
Benyi bel pertanda pelajaran terakhir telah selesai adalah hal yang ditunggu-tunggu hampir semua murid yang menimba ilmu ditempat yang namanya sekolah.
Posisi duduk tepat disamping jendela membuat Anika harus menunggu Emma bangkit dari duduknya sebelum ia bisa keluar, tapi entah apa yang difikirkan gadis disampingnya hingga sampai sekarang tak ada tanda-tanda akan bangkit.
"Lo--"
"Aku minta maaf." potong Emma.
Kening Anika mengernyit "minta maaf buat apa?"
"Aku minta maaf soal masalah tadi." kepalanya menunduk dengan tangan saling meremas pertanda gugup.
"Oke."
Kepala Emma terangkat, menolah pada gadis disampingnya yang sudah berdiri dengan tas bertengger manis pada punggungnya, bibirnya tersenyum semanis mungkin pada gadis itu "makasih."
"Gak masalah, santai aja. Tapi lo geser gue mau keluar." titah Anika.
Emma mengangguk pelan, dengan cepat ia bangkit dari duduknya, memberi jalan pada Anika untuk bisa keluar.
"Gue tunggu lo berdua diparkiran." sahut Anika pada Rey dan Emma dari luar pintu kelas.
"Ayo pulang." ajak Rey tiba-tiba.
"Ka-kamu gak marah sama aku?"
Rey terkekeh pelan "enggak lah." tangan kekarnya merangkul pundak Emma sambil berjalan beriringan menuju parkiran sekolah tempat mobilnya berada.
"Gue boleh numpang gak?"
Pemuda itu tersenyum pelan dengan kepala mengangguk sebagai jawaban, ia tak mungkin melarang Ratu untuk ikut dengannya, apalagi mobilnya cukup luas menampung empat orang didalam sana.
"Gue duduk didepan ya?" pintanya lagi.
Anika membalikkan badannya, bahunya diangkat acuh kemudian kembali melangkah memasuki mobil tanpa menghiraukan permintaan sang primadona sekolah, ia ingin didepan dan itu akan terjadi bahkan tanpa persetujuan dari mereka.
"Sorry ya, tapi lo duduk bareng Emma aja dibelakang, tempat itu udah jadi hak milik Anika." jawab Rey santai.
"Eh...iya Rey." Ratu masuk kedalam mobil dengan perasaan kikuk, ia tak menyangka permintaannya ditolak terang-terangan.
Dengan kecepatan sedang mobil itu menyusuri jalan raya yang cukup lenggang, alunan musik menjadi penghibur mereka berempat dalam suasana hening itu.
"Oh ya, rumah Lo dimana Ratu?"
Gadis itu menolehkan kepalanya, matanya terarah pada pemuda dengan posisi memunggunginya "Jalan mawar no 03."
"Berarti Anika dulu yang diantar trus Emma baru lo terakhir."
"Hmm...gue gak ngerepotin kan?"
"Ngerepotin sih." jawab Rey santai.
__ADS_1
Ratu bungkam, fikirannya berkacamuk mendengar jawaban pemuda tampan didepannya, ia benar-benar harus kebal muka jika berhadapan dengan Rey.
"Hush...kamu gak boleh ngomong gitu Rey." nasehat Emma.
"Yaelah, gue cuma bercanda. Kalian gak asik diajak santuy."
"Kita gak tau." Emma menggaruk kepalanya yang tak gatal, dengan senyum polos ia tampilkan pada bilah bibirnya karena tak bisa menanggapi sikap friendly sahabatnya itu.
"Gue juga baru kenal kalian, gak mungkin gue langsung ajak kalian debat kan?" timpal Ratu dengan tawa renyahnya.
"Kayaknya boleh dicoba, daripada lo diam aja kayak tadi." jelas Anika, kepalanya menoleh sekilas kemudian kembali pada posisinya seperti semula, bersandar pada kaca jendela dengan netra menikmati pemandangan dari dalam jendela mobil.
"Lo juga bisa kenal lebih jauh sama Rey kalau kalian saling ngobrol kan? Kayaknya itu bukan pilihan yang buruk buat Rey bisa terkesan dan suka balik sama lo." sambung Anika santai.
Ratu membulatkan matanya, bibirnya seakan keluh tak bisa menjawab ucapan gadis didepannya, perasaannya campur aduk, antara malu, kesal dan marah. Ia tidak mau ucapan tak difilter Anika membuat Rey ilfeel padanya.
