
Langkah kaki seorang gadis yang terus menyusuri jalanan setapak demi setapak, melewati gang sempit menuju bangunan yang baru saja berdiri kokoh beberapa hari yang lalu.
Gadis cantik itu menyunggingkan senyumnya, matanya menatap cerah beberapa anak kecil dengan usia dibawah 10 tahun, terlihat dari binar matanya tercetak kebahagiaan yang begitu kentara.
"KAKAKKK...." teriak salah satu anak dengan suara cemprengnya.
"BUNDAAA KAKAK CANTIK DATANGGG..."
Gadis dengan rambut sebahu itu makin melebarkan senyum manisnya, kantong kresek berisikan makanan pada tangan kanannya ia letakkan pada salah satu kursi.
"Loh nak, udah lama datangnya?" sahut wanita paruh baya tiba-tiba.
"Baru kok Bun."
"Yaudah yuk masuk." ajak wanita paruh baya itu.
"Gak usah Bun, aku kesini cuma mau kasih makanan aja kok." tolaknya halus, bibirnya masih menampakkan senyuman tulus pada wanita paruh baya dan juga anak kecil didepannya.
"Kakak cantik bawa apa?"
Kapalanya menunduk, bibirnya tersenyum lebar melihat anak kecil yang sangat menggemaskan dimatanya, apalagi gigi ompong pada bagian depan menambah kesan lucu pada anak kecil berpipi gembul itu.
"Kakak bawah pizza, mau gak?" godanya.
"Mauuuuuuu."
gadis itu terkekeh pelan "kakak bakal kasih asal kalian baris yang rapi." ucapnya lembut.
"Oke kakkkkkkk."
Tangan lentiknya mulai membagikan pizza pada beberapa anak yang berjejer didepannya, tangannya terulur mengusap kepala anak itu satu persatu dengan lembut, melihat binar bahagia pada tatapan polos setiap anak membuat hatinya menghangat.
"Makasih udah bantu kami nak."
Gadis cantik itu menolehkan pandangannya, bibirnya lagi-lagi mengulum senyum pada wanita paruh baya didepannya "harusnya aku yang makasih, apa yang aku perbuat harusnya buat bunda marah, bukannya bersikap baik kayak gini."
Wanita paruh baya itu menggelengkan kepalanya "apapun pendapat orang tentang kamu nanti, bunda gak peduli. Menurut bunda! kamu adalah penolong kami, mungkin kejadian beberapa hari yang lalu jadi bukti kalau sesuatu yang bukan hak kita tapi malah diambil paksa gak akan pernah berakhir baik, dan kebetulan kejadian itu terjadi melalui kamu."
"Tapi aku buat semuanya hancur." kepalanya menunduk, hatinya sedikit tersentil mengingat perbuatannya sendiri, apalagi melihat sosok didepannya, entah kenapa rasa bersalah itu tiba-tiba muncul.
__ADS_1
"Gak nak, bahkan tanpa kamu lakuin itu semuanya akan hancur, tinggal menunggu beberapa hari lagi kami ditendang layaknya hewan, tapi kamu datang! mengulurkan kami kehidupan yang lebih layak, mungkin memang sudah saatnya kami memulai kehidupan yang baru, bunda sebenarnya bingung! salah bunda apa sampai anak itu jahat sama kami, padahal kami tinggal ditempat dan atap yang sama." ucapnya sedih.
"Bunda gak marah karena aku udah bak---"
"Gak nak, kami bisa ketempat lebih baik seperti ini aja udah syukur, semoga dengan tempat baru kami ini semuanya akan lebih baik, setidaknya anak itu gak akan buat kami menderita lagi." ucapnya cepat.
Gadis itu tersenyum lebar "aku janji bakal sering-sering main kesini." ucapnya, kemudian memeluk wanita paruh baya didepannya dengan erat.
...***...
Pemuda tampan dengan hoddie hitam tampak menghembuskan asap rokok pada bilah bibirnya, matanya menatap gadis cantik yang berada beberapa meter dari posisinya.
Tatapan tajam dari matanya tak pernah berhenti mengintai gadis itu, puntung rokoknya ia buang asal, badannya tiba-tiba berbalik meninggalkan tempatnya berpijak, hari ini sudah cukup ia menjaga gadis itu dari jauh. Mau bagaimanapun tak ada yang boleh menyakiti gadisnya, kecuali dengan tangannya sendiri tentunya.
