Antagonis

Antagonis
Chapter 81


__ADS_3

Anika menghela nafas pelan, entah mengapa ia merasa hari ini akan ada sesuatu hal yang membuatnya terseret dalam masalah. Ponselnya ia nyalakan untuk mengecek jam yang tertera disana, mencoba memastikan agar ia belum terlambat ke sekolah.


"Kakak mau sekolah?" tanya Axel dengan wajah polosnya membuat Anika tersenyum lebar tak bisa menahan rasa gemas.


"Iya dong ganteng."


"Axel boleh ikut?"


Sari yang ikut sarapan pagi tiba-tiba terbatuk mendengar penuturan polos putranya, mulutnya terkekeh pelan melihat raut memohon anak semata wayangnya itu "gak boleh sayang, kakak Anika mau belajar kalau kamu ikut nanti ganggu lagi. Mau dimarahi sama guru?"


"Jadi gak boleh ya kakak cantik?" tanya Axel sedih bahkan bibirnya sudah maju beberapa senti karena cemberut.


"Gimana kalau Kakak pulang sekolah Axel kakak traktir es cream." celetuk Anika sambil menaik turunkan alisnya.


"Mau-mau." semangat Axel.


"Yaudah kalau gitu kakak berangkat sekolah dulu ya, kalau udah pulang kakak bakal ajak kamu makan es cream yang paling enak. Okey!"


"Okey kakak cantik."


Anika terkekeh pelan kemudian mengacak surai Axel lembut, pandangannya kini mengarah pada Sari untuk segera berpamitan sebelum berangkat menimba ilmu.


...***...


Entah mengapa seiring langkahnya melewati koridor ia melihat semua orang menatapnya dengan sinis, bahkan Rey saja tak datang menjemputnya untuk berangkat bersama. Apa yang sebenarnya terjadi?


"Aku kira dia cewek baik-baik, ternyata maling. Gak nyangka banget."


"Sama, malah berlagak seolah gak tau apa-apa lagi. Kayak gak ada beban hidup aja setelah ngerampok sekolah."


"Mentang-mentang butuh uang malah dengan entengnya ngambil barang yang bukan hak dia."


Anika berdecak kesal, telinganya bahkan sudah memanas mendengar sindiran yang ia tak tau maksudnya. Apalagi tatapan semua murid seolah menghakimi dirinya. Padahal ia yakin tak berbuat salah apapun sama mereka.


"Ck, terserahlah." decaknya malas sambil melangkahkan kakinya menuju kelas secepat mungkin, ia benar-benar muak mendengar cubitan orang-orang yang sangat jelas menatap kearahnya.


"Assalamualaikum." ucap Anika setelah memasuki kelas, bibirnya tersenyum lebar menatap teman kelasnya yang malah terdiam enggan melihatnya. Dengan langkah pelan ia menuju bangkunya dengan perasaan yang mulai berkacamuk, sekarang perasaannya benar-benar tak enak.


"Rey."


"Hmm."

__ADS_1


Lagi-lagi Anika mengernyit bingung melihat sikap aneh semua orang hari ini, apalagi nada cuek dari sang sahabat membuat fikirannya berkelana menerka apa yang terjadi.


"Lo kenapa?" tanya Anika bingung.


"Lo yang kenapa?" sarkas Rey dingin.


Tubuh gadis cantik tersentak, ia masih tak menyangka orang yang selama ini membelanya sekarang bersikap dingin dan datar, apalagi tatapan tajam pemuda itu semkin membuatnya bingung.


"Hay Anika." sapa Emma yang baru saja muncul. Wajahnya menampilkan senyum cerah, tentu membuat Anik tiba-tiba berprasangka buruk melihat ekspresi Emma yang malah berbanding terbalik dari semua murid.


"Gue mau ngomong Rey." ucap Anika tapi tangannya malah ditepis pemuda itu sebelum benar-benar menariknya.


"Rey." lirih Anika pelan.


"Gue sibuk."


Gadis cantik itu memejamkan matanya, bibirnya digigit pelan melihat sikap kasar pemuda itu untuk pertama kalinya. Ia benar-benar tergelak melihat perlakuan Rey yang berbanding terbalik dari biasanya. Dengan perasaan yang mulai kesal ia kembali menatap pemuda itu dengan pandangan datar.


