
Tiga sejoli itu akhirnya memutuskan berhenti pada warung makan yang ada dipinggir jalan, selain harganya yang murah leher mereka juga lebih cocok makan disana.
"Lo juga mau? Gue yang traktir." tanya Rey, matanya memandang Anika yang baru saja mendudukkan tubuhnya pada kursi kosong.
"Emm...disini ada apa aja emang?" bukannya menjawab gadis cantik itu malah bertanya balik.
"Ketoprak, bakso, batagor nasi uduk sama es teh manis." jawab Emma lengkap.
"Lo sampai segitunya hafal ya." celetuk Rey lengkap dengan kekehannya.
"Gue bakso sama es teh manis satu." timpal Anika, perutnya sudah terlalu lapar akibat perdebatannya dengan wanita jelmaan iblis dikediaman Axelion.
"Gue juga mau bakso sama es teh manis satu." sahut Rey dengan tangan terangkat, niat awalnya hanya menemani Emma makan harus urung karena rasa laparnya mulai mendera mendengar menu yang ada diwarung ini.
"Kamu juga Rey?"
Pemuda itu hanya menampilkan cengiran lebar, ia tau isi fikiran sahabatnya, tapi mau bagaimana lagi perutnya memang kadang tak tau diri dan tak bisa dikondisikan.
Emma menggeleng pelan kemudian melangkah memesan makanan pada pemilik warung ini, setelah menyebutkan semua pesanan tanpa ada kesalahan ia kembali duduk pada tempatnya, tepat disamping Rey.
"Mmm...Anika."
"Apa." jawabnya tanpa ada niatan menatap Emma, handphone-nya terlalu menarik daripada wajah lugu gadis itu.
"Aku minta maaf."
"Oke."
"Kamu beneran udah maafin aku?" tanyanya memastikan, jawaban singkat dengan nada malas membuat ia sedikit tak yakin.
"Hmm."
Lagi-lagi ucapan yang keluar dari mulut gadis itu hanya jawaban acuh, seolah permasalahan yang terjadi sebelumnya bukanlah permasalahan yang serius, bukannya senang Emma malah semakin kesal karena niat baiknya hanya dijawab dengan nada malas.
"Sekali-kali hargai orang." celetuk Rey, pandangannya menatap Anika serius "gue tau Emma salah, tapi kalau lo emang gak bisa maafin Emma bilang, gak usah kayak gitu, kesannya lo anggap semuanya cuma masalah sepele."
Anika mengangkat wajahnya, matanya menatap Rey sesaat kemudian mengalihkan pandangannya pada Emma "oke, gue gak maafin lo." jelasnya.
Ucapan yang keluar dari mulut gadis itu membuat keduanya cukup terkejut, terlebih Rey ia tak menyangka sahabatnya ternyata masih marah soal kejadian pentas.
"Kamu masih marah?" tanya Emma pelan.
__ADS_1
Anika berdecak, ia paling benci ucapannya tak disharing baik oleh seseorang dan ia paling malas yang namanya pengulangan "gue rasa semuanya udah jelas."
"Lo serius?" tanya Rey.
"Ckkk, budek ya lo." sarkasnya.
"Aku tau aku salah, aku udah keterlaluan sama kamu, harusnya aku gak ngomong kayak gitu...maaf." Lirih Emma.
Anika tak bergeming, ia lebih fokus pada pesanannya yang sudah datang, bibirnya menyeruput es teh manis sebelum menikmati bakso yang terlihat menggiurkan.
"Anika." panggil Rey, jujur ia cukup prihatin melihat raut lesu dari gadis disampingnya, Emma memang salah! Tapi tak seharusnya Anika bersikap paling menderita, apalagi gadis disampingnya sudah mendapat hukuman dari sekolah, beasiswa yang dicabut bukanlah hukuman ringan.
"Apa?" tanyanya santai.
"Kalian sahabatan udah lama kan? Jangan kayak gini sama Emma." bujuk Rey, matanya menyorot pada manik amber gadis didepannya.
"Apa sih ganggu tau gak."
"Udah Rey, aku gak papa." lerai Emma, bibirnya menampakkan senyum lirih pada pemuda disampingnya.
Anika mengangkat wajahnya, pandangan yang awalnya fokus pada bakso miliknya beralih pada dua sejoli didepannya, sendok yang masih ia genggam diarahkan pada mereka berdua "oh ayolah, kalian gak mungkin percaya sama omongan gue kan?" tanyanya tiba-tiba.