Ia memang sangat menyukai pemuda itu, tapi ia juga punya harga diri. Untuk terang-terangan berkata frontal seperti itu ia masih belum siap, tapi kini gadis itu malah memberitahukan yang sebenarnya pada Rey bahkan didepan matanya, sungguh ia rasanya ingin menghilang dari tempat ini.
"Jadi lo beneran suka sama gue? Gak heran sih." celetuk Rey sombong.
"Kalian cocok banget deh." timpal Emma dengan raut senang "iya kan Anika?"
"Hu'um."
"Lo beneran suka sama gue?" tanya Rey lagi, pandangannya terarah pada Ratu melalu kaca spion mobilnya.
"Gue...gue...hmm iya." jawabnya pelan, perasaan gugup menggorogoti dirinya, baru kali ini ia benar-benar menyukai seseorang.
Anika berdecak, bola matanya memutar mendengar tingkah absurd pemuda disampingnya, ia jadi ingin mencuci otak Rey agar bisa lebih berguna.
"Iya Rey, gue serius." jawab Ratu dengan keberanian penuh.
"Mau banget diseriusin sama gue?" tanya Rey dengan nada menggombal.
Bibir Ratu berkedut, wajahnya memerah menahan perasaan aneh yang kini mulai menjalar pada hatinya. Apalagi adanya kupu-kupu pada perutnya membuatnya benar-benar salah tingkah.
"Hati-hati." sahut Rey tiba-tiba.
Ratu menetralkan tubuhnya, keningnya mengernyit melihat mobil yang ditumpanginya berhenti, Pandangannya beralih pada Anika yang turun dari mobil.
"Harusnya lo yang hati-hati, gue udah nyampe dengan selamat." sahut Anika malas.
Ratu memutar bola matanya, bibirnya tersenyum remeh melihat bangunan yang hanya sebesar kamarnya, ternyata gadis itu memang tak sebanding dengannya.
"Siapa tau lo kesandung batu lagi, atau paling parah kejatuhan cicak, lo tau gak ada orang mati cuma gara-gara kejatuhan cicak."
Ratu menghela nafas jengah, ia bingung! kenapa pemuda itu lebih memilih bercek-cok ria dengan Anika daripada melajukan kembali mobilnya.
"Gerah gak liat mereka berdua?" bisik Emma dengan nada mengejek.
"Sialan." umpatnya kesal.
__ADS_1
"Gue gak percaya."
"Gue serius." sahut Rey cepat.
Anika mengenyitkan keningnya, entah kenapa ia merasa was-was tiba-tiba "lo serius?" tanyanya memastikan.
"Iya, gimana gak mati orang cicaknya jatuh bareng sama genteng-gentengnya." celetuk Rey dengan tawa puas.
Anika membalikkan badannya, ia sudah jengah menanggapi pemuda itu lebih baik ia masuk kedalam rumahnya kemudian tidur diatas kasur empuknya.
"BAY...BAY...BAKPAO." teriak Rey lantang sebelum melajukan mobilnya pergi dari tempat itu.
"Kita bisa ke supermakert dulu gak Rey?" tanya Emma dengan nada memelas.
Pemuda itu berfikir sejenak "oke, lo mau beli apaan emang?"
"Beli taro."
Emma bingung sendiri, yang minta siapa yang jawab siapa, tiba-tiba Rey terkekeh pelan "lo juga suka taro?" tanyanya.
Ratu mengangguk cepat "suka banget, lo juga suka ya?"
Rey tertawa canggung "bukan sih, tapi---"
"Anika." Potong Emma.
"Iya, lo tau gak dia suka banget sama taro bahkan isi lemari makanannya taro semua, ckck...emang langkah tuh cewek, mungkin karena itu ya Anika gak tumbuh dan berkembang karena dia lebih suka makan taro daripada makan nasi." jelas Rey.
"Lo tau banyak ya soal Anika." ucap Ratu pelan, bibirnya menampilkan senyum paksa saat pemuda itu terlihat menatapnya lewat kaca spion.
"Banget malah."
"Lo...lo suka sama Anika?" tanyanya hati-hati.
"Iya."
Ratu mengepalkan tangannya, kejujuran dari mulut pemuda itu membuatnya cemburu, perasaannya pada Rey ternyata memang tak main-main. Bibirnya menghela nafas kasar menahan rasa sesak yang menggorogoti hatinya.
.
.
.
.
Bersambung
Ig: siswantiputri3
^^^08-DESEMBER-2021^^^
__ADS_1