan tingkah semena-mena dari seseorang yang katanya sumber keadilan. Nyatanya apa yang orang itu perbuat tak bisa disebut sebagai seorang polisi, tingkah orang itu sungguh menyulut emosinya.
__ADS_1
"Sabar nak, yang penting kan kamu gak jadi tersangka lagi." ucap Bu Sari lembut yang hanya dibalas cebikan kesal dari Anika karena belum bisa menerima sepenuh hati perlakuan polisi itu.
"Tapi kan---"
TING.
Dering pesan dari bendah pipih persegi panjang yang ada pada saku bajunya mampu menghentikan celotehan dari bilah bibirnya, dengan perasaan yang masih dongkol ia membuka pesan dari seseorang tak dikenal.
From: 6285*********
Gimana kejutannya babbe? Apa menyenangkan! Ah sayang gue gak bisa nemuin lo karena janji sialan itu.
Anika mengepalkan tangannya, melihat isi pesan pada ponselnya cukup membuatnya yakin kalau orang itu adalah orang yang sama dengan orang yang sudah merecoki hidupnya.
Kepalanya benar-benar akan meledak jika terus berada pada genggama pria itu, tapi sebelum ia membalas lebih lanjut ia akan memastikan lebih dulu kalau orang itu memang benar teman kelasnya-Drian atau bukan! Ia tak mau salah langkah dan malah menghakimi orang lain.
"Nak Anika baik-baik aja?" tanya Bu Sari khawatir membuat Anika tersentak kemudian tersenyum manis pada paruh baya disampingnya.
"Syukurlah."
...***...
Video berdurasi pendek dari dalam ponselnya mampu membuat Emma mengembangkan senyum manisnya. Tubuhnya ia rebahkan diatas kasur sambil menatap video itu dengan binar mata senang. Rencana yang sudah ia susun akhirnya bisa dilestarikan dalam bentuk video yang akan mencari kehancuran sahabat tersayangnya itu.
"Posting, enggak, posting, enggak, posting, enggak." kekeh Emma sambil menggigit bantal yang kini sudah didekapnya erat. Tawanya semakin keras membayangkan sahabatnya menjadi bahan cemoohan disekolah tempat mereka menimba ilmu.
"Gue sebenernya kasihan." lirih Emma sambil menerawang kedepan menikmati atap kontrakan yang sudah berlubang, bahkan air matanya meluruh melewati pipi tirusnya tanpa diminta.
"Bagaimanapun lo sahabat gue Anika, kita udah kenal lama banget bahkan gue udah anggap lo saudara sendiri. Gue gak tega liat lo menderita." ucap Emma sedih, bibirnya menghela nafas pelan kemudian bangkit dari tidurnya. Ia menghentikan langkahnya tepat didepan sebuah cermin yang kini memantulkan dirinya sendiri.
"Tapi gue gak bisa lihat lo senang, gimana dong?" tanyanya lirih, bibirnya tiba-tiba berkedut menahan tawa renyah yang akan keluar dari mulutnya. Suara tawa yang awalnya pelan kini mulai keras seiring air mata yang kini kembali meluruh dari kedua pipinya, bahunya bergetar hebat sambil menutup wajahnya menggunakan telapak tangannya sendiri.
"Lo ada sebagai pelengkap tapi kehidupan lo terlalu sempurna, gue--gue gak suka orang dari latar belakang yang sama dengan gue lebih bahagia dan punya kehidupan yang layak. Diadopsi oleh orang tua lengkap, dapat orang tulus kayak Rey yang selalu prioritasin dia dan juga wajah secantik itu, gue....iri."
__ADS_1
Emma lagi-lagi mengeluarkan tawa lebarnya, kepalanya diacak kasar sambil menarik rambutnya berulang-ulang. Tak peduli dengan adanya rontokan dari rambut panjang sepinggangnya.
"Dari dulu lo selalu bahagia, kenapa lo harus jadi prioritas semua orang Anika! Kenapa bukan gue. Kenapa kak Sindi harus mati karena nyelamatin lo? Kenapa kak Garen harus terbunuh karena lindungin lo dan kenapa Yuda lebih milih keluar negeri karena udah lo tolak daripada nerima cinta gue dan sekarang kenapa Rey juga lebih peduliin lo daripada gue?" lirih Emma.
"Padahal kita sama kan? Gue dan lo sama-sama berasal dari panti asuhan, tapi kenapa kehidupan lo jauh lebih baik dari gue." tanya Emma dengan tawa hambarnya. Kepalanya ia pukul kasar sebagai pelampiasan rasa cemburunya pada sahabatnya sendiri.
"Gue gak suka kayak gini. Tapi gue lebih gak suka sama lo. GUE GAK SUKA LIAT LO BAHAGIA, GUE GAK SUKA, GAK SUKA ANIKA." teriak Emma marah sambil melemparkan barang-barang yang ada disekitarnya. Ia muak dengan kehidupan menyedihkannya ini.
...***...
Anika memejamkan matanya, dadanya terasa sesak tiba-tiba. Entah apa lagi yang terjadi pada dirinya saat ini! Dengan helaan nafas pelan ia berusaha menormalkan degup jantungnya yang berdetak lebih cepat dari biasanya.
"Nak Anika kenapa? Sakit?" tanya Bu Sari khawatir, apalagi melihat keringat dingin pada pelipis gadis disampingnya padahal sebelumnya gadis itu baik-baik saja tapi sekarang wajahnya sudah terlihat pucat.
"Anika gak apa-apa Bu, tadi kaget aja pas dilampu merah ada yang godain Anika malah aki-aki lagi. Untung jantung Anika gak pindah kedengkul saking kagetnya, orang cantik emang banyak cobaannya sampai heran aku tuh."
Sari terkekeh pelan mendengar ucapan gadis itu, walaupun ia tak sepenuhnya yakin mendengar jawaban Anika tapi ucapan gadis itu cukup membuatnya tergelak, ia sampai bingung harus mengimbangi celotehan remaja itu dengan cara apa! Pantas saja anaknya sangat nyaman berada didekat remaja disampingnya ini.
.
.
.
.
Bersambung.
Instagram: siswantiputri3
Jangan lupa tinggalkan jejak orang baik :)
Cerita lain judulnya 'suami cadangan'
__ADS_1