Rey dan Emma saling pandang, kening keduanya mengernyit menanggapi ucapan yang baru saja keluar dari mulut Anika "maksud kamu?" tanya Emma memastikan sekaligus mewakili kebingungan dari pemuda disampingnya.
"Percaya apa?" tanya Rey dengan wajah bloonnya.
"Aku gak ngerti." timpal Emma polos.
Anika menepuk dahinya "gue cuma bercanda, yakali gue marah sama Emma. Gak mungkin lah." jelasnya.
"Jadi?" tanya Rey lugu.
"Jadi gue gak marah sama Emma, tadi gue cuma bercanda, oh yaampun... bisa-bisanya kalian percaya sama omongan gue." jelasnya dengan kepala menggeleng.
"Kamu gak marah?"
Anika mengalihkan pandangannya pada Emma "ya enggaklah sahabatku, yakali gue marah sama lo, apalagi gue denger kalau lo habis dipukul sama orang."
"Bukan dipukul tapi dibenturin." sela Rey.
"Oh...iya itu maksudnya."
__ADS_1
Emma mengerutkan keningnya, detik berikutnya seringai tipis diam-diam tampil dari sudut bibirnya "kok kamu tau?" tanyanya bingung.
Hening terjadi beberapa saat, Anika masih tak membuka suara mendengar ucapan gadis didepannya.
"Kamu tau dari mana? Kamu ada disana? Kok gak bantu aku Anika?" tanyanya sedih.
"Lo lupa?" bukannya menjawab Anika malah berbalik mengajukan pertanyaan, tak ada tanda-tanda raut wajahnya menunjukkan ekspresi tegang ataupun tertekan.
Walaupun sedikit bingung tentang ucapan Anika, tapi ia tak mau ambil pusing, mungkin gadis itu tak bisa mengelak dan akhirnya berkata jujur dihadapan Rey kalau sebenarnya yang membuat kepalanya diperban adalah dia sendiri "lupa apa?"
Anika tiba-tiba terkekeh pelan "lo lupa kalau Rey selalu curhat apapun sama gue, bahkan tanpa ditanya." ponsel miliknya ia angkat, menunjukkan pada Emma isi chat dari Rey mengenai dahi gadis itu yang luka karena seseorang sengaja membenturkan kepalanya.
Rey menggaruk kepalanya yang tak gatal, bibirnya menampilkan cengiran polos pada Emma yang kini menatapnya "tadi dimobil gue sempat chat Anika tentang kondisi lo."
"O--oh gitu ya." balasnya dengan senyum paksa, ia benar-benar tak habis fikir dengan keberuntungan yang dialami gadis didepannya.
"Tapi gue sedih." Anika menghela nafasnya pelan "kok lo bisa nuduh kalau gue ada disana, gak mungkinkan gue tega gak nolong lo."
"Maaf ak---"
"Tapi gak apa-apa, akhir-akhir ini kayaknya lo nunjukin sikap kalau sebenarnya lo emang gak suka sama gue." potong Anika lirih.
"Gak gitu." sanggah Emma cepat, tubuhnya menegang menahan gugup "aku gak mungkin benci sama kamu."
Anika mengangkat wajahnya, ekspresi yang tadinya terlihat lesu kini mendadak kaget "gu--gue gak pernah bilang kalau lo benci gue, gue cuma bilang kalau lo gak suka sama gue, atau sebenarnya lo emang ben----"
"ENGGAK ANIKA, GUE GAK GITU." teriak Emma tanpa sadar, nafasnya memburu mendengar setiap rentetan seolah memojokkan dirinya.
Rey tersentak tak percaya, gadis yang biasanya bertutur kata lembut tiba-tiba meninggikan suaranya, bahkan kata sopan yang biasa digunakan kini berubah dengan kalimat yang biasa ia gunakan, harusnya kata lo-gue memang bukan kata asing untuk remaja seperti mereka.
Tapi ini Emma! Gadis yang bahkan tak tega melihat kucing kelaparan dengan tutur sopan ditambah wajah polos sebagai pelengkap tiba-tiba berubah drastis.
.
.
.
.
Bersambung
__ADS_1
Ig: siswantiputri3
^^^05-JANUARI-2022^^^