Antagonis

Antagonis
Chapter 14


__ADS_3

Rey melepaskan pelukannya saat dirasa sahabatnya mulai sedikit tenang, matanya menatap iba gadis lugu didepannya "coba jelasin sama gue kenapa tempat lo bisa kebakaran?" tanyanya lembut.


Emma menundukkan kepalanya, matanya memejam menahan sesak yang masih menumpuk, helaan nafas berhasil lolos dari bibirnya, setidaknya ia harus bersyukur berkat sahabatnya perasaannya sedikit membaik.


"Aku gak tau, tapi mereka bilang karena kebocoran gas." jelasnya lirih.


Anika memajukan badannya, tangannya mengelus punggung Emma prihatin "lo yang sabar, tapi...apa mereka beneran gak ada yang selamat?" tanyanya hati-hati.


Anggukan pelan Emma berikan sebagai jawaban, bibirnya digigit pelan mengingat seluruh keluarganya dipanti pergi meninggalkannya, hatinya benar-benar sesak mengingat semua itu.


"Lo yang sabar, gue dan Rey masih ada sebagai sahabat lo, lo gak cocok sedih kayak gini." Anika tersenyum lembut, telapak tangannya menepuk pundak Emma pelan.


"Iya, keluarga lo pasti udah bahagia. Oh ya...mereka dikubur dimana, gue dan Anika bakal temenin lo kemakam mereka." sahut Rey.


Rasa sesak kian merambat kesela-sela tubuh Emma, fikirannya kian tak menentu mendengar pertanyaan Rey, bahkan ia baru sadar sekarang "ak--aku...mereka belum dimakamin."


"Kok bisa?"


"Karena kebakaran itu rumah panti benar-benar hangus, pas aku datang semuanya udah rata dengan tanah." ucapnya lirih.


"Berarti gak ada bukti kalau keluarga lo udah meninggal." jelas Anika, bibirnya tersenyum lembut menyalurkan harapan pada gadis didepannya.


Emma tampak berfikir, ada binar dari kedua bola matanya tapi itu hanya bertahan beberapa saat "tetangga panti aku bilang mereka semua ada didalam sana sebelum ledakan itu terjadi."


"Lo gak boleh pesimis gini dulu, siapa tau keluarga lo memang benar-benar selamat." timpal Rey.


Emma semakin menundukkan kepalanya, tangannya saling meremas mendengar ucapan pemuda didepannya "kalau mereka selamat harusnya mereka kasih kabar ke aku kan?"


"Kalau gitu ada dua kemungkinan, keluarga lo menghilang karena memang hangus jadi abu atau mereka sengaja ninggalin lo." sahut Anika dengan wajah serius, matanya menyorot tepat pada manik hitam milik gadis itu.


"Tapi kenapa?" sela Rey cepat.


Anika sontak mengangguk "lo benar, tapi kenapa? harusnya Emma yang bisa jawab pertanyaan ini kan?" ucapnya santai.


Seluruh tubuh Emma menegang, aliran darahnya seolah berhenti, bahkan kinerja otaknya mendadak hilang seketika, matanya menatap kedua sahabatnya bergantian, detik berikutnya cairan bening luruh tanpa bisa ditahan.


Tangannya terangkat menutup wajahnya yang mulai memerah, bahunya bergetar menahan tangis yang kian menjadi "hiks...salah aku apa?" tanyanya serak.


"Hikss...a--apa mereka beneran tinggalin aku?"


"Lo tanya sama diri lo sendiri, salah lo apa?" sahut Anika, wajahnya tampak tenang melihat gadis didepannya yang makin terguncang.


"Hiks...aku gak tau, sa-salah aku apa."


Rey mengelus punggung sahabatnya, matanya menatap sedih gadis didepannya yang tampak bergetar "gak mungkin mereka sengaja ninggalin lo, mungkin emang benar mereka udah gak ada karena kebakaran itu."


"Hiks...ta-tapi---"

__ADS_1


"Udah, mereka gak mungkin kayak gitu, lo orang baik." Sela Rey cepat.


Anika ikut menampilkan senyum lebar "orang baik harusnya gak ditinggalin dengan sengaja kan?" timpalnya santai.


Senyum Emma sedikit terbit, airmatanya diusap kasar sambil menatap Rey dan Anika bergantian "makasih mau jadi sahabat aku."


"It's okey." serentak mereka berdua.


...***...


Waktu santai yang sedang dinikmati pemuda tampan dengan segelas kopi diatas mejanya akhirnya terusik, fikirannya tiba-tiba terlempar pada gadis remaja yang beberapa hari merangkap sebagai adiknya.


Tatapan Abian menerawang kedepan, walaupun sempat mengenyahkan! pada akhirnya keingin tahuannya tetap kembali, ingatan tentang kondisi Anika yang tampak memprihatinkan kembali terngiang.


