Antagonis

Antagonis
Chapter 48


__ADS_3

"Kak Adelard kapan datang? Barusan atau udah lama? Kok gue gak nyadar?" tanyanya beruntun.


Adelard melongos, tanpa ada niatan membalas perkataan gadis itu ia pergi dari tempatnya, meninggalkan Anika yang melongo bingung.


"Yang kek gini nih bikin penasaran." gumamnya riang, ia berlari kecil menyusuri koridor sekolah dengan binar bahagia langkah kakinya ia hentikan tepat didepan ruangan Pak Bruto.


Dengan santai ia masuk kedalam, tak peduli dengan berbagai macam tatapan yang tertuju padanya, bibirnya menampilkan senyum polos tepat dihadapan sang kepala sekolah yang tengah duduk dikursi kebesarannya.


Para guru menghela nafas pelan, mereka sudah mengerti tabiat dari murid didiknya itu hanya saja kali ini mulut mereka enggan memarahi karena masalah yang dialami remaja didepannya.


Pak Bruto menatap Ratu Axelion, tersangka yang melakukan aksi plagiat pada siswinya yang lain, apalagi kejadian ini disaksikan oleh banyaknya keluarga terpandang yang ikut andil menjadi donatur pada sekolah yang ia pimpin.


"Kamu sadar apa yang sudah kamu lakukan?" tanyanya tegas.


Ratu tampak tenang, walau sebenarnya ia cukup gugup pada pria paruh baya didepannya, jiwa kepemimpinan Pak Bruto tak bisa diragukan, salah tetap salah bahkan dengan satu fakta kalau ia putri bungsu dari keluarga Axelion tak membuat kepala sekolah itu sungkan.


"Saya minta maaf, karena sifat ambisius yang saya miliki membuat saya gelap mata, jujur saya tidak sadar melakukan itu, Pak Ilyas pasti tahu seambisus apa saya kan? Sifat yang tak mau disingkirkan dan ingin menjadi yang terbaik membuat saya melakukan hal memalukan ini. Maaf...." Ratu menghela nafas pelan, raut wajahnya menunjukkan tatapan bersalah pada guru dan kepala sekolah khusunya untuk Anika.


Pak Ilyas selaku guru yang mengajar pada kelas jenius IPA ikut membenarkan "saya tau bahkan sangat tau, berkat sifat ambisius kamu juga sekolah kita beberapa kali memborong piala juara 1 lomba dibidang IPA, tapi kali ini saya selaku guru yang mendidik kamu cukup kecewa, saya tidak pernah menyangka sifat kamu itu juga menciptakan hal buruk seperti tadi."


"Sekali lagi saya minta maaf, adanya perbuatan salah menjadi contoh kedepannya buat saya menghindari hal serupa, jadi dengan rasa bersalah saya minta maaf..." Ratu menatap Anika dengan pandangan menyesal "maaf Anika."


"Baiklah, saya selaku kepala sekolah memaafkan perbuatan kamu, saya harap kedepannya perbuatan ini tak akan terulang lagi." jawab Pak Bruto.


Anika memutar bola matanya, terlalu malas menghadapi situasi ini, memang apa yang perlu diharapkan! Ratu tetaplah Ratu, walaupun mulut dan hatinya bertolak belakang, tapi tetap saja lisannya bisa dengan mudah menipu seseorang.


"Sekali lagi makasih pak." ucapnya tulus.


"Saya memang memaafkan kamu, tapi yang paling berhak memberi dan menolak maaf adalah Anika, dia yang paling dirugikan disini." tegas Pak Bruto.

__ADS_1


Ratu tertunduk lesu, seakan ia benar-benar menyesal tentang apa yang sudah diperbuat, kepalanya terangkat menatap Anika dengan raut tak pernah berubah "maaf Anika." ucapnya setulus mungkin.


"Memang apa yang bisa gue lakuin? Orang dengan latar belakang kayak gue gak bisa jawab apapun selain kata maaf lo udah gue terima kan?" jawabnya sedih.


"Maksud kamu apa nak?" tanya Bu Ningsih, mau bagaimanapun sifat anak didiknya tetap saja ia merasa prihatin, apalagi melihat nada putus asa dari gadis itu.


Anika tersenyum miris "gak apa-apa Bu, hukum alam memang kayak gitu kan? Mau bagaimanapun hampir semua orang lebih menghormati yang berkasta, mau teriakpun semuanya tetap sama, pada akhirnya semuanya bisa selesai karena adanya kedudukan dan uang." Ia menghela nafas pelan, netranya kembali teralih pada Ratu "jadi percuma lo minta maaf kalau jawabannya udah jelas."