"Gue tunggu ditempat biasa, kalau Lo gak datang itu berarti ini terakhir kalinya gue berhubungan sama lo...Rey."


DEG.


...***...


Setidaknya sampai jam pelajaran pertama belum berakhir ia akan menunggu pemuda itu, tapi jika memang Rey masih tak datang juga itu berakhir hubungan persahabatan mereka sudah cukup sampai disini.


Ia tak ingin mengganggu lebih jauh ketenangan pemuda itu, hari ini jika Rey belum datang itu berarti dia memang tak suka berdekatan dengannya lagi. Tentu ia dengan hati terbuka akan menerima keputusan pemuda itu.


"Lo mau bicara apa?"


Pertanyaan dingin dari suara yang sangat familiar membuat kelopak mata Anika yang awalnya tertutup kini perlahan terbuka. Matanya melirik sekilas pemuda itu kemudian menyuruhnya duduk.


"Gue gak tau apa yang salah hari ini, tapi bisa jelasin sama gue lo kenapa?"


Rey terkekeh pelan dengan wajah datar kepalanya menoleh pada Anika yang juga menatapnya balik "gak usah ngedrama, lo harusnya cukup tau apa yang terjadi hari ini Anika Ayudhisa."


"Gue benar-benar gak tau Rey, apa yang udah gue lewatin sebenarnya?" tanya Anika pelan, bibirnya menghela nafas kasar menghadapi masalah bertubi-tubi pada hidupnya akhir-akhir ini.


"Cih."


"Tolong jelasin...gue mohon."

__ADS_1


Rey terkekeh sinis "lo ternyata licik ya! Pura-pura gak tau padahal apa yang udah lakuin bisa berdampak sama gue kalau aja rekaman itu gak ada. Gue bahkan gak hampir pikir lo bisa numbalin gue karena perbuatan lo itu."


Anika semakin tak mengerti, ia mencoba berpikir keras mencari jalan keluar tentang ucapan yang baru saja Rey serukan. Tapi tetap saja ia masih tak mengerti maksud dari ucapan itu.


"Semua orang yang ada disekolah ini udah tau siapa dalang dari perampokan itu, dan lo tau itu siapa?"


"Siapa?" tanya Anika penasaran.


"Lo."


"Gu--gue?" tanyanya sambil menunjuk dirinya sendiri, otaknya bahkan bekerja rodi untuk memahami ucapan asal dari pemuda disampingnya.


"Ya, bahkan setelah apa yang udah lakuin lo malah tumbalin gue. Lo sengaja masukin laptop sekolah ke tas gue dan juga uang agar gue yang menjadi tersangka disini. Lucu ya?" kekeh Rey.


"Tunggu-tunggu, apa maksud lo gue sama sekali gak ngerti." sela Anika cepat dengan pandangan menatap serius wajah Rey yang menatapnya dengan pandangan terluka dan kecewa secara bersamaan.


"Kemarin pihak sekolah ke rumah gue karena ada yang bilang kalau gue dalang dari perampokan itu, rumah gue digeleda habis-habisan dan bomm. Laptop dan uang yang gak tau gimana caranya ternyata ada didalam tas gue saat pihak sekolah geladah." tutur Rey pelan.


Anika mengernyitkan keningnya, bahkan kepalanya sudah pusing mendengar ucapan pemuda disampingnya "kenapa lo bisa nuduh kalau itu gue?"


Rey lagi-lagi terkekeh renyah kemudian mengeluarkan ponselnya untuk memutar sebuah video tepat didepan wajah Anika. Memperlihatkan sebuah bukti yang sudah tersebar ke seluruh murid.


"I--ini." gagap Anika dengan pandangan tak percaya, kepalanya menggeleng brutal melihat dirinya dalam video itu melakukan aksi yang bahkan tak ia ingat pernah melakukannya.


"G--gue gak pernah lakuin itu."


"Licik lo." sarkas Rey dingin.


.


.


.


.


Bersambung.


Instagram: siswantiputri3


Cerita lain 'suami cadangan' jangan lupa dibaca dan tinggalkan jejak juga ya guys :)

__ADS_1


__ADS_2