Ingin abai? tapi tak bisa, apalagi ia sudah menganggap gadis itu sebagai adiknya, fikirannya mencoba menemukan bukti kenapa gadis itu bisa tampak kacau dengan luka jahit pada bagian perutnya?


"Ada apa sebenarnya? apa Nika korban penculikan?" tanyanya pada diri sendiri.


Abian menghela nafas frustasi, ia benar-benar tak bisa begitu saja melupakan pertemuannya dengan gadis itu, Anika seolah memiliki magnet yang saling terhubung dengannya, dan itu menimbulkan rasa keingintahuan untuk mengenal lebih jauh tentang gadis yang sudah diangkatnya sebagai adik.


"Cepat atau lambat pasti semuanya akan terjawab." monolognya yakin.


...***...


"Nangis juga ngeluarin banyak energi." Anika menyodorkan air mineral kehadapan Emma.


Rey mengaduk bakso yang sudah dipesannya, matanya sesekali memantau Emma yang masih terlihat kacau, ia harus berjaga-jaga agar jiwa gadis itu tidak kembali terguncang.


"Kamu kenapa Rey?" tanya Emma tiba-tiba, tatapan matanya masih terlihat sayu.


Pemuda itu menggeleng cepat "gue cuma khawatir sama lo."


Emma tersenyum tipis "aku udah gak apa-apa kok, mending kamu makan bakso kamu aja."


"Oke."


Anika mengetuk-ngetukkan jarinya, wajahnya berkerut memikirkan sesuatu "hmm...kayaknya ini bukan waktu yang pas, tapi...daripada lo terjebak dalam kesedihan lo itu, mending lo ikut andil dalam acara sekolah." jelasnya sambil menatap Emma serius.


"Acara apa?" tanya Emma bingung.


"Pentas tahunan." timpal Rey.


"Hmm...boleh."


Rey dan Anika saling pandang, mereka tersenyum dengan kepala mengangguk yakin, rencana mereka sepertinya akan berjalan lancar.


"Gue sama Anika sepakat ngajuin nama lo jadi calon primadona sekolah kita buat tahun ini."

__ADS_1


Emma membulatkan matanya, kepalanya menggeleng cepat "gak mungkin, apalagi ada Ratu, kalian pasti bercanda."


"Gak ada salahnya mencoba, siapa tau Lo bisa ambil gelar primadona sekolah dari Ratu, walaupun tuh anak cantik tapi dia suka seenaknya nindas murid disini, apalagi gak ada yang bisa geser gelar dia, makin menjadi-jadi deh, setidaknya lo harus hentiin sikap sombong Ratu, tuh anak harus dikasih pencerahan, bumi itu berputar dan dia gak selamanya bisa diatas." jelas Rey panjang lebar.


"Tapi...tapi kenapa harus aku?" cicit Emma pelan, jujur ia tidak pernah menyangka kedua sahabatnya bisa berfikiran seperti itu.


"Karena cuma lo yang cocok, lo tinggi, cantik, peringkat pertama dikelas, body lo juga aduhay udah kayak model. Jadi lo cocok jadi saingan Ratu. Beda lagi ceritanya kalau Anika, gak bisa, jauhhhhhhh banget gak bisanya." ungkap Rey yakin seyakin-yakinnya.


Anika mendengus kesal, wajahnya ditekuk mendengar penghinaan dari Rey untuk kesekian kalinya.


"Terus aja hina gue."


Rey dan Emma menahan tawa, mata mereka masih menatap Anika yang masih memasang wajah masam. Rey benar-benar tak bisa menahan dirinya untuk membuat gadis itu kesal, wajah Anika terlalu lucu untuk selalu dinistakan.


"Tapi kan aku bukan orang kaya kayak Ratu." sahut Emma tiba-tiba.


"Gelar primadona sekolah gak berpatok sama masalah uang, tapi yang harus lo lakuin tampil diatas panggung dan buat semua orang terkesan dengan kemampuan lo." jawab Rey.


"Oke deh."


Rey tersenyum lebar "kalau lo berhasil rebut gelar Ratu nanti lo jadi pasangan gue, sahabat ganteng lo ini, kurang apa lagi coba." jawabnya dengan alis dinaik-turunkan.


Wajah Emma memerah, kepalanya menunduk menyembunyikan wajahnya yang kian memanas.


"Bisa aja lo buaya buntung." sarkas Anika dengan wajah mengejek.


"Gak apa-apa, pesona gue emang udah keluar sebelum gue sebarin, jadi dari pada nanggung mending gue keluarin aja sampai ke akar-akar." Rey menyisir rambutnya kebelakang dengan wajah sombong.


"Ganteng kan gue?" tanya Rey dengan mata dikedipkan.


Anika tersenyum manis, bahkan sangat manis dari biasanya "iya, ganteng...kek tai."


.


.


.


.


Bersambung.


Hallo guys~bantu like, komen, dan vote ya, supaya makin semangat lanjutinnya.


Ig: siswantiputri3


see you

__ADS_1


^^^28-NOVEMBER-2021^^^


__ADS_2