"Jangan bicara seperti itu nak, disini bapak tidak membedakan kalian semua, salah tetap salah dan kesalahan harus ditindak lanjuti." jelas Pak Bruto.


Anika tertunduk, bibirnya menyeringai tipis tanpa sepengetahuan mereka, selang beberapa detik kepalanya kembali terangkat menatap sang kepala sekolah dengan raut lesu "tapi bapak tidak bisa menjamin kalau diluar sekolahkan? Bisa saja keluarga Axelion membalikkan keadaan, apapun bisa terjadi karena kedudukan dan uang, mungkin setelah ini saya yang dituduh memfitnah Ratu."


Mereka tampak terdiam, dengan kecanggihan teknologi yang sekarang semuanya bisa terjadi, video yang nyatanya asli bisa saja dipalsukan, apalagi mengingat kekayaan keluarga Axelion, belum lagi banyaknya pendukung dibelakang keluarga itu, demi menghindari nama keluarga yang tercemar gadis beasiswa ini bisa saja menerima dampak yang tidak seharusnya.


"Lo gak berhak nuduh keluarga gue." bentak Ratu, tangannya terkepal menahan kesal mendengar ucapan buruk mengenai keluarganya.


Ratu bungkam, mulutnya tiba-tiba keluh mendengar ucapan gadis disampingnya, ingin membantah tapi semuanya terdengar masuk akal.


"Dan tentu keluarga lo gak bakal biarin itu terjadikan, mereka gak mungkin tega biarin putri bungsu mereka mendapat cemoohan dari orang-orang."


Sang primadona sekolah itu semakin larut dalam dunianya, sekarang fikirannya bimbang tak karuan, keluarganya benar-benar tak akan membiarkan ia berlama-lama dengan masalah inikan? Walaupun jelas ia yang bersalah tapi mereka tak mungkin tega padanya, bahkan dengan adanya satu fakta yang tidak diketahui orang-orang kalau hubungan mereka tak seharmonis yang terlihat.


"Ada satu jalan yang saling menguntungkan buat kalian berdua." sahut Pak Bruto tiba-tiba.


Mereka serentak menatap pria paruh baya itu, bahkan Emma yang sejak tadi diam ikut penasaran, fikiran yang awalnya tak karuan perlahan buyar karena rasa penasarannya.


"Kamu beli karya Anika." Kalimat pendek yang berhasil disharing masuk ke kepala mereka, dengan adanya ini Ratu bisa mengantisipasi jika keluarganya tak berniat membantu dirinya, Anika juga setidaknya mendapatkan kompensasi jika kelurga Ratu berbuat curang dan memanipulasi semua orang, setidaknya uang itu bisa menjamin kehidupannya.


"Saya setuju pak." jawab Ratu cepat.

__ADS_1


Anika menghela nafas pelan "tapi uang itu tak bisa menutupi nama saya yang tercemar jika keluarga Ratu benar-benar membuat saya yang bersalah pak."


"Tapi setidaknya ada yang kamu dapatkan nak, daripada tidak sama sekali." bujuk Bu Ningsih.


Anika mengangguk pasrah, kepalanya menunduk lesu dengan bila bibir yang perlahan tersenyum menang, mereka ternyata benar-benar payah, bahkan dengan omosng kosong yang ia ucapkan semuanya membenarkan, bukan keluarga Axelion yang memanipulasi semuanya, tapi dia sendiri yang melakukan itu, menghisap uang dari genggaman orang kaya ternyata mudah.


Dan kelurga yang kurang beruntung itu adalah keluarga Axelion, pertama sang kepala keluarga yang ia tipu sekarang putrinya, ia benar-benar menyukai perannya sekarang.


"Jadi lo mau gue bayar berapa puisi lo itu." tanya Ratu cepat, ia tak ingin menunda ini setidaknya ia bisa mengatakan karya Anika sudah ia beli, dengan begitu tak ada yang mencemooh dirinya karena melakukan plagiat.


"Kita bicarain ini berdua, masalah harga nanti gue kasih tau." jawab Anika pasrah.


Emma tak berniat menyela, mungkin hanya dia yang sadar dengan sikap Anika dan sekarang ia benar-benar takut karena berurusan dengan gadis itu, masalah Ratu sudah dianggap tuntas berarti selanjutnya dirinya yang akan disidang, entah apa yang akan terjadi padanya.


.


.


.


.


Bersambung


Jangan lupa tinggalkan jejak banyak-banyak ya guys~luangkan beberapa detik buat klik like, vote dan tinggalkan komentar.


Ig: siswantiputri3


^^^30-DESEMBER-2021^^^

__ADS_1


__ADS_2