"Gue kira lo beneran bantai mereka, ternyata lo emang gak bisa jahat ya babbe." monolognya dengan seringai tipis pada ujung bibirnya.
...***...
Anika menghembuskan nafasnya, kakinya menendang-nendang kerikil yang ada di trotoar. Hpnya lowbet, belum lagi uangnya habis, kondisinya saat ini benar-benar mengenaskan.
Ia bingung bagaimana caranya pulang, keadaan disekitarnya bahkan cukup sepi, bibirnya mendesah frustasi, dengan langkah lesu ia terus melewati pinggiran jalan, ditambah waktu yang kini menunjukkan pukul 19:00 malam membuat suasana sekitar menjadi sedikit menakutkan.
Tampilan rapi dengan jas membaluti tubuh orang itu cukup membuat ia yakin pria itu adalah pria baik-baik, ia bisa berbasa-basi dan meminta tumpangan pada sosok asing itu, ah...otaknya memang bisa diandalkan.
"Mo...gok ya...." ucapan Anika semakin pelan, matanya sudah terbuai pada ciptaan Tuhan, wajah pria didepannya sangat sempurna bahkan ia sekarang ragu mereka dari dunia yang sama.
Pipinya ia tepuk pelan, mencoba mengambil alih kesadarannya, mungkin saja ia hanya berhalusinasi tapi tetap saja tak ada yang berubah dari sebelumnya.
Wajahnya berbinar melihat wajah paripurna pria didepannya "sugar daddy..." ucapnya pelan dengan pandangan yang masih terpesona.
"Ekhem."
"Gila sih, ini mah sugar Daddy eh...atau hot Daddy ah...pokoknya Daddy Daddy tampan." ucapnya yang masih belum sadar.
"EKHEM."
Anika menggelengkan kepalanya, alam bawah sadarnya tertarik paksa mendengar deheman serak-serak basah dari pria didepannya.
"Eh...mobil om mogok ya?" tanyanya sopan.
__ADS_1
"Om?"
Anika menganggukkan kepalanya, memang ada yang salah dengan ucapannya? perasaan tak ada nada menyindir pada tutur katanya barusan.
"Kau memanggilku om?" tanya pria itu lagi.
Anika menganggukkan kepalanya "salah ya? trus gue panggil apa Daddy?" tanyanya polos.
"Ck."
Gadis itu bingung sendiri, kepalanya digaruk pelan memikirkan ucapannya, perasaan dia berbicara masih dibatas wajar "nama om siapa? umur om berapa?"
Pria itu menghela nafas pelan, mobilnya yang mogok mau tak mau membuatnya terdampar ditempat ini dengan gadis yang bahkan ia tak tau asalnya.
"Adelard, 20." jawabnya seadanya, ia juga bingung kenapa mulutnya mau saja menanggapi perkataan basa-basi dari gadis yang hanya setinggi dadanya.
"MWO JINJA?" teriak Anika dramatis, matanya semakin berbinar melihat pesona pria didepannya yang tak bisa ia abaikan "berarti bukan hot Daddy dong? tapi hot brother..."
Adelard menggelengkan kepalanya, tangannya mengeluarkan ponselnya, mencoba menghubungi seseorang diseberang, sudah 30 menit ia menunggu tapi asistennya itu masih belum datang.
"Kakak udah punya pacar belum?" tanya Anika semangat "eh...atau kakak udah punya istri belum, semoga gak deh gue gak mau jadi pelakor, walaupun sebenarnya gua gak masalah sih." monolognya pelan.
Adelard menghela nafas pelan "bisa diam gak?" tanyanya sedikit jengah.
Gadis itu menggelengkan kepalanya brutal "no..makhluk hidup ada untuk diajak menjalin tali silaturahmi, bukan untuk memutus tali silaturahmi, jadi....nama gue Anika Ayudhisa, cantik dari lahir, masih jomblo dan sekarang berencana mau memutus gelar jomblo, gue gak keberatan kok kalau kakak jadi yang pertama." Anika tersenyum lebar dengan tangan yang masih tersodor pada pria didepannya.
.
.
.
.
Bersambung.
Bantu like, vote dan komen ya.
Ig: siswantiputri3
__ADS_1
^^^01-DESEMBER-2